
Bisik-bisik serta canda tawa memenuhi mobil mewah Dante Morgan. Kedua wanita yang menjadi penumpang hari itu sangat ramai membicarakan ini dan itu. Terkadang, sakah satu wanita menggoda si supir dan membuat wajah supir tersebut menjadi merah padam.
"Tapi kulihat kau cukup senang berada di sana, Angel?" tanya wanita berpakaian terang hingga mengalahkan silaunya sinar mentari itu.
"Aku hanya berusaha menikmati apa yang sedang aku lakukan, Madam. Maksudku, kalau memasukan semuanya ke dalam hati, aku akan menjadi gila. Sepertinya Nyonya Morgan sudah memberitahukan tentangku kepada semua teman-teman suaminya," kata Angel. "Aku bisa merasakan dari tatapan orang-orang kepadaku saat aku diajak Tuan Morgan untuk datang ke sebuah acara,"
"Terkadang melecehkanku, seperti Frank. Ternyata pria-pria di tempat kita lebih bermartabat daripada pria di kota besar," sambung gadis cantik itu lagi sambil menyibakkan rambut cokelatnya ke belakang.
Madam Sienna mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia memang sudah membayangkan jika anak asuhnya itu akan ketakutan dan kepercayaan dirinya akan hilang dan dalam waktu dekat, akan meminta pulang. Dugaannya itu ternyata benar, hanya saja, Angel memilih bertahan sampai tugasnya selesai. "Kau sudah hebat, Sayang. Waktumu tinggal 8 hari lagi, apa kau sanggup melanjutkan tugasmu?"
Angel mengangguk mantap. "Ya, aku sudah melalui semua hal yang menyebalkan di kota ini dengan cukup baik. Jadi kurasa, 8 hari akan mudah untuk kulewati,"
"Kau memang anakku," ucap Madam Sienna sambil merangkul Angel dan memberikannya penguatan.
Tak lama, mobil pun sudah sampai di pusat perbelanjaan. Sepanjang jalan itu dipenuhi dengan toko-toko serta butik dan ada beberapa kedai kopi juga di sana.
"Apa kau tidak ikut dengan kami, Dave?" tanya Angel pada supir Dante.
Dave menggelengkan kepalanya dengan wajah malu-malu. "Tidak perlu, Nona. Saya akan menunggu di bar kecil di sana itu. Kau lihat?"
Angel dan Madam Sienna menjulurkan kepala mereka mengikuti arah yang ditunjuk oleh Dave, kemudian mereka berdua sama-sama mengangguk. Setelah itu mereka berpisah jalan.
"Mau mulai darimana dulu?" tanya Angel. Hari itu, Angel memakai tanktop berwarna biru dengan belahan rendah dan dipadukan dengan jaket berbahan denim berwarna hitam serta celana pendek seatas paha berwarna senada dan sepatu kets putih kesayangannya.
Mereka berdua mulai masuk ke dalam sebuah toko. Namun para pegawai toko tersebut tidak menyambut mereka dengan ramah.
"Aku pernah ke sini dengan kekasihku dan aku membeli banyak barang dari tokomu ini! Kau ingat wajahku?" tanya Angel sambil menunjuk wajahnya sendiri. Angel memang pernah ke toko itu bersama dengan Dante. Pelayanan yang mereka berikan sangat berbeda dengan saat ini.
Salah satu pegawai tersenyum dan menghampiri Angel, dia merangkul pundak gadis itu dan menuntunnya keluar dari toko. "Maaf, Nona, tapi kami tidak memiliki apa yang Anda cari. Mungkin yang sesuai dengan gaya Anda ada di toko lain,"
"Hei! Hei! Apa maksudmu! Kau lupa pada wajahku?" tuntut Angel dan dia merasa sangat tersinggung saat pegawai itu mengusirnya keluar. "Kurang ajar! Kudoakan tokomu bangkrut dan kau jatuh miskin sampai harus menjual dirimu kepada kakek-kakek tua renta hanya untuk mendapatkan sesuap nasi! Camkan itu!"
__ADS_1
Wajah Madam Sienna juga terlihat kesal. Dia ikut memaki para pegawai di toko yang melihat mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum mencemooh.
"Manusia macam apa mereka itu! Bisa-bisanya mengusir kita seperti tadi!" tukas Madam Sienna dengan gusar.
Orang-orang di sekitar toko itu memperhatikan mereka, ada juga yang memperhatikan sambil lalu, tetapi kebanyakan dari mereka, berhenti sesaat untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi. Toko pertama yang mereka datangi memang merupakan toko pakaian dengan merk terkenal. Kualitas pakaiannya pun sesuai dengan harga yang mereka berikan. Tentu saja ketika ada kericuhan yang terjadi, semua mata akan memandang ke toko tersebut untuk melihat apa yang terjadi.
"Kita akan cari toko lain yang lebih baik dari toko sialan ini! Sombong sekali!" tukas Angel.
Madam Sienna mematung dan memperhatikan orang-orang yang lewat di sekitar mereka, kemudian dia memikirkan sesuatu. "Hei, apa mungkin pakaian kita yang tampak seperti wanita murahan? Lihat saja orang-orang di sini, pakaian mereka seolah hendak pergi ke pesta,"
"Begitukah? Bagaimana kita mau memakai pakaian itu kalau mereka tidak mengizinkan kita masuk ke dalam toko mereka!" jawab Angel pedas. Gadis itu masih merasa kesal karena perlakuan pegawai tadi. "Ingin rasanya kucabik-cabik rambut pegawai buruk rupa itu!"
Sambil terus mengoceh dan mengomel, mereka berdua memasuki toko yang lain lagi. Tatapan sinis menyambut mereka.
"Selamat siang," sapa Madam Sienna yang kini sudah menutupi bagian atas tubuhnya dengan sweatshirt warna merah maroon yang dia bawa.
Salah satu pegawai tersenyum tipis kepada mereka. "Selamat siang, mmmm, apa yang bisa kami bantu?"
Pegawai itu memperhatikan Angel dan Madam Sienna dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu, dia menggeleng. "Maaf, kami tidak punya ukuran yang pas untuk kalian,"
Kesal karena ditolak lagi, Angel mengeluarkan uang yang diberikan oleh Dante. "Kami punya uang jadi tolong tunjukan kepada kami gaun terbaik kalian,"
Namun pegawai itu tetap bersikeras dengan menggelengkan kepalanya. "Maaf, Nona, tapi kami tidak me-, ...."
"Aku akan menghubungi kekasihku!" Angel pun menghubungi Dante. Begitu Dante mengangkat panggilannya, Angel menceritakan sulitnya berbelanja di kota dengan suara nyaris menangis.
("Di mana kau sekarang, Sayang?") tanya Dante. Angel sengaja mengaktifkan mode pengeras suara supaya para pegawai toko itu mendengar percakapan mereka.
"Aku berada di Tiffany Boutique. Sebelumnya kami dari toko yang pernah kau beli semua gaunnya dan dia menolak kami. Aku memakai celana pendek hari ini karena panas," kata Angel.
Dante tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan Angel. ("Baiklah, berikan ponselnya pada manajer toko itu. Biarkan aku bicara dengannya,")
__ADS_1
Tak lama, Angel memberikan ponselnya kepada pegawai toko tersebut. "Kau dengar? Lihat saja sampai kekasihku berbicara pada manajermu, kau akan dipecat," Angel membaca nama pegawai itu. "Nora! Akan kuingat namamu!"
Setelah kira-kira lima menit, seorang pria tinggi dan berperawakan tampan datang menyambut mereka dengan senyum super lebar. "Halo, Nona Cantik. Maafkan pegawai kami. Ah, gaun untuk pesta teh, ini koleksi terbaru kami. Silahkan dipilih,"
Tiga rail troli pakaian datang dengan beberapa gaun tergantung rapi di setiap trolinya. Tak hanya pakaian, pria itu juga mengeluarkan koleksi aksesoris mereka, mulai dari topi, sarung tangan, sepatu, sampai perhiasan. "Nikmati waktu kalian, Ladies,"
Selagi mereka memilih, pegawai toko yang lainnya menyajikan kudapan manis serta teh hangat untuk Madam Sienna dan Angel.
Mereka berdua memilih gaun-gaun indah itu sambil tersenyum ceria dan sesekali bercanda satu sama lain. Mereka pun memutuskan untuk mengganti pakaian mereka.
"Bagaimana, Angel?" tanya Madam Sienna yang seratus kali terlihat lebih baik dengan blazer dan rok sepan berwarna beige.
Angel mengacungkan kedua ibu jarinya. "Kau tampak seperti seorang nyonya besar, hahaha!"
Madam Sienna tertawa mendengar kelakar anak asuhnya itu. Selang beberapa menit, mereka berdua pun keluar dari toko itu dengan pakaian baru dan menenteng beberapa tas belanjaan di tangan mereka. Dengan gaya angkuh dan sombong, Angel memamerkan hasil belanjaannya ke toko pertama yang mengusir mereka.
"Aku akan memberikan ulasan buruk untuk toko kalian ini. Siap-siap saja, kalian berada di ambang kehancuran! Hahaha! Sampai jumpa," bisik Angel pada pegawai yang mengusirnya tadi.
Mereka berdua menyusul Dave yang berada di bar dan setelah mereka bertemu dengan pria tua tersebut, Angel memberikan satu tas belanjanya untuk Dave. "Ini untukmu. Semoga kau menyukainya, Dave,"
Dave menerima tas belanjanya dengan mata berbinar-binar. "Ini untukku? Terima kasih, Nona. Wah, selama aku bekerja, baru pertama kali aku mendapatkan hadiah istimewa seperti ini. Terima kasih banyak, Nona,"
"Bagaimana hari ini?" tanya Angel.
"Tidak ada yang lebih baik dari ini, Angel. Terima kasih atas segalanya hari ini," ucap Madam Sienna. Kemudian dia kembali mengingatkan waktu yang dimiliki Angel. "Sisa waktumu tinggal 8 hari lagi. Gunakan sebaik-baiknya dan bagaimana kalau Morgan tidak mengizinkanmu pulang?"
Angel terdiam. Tidak mungkin Dante akan menahannya, 'kan? Dia pun menggeleng. "Aku yang akan kembali. Sulit untuk menetap di sini, Madam. Lagipula, Tuan Morgan bukan milikku dan dia masih mencintai istrinya,"
Keheningan pun menggelayuti mobil mewah Dante setelah Angel berkata seperti itu. Andaikan, Dante Morgan seorang pria yang belum memiliki istri, mungkin Angel akan membiarkan perasaannya berkembang.
"Ya, tidak mungkin dia menahanku lebih lama, Madam," ucap Angel kemudian dia menarik napas panjang dan bersandar di lengan ibu asuhnya tersebut. "Aku akan kembali,"
__ADS_1
...----------------...