Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Selimut Cinta


__ADS_3

Malam itu terasa kelam dan panjang untuk Angel. Rasa sakit dan takut memenuhi dirinya. Sosok pria yang pernah dia cintai dan dia percaya sanggup berubah menjadi monster menakutkan hanya demi sebuah kenikmatan semata.


Air mata yang tidak diperdulikan oleh sang pria tak kuasa menghentikan perbuatan jahatnya pada gadis yang berbaring lemah di atas piano tersebut.


"Dante, kumohon hentikan. Sakit, Dante," isak Angel.


Namun, Dante semakin menusukkan lidahnya ke dalam inti Angel dan menyiksa gadis itu tanpa ampun. Tangan pria itu sudah tidak lagi membekap Angel, melainkan bekerja di bagian bawah tubuhnya sendiri. Suara napas Dante semakin memburu, hingga akhirnya dia berhasil melakukan pelepasan sendiri.


Setelah puas, dia tersenyum, dan membantu Angel untuk beranjak dari atas piano serta memeluk gadis yang sudah tidak berdaya itu. "Maafkan aku, tapi kau membuatku penasaran. Kenapa kau tidak menuruti perintahku saja? Kalau kau menurut padaku, aku tidak akan berbuat sekejam itu,"


"Kau tak berbeda dengan Jarrel! Dia melakukan hal yang sama kepadaku! Itu yang membuatku trauma dan istrimulah yang memerintahkan Jarrel untuk merusakku! Aku nyaris mati saat aku melarikan diri dari sana! Kalian semua binatang!" tukas Angel setelah dia berhasil menguasai dirinya lagi.


Dante tersenyum lagi, seringai menyeramkan muncul di wajahnya. "Kau tidak akan pernah bisa keluar dari tempat asalmu, Angel. Sejak awal kupikir kau akan dapat mengisi kekosongan hatiku, tapi nyatanya kau tak lebih dari sebuah selimut cinta yang hanya mengisi malamku. Aku sadari itu saat kau tidak ada, di saat aku lelah mencarimu, dan di saat aku membutuhkan kehangatan darimu. Kau tergantikan oleh wanita lain dengan mudahnya,"


Tangan Angel mendarat kencang di pipi Dante. "Brengsek! Aku bisa menjadi lebih dari sekedar selimut untuk pria lain yang menghargaiku! Ingat itu!"


Angel bergegas pergi, tetapi Dante menahan kedua tangannya. "Kau tidak memiliki uang sepeser pun, Sayang. Bekerjalah denganku dan jadilah selimut cintaku sampai kau berhasil mengumpulkan uang untuk kembali,"


Gadis itu terdiam. Dia merasa terpenjara dan tidak memiliki banyak pilihan untuk keluar dari kediaman Dante. Air matanya meleleh dan membasahi kedua pipinya.


Dante menarik tubuh gadis cantik itu ke dalam pelukannya. "Kau tau aku mencintaimu, 'kan? Nyalakan sedikit api gairah di dirimu sama seperti di restoran kemarin, maka aku akan memperlakukanmu dengan baik,"


Angel memejamkan kedua matanya dan membiarkan air matanya semakin berjatuhan di kemeja Dante. Haruskah kini dia membiarkan Angel menguasainya kembali? Tidak adakah kesempatan baginya untuk bisa keluar dari kehidupan kelamnya?


Di sisi lain, Angel akhirnya berhasil mendapatkan jawaban mengapa Dante tidak pernah mencarinya sampai berita tentang kedekatan Dante dengan Evelyn. Ya, karena Dante tidak pernah benar-benar membutuhkan dia di hidupnya.


Angel pun membiarkan Dante mengusap air matanya dan menggandeng tangannya dengan mesra seolah tidak ada yang terjadi di dalam restoran itu. Setelah selesai, mereka berdua berjalan keluar dan meninggalkan restoran tersebut.


Keesokan harinya, Angel terbangun, dan teringat janji temunya dengan Theo. Dia melihat Dante sudah tidak ada di sisi ranjangnya. Gadis itu tidak peduli, dia beranjak dari ranjang, dan duduk di sebuah kursi kecil di kamarnya.


Hari ini ada yang harus dia lakukan dengan Theo, hanya pria itulah yang menjadi harapan Angel satu-satunya untuk bisa keluar dari rumah itu.


Selagi dia menyusun rencana, Dante datang. Pria itu segera merangkul pundak Angel dan mengecup ceruk lehernya.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Dante di telinga Angel.

__ADS_1


Angel berusaha keras untuk memunculkan Angel dan menyingkirkan Carmen, tetapi dia selalu gagal. Lagi-lagi Carmen yang muncul. Apa karena Sid mengatakan dia tidak mengenal Angel jadi Carmen berhasil mengalahkan Angel?


"Pagi, Dad," balas Angel lagi.


Tangan Dante mulai meraba-raba mencari sesuatu yang berada di tubuh bagian depan gadis itu. "Ah, tadi malam aku tidak ke sini," katanya sambil memainkan dua gundukan padat milik gadis itu.


Angel memejamkan kedua matanya berusaha menikmati permainan tangan Dante. Namun, tidak ada rasa apa pun yang muncul. Angel pun membatin dalam hati, "Angel muncullah. Aku butuh bantuanmu!"


Tanpa gadis itu sadari, tangannya memukul tangan Dante. "Pelan-pelan! Aku bukan mainan!"


Dante tertawa, "Hahaha, baiklah. Akan kupenuhi aturanmu dan akan kumainkan pelan-pelan,"


Angel merasakan Carmen menghilang dan sosok pribadinya yang lain kini muncul. Dia mengambil karet rambut dan menguncir rambutnya membentuk ekor kuda tinggi.


Melihat Angel membuka akses di lehernya, bibir Dante seketika berlarian di sana. Dia mengecup, menjilat, bahkan menyesap berkali-kali.


Angel pun sudah duduk di pangkuan pria yang sedang asik menikmati tubuhnya itu. Tangan Dante tidak berhenti memainkan bola kembar milik Angel sementara bibirnya sudah menuruni pundak Angel.


Carmen meninggalkan Angel dan menutup akses hati serta pikirannya akan Sid. Dia membiarkan Angel bekerja sampai Dante memberikan apa yang dia inginkan saat itu.


Bibir Dante semakin bergerilya di kedua pucuk bukit Angel. Lidahnya bermain bergantian di kedua benda itu dengan rakus, seakan kelaparan.


Namun, saat Dante hendak mencumbu bibir Angel yang menggoda, gadis itu menahannya. "Tidak untuk saat ini,"


"Baiklah! Baiklah!" jawab Dante tak sabar.


Tak lama, dia sudah melanjutkan permainannya. Angel sengaja mengulur waktu. Dia tidak ingin melakukan penyatuan dengan Dante. Entah mengapa dia merasa mengkhianati Sid walaupun hubungan mereka sudah kandas di tengah jalan.


Dante semakin tak sabar. Dia menggendong Angel dan membaringkannya di ranjang. Angel tak punya ide lagi bagaimana caranya mengulur waktu.


Di saat Angel putus asa, seseorang mengetuk pintu kamar mereka. "Tuan Morgan,"


Dante memejamkan kedua mata sesaat dan menggeram kesal. "Aarrghh! Theo Brengsek!"


"Kita lanjutkan saja, Sayang. Lupakan Theo!" ucap Dante lagi. Lalu, dia kembali memposisikan batang kejantanannya di pinggir lubang inti milik Angel.

__ADS_1


Angel menahan tubuh Dante saat pria itu hendak menghujamkan senjata tumpulnya. "T-, Theo dulu! Aku yang mau bertemu dengannya. Kau lupa?"


Seolah bersengkongkol dengan Angel, Theo kembali mengetuk pintu kamar mereka. "Tuan Morgan? Nona Angel?"


"Lihat? Aku akan menemuinya! Kita lanjutkan nanti malam," kata Angel. Lalu dia mengecup pipi Dante dan bergegas berganti pakaian.


Beberapa menit kemudian, Angel sudah berbicara dengan Theo. Dia meminta pria itu berjanji kepadanya untuk tidak menceritakan kisahnya kepada siapapun.


"Termasuk kepada Dante! Berjanjilah! Aku tidak bisa membayarmu, tapi aku akan menjadi teman yang tulus untukmu. Teman yang selalu ada saat kau membutuhkan seseorang," kata Angel bersungguh-sungguh.


Theo memandang gadis berwajah cantik yang sedang memandangnya dengan mata biru cemerlangnya. "Itu sudah sangat berharga untukku, Nona,"


"Carmen. Panggil saja aku dengan Carmen. Aku percaya kepadamu, Theo," kata Angel lagi. Dia melihat Theo mengangguk dan mereka pun saling berjabat tangan. "Baiklah, begini, ...."


Angel menceritakan kejadian saat diculik. Dia menyebutkan secara terperinci apa saja yang dilakukan oleh Jarrel dan Evelyn, jalan mana yang mereka lewati, nama tempat di mana dia di sekap, dan bagaimana dia bertemu dengan Sarah serta Sid.


"Lalu, apa rencanamu?" tanya Theo lagi.


"Aku ingin kau melakukan-, ...." balas Angel semakin berbisik.


Theo mengangguk. "Bisa saja kulakukan itu, tapi aku tidak menjamin dapat menemukannya dengan cepat. Apalagi Nyonya Smith, dia memiliki banyak orang yang siap menutup berita buruk tentangnya,"


"Aku tau. Aku hanya ingin kita menyeret Jarrel ke penjara dan membuat mereka semua yang ada di sini tidak mengganggu hidupku lagi," kata Angel getir.


"Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi, kau tidak memiliki ponsel. Bagaimana aku bisa menghubungimu?" tanya Theo. Tak sampai 2 menit, mata Theo kembali berbinar. Dia mengambil tasnya dan mencari-cari sesuatu di dalam tas kulit tersebut. Setelah mengeluarkan hampir seluruh isi tasnya, dia tersenyum lebar, dan memberikan sebuah ponsel kepada Angel. "Ini kupakai untuk menghubungiku keluargaku. Tapi, sejak Tuan Morgan memberikanku ponsel baru, itu sudah jarang kugunakan. Untukmu saja dan nomor yang ada di ponsel itu, hanya aku yang mengetahuinya,"


Angel menerima ponsel yang masih dalam kondisi bagus itu dan menyalakannya. "Masih berfungsi,"


Wajah Theo menjadi bertambah cerah. "Oke, pakai itu dan nanti aku akan menghubungimu ke nomor itu,"


"Baiklah. Terima kasih, Theo," kata Angel memberikan rangkulan singkat untuk pria itu.


Theo pun bergegas keluar untuk mengerjakan misi dari Angel. Dia juga berharap semoga keadilan dapat ditegakkan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2