
Beberapa hari kemudian, Dante mencari Angel di Madam Sienna House. Setelah merenungkan apa yang dia inginkan, akhirnya pria yang memiliki beberapa perusahaan di Kota Besar itu memutuskan untuk mencari Angel.
Ketika sampai di rumah Madam Sienna, laki-laki itu menemui Madam Sienna yang selalu menyambut tamu-tamu yang datang ke rumahnya.
"Madam, aku ingin bertemu Angel," ujar Dante tanpa basa-basi.
Madam Sienna memincingkan kedua matanya dan menatap Dante dengan tatapan sinis. "Mau apa kau ke sini?"
"Aku tau kau marah kepadaku, Madam. Aku ke sini ingin menjelaskan apa yang terjadi kepada Angel. Di mana dia? Izinkan aku bertemu dengannya," jawab Dante setengah memohon.
Wanita yang saat itu memakai setelan safari dengan kancing terbuka hingga dada, menghela napas panjang. "Dia sudah pergi,"
Kedua alis Dante saling bertautan saat Madam Sienna memberikan pernyataan kalau gadis yang dia cari sudah pergi dari rumah itu. "Pergi? Ke mana?"
"Aku tidak tau. Kalau pun aku tau, aku tidak akan memberitahukanmu. Kau membuat anak kesayanganku bertingkah seperti orang gila! Kejam sekali kau!" jawab Madam Sienna lagi sambil mencebik.
Dante mengetuk jarinya ke atas meja penerima tamu. "Hmmm, apa kau mengenal Carmen Brooke?"
"Carmen? Darimana kau mendengar nama itu? Apa Angel pernah memberitahumu tentang Carmen?" tanya Madam Sienna bertubi-tubi.
Dante menceritakan darimana dia mengetahui nama Carmen Brooke. Tak hanya itu, dia juga menceritakan tentang apa yang terjadi sesungguhnya di malam pesta perjamuan minum teh beberapa waktu lalu. "Aku ingin meminta maaf kepadanya, Madam. Entah apa yang kupikirkan saat itu, aku juga tidak tau. Aku terlalu takut kepada anggapan teman-temanku tentangku. Itu saja yang aku takutkan,"
Apa yang dikatakan oleh Dante memang benar, karena dia baru menyadari kalau dia ingin Angel menjadi pendamping hidupnya, bukan Evelyn atau siapa pun. Dante juga sangat menyesali keputusannya malam itu, tak henti-hentinya dia mengutuk kebodohan yang telah dia lakukan.
Apalagi saat dia membayangkan Frank dan Angel menghabiskan waktu berduaan, rasanya sangat sakit sekali. Dia cemburu, dia tau itu!
Madam Sienna mengetahui kalau Dante benar-benar tulus menyesal dan ingin meminta maaf dari suara pria itu. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Angel sudah berhenti bekerja di tempatnya dan saat ini, Madam Sienna pun tidak tau di mana Angel berada. "Aku tau kau berkata jujur, Tuan. Tapi kau datang terlambat, Angel sudah pergi dan aku tidak tau di mana dia berada saat ini,"
"Tentang Carmen. Apakah kau tau kalau Angel itu nama samaran?" tanya Madam Sienna.
__ADS_1
Dante menggelengkan kepala dan Madam Sienna pun melanjutkan ceritanya. "Carmen Brooke adalah nama asli Angel. Dahulu sekali, Carmen bukanlah sosok Angel seperti sekarang. Dia sering sekali menangis, dia mengurung diri di kamar, menyesali nasib, menganggap dirinya buruk, pokoknya sangat berbeda dengan Angel,"
"Aku yang memberikan nama Angel padanya dengan harapan dia bisa bangkit dan lebih positif. Aku memintanya untuk menganggapku sebagai ibunya dan dia setuju. Hingga pada suatu hari, ada seorang tamu yang tertarik padanya dan dia pun tidak menolak. Sejak saat itu, Carmen berubah sepenuhnya menjadi Angel. Dia selalu berkata Carmen sudah mati dan dia sudah menguburnya," sambung Madam Sienna lagi.
Dante terdiam. Dia dapat merasakan kesedihan yang dialami oleh Angel saat itu. Satu tangan Dante terkepal. "Sikapku buruk sekali padanya, Madam,"
Setelah berpamitan, Dante kembali ke kota dan pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan, dia berpikir ke mana Angel pergi dan apa yang dia lakukan dengan pekerjaan barunya. "Kau di mana, Angel? Aku merindukanmu," ucap Dante bermonolog.
Berhari-hari, berminggu-minggu, hingga satu bulan berlalu, Dante belum bisa melupakan Angel. Namun dia sudah kembali beraktivitas seperti biasa sambil terus berharap dia dapat bertemu dengan gadis yang sangat dia rindukan itu.
Status perceraiannya dengan Evelyn masih dia tangguhkan. Entah apa alasannya, Dante pun tidak tau. Hubungannya dengan Frank? Karena mereka bersahabat, dengan cepat mereka kembali menjadi akrab. Terkadang kedua pria itu hanya membicarakan soal Angel.
"Aku jatuh cinta kepadanya," ucap Frank suatu hari di sebuah restoran kecil yang termasuk baru di kota itu. "Apa yang terjadi kalau itu sungguhan?"
Dante mendengus sambil menyesap kopi hitamnya. "Tentu saja, kau harus langkahi mayatku dulu, baru aku akan izinkan kau jatuh cinta kepadanya,"
"Sialan, kau! Aku ada rapat, sampai jumpa nanti malam," kata Dante dan dia segera beranjak dari kursinya lalu melangkah pergi meninggalkan kedai tersebut.
Frank tetap menunggu di sana hingga kopinya habis. Beruntunglah bagi pria itu, karena saat itu juga sesuatu tak dia duga terjadi.
Selepas kepergian Dante, seorang gadis datang untuk membersihkan meja dan tempat mereka duduk. Dengan senyumnya yang manis, gadis itu meminta izin dengan ramah. "Selamat siang, Tuan. Boleh saya bersihkan?"
Frank yang sedang asik bermain dengan ponselnya, mengenal suara yang terdengar tidak asing di indera pendengarannya itu. Dia pun mengangkat wajahnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas mengukir sebuah senyuman. "Selamat siang, Cantik. Silahkan,"
"Oh!" tukas gadis itu. "Tuan Stanley!"
"Senang kau masih mengingatku, Angel," ucap Frank. Dia berdiri untuk menyalami serta memeluk gadis yang pernah bermalam dengannya.
Angel menyeringai lebar. "Tentu saja aku ingat denganmu, Tuan. Maafkan aku, karena aku tidak pamit kepadamu saat aku pergi,"
__ADS_1
"Tidak masalah. Kau bekerja di sini sekarang?" tanya Frank.
Angel mengangguk. Ingin rasanya dia duduk di depan Frank dsn bertanya bagaimana kabar Dante, tetapi suara seseorang memanggilnya.
"Angel, meja nomor 10!" perintah orang tersebut.
"Aku harus kembali bekerja, Tuan. Sampai jumpa," ucap Angel sembari melambaikan tangannya dan berlari kecil menghampiri suara yang memanggilnya.
Frank tersenyum melihat kepergian Angel. "Finaly, I found you, Angel,"
Kabar tentang pertemuannya dengan Angel tidak dia beritahukan kepada Dante. Pria itu sudah memutuskan untuk menjadi saingan cinta sahabatnya untuk mendapatkan Angel. Lagi pula, Dante belum resmi bercerai dari Evelyn. Tandanya, kedua sahabatnya itu masih ada kemungkinan untuk rujuk kembali.
Setelah pertemuan mereka itu, Frank menjadi sering mengunjungi Angel di kedai kopi tersebut. Terkadang dia menunggu Angel hingga jam kerja gadis itu selesai.
Biasanya, Frank akan membelikan Angel kopi serta beberapa potong kue. Di saat itu juga, Frank baru mengetahui kalau Angel senang sekali dengan donat kayu manis, tiramisu, dan black forest. Mereka berdua juga sering menghabiskan waktu berdua sampai malam dan pada akhirnya, para pegawai kedai tersebut menjadikan Frank sebagai pengunjung tetap mereka.
Suatu hari, Angel sedang menunggu kedatangan Frank karena biasanya setiap sore, dia akan datang dan menunggunya hingga selesai.
"Apa pekerjaannya kekasihmu itu?" tanya salah seorang teman Angel yang bekerja dengannya di kedai yang sama.
"Dia bukan kekasihku! Kalau tidak salah, dia seorang dokter," jawab Angel tegas. Tidak pernah terlintas di benak Angel untuk menjadikan Frank sebagai kekasihnya.
"Mungkin dia sedang ada pasien mendadak. Oh, ada tamu yang datang! Wah, dia tampan sekali dan mobilnya sangat mewah," ujar pegawai itu.
Angel menoleh. "Biar aku saja yang melayaninya," ucap Angel. Gadis itu menghampiri tamu menawan itu dan menyapanya ramah. "Halo, selamat sore dan selamat datang!"
Tamu pria itu menoleh memandang Angel dan dia berdiri mematung. "Kau!"
...----------------...
__ADS_1