Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Serangan Pagi Hari


__ADS_3

Suatu pagi yang damai, Frank yang masih terlelap dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang masuk ke kamarnya dengan tiba-tiba dan orang yang tampaknya wanita itu, segera saja mengoceh tanpa menunggu Franj terbangun dari tidurnya.


"Franky! Kawanmu ini sungguh sudah kehilangan akal sehatnya! Dia menceraikanku, hanya lewat pengacaranya! Apa kau mengetahui hal itu, Frank? Bangunlah!" tukas wanita itu sambil terus mendorong-dorong lengan Frank supaya pria itu segera bangun. "Frank, ayo bangun!"


Frank meregangkan tangan dan kakinya. Kemudian mengeluh kesal. "Aarrghh! Berisik! Apa kau tau, sudah satu minggu ini aku tugas malam dan baru saja aku sampai rumah, memejamkan mataku, dan kau datang! Sangat mengganggu!"


"Manalah aku tau, kalau kau jaga malam!" balas wanita itu mencebik dengan sengit.


Frank yang tertidur dengan masih memakai kemeja itu pun mendengus kesal dan membuka kedua matanya untuk melihat siapa yang datang. Pria berkacamata itu segera mengancingkan kemejanya begitu tau siapa yang mengganggu tidurnya pagi hari itu. "Eve! Apa yang kau lakukan di kamarku? Bagaimana kau bisa masuk ke dalam?"


"Pelayanmu. Aku hanya mengatakan ingin bertemu denganmu, penting, dan dia menunjukkan kamarmu," jawab Evelyn dengan santai. Wanita sekssi itu mendekatkan wajahnya ke arah Frank. "Kalau dilihat-lihat, kau manis juga kalau baru bangun. Hehehe!"


"Tidak sopan! Mundur!" tukas Frank mendorong kening Evelyn agar menjauh. Lalu, dia beranjak dari ranjangnya. "Lalu, apa keperluanmu? Apa ada yang mendadak sampai kau datang ke sini pagi-pagi sekali?"


Evelyn merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih. "Ini, bacalah!"


Dengan malas, Frank mengambil amplop yang diberikan oleh sahabatnya itu dan membacanya. Dia tercengang setelah membaca isi surat itu. "Kapan?"


"Kemarin sore. Pengacaranya menghubungiku dan memintaku untuk menyiapkan pengacara juga serta menemuinya pagi ini," jawab Evelyn lemas. "Aku bingung. Aku tidak mau bercerai, Frank,"


Frank masih belum mengerti, mengapa Dante menggugat Evelyn secara mendadak. Baru beberapa hari yang lalu, teman dekatnya itu mengatakan kalau dia masih bingung dengan status pernikahannya dengan Evelyn. Apa yang terjadi?


Demi menuntaskan rasa ingin tahunya, Frank mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Dante. Namun setelah beberapa kali dia mencoba, ponsel Dante menginformasikan kalau pria itu berada di luar jangkauan.


"Di mana dia?" tanya Frank kepada Evelyn.


Evelyn mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau. Kemarin malam, aku pulang ke rumah. Dante belum sampai rumah dan aku menunggunya dengan sabar dan setia. Tapi ternyata, dia datang bersama dengan gadis pelacur itu! Bagaimana aku tidak kesal? Bahkan, Dante mengatakan kalau dia memilih gadis itu dibandingkan aku. Setelah itu, mereka pergi begitu saja,"


Frank menggerakkan kepalanya sedikit. "Gadis pelacur?"


"Ya," jawab Evelyn singkat.


"Angel?" tanya Frank lagi.


Evelyn mengangguk.

__ADS_1


Angel? Bagaimana Dante bisa bertemu dengan Angel? Apakah mereka bertemu di kedai kopi tempat gadis itu bekerja? Mengapa Angel mau ikut bersama Dante? Bukankah Dante sudah membuat Angel patah hati?


Semua pertanyaan itu mengusik benak Frank. Rasa kantuk dan lelahnya dengan cepat menguap begitu saja hanya karena memikirkan Angel. "Kau sama sekali tidak tau ke mana mereka pergi?"


"Kalau aku tau, aku tidak akan datang ke sini, Franky Bodoh! Kau harus membantuku! Apa yang harus aku lakukan dengan ini? Aaah, kepalaku pusing! Aku pikir, Dante tidak akan pernah menceraikanku, kenapa sekarang dia menggugatku?" tanya Evelyn setengah menangis dan dia menggaruk rambutnya yang tak gatal dengan kasar. "Ini semua karena pelacur itu! Entah apa yang dilakukan oleh gadis sialan itu, sampai suamiku seperti ini!"


Frank hanya mengangguk-angguk mendengar ocehan dan keluhan Evelyn. Pikirannya masih penuh oleh Angel dan Dante. Tiba-tiba saja, dia menarik tangan Evelyn untuk keluar dari kamarnya. "Keluar! Tunggu aku di depan!"


"Eh? K-, kenapa?" tanya Evelyn sedikit terkejut.


Dokter muda itu menutup pintu kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan kaus santai. Tak lama, dia sudah keluar sambil menenteng kunci mobil di tangannya.


Dia melupakan Evelyn yang menunggunya di luar dan pada akhirnya, wanita itu mengejar Frank dengan suara sepatu hak tingginya yang berisik. "Frank, kau mau ke mana? Frank, tunggu!"


Namun, Frank sama sekali tidak menghiraukannya. Dia sudah masuk ke dalam mobil dan mengeluarkan mobil mewah berwarna merahnya keluar dari garasi meninggalkan Evelyn yang tampak kesal dan lelah. Pria itu membelah jalanan yang masih sepi menuju kedai kopi tempat gadis pujaan hatinya bekerja.


Di kediaman Angel, dua orang sedang tertidur pulas.. Suara alarm membangunkan sang gadis dan gadis itu segera membuka kelopak matanya. Namun saat dia hendak beranjak dari ranjangnya, dia merasakan ada lengan kekar yang merangkul tubuhnya.


Gadis itu berbalik arah menatap si pemilik lengan kekar tersebut. Dia tersenyum dan membelai wajah pria yang sedikit mendengkur di hadapannya. "Entah mengapa, aku bisa mencintaimu, Tuan Morgan,"


Mereka berdua pun tertawa.


"Apa yang kau lakukan pagi ini?" tanya si pria dengan suara serak karena baru saja bangun tidur.


"Bekerja," jawab gadis cantik itu.


Lengan kekar pria itu semakin mendekap erat tubuh sang gadis. "Satu hari ini saja, bisakah kau tidak bekerja? Ayolah, Angel. Temani aku,"


Angel tertawa dengan suaranya yang renyah. "Hahaha, tidak bisa, Daddy. Aku harus bekerja. Pekerjaan ini tidak dapat menghasilkan uang dengan cepat seperti saat aku bersama dengan Madam Sienna, tapi aku menyukainya,"


Pria itu mengecup kening, kedua mata, hidung, pipi, serta bibir Angel dengan lembut. "Kau lebih menyukai pekerjaanmu dibandingkan dengan aku?"


"Tentu saja tidak. Kau berbeda, Dad," jawab Angel yang mulai menikmati kecupan demi kecupan tiada henti yang diberikan oleh pria yang dipanggil Daddy itu.


Tak tahan, pria itu memagut benda kenyal Angel dalam-dalam. Sementara itu, tangannya sudah berlarian mencari sesuatu yang dapat memuaskan gairahnya di pagi hari itu.

__ADS_1


"Apa yang membuatku berbeda, Sayang?" tanya Dante di sela-sela ciumannya.


Angel mengeluarkan suara yang sangat menggoda saat Dante menyentuh salah satu daging padat miliknya. Tubuh mereka sudah sama-sama polos, sehingga mereka tidak perlu membuang waktu untuk melepaskan pakaian.


"Hmmm? Ya ini! Ini jelas berbeda, Dad. Hehehe! Oouuhh, Dad, jari-jarimu membuatku mabuk," dessah Angel sambil menahan tangan Dante yang bermain-main di bukit indahnya.


Tak mau kalah, tangan Angel pun berselancar menjelajahi tubuh Dante. Dia membelai perlahan dada bidang kekasihnya dan mengukir setiap otot yang tercetak di sana.


Permainan mereka semakin panas dengan tangan-tangan yang saling bergerak dan suara cecapan juga dessahan memenuhi kamar sempit milik Angel tersebut.


Setelah pemanasan yang diberikan oleh Dante, permainan inti pun di mulai. Dante menghujamkan batang kejantanannya ke dalam lembah surgawi Angel yang sudah siap menerima cinta darinya.


Pada akhirnya, pelepasan pun terjadi. Dante berbaring kembali di sisi Angel dengan napas tersengal-sengal. "Sepertinya aku akan sehat jika tinggal bersamamu karena kau membuatku olahraga rutin di pagi hari,"


Angel tersenyum. "Kalau begitu, tinggal saja bersamaku,"


Dante tercengang mendengar permintaan kekasih mudanya itu. "Benarkah? Kau mau?"


Angel mengangguk. "Ya. Oh, aku akan membuatkanmu sarapan. Tunggulah di sini,"


Selagi Angel berjalan ke dapur, Dante mencari ponselnya dan menonaktifkan mode pesawat pada ponsel keluaran terbarunya itu.


Suara berdenting tak berkesudahan segera terdengar dari ponselnya. Dante menunggu hingga dentingan itu berakhir, kemudian dia mengecek satu per satu pesan yang masuk untuknya.


Kedua matanya membulat sempurna kala dia membaca pesan dari seseorang. "Sialan!"


Dia pun mengambil pakaiannya dan menghampiri Angel yang berada di dapur. "Sayang, maafkan aku karena aku harus segera pergi. Ada sesuatu yang harus aku urus pagi ini. Kau bisa menyimpan sarapan ini untukku. Sampai nanti, Sayang,"


"Kau mau ke mana?" tanya Angel.


Namun, Dante tidak menggubris pertanyaan itu. Setelah dia memberikan kecupan singkat pada Angel, dia segera pergi dan menyalakan kendaraannya.


"Hei, temui aku di alamat yang sudah kukirimkan kepadamu! Tunggu aku di sana!" titah Dante sambil menaikan kecepatan kendaraannya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2