
"Aku penasaran kenapa Frank tiba-tiba saja membahas Angel?" tanya Dante pada Theo setelah dia menyelesaikan pergulatan panasnya dengan Evelyn.
Theo yang saat itu sedang menyelesaikan pekerjaan yang diperintahkan oleh Dante, menutup laptopnya, dan menangkupkan kedua tangannya seperti posisi berdoa. "Mungkin Tuan Stanley merindukan Nona Angel. Aku pun begitu, Tuan. Setelah Nona Angel menghilang, rumah ini terlihat sepi dan suram. Hanya terdengar suara dessahan, erangan, lenguhan, dan cecapan sepanjang hari. Selain itu, hawa di rumah ini juga sudah berubah menjadi tidak enak,"
Kerlingan tajam Dante menembus jantung asisten pribadinya. "Apa maksudmu? Rumah ini tidak suram, kalau sepi, ya, kuakui memang sepi sejak Angel pergi,"
"Tapi, kenapa Frank tiba-tiba merindukan Angel?" tanya Dante sambil mengusap-usap dagunya.
Theo mengangkat kedua bahunya. "Mungkin benar kata Tuan Stanley kalau dia benar-benar mencintai Nona Angel. Berbeda dengan seorang pria yang hampir mengajaknya menikah tapi malah berkelana dengan mantan istrinya!"
"Tentu saja bukan Anda, Tuan Morgan," kata Theo cepat-cepat setelah kalimat sindirnya yang menohok dibalas dengan tatapan tajam oleh Dante.
"Aku kurangi bonusmu!" ancam Dante. "Pernahkah kau berpikir, di mana Angel berada saat ini?"
Theo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak tau, Tuan. Tapi satu orang yang aku curigai, Nyonya Smith dan kekasihnya,"
Dante segera yang sedari tadi duduk membelakangi asistennya, kini dia berbalik arah dengan cepat. "Kenapa kau mencurigai Evelyn?"
"Feeling," jawab Theo singkat.
Dante melempar bantal ke wajah Theo. "Sialan! Kupikir kau punya teori atau semacamnya!"
"Kalau dipikir-pikir, aku juga merindukan Angel," sambung Dante yang kini menatap kosong pada langit-langit. "Kalau dia masih hidup, di mana dia sekarang? Apa yang sedang dilakukannya? Apa dia merindukanku juga?"
"Kalau aku jadi Nona Angel, aku akan membenci Anda, Tuan. Melihat berita yang selalu tentang Anda dan Nyonya Smith itu menyakitkan hati!" tukas Theo sedikit kesal. "Saya pergi ke kantor dulu untuk menemui delegasi dari Nyonya Li Mei. Permisi,"
Setelah kepergian Theo, Dante merenung. Akhir-akhir ini memang para wartawan sedang gencar memberitakan tentang dirinya dan Evelyn.
Pria itu menghela napas panjang dan memejamkan kedua matanya. Dia memikirkan kata-kata Theo tadi dan memeriksa hatinya, apakah masih ada Angel di sana?
Setelah Angel menghilang, Dante menahan sakit di hatinya sekaligus menahan rindu. Di saat itu, Evelyn datang dan berhasil mengalihkan rasa sakit serta rindu Dante pada kekasihnya. Namun menurut Theo dan Frank, apa yang dia lakukan itu salah. Padahal tujuan Dante hanyalah untuk mengobati luka akibat kehilangan Angel. Di situlah Dante merasa marah dan kesal pada kedua orang kepercayaannya itu.
__ADS_1
Selain itu, Dante juga merasa sangat bersalah atas hilangnya Angel. Berhari-hari dia bermimpi buruk tentang Angel yang diculik, disekap, dan dijahati oleh pria yang tidak dia kenal. Dalam mimpi itu, Angel terus berteriak meminta tolong padanya. Teriakan Angel itu terdengar sangat pedih, gadis itu tak hanya berteriak, tetapi juga merintih kesakitan.
Dengan adanya Evelyn di sisinya, Dante bisa melampiaskan semua rasa takut, rasa bersalah, rasa rindunya, dan dia bisa melakukan apa pun kepada mantan istrinya itu dalam semalaman sehingga dia akan tertidur karena kelelahan tanpa sempat bermimpi.
Lelah dengan pikirannya, Dante memutuskan untuk berenang di kolam di samping rumahnya. Saat dia asik berolahraga air itu, Evelyn datang tanpa selembar benang pun menutupi tubuhnya.
Dia bergerak cepat menghampiri Dante dan segera melummat bibir pria itu. "Daddy, aku akan menemanimu di sini,"
Tanpa perlu diperintah lagi, Dante membalas pagutan panas itu dengan ganas. Evelyn di mata Dante kini berubah menjadi Angel dan selalu Angel.
Sementara itu di negara yang cukup jauh dari tempat Dante, seorang pria terlihat sedang berbicara serius dengan beberapa pria lainnya.
"Dia sungguh-sungguh adikmu, Sid?" tanya salah satu pemuda itu.
Sid mengangguk. "Tentu saja! Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Wajah si pria merona dan dia mengalihkan pandangannya ke arah seorang gadis yang tampak sedang mengeluar masukan barang-barang dari rumahnya. "Dia cantik, Sid! Aku yakin dia seorang pendatang. Warna kulit kalian saja berbeda,"
Si pemuda itu mendengus. "Huh! Jangan berucap seperti itu, Sobat. Maksudku, apa benar kau hanya menganggap dia sebagai adikmu? Tidak adakah semacam debaran atau semacamnya di dadamu saat kau berdekatan dengannya?"
Sid menggeleng cepat. "Tidak ada! Mau secantik apa pun, dia tetap adikku! Adikku yang cengeng, cerewet, kasar, dan suka mengadu! Tidak ada debaran kecuali debaran emosi!" balas Sid berbohong.
"Aku iri sekali padamu, Sobat. Berikan salam cintaku pada adikmu yang cantik itu. Rasa-rasanya aku menyukai dia. Aneh sekali, padahal kita jarang bertemu. Ada sesuatu di dirinya yang membuatku tertarik," ucap pemuda itu lagi. Matanya terus memandangi gadis yang kini sedang melambaikan tangan ke arah mereka dengan memamerkan senyumnya yang cantik.
Sid mengusap wajah kawannya itu dengan kasar. "Jangan memandangi adikku seperti itu. Kalau kau sampai jatuh cinta padanya, selesai sudah hubungan pertemanan kita, Neil! Aku pulang dulu dan ingat kata-kataku!"
Sejak pengakuan cinta Frank kepada Angel yang cukup mengejutkan Sid, kali ini sahabat dekatnya mengatakan kalau dia menyukai Angel.
Selagi kedua tangannya sibuk bekerja membantu Angel dan Sarah membawakan barang-barang jualan mereka masuk ke dalam, benak pria itu terus berpikir bagaimana cara menyembunyikan Angel supaya tidak semakin banyak pria yang menyukainya.
Setelah selesai dengan segalanya, Sarah membuatkan mereka makan malam. Seperti malam-malam sebelumnya, Angel akan duduk di pinggir pantai setelah segalanya selesai.
__ADS_1
"Pakai pakaian panjang. Sudah banyak orang yang mengenalmu!" kata Sid memperingatkan.
Angel yang sudah keluar kamar dengan terusan berwarna putih tanpa lengan kembali lagi ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Tak lama, dia sudah keluar dengan kaus ketat dan celana pendek.
Tak sabar, Sid mengambil pakaian miliknya dan dia letakkan pakaian itu di atas kepala adik angkatnya. "Pakai punyaku!"
"Tapi-, ...!"
"Atau kau kularang kau keluar!" ancam Sid lagi dengan tatapan tajam.
Dengan mulut mencebik, Angel kembali masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian dengan jersey milik Sid yang terlalu besar untuk tubuhnya yang kecil.
"Sid, lihat ini! Aku tenggelam!" protes Angel kesal sambil memperlihatkan dirinya memakai pakaian jersey itu.
Sid menahan tawa. "Bagus! Tunggu aku diluar, aku akan menyusul!"
Beberapa menit kemudian, kakak dan adik itu sudah asik mengunyah sambil menikmati angin malam yang berhembus hangat dari pinggir pantai.
Sid teringat dengan Neil, sahabatnya yang menyukai Angel. "Kau dapat salam dari Neil,"
"Oh yah? Salam kembali dariku, hehehe! Kenapa kau cemberut melihat adikmu yang cantik ini terkenal dan disenangi orang-orang?" tuntut Angel kesal.
Sid mengalihkan pandangannya. Dia tidak tahan melihat wajah Angel yang sedang tersenyum seperti tadi. Jantungnya pasti akan berdebar-debar lagi dan benar saja, Sid dapat merasakan detak jantungnya yang meningkat. Pria itu mengutuk debaran bodoh yang terjadi pada jantungnya.
"Kau menyukai tipe pria seperti apa? Apakah seperti Frank? Ataukah seperti Neil? Ataukah tipe pria sabar, penyayang, humoris, baik hati, dan manis seperti aku?" tanya Sid. Dia ingin mengetes Angel dan juga hatinya sendiri.
Angel tersenyum dan merapatkan duduknya pada Sid. Dengan terkikik geli dia menjawab, "Sepertimu, hehehe!"
Sid menyembunyikan salah tingkahnya. Tak bisa ditahan lagi, wajahnya yang memerah kini semakin merah dan sepertinya Angel sangat menikmati sikap malu-malu Sid.
"Astaga!" tukas Sid mengalihkan pandangannya kembali. Jantungnya kini berdebar semakin cepat dan tak bisa dia alihkan lagi.
__ADS_1
...----------------...