
Satu tahun sudah Angel menjadi keluarga Jones dan nama belakangnya pun kini resmi berganti menjadi Jones, Carmen Jones. Betapa bahagianya Angel setiap kali dia berkenalan dengan seseorang, dia akan menyebutkan namanya dengan lantang disertai dengan senyuman khas yang menambah kecantikannya.
Sarah Jones memang sudah mendaftar Angel secara resmi untuk menjadi putrinya. Tak hanya Angel saja yang senang, Sarah pun ikut berbahagia karena keinginannya untuk mendapatkan anak perempuan terwujud.
Karena Angel tidak memiliki akta lahir ataupun identitas diri, Sarah mengajak Sid untuk berunding tentang hari lahir Angel.
"Samakan saja dengan hari kasih sayang. 14 Februari," usul Sid bersemangat.
Sarah menautkan kedua alisnya. "Kenapa begitu? Kenapa tidak kita buat di hari Natal atau perayaan lain?"
Sid berpikir sebentar, kemudian wajahnya kembali cerah. "Ah, karena dia disukai banyak orang! Itu, 'kan, namanya dia dikasihi dan disayangi,"
"Ide bagus! Berapa umurnya?" tanya Sarah lagi.
"Katakan saja 21 tahun," jawab Sid santai.
Setelah data tentang Angel selesai, mereka meneruskan informasi tersebut ke pihak berwewenang dan pada akhirnya, proses adopsi Angel pun disetujui oleh hukum. Sehingga, mulai hari itu Angel resmi menjadi bagian dari keluarga Jones.
Untuk merayakan kedatangan Angel di keluarga itu, Sarah mengadakan pesta untuknya. Dia memasak banyak sekali makanan.
"Bu, makanan sebanyak ini, siapa yang akan menghabiskan?" tanya Sid melihat tumpukan makanan yang mengular di meja makan.
"Bukan untukmu! Aku mengundang pria tampan yang sering datang itu. Katanya dia tinggal sendiri di sini dan dia seorang dokter di rumah sakit yang baru itu, Sid. Aah, betapa mulia hatinya. Pasti susah mencari makanan apalagi kalau tinggal sendiri, jadi aku akan bawakan setengah makanan-makanan ini untuknya. Siapa namanya? Fredy? Ferdy? Franchie? Ah, sudahlah, siapapun itu, hahaha!" jawab Sarah tertawa lebar.
Sid mencibir. Jelas sekali dia cemburu kepada Frank. Memang sekarang, Frank sering sekali berkunjung ke rumah makan mereka. Dia senang dengan masakan Sarah. Terkadang, dia datang benar-benar hanya untuk makan dan dia selalu meminta Sarah membungkuskan makanan lebih untuk dia makan malam nanti. Terkadang juga, dia datang tak hanya untuk makan, tetapi untuk bertemu dengan Sid atau Angel. Lebih sering dengan Angel, itu sebabnya Sid sangat kesal pada Frank.
Hubungan Sid dengan Angel juga semakin dekat. Sudah tidak ada rahasia-rahasia lagi di antara mereka dan keduanya sudah seperti saudara kandung sungguhan.
Di sisi lain, Sid berusaha mati-matian untuk menenangkan jantungnya yang terus berdebar saat dia sedang bersama dengan Angel. Pemuda itu juga berusaha untuk menenangkan monster yang ada di dalam hatinya saat dia melihat kebersamaan Angel dengan Frank.
__ADS_1
Suatu malam, sama seperti malam-malam sebelumnya, Angel dan Sid duduk di tepi pantai sambil menikmati camilan serta minuman malam.
"Hei, kenapa kau semakin dekat dengan Frank? Katamu, kau tidak mau mendekatinya lagi. Munafik!" kecam Sid dengan keras.
"Kau tidak suka?" tanya Angel. "Kalau kau tidak suka, aku tidak akan mendekatinya lagi,"
Rona merah di wajah Sid menjalar dengan cepat seperti api yang berkobar. "K-, kenapa kau begitu?"
"Karena kau tak suka," jawab Angel cepat.
Sid menghela napas panjang dan menggeram kesal. "Kau tidak boleh seperti itu, Carmen! Bagaimana kalau aku jadi suka padamu dan menganggapmu bukan sebagai adik?"
Posisi duduk Angel merapat dan nyaris menempel dengan tubuh Sid. "Tidak masalah, 'kan? Kau baik,"
Karena kesal sekaligus gemas, Sid mencubit kedua pipi Angel hingga pipi gadis itu memerah. "Tidak boleh, Carmen Bodoh!"
Tiba-tiba saja, Sid kehilangan keseimbangan dan Angel terjatuh di atas tubuh pria yang sedang menatapnya itu. Kedua mata mereka kini saling bertautan.
Jantung Sid seakan berhenti bahkan dia berharap, dunia dan waktu juga berhenti berputar. Saat ini, Sid dapat merasakan lembut napas Angel di wajahnya.
"S-, Sid-, ...." ucap Angel, berharap kakak angkatnya itu akan sadar dan melepaskannya.
Namun, Sid semakin mempererat pelukannya dan membalikan posisi mereka sehingga Angel berada di bawahnya.
Angel mulai takut. Rekaman ingatan tentang Dante, Frank, Jarrel, serta tamu pria yang pernah dilayaninya berputar dengan cepat di benaknya. "S-, Sid, lepaskan!"
Sid semakin mempertipis jarak di antara mereka. Alih-alih mendaratkan bibirnya, Sid berbisik di telinga gadis yang sudah menejamkan kedua mata sambil menahan kedua tangannya di depan dada itu. "Napasmu bau kulit ayam! Aku tau kau belum menyikat gigimu, 'kan?"
Sontak saja, Angel membuka kedua matanya. Napasnya masih memburu. Namun, gelombang kelegaan menerpanya. "Sid! Kau jahat sekali, Sid! Aku benci padamu!"
__ADS_1
Sid tertawa terbahak-bahak melihat adik angkatnya itu menangis kencang. "Hahaha! Kenapa kau menangis, Carmen?"
Begitu mendengar suara Angel menangis, Sarah segera keluar dan menghampiri kedua anaknya. "Kau apakan lagi adikmu, Sid?"
Sid masih tertawa terbahak-bahak. Angel pun menghambur ke dalam pelukan Sarah, seperti seorang anak kecil yang mengadukan temannya yang menjahilinya. "Ibu, Sid jahat padaku! Aku benci padanya!"
"Masuk saja, kita tinggalkan dia di sini! Biarkan saja dia dimakan paus pembunuh yang sedang kelaparan! Ayo, Sayang, Ibu temani kau tidur," hibur Sarah sambil merangkul Angel dalam dekapannya.
Di lain tempat, Dante mendesak Frank untuk mau mengangkat panggilan video darinya. Dia ingin tau di mana Frank tinggal kini.
Saat acara peresmian rumah sakit milik sahabatnya itu, Dante mengirimkan satu unit mobil serta beberapa unit ambulans ke rumah sakitnya. Namun setelah itu, Frank pindah dari apartemennya.
("Aku akan menemuimu di rumah sakit,") kata Dante memaksa.
"Temui saja. Aku tidak akan ke sana. Sudah kukatakan kepadamu, kampusku tidak di kota, Dante. Aku tinggal dekat kampus," jawab Frank berbohong.
Dia tidak tinggal dekat kampus. Dia memang memilih tinggal di tempat yang jauh dari kota dan keramaian. Pantai adalah bonus. Tujuan awal Frank pindah ke tempatnya yang sekarang adalah untuk melupakan Angel. Namun sepertinya, nasib baik berpihak kepadanya karena dia justru dipertemukan dengan Angel di sana.
"Tidak ada yang tau tentang tempatku ini, Dante. Berhentilah memaksaku dan berhenti juga untuk berhubungan dengan Evelyn! Kalian dua manusia penuh nafsu yang tidak boleh disatukan! Apa kau pernah berpikir bagaimana kalau dia hamil dan diberitakan di mana-mana?" tanya Frank lagi. Dia memikirkan Angel kalau gadis itu membaca berita tentang Dante yang berhasil memiliki Dante Junior, calon penerus perusahaannya. "Pokoknya, kau harus mengendalikan dirimu, Dante!"
("Justru itu aku ingin tinggal bersamamu, Franky Frank! Ayolah,") desak Dante.
Frank tertawa kecil. "Aku harus kuliah! Bye, Dante!"
("T-, tung-, ...!")
Setelah panggilannya dengan Dante berakhir, Frank menghela napas dan memejamkan kedua matanya. "Aku tidak akan membiarkan kau datang menemuiku, Morgan! Aku juga tidak akan membiarkan kau bertemu dengan Angel! Dia sudah bahagia saat ini dan tinggal sedikit lagi, usahaku untuk mendapatkannya berhasil dan aku tidak bisa membiarkanmu datang dan merusak semua rencana yang sudah aku susun!"
...----------------...
__ADS_1