Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Pria Yang Ditakuti


__ADS_3

Berita tentang kematian tragis pengacara handal dan ternama di seluruh negeri, Joshua Floyd, sudah tersebar ke mana-mana dalam waktu cukup singkat. Semua orang yang mendengar kabar itu menyayangkan aksi bunuh diri Josh.


Dalam waktu dua jam, berita tentang kematian Josh berada di posisi nomor satu kata pencarian di seluruh platform media sosial. Tak terkecuali Dante yang sedang berada di sebuah restoran hotel.


"Polisi akan menyelidiki penyebab kematiannya, Tuan. Anda pasti akan dipanggil untuk menjadi saksi," ucap Theo.


"Sebelum aku dipanggil, aku akan ke kantor polisi terlebih dahulu. Aku tidak bersalah, jadi, aku akan datang untuk memberikan informasi terkait kasus bunuh diri mantan pengacaraku itu. Lagi pula, aku tidak menyentuhnya sama sekali," jawab Dante tenang.


Percakapan antara Theo dengan Dante, cukup membuat bulu kuduk Angel berdiri. Seberapa hebat pengaruh seorang Dante Morgan pada kehidupan seseorang sampai orang tersebut mengakhiri hidupnya sendiri? Apa yang dikatakan oleh Dante kepadanya? Ataukah ada yang membunuh pria malang itu? Angel sama sekali tidak tau dan tidak mau tau tentang pertanyaan-pertanyaan yang berlarian di kepalanya. Tenryata, Angel baru mengenal Dante sedikit sekali.


Beruntunglah, Theo berada bersama mereka. Asisten pribadi kekasihnya itu sadar kalau Angel sedikit gugup dan takut. Di sela-sela kesibukannya tadi, Theo berbisik kepada Angel, "Tuan Morgan orang baik. Dia tidak akan mencelakai orang. Hanya saja, ucapannya tajam dan dia mempunyai kuasa untuk memblacklist seseorang. Jika sudah seperti itu, tidak akan ada lagi orang yang percaya kepada orang yang sudah di blacklist oleh Tuan Morgan,"


Angel hanya mengangguk. Walaupun Theo berbicara dengan suara setenang lautan, tetapi tetap saja apa yang dibicarakan Theo cukup mengerikan bagi Angel.


"Oh, Tuan Morgan, apakah Anda tidak jadi pulang untuk menemui Nyonya Smith?" tanya Theo lagi.


Dante tersenyum lebar. "Tidak dan aku yakin, dia sudah membaca berita. Biarkan ketakutan yang menghampirinya. Paling tidak, dia bisa berpikir kalau dia salah menyalakan api,"


Benar saja, di kediaman Morgan, Evelyn yang sudah mendengar berita tentang kematian Josh, dilanda ketakutan saat itu juga.


"Mengerikan! Aku tak pernah tau kalau suamiku bisa memiliki kuasa sebesar itu!" kata Evelyn bermonolog. Tangannya gemetar dan rasa paniknya mulai naik perlahan-lahan.


Dia berpegangan pada nakas yang ada di kamarnya. Wanita itu yakin, dia tidak akan sanggup menggerakkan tubuhnya saat ini. "Apa yang harus kulakukan? Dante bisa saja mengejarku dan membunuhku juga! Aarrgghh! Brengsek! Hanya karena satu pelacur, semuanya menjadi berantakan!"


Dengan merayap pada dinding, Evelyn berjalan mencari tas tangannya. Setelah menemukan tas kecil berwarna putih hitam tersebut, Evelyn mengambil ponsel yang ada di dalam tas itu. Dia memainkan jarinya pada layar ponsel dan tak lama, dia meletakkan ponsel itu di sisinya.


Selang beberapa menit, satu buah pesan masuk ke dalam ponselnya. Pesan itu hanya bertuliskan 'Oke' saja tanpa ada kata-kata lain.


Sementara Evelyn menunggu, Dante menyelesaikan urusannya dengan Theo. Sedikit banyak, dia merasa bersalah pada gadis itu. Maka dia meminta Theo untuk membuka kamar di hotel itu supaya Angel bisa beristirahat.

__ADS_1


Gadis itu pasti lelah menunggu, belum lagi kabar mengejutkan yang dia dengar, pasti membuatnya terpukul. Selagi Theo memesan kamar, Dante menghampiri Angel. "Hei, Sayang. Aku benar-benar minta maaf sekali padamu atas hari ini. Aku tidak menyangka kalau permasalahan ini akan menjadi rumit. Maafkan aku,"


"Tidak apa-apa," jawab Angel singkat.


"Kau takut padaku?" tanya Dante saat melihat manik Angel yang menyiratkan rasa takut di dalam dirinya.


Angel terdiam. Saat ini memang dia sedikit takut kepada Dante. Apa mungkin Dante memiliki sisi lain seperti dirinya? Apakah ada Dante lain?


"Sedikit," jawab Angel memaksakan senyum. "Aku sedikit lelah juga, Dad,"


Dante menjulurkan kepalanya mencari Theo yang masih berada di depan meja resepsionis, sepintas dia melihat jam dan kedua matanya membulat. "Astaga! Pantas saja kau lelah, kita melewatkan jam makan siang. Ayo, kita sambil pesan makanan. Apa yang ingin kau makan?"


Tak lama, Theo muncul dengan membawa kartu kamar hotel diiringi dengan petugas hotel yang membawakan berbagai macam makanan. Segera saja, meja mereka dipenuhi oleh piring yang mengepul.


Angel yang memang kelaparan, makan dengan lahap. Beberapa kali dia tampak menambahkan makanan ke piringnya. Mulutnya yak berhenti mengunyah sampai beberapa puluh menit ke depan.


"Panggil Theo saja. Di antara kita bertiga, Tuan Morgan yang paling tua," kata Theo.


Tiba-tiba saja dia mengaduh dan meringis kesakitan. "Aduuhh!"


"Jaga bicaramu!" tukas Dante.


Theo mencebik. "Itu kenyataan,"


Melihat adegan antara Dante dan Theo, Angel menemukan sifat Dante yang baru lagi. Dia ramah, tidak suka diremehkan atau ditertawakan, dia loyal, dan dia sangat memperhatikan karyawannya. Mungkin benar apa kata Theo tadi. Angel pun memutuskan untuk mempercayai kata-kata Theo tentang Dante Morgan.


Setelah selesai makan, Theo menyerahkan kartu kamar hotel kepada Angel. "Naiklah. Aku diminta oleh Tuan Morgan untuk memberikan ini kepadamu. Istirahatlah, nanti Tuan Morgan akan menyusul,"


Angel mengambil kartu itu dan melihat Dante yang mengangguk kepadanya. Angel pun naik seorang diri ke kamar, sedangkan Dante dan Theo menunggu kedatangan beberapa orang.

__ADS_1


"Tuan Hoult belum sempat aku wawancara, Tuan. Tapi, aku sudah memberitahukan kepadanya untuk menemui kita di sini. Ah, dan Tuan Hoult ini adalah orangku, bukan orang Tuan Stanley. Harap diingat!" protes Theo.


"Ya, aku minta maaf. Nick? Itu 'kan, nama panggilannya?" tanya Dante.


Theo mengangguk. "Benar, Tuan,"


"Jadi, jika dia melakukan kesalahan, kau harus bertanggung jawab, Theo. Karena kau yang membawanya kepadaku," ucap Dante lagi sembari menggoda asisten pribadinya.


Pria berusia 20-an tahun itu menelan salivanya. "B-, baik, Tuan. Tapi sesungguhnya itu dari Tuan Stanley,"


"Sudahlah! Ah, apakah itu dia?" tanya Dante menunjuk pada seorang pria dengan tubuh tegap dan berjanggut sedikit lebat. "Dia oke,"


Setelah berbincang-bincang, Dante mengalihkan tugas Josh pada Nick. Terutama untuk sidang perceraian yang tak kunjung usai. "Kau tidak mudah tergoda wanita, 'kan? Wanita yang kau hadapi nanti akan seperti ular,"


Nick tertawa. "Hahaha! Tenang saja, Tuan Morgan, aku bukan pencinta wanita,"


"Heh! Tapi, baguslah kalau begitu," jawab Dante lagi.


Dante kembali mengirimkan berkas gugatan cerainya pada Nick dan dia meminta pria berjanggut itu untuk segera mendaftarkannya ke pengadilan.


"Baik, Tuan Morgan, akan saya lakukan," sahut Nick.


Namun, Dante mengetuk meja dan menatapnya tajam. "Aku tidak mau akan, aku mau sekarang juga kau kirimkan berkas itu ke pengadilan dan berikan laporannya padaku hari ini juga! Catat, siapa yang menerima berkasmu, di mana pengadilan mana sidang akan dilaksanakan, kapan hari dan jamnya dan berapa lama aku harus menunggu! Itu yang harus kau laporkan kepadaku! Kau sanggup?"


Nick mengangguk mantap. "Saya sanggup, Tuan! Saya berangkat sekarang,"


"Bagus, kutunggu laporanmu! Jika kasus ini berhasil kau tangani dengan baik, uang akan mendatangimu dalam waktu kurang dari 24 jam. Pegang kata-kataku!" sahut Dante sambil tersenyum puas.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2