
Sudah tujuh hari Dante masih mencari keberadaan Angel. Dia mengerahkan seluruh tenaga, waktu, dan materi untuk menemukan gadis kesayangannya itu.
"Angel, ke mana lagi aku harus mencarimu?" tanya Dante pada dirinya sendiri.
Wajah pria itu sudah terlihat lelah. Dia masih berada di resort yang sama karena dia berharap di setiap pagi dan malamnya, Angel akan membuka pintu dan memeluknya.
"Apa tidak sebaiknya Anda kembali ke negara kita? Maksudku, mungkin saja si penculik membawa Nona Angel ke sana," usul Theo.
Namun, Dante menggelengkan kepalanya. "Andrew sudah memeriksa CCTV setiap bandara yang ada di sini, tapi tidak ada video tentang Angel bersama dengan Evelyn,"
"Kelemahan kita kali ini cukup banyak, Tuan. Kita tidak tau, kendaraan apa yang mereka pakai, berapa nomor kendaraan tersebut, siapa saja orang yang terlibat, dan mereka sama sekali tidak memberikan kabar atau sekedar ancaman kepada kita. Hanya satu nomor itu saja dan itu pun sudah tidak aktif," kata Theo menjabarkan.
Dante termenung. Apa yang dikatakan oleh asisten pribadinya itu memang benar. Kali ini, celah mereka cukup banyak. Bisa saja, Angel di bawa keluar dari negara itu dan dipindahkan entah ke mana. Pria itu mengacak-acak rambutnya. "Aarrgh! Angel!"
Theo sudah sigap dengan gelas berisi minuman untuk menenangkan tuannya. "Sabar, Tuan. Cepat atau lambat kita akan menemukan Nona Angel,"
Dante menyesap minuman itu sambil menatap ke arah pemandangan indah yang terbentang di depan matanya. Pria itu merasa bersalah, karena dialah yang merencanakan liburan ini. Andaikan, saat itu dia terus berada di kamar, Angel tidak akan menghilang.
Dia yakin, Angel tidak pergi. Pasti ada seseorang yang menculiknya. Ya, dia yakin itu! Tetapi, siapa? Dante terus memaksa otaknya untuk terus berpikir.
"Aku sudah bersumpah, Theo, aku akan terus berada di sini sampai aku menemukan Angel," kata Dante.
Asisten pribadi Dante menghela napas panjang sambil melepas kacamatanya. "Tapi, Tuan. Anda tidak bisa terus-terusan tinggal di sini. Anda harus cari rum-, ...."
"Carikan untukku! Sekalian saja, siapkan ruang kerja, supaya aku bisa terus bekerja. Aku juga akan terus memantau resort ini serta jalanan di sekitar sini selama 24 jam sampai Angel ditemukan!" ucap Dante lagi memberikan perintah.
"Bagaimana denganku? Apa aku di sini atau di sana?" tanya Theo.
Untuk pertama kalinya sejak Angel menghilang, Dante tersenyum. "Cih! Jangan tanyakan padaku pertanyaan bodoh seperti itu! Kau tetap di sini bersamaku, di sana sudah ada yang lain, Theo. Tapi, terima kasih kau telah membuatku tersenyum,"
__ADS_1
Sementara Theo mencari perumahan di sekitar resort, Dante menghubungi Frank. Dia meminta tolong kepada sahabatnya itu untuk ikut membantu mencari Angel.
("Hilang? Apa dia diculik? Apa saja yang kau kerjakan sampai dia menghilang, Dante! Baiklah, apa yang harus kulakukan?") tuntut Frank. Suaranya terdengar kesal sekaligus khawatir. Dia takut terjadi apa-apa pada Angel, gadis yang masih memegang tahta tertinggi di hidupnya.
"Aku minta maaf, aku lengah! Perintahkan detektif dan tim hukummu untuk mencari Angel di sana. Awasi CCTV di setiap bandara, stasiun, pelabuhan, dan jalanan. Awasi juga rumahku, kedai tempat Angel bekerja, dan rumah Angel. Nanti akan kukirimkan alamat rumah Angel padamu. Itu saja," jawab Dante panjang.
("Sepanjang itu dan kau dengan santai mengatakan kata saja? Ckckck, baiklah! Beruntunglah kau karena kita berjauhan, kalau kau di dekatku, sudah kutembak kepalamu, Dante! Kabari aku jika sesuatu terjadi!") desak Frank masih kesal.
Setelah mengakhiri panggilannya dengan Frank, Theo mengerenyitkan dahinya dan dengan polos dia bertanya kepada Dante, "Apa Tuan Stanley punya uang? Dia hanya dokter umum,"
"Secara tertulis memang dia hanya dokter. Apa kau tak pernah sadar nama rumah sakit dia bekerja? Stan's Hospital, ya, itu rumah sakit rujukan internasional," jawab Dante sambil lalu. Dia tidak peduli pada Theo yang tercengang.
Lega rasanya telah memutuskan untuk melakukan sesuatu setelah berhari-hari mereka melakukan aktivitas yang sama tanpa hasil. Selagi mereka berdua mencari, telepon di resort berdering. Theo segera mengangkatnya.
Tak lama, pria berwajah manis itu kembali menghampiri Dante. "Tuan, itu tadi dari resepsionis. Katanya, ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Anda,"
Tanpa bertanya, Dante segera melesat ke meja resepsionis yang berada di depan resort. "Angel!"
Di tempat lain, Angel masih dikurung di dalam kamar. Kamar itu terbuka saat Jarrel masuk dan meminta jatah kepadanya.
Tak sia-sia Angel bekerja selama belasan tahun pada Madam Sienna, tubuhnya sanggup memuaskan Jarrel tanpa dia harus bersusah payah meningkatkan gairahnya. Beruntung pula, Jarrel selalu memakai pelindung saat mereka berhubungan.
"Tuan Rivers, bolehkah aku keluar? Aku akan mati bosan jika berada di dalam kamar terus. Lagi pula, untuk apa kau membawaku ke sini, huh? Bodoh sekali! Jika kau memakaiku, seharusnya kau membayarku, 'kan!" tanya Angel suatu hari saat Jarrel selesai menuntaskan pelepasannya.
Tangan Jarrel melayang di pipi Angel yang mulai terlihat tirus itu. "Kurang ajar! Jaga mulutmu, Gadis Murahan! Kau ini sudah bekas pakai, kenapa harus menuntut bayaran! Ketika aku bosan nanti, kau akan kulepaskan. Kita lihat saja nanti, apakah Morgan masih mau denganmu! Hahaha!"
Napas Angel menderu dengan cepat. Emosinya memuncak saat Jarrel berkata seperti itu. "Aku bisa hidup tanpa Morgan! Aku bisa hidup dengan kemampuanku sendiri dan satu lagi, kau tidak dapat merusaku!"
Merasa tersinggung dengan jawaban dari gadis yang selalu diikat saat dia berhubungan badan dengannya itu, Jarrel menarik rambut Angel dengan kasar. "Dengarkan aku, akan kupastikan, kau akan mengemis kepadaku! Akan tiba saatnya, aku berhubungan denganmu tanpa lapisan pelindung sialan ini!"
__ADS_1
Dengan kasar, Jarrel melemparkan alat pelindung bekas pakainya ke wajah Angel. Gadis yang terikat kedua tangannya itu menendang tubuh Jarrel, hingga pria itu tersungkur ke bawah ranjang.
"Sudah berani rupanya, huh?" Jarrel segera berdiri dan memegang kedua kaki Angel dengan kasar. Dia berusaha membalikkan tubuh Angel untuk menghadap ke belakang.
Namun, Angel terus memberontak. Selagi tangannya berusaha melepaskan diri dari simpul tali yang mengikatnya, kedua kakinya dia layangkan dan berharap mengenai wajah Jarrel.
"Kau tidak akan pernah bisa memakaiku lagi, Laki-laki Jelek!" tukas Angel terus melawan.
Jarrel menyeringai lebar, wajahnya menakutkan. "Hehehe! Semakin kau menolak, aku semakin menyukaimu, An---gel!"
"Tolong! Tolong aku! Tolong!" Angel berteriak dengan memakai seluruh kekuatan yang dia miliki.
"Berteriaklah, karena tidak akan ada orang yang datang menolongmu, hahahaha!" sahut Jarrel kejam. Dia menggigit paha bagian dalam Angel dan membuat gadis itu mengerang kesakitan dan merapatkan kedua kakinya. "Berbaliklah! Kau akan kuhukum karena perbuatan kasarmu!"
Angel menarik napas dan menghembuskannya, kali ini dia yakin simpul ikatan di tangannya sudah dapat terurai dengan satu kali putaran. Dia memincingkan kedua matanya untuk mengumpulkan keberanian. "Tidak akan, Brengsek!"
"Kurang ajar!" pekik Jarrel murka.
Benar saja perkiraan Angel, talinya berhasil terlepas dan dia menggigit lengan Jarrel yang hendak menangkapnya. "Aarrgghhh! Gadis Sialan!"
Tanpa menoleh ke belakang, Angel berlari keluar dari kamar dan terus berlari menuju gerbang depan rumah itu. Di depan gerbang, beberapa petugas keamanan telah menunggu untuk mencegahnya keluar.
Tak hilang akal, Angel berlari ke arah lain untuk mencari sisi gerbang yang tidak dijaga oleh petugas keamanan. Dari belakang terdengar derap langkah kaki yang mengejarnya.
Tiba-tiba saja, Jarrel sudah menghadang langkahnya. Dia tersenyum mengerikan. "Kau tidak bisa lari lagi, Angel. Jika kau keluar dari rumah ini, kau tidak akan bisa ke mana-mana karena rumah ini dikelilingi oleh lautan luas. Kembalilah ke dalam jika kau tidak ingin mati dimakan hiu,"
Angel berusaha menentramkan deru napasnya. Dia tidak tau di mana dia berada saat ini dan ya, dia dapat mendengar bunyi ombak di kejauhan. Entah tempat apa ini sebenarnya? Hanya ada satu jalan keluar, memanjat gerbang dan terus berlari!
"Lebih baik aku mati dimakan hiu, daripada mati di tanganmu, Brengsek!" tukas Angel dan dia pun bergerak ke samping untuk memanjat gerbang.
__ADS_1
"Tangkap dia!" titah Jarrel.
...----------------...