
Keesokan paginya, Frank terbangun dan dia meraba-raba sisi ranjangnya untuk mencari keberadaan Angel. Namun, gadis itu sudah tidak ada di ranjangnya. Frank pun beranjak dari ranjang dan keluar. Dia berharap akan menemukan Angel di sisi lain rumahnya.
"Angel! Kau di mana?" tanya Frank sambil memanggil-manggil nama Angel di setiap ruangan. Akan tetapi, gadis itu tidak ditemukan di manapun. "Ke mana dia?"
Frank berjalan menuju taman yang melewati meja makan. Salah seorang pelayan, menghampiri Frank dan memberikan pria itu sebuah pesan. "Tuan mencari Nona Angel? Katanya, Nona Angel pulang duluan, Tuan, tidak mau menbangunkan Tuan yang masih tidur nyenyak,"
"Pulang?" tanya Frank. Pria tampan yang memiliki profesi sebagai seorang dokter itu mengerenyitkan dahinya. Dia berpikir ke mana Angel akan pulang? Apakah ke rumah Dante? Tidak mungkin dia sebodoh itu, 'kan?
"Iya, Tuan, pulang. Oh, dia juga titip ini ke saya. Katanya, kalau Tuan sudah bangun, tolong kasihkan ke Tuan," kata pelayan itu lagi sambil memberikan amplop cokelat kecil yang Frank berikan kepada Angel kemarin malam.
Frank menerima amplop itu dan membuka isinya. Uang yang berada di dalam amplop itu masih utuh, artinya Angel sama sekali tidak mengambil sepeser pun dari uang itu.
"Angel, kau pulang ke mana?" tanya Frank bermonolog.
Gadis yang dicari-cari oleh Frank baru saja tiba di kediaman Dante. Dia ingin meminta penjelasan kepada pria yang telah menyewanya itu tentang kejadian tadi malam di pesta.
"Dad! Daddy!" Angel membuka pintu kamar Dante, tetapi dia tidak menemukan Dante di sana.
Tak patah arang, dia mencari tas dan pakaian yang dipakai oleh Dante semalam. Tas itu berada di ruang tamu, sedangkan pakaiannya berceceran di lantai bersama dengan sehelai gaun berwarna fuschia. Angel memungut gaun itu. "Evelyn?"
Perlahan, Angel mendekati kamar wanita yang masih menjadi istri Dante dan membukanya perlahan. Mulutnya ternganga saat dia melihat Dante dan Evelyn tidur sambil berpelukan tanpa mengenakan selembar pakaian pun di tubuh mereka.
Tiba-tiba saja, Angel merasakan jantungnya seperti tertusuk seribu jarum. Pedih dan sakit sekali. Pada akhirnya, gadis itu membulatkan tekad untuk kembali ke kota asalnya hari itu juga.
__ADS_1
Dia masuk ke dalam kamarnya dan merapikan semua pakaiannya yang pernah dibelikan oleh Dante beserta semua aksesoris dan peralatan lainnya yang dia miliki. Tak lama, dia sudah berdiri di luar untuk menunggu taksi.
"Nona, mau saya antar?" tanya Dave menawarkan diri.
Angel tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, Dave. Oh, aku akan berpamitan. Terima kasih karena kau sudah mengantarku berkeliling kota ini dan kau sudah banyak sekali membantuku, Dave,"
Gadis itu pun memeluk Dave. Dia sudah menganggap pria paruh baya itu sebagai ayahnya sendiri. Senang rasanya mengenal Dave, dia sosok pria yang ramah dan hangat.
Dave membalas pelukan Angel dan membelai lembut punggung gadis itu. "Aku juga berterima kasih kepadamu, Anak Cantik. Selalu waspada dan berhati-hatilah. Aku harap, kita bisa berjumpa lagi,"
"Pasti, Dave!" jawab Angel.
Tak lama, taksi yang sudah dia pesan datang. Sekali lagi, Angel berpamitan kepada Dave dan masuk ke dalam mobil berwarna kuning tersebut. Sepanjang perjalanan, air mata Angel terus menetes. Gadis itu membiarkan butiran-butiran bening membasahi pipinya tanpa ada usaha mengusapnya.
Dua jam perjalanan, akhirnya Angel tiba di kota asalnya. Dia meminta supir taksi untuk berhenti di depan Madam Sienna House.
Angel tak menjawab dan dia segera masuk ke dalam kamarnya dan mengunci kamar tersebut. Di sanalah dia menumpahkan semua rasa kesal, kecewa, dan cemburu yang telah menggerogoti hatinya selama ini.
Gadis itu tidak memperdulikan Madam Sienna yang terus mengetuk pintu kamar Angel, meminta di bukakan. "Angel Sayang, apa yang terjadi padamu, Nak? Angel? Kau ingin sendiri? Baiklah, tapi jangan coba-coba untuk menjadikan tempatku ini sebagai tempat kejadian perkara! Ingat itu, Sayang!"
Lagi-lagi, Angel tidak merespon ucapan Madam Sienna. Setelah puas menangis, dia duduk di meja rias sambil menatap cermin yang ada di depannya.
"Carmen, keluarlah dari tubuhku!" tukas Angel.
__ADS_1
Seolah ada pribadi yang lain di dalam tubuh Angel, dia menggelengkan kepalanya seakan menjawab pertanyaannya sendiri. "Aku tidak akan keluar dan kau tidak akan bisa mengeluarkanku, Angel! Angel adalah sosok palsu yang kau ciptakan! Seharusnya kau yang keluar dari tubuh ini!"
Wajah Angel memerah karena kesal, dia meninju cermin yang ada di depannya. "Jangan berani memerintahkanku untuk keluar, Brengsek! Kau selalu membuatku lemah! Kau selalu membuatku sakit! Pernahkah kau membuatku bahagia? Sekali saja, Carmen? Biarkan aku hidup tenang tanpa ada dirimu!"
Gadis itu membiarkan darah menetes-netes dari buku jarinya dan dia sama sekali tidak mendengar keributan yang terjadi di luar kamarnya. Saat ini, yang ada di hadapannya hanyalah Carmen Brooke, seseorang yang sangat dia benci di seluruh dunia ini.
"Kau tidak pernah membuatku hidup dengan layak, Carmen! Kau selalu membuatku menangis! Ada saja yang kau buat, hingga pada akhirnya aku membenci diriku sendiri! Aku benci padamu! Menghilanglah, Carmen!" tukas Angel lagi dengan putus asa.
Teriakannya sungguh menyayat hati. Madam Sienna yang mendengar dari luar kamar, terus menunggu hingga gadis itu membuka pintu kamarnya. Wanita bertubuh sintal itu menenangkan teman-teman Angel yang mengkhawatirkannya. "Dia akan baik-baik saja. Dia hanya butuh berbicara dengan dirinya sendiri. Kembalilah ke kamar, hari ini kita akan libur. Bersenang-senanglah kalian,"
"Benarkah?" tanya salah seorang anak asuhnya.
Madam Sienna mengangguk. Toh tak mungkin juga dia membuka usahanya jika Angel belum sanggup menenangkan dirinya sendiri.
Di dalam kamar Angel, perdebatan antara Angel dan Carmen masih berlangsung sengit. Kali ini, Carmen yang berbicara. "Aku hanya mengeluarkan emosi yang seharusnya dikeluarkan. Apa itu salah? Apa salah sesekali menjadi lemah? Apa salah jika sesekali aku menuntutmu untuk memakai hati alih-alih logika berpikirmu? Apa salah jika aku memintamu untuk mementingkan dirimu sendiri? Kita tidak lemah, Angel. Kita kuat dan ya, hanya butuh keseimbangan saja dalam hidup,"
"Tapi, tidak bisa, 'kan? Aku harus bekerja seperti ini untuk menghidupi diriku sendiri! Bagaimana jadinya kalau aku memakai hati? Apa kau memikirkan sampai sana? Kasus Dante yang terparah! Apa yang kau lakukan terhadap hatiku?" tuntut Angel, air matanya masih terus mengalir. Napasnya sangat sesak karena sakit yang dia rasakan dan entah mengapa, gadis itu juga berpikir otaknya kali ini tidak dapat berfungsi dengan baik. Semua bayangan tentang Dante dan Evelyn yang dia lihat pagi itu, terus berputar-putar di benaknya.
"Dia mencintaimu," jawab Carmen singkat. "Kau cukup membuka hatimu dan membiarkan aku yang bekerja,"
"Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi, Carmen! Aku tidak akan pernah membiarkanmu mengambil alih tubuh dan jiwaku! Ini sakit! Mencintai Dante Morgan teramat sakit! Pergilah! Menghilanglah, Carmen!" pekik Angel dan lagi-lagi dia melemparkan botol parfum barunya ke cermin.
Saat itu juga, Madam Sienna mendobrak pintu kamar Angel dan menemukan gadis itu terbaring di lantai tak berdaya dengan darah menetes-netes dari buku jarinya. "Angel! Ya, Tuhan, Anakku! Apa yang terjadi, Nak? Apa yang terjadi denganmu? Oh, Sayangku,"
__ADS_1
Angel menangis dalam dekapan Madam Sienna. Baru kali ini dia menangis meraung-raung seperti ini. Saat orang tuanya meninggalkan dia di kota itu, Angel tidak menangis seperti ini. Namun kali ini, tangisan Angel terdengar sangat pilu dan menyakitkan siapa pun yang mendengarnya.
...----------------...