Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Kemenangan Evelyn


__ADS_3

("Kasasi diterima, Tuan Morgan dan hakim memutuskan untuk melakukan mediasi selama satu bulan. Maafkan saya,") ujar Josh melalui panggilan telepon. Beberapa hari yang lalu, Josh mengatakan kalau pihak Evelyn mengajukan banding dan anehnya pengajuan banding itu diterima begitu saja oleh pihak pengadilan, sedangkan ini hanyalah kasus perceraian biasa. Di samping itu, Dante sudah mengajukan keberatan terhadap banding tersebut tetapi ternyata pengadilan mengabulkan.


"Jadi gugatannya?" tuntut Dante. Suaranya terdengar gusar dan wajahnya sudah dipenuhi oleh emosi.


("Ditolak, Tuan. Kita kalah,") jawab Morgan.


Kemarahan Morgan pun sampai pada puncaknya. Dia melempar mouse yang sedang dia pakai. "Bodoh! Apa saja kerjamu, Josh? Ini kasus sepele dan kau tidak bisa memenangkan aku! Kau bahkan bisa memenangkan kasus dengan nilai milyaran dollar, tapi untuk kasus perceraian kau tidak bisa memenangkan aku! Siapa majelis hakimnya? Akan kutanyakan langsung apa alasan dia menolak perceraianku!"


Suara Josh terdengar ketakutan. Tidak ada majelis hakim atau siapapun, bahkan persidangan itu tidak pernah ada. Semua laporan yang dia berikan kepada Dante hanyalah bualan semata. ("T-, Tuan, maafkan saya. Kali ini, saya akan berusaha lebih keras lagi,")


"Sudah selesai! Apalagi yang mau kau usahakan!" seru Dante semakin kesal. "Katakan saja pada hakim, aku menolak mediasi! Kalau sampai kau gagal lagi, aku akan mengganti dirimu dengan orang lain!"


Tanpa menunggu balasan Josh, Dante menutup panggilan teleponnya. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi kerja sambil memijat-mijat keningnya. Josh mulai curiga dengan keanehan yang terjadi terkait dengan kasus perceraiannya ini. Perasaannya tak nyaman sejak awal dia memberikan kasus ini kepada Josh tanpa pengawalan.


Tak mau dikecewakan lagi, Josh meminta Theo, asistennya untuk mencari pengacara baru yang dapat dia andalkan untuk segala kasus.


"Franky, ada waktu sore ini?" tanya Dante ditelepon.


("Aku dapat tugas jaga, Brother. Ada apa?") Frank bertanya kembali. Jika Dante sudah menanyakan waktu dan mengajaknya minum, itu pertanda kalau sahabatnya itu sedang banyak pikiran.


Namun kali ini, apa yang dipikirkan oleh Dante. Dia sudah mendapatkan Angel dan menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya. Apalagi yang dia cari?


"Aku selalu lupa untuk memberikan ponsel kepada Angel. Aarrggh, sialan! Hei, apa kau mendengar kabar tentang Evelyn akhir-akhir ini?" ucap Dante lagi.


Frank menautkan kedua alis matanya yang tebal. ("Eve? Kenapa mau menanyakan dia? Kau rindu padanya?")


"Tidak mungkin, 'kan? Maksudku, dia terlalu tenang untuk menerima kabar tentang perceraian ini. Biasanya dia akan mendatangiku dan memohon padaku supaya aku membatalkan perceraian ini. Apa tidak aneh?" tanya Dante lagi. Dia pun menceritakan kecurigaannya tentang kekalahan Josh di sidang perceraian ini.


Frank tersenyum mendengar curahan hati sahabatnya itu. ("Tidak semua orang bertahan berada di atas, Dante. Sesekali kalah, tidak masalah, bukan?")

__ADS_1


("Begini saja, aku punya kenalan pengacara. Aku akan berikan kontaknya padamu. Satu lagi, aku harus menutup telepon ini, karena ada pasien menuju IGD sekarang! Bye,") sambung Frank lagi dan dia segera mengakhiri panggilan dari Dante.


Merasa kesal dan putus asa, Dante akhirnya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat dan menemui seseorang. Orang itu tak lain tak bukan adalah kekasihnya. Hanya gadis itu yang dapat dia andalkan saat ini. Angel selalu berhasil menenangkan hatinya dengan berbagai cara.


Sementara itu di kota lain yang tak jauh dari Kota Besar, Angel sedang disibukkan dengan jam istirahat makan siang. Di mana para pekerja kantoran akan memenuhi kedai itu setelah mereka selesai makan siang.


Satu per satu tamu yang datang, dia layani dengan cukup baik. Tak lupa, Angel selalu memberikan senyum terbaiknya kepada mereka.


Hal ini sulit dia lakukan, karena gadis itu jarang tersenyum. Bekerja sebagai gadis yang menjual dirinya sendiri, cukup mudah dan tidak memerlukan banyak senyum. Cukup dengan memakai baju terbuka dan memasang badan, selesai.


Selagi Angel melayani para tamu, Dante datang dan menarik tangan Angel begitu saja untuk menjauh. Angel memberontak dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan kekasihnya itu.


"Dad, lepas! Aku sedang bekerja!" tukas Angel kesal.


Dante otomatis melepaskan tangannya. "Maaf, tapi aku membutuhkanmu sekarang,"


Kening Angel berkerut. "Untuk apa?"


Harapan Dante untuk bisa berduaan dengan Angel terpaksa harus terhempas karena Angel menolaknya mentah-mentah. "Tunggu jam kerjaku selesai. Hari ini aku masuk pagi, satu jam lagi aku selesai,"


Dante memegang kedua tangan Angel dan mengecup punggung tangan tersebut. "Tidak bisa sekarang?"


Angel menggeleng lemah. "Tidak! Aku harus menyelesaikan tugasku, tunggu saja sedikit lagi,"


"Kau jauh lebih dewasa sekarang, Sayang. Apa yang merubahmu?" tanya Dante sambil menarik pinggang kekasihnya itu dan mengecup bibirnya.


Gadis itu tersenyum singkat dan mendorong lengan kekar Dante untuk melepaskannya. "Ya, karena aku dan Carmen memutuskan untuk bekerja sama. Kupikir itu jalan terbaik daripada kami terus bertengkar, hehehe. Nah sekarang, lepaskan aku! Aku harus kembali bekerja!"


Selagi menunggu Angel bekerja, Dante duduk dan memesan kopi hitam tanpa gula serta beberapa kudapan bebas gluten.

__ADS_1


Kebetulan hari itu, dia membawa laptop. Dia membuka laptopnya dan menghubungi Theo. Pria yang siap menjadi duda itu meminta Theo untuk mencari nomor ponsel hakim atau siapa pun yang bertanggung jawab atas sidang perceraiannya.


("Baik, Tuan. Akan saya carikan,") jawab Theo.


"Theo, selidiki juga tentang Josh. Aku penasaran apa yang membuat dia kalah. Ini hanya persidangan cerai, bukan kasus mafia atau apa pun! Bisakah kau berikan kepadaku sebelum jam makan siang selesai?" titah Dante lagi.


Theo menjawab dengan jawaban yang sama. ("Bisa, Tuan, saya akan kerjakan sekarang,")


"Bagus! Kutunggu laporanmu dan jangan kecewakan aku, Theo! Hariku sedang buruk," tukas Dante, setelah itu dia mengakhiri panggilan teleponnya.


Tak lama, Dante sudah tenggelam dengan pekerjaannya. Dia tidak melihat Angel yang bolak-balik di depan mejanya dan berharap kekasihnya membalas senyumannya, dia juga tidak mengucapkan terima kasih saat waitres memberikan pesanannya, dan bahkan, Dante sama sekali tidak mengangkat wajahnya sedikit pun saat Angel mengatakan dia sudah selesai bekerja.


Sebelum Angel datang, ponsel Dante berdering. "Sudah saatnya!" tukas pria itu saat dia membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


Wajah Dante memerah begitu dia mendengar Theo berbicara. Dia mengepalkan tangannya dengan geram. "Apa maksudmu tidak ada persidangan atas namaku?"


("Petugas di pengadilan mengatakan, tidak ada sidang perceraian atas nama Anda, Tuan, dan berkas gugatan Anda juga tidak pernah dia terima,") jawab Theo tenang. Dia sudah terbiasa menghadapi kemarahan Dante. Lagi pula, kali ini bukan dia penyebab kesalahan itu.


"Lalu, bagaimana dengan Josh?" desak Dante lagi. "Dia pasti dalang di balik semua ini! Aku curiga dia bersengkongkol dengan Evelyn!"


("Benar, Tuan. Tuan Floyd saat ini berada di sebuah apartemen yang bernama Love Apartemen di pusat kota. Dia seorang diri di sana, tapi berdasarkan keterangan resepsionis, hari pertama dia datang bersama dengan seorang wanita cantik. Selama tiga hari itu, mereka berdua tidak meninggalkan kamar sedikit pun,") jawab Theo panjang.


Kemarahan Dante sampai pada puncaknya. Dia beranjak dari kursi dan melemparkan kursi yang ada di sampingnya ke sisi jalan. "Brengsek! Di mana perempuan itu sekarang! Carikan untukku!"


("Nyonya Morgan ad-, ...,")


"Dia bukan istriku lagi, Theo! Jangan kau sematkan namaku untuk memanggilnya!" seru Dante. Suaranya meninggi dan dia sudah tidak dapat membendung lagi amarahnya.


("Nyonya Evelyn Smith ada di rumah Anda, Tuan,") jawab Theo.

__ADS_1


Teriakan keputusasaan Dante terdengar memenuhi kedai kopi itu. "Sialan! Akan kubunuh kau, Ev! Aarrgghh!"


...----------------...


__ADS_2