
"Hei! Hei! Carmen! Carmen, hei lihat sini dulu!" Sid mengejar Angel dan memaksanya untuk berbalik. "Kau menangis?"
Angel segera mengusap air matanya dengan cepat sambil mengalihkan pandangannya dari Sid. "Mataku kelilipan pasir pantai,"
Sid memandang adik angkatnya itu. "Cih! Kau bukan seorang pembohong, Carmen! Angin saja daritadi tidak berhembus, bagaimana ia bisa menerbangkan pasir-pasir itu? Konyol!"
"Bukan urusanmu!" tukas Angel galak.
Sid menahannya kembali sehingga langkah gadis itu terhenti. "Tentu saja itu menjadi urusanku! Kalau kau kembali ke sana dalam keadaan mata sembab dan pipimu lengket, ibu akan mengomeliku, dan akan berpikir aku melakukan sesuatu terhadapmu!"
Angel kembali mengusap mata dan pipinya. "Lihat, aku sudah tidak menangis lagi. Ayo, kita kembali. Ibu pasti mencari kita,"
Mereka berdua pun kembali ke rumah makan dan membantu Sarah untuk membuka rumah makan tersebut. "Lama sekali! Kupikir kalian tenggelam!"
Sid mencibir sambil beberapa kali melihat ke arah Angel. Selama ini, dia selalu melihat Angel yang ceria dan cerewet. Jika ada masalah dengan beberapa tamu pun atau bahkan dia di maki-maki di depan orang banyak, dia tidak akan menangis dan tetap tersenyum. Jadi, kenapa dia menangis?
Tak beberapa laa kemudian, Sid sudah tidak sempat lagi mengkhawatirkan Angel karena banyaknya tamu-tamu yang harus mereka layani siang itu. Mereka datang silih berganti dan tidak memberikan kesempatan kepada Sid ataupun Angel untuk beristirahat.
"Ramai sekali hari ini, Bu," kata Sid pada Sarah yang tangannya yang tak kunjung berhenti memasak.
"Lalu, kenapa kau diam saja di sini? Bantu adikmu!" titah Sarah sambil menjulurkan kepalanya ke arah depan.
Lagi-lagi bibir Sid mencebik. "Hampir semua tamu itu laki-laki, Bu, dan mereka hanya mau dengan Carmen,"
Sarah menggelengkan kepalanya. Memang sejak ada Angel membantu di rumah makannya, kebanyakan dari mereka datang hanya untuk berkenalan dengan Angel dan akan kembali dengan kecewa jika Sid sudah mengusir mereka.
"Kalian mau makan atau hanya berbicara dengan adikku! Kalau hanya untuk berkenalan, kalian bisa mencari waktu di akhir pekan! Pergilah, kalian membuat antrian panjang!" tukas Sid setiap kali ada tamu yang hanya ingin mengobrol dengan Angel.
Sama seperti hari ini, Sarah berharap, Sid akan mengeluarkan tanduknya untuk mengusir tamu-tamu yang datang hanya untuk berkenalan atau mencari tau tentang Angel.
"Sid, bawa ini kepada meja berwarna putih di dekat jendela sana. Hei, awasi adikmu!" perintah Sarah.
Sid berdiri enggan. "Ya, Bu. Lagipula aku daritadi sedang berpikir,"
__ADS_1
Kedua alis Sarah berkerut-kerut. "Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada. Ya sudah, aku ke depan," kata Sid lagi sambil membawa nampan berisi beraneka macam makanan laut yang sudah diolah dengan baik oleh ibunya.
Setelah laki-laki itu menyajikan pesanan makanan, dia mencari Angel. Dilihatnya gadis itu sedang berbicara dengan seorang pria bertopi putih dan berkacamata yang mau tidak mau, Sid harus mengakui kalau pria itu cukup tampan.
Dengan percaya diri, Sid menghampiri Angel dan meletakkan lengannya di kepala gadis itu. "Hei, Ibu mencarimu,"
"Oh, baiklah," kata Angel. "Frank, aku harus kembali,"
"Kau bekerja di restoran itu? Aku ikut denganmu, kebetulan aku sedang lapar. Aku akan mentraktirmu, temani aku makan," jawab pria bernama Frank itu.
Sid menatap dingin pada Frank dan dia menyelinap di tengah untuk menjauhi Angel dengan Frank. Pemuda itu memperhatikan wajah adik angkatnya yang terlihat tidak baik-baik saja. Siapa Frank ini? Kenapa dia bisa membuat Angel menangis?
Setibanya di rumah makan, Sid yang bertanya pada Frank. Dia menyerahkan buku menu kepada pria berkacamata itu dan siap mencatat pesanannya.
"Aku mau risotto udang dan ice lime. Terima kasih," kata Frank.
"Habis!" jawab Sid ketus.
"Tidak ada!" balas Sid lagi.
Frank mengangguk. Dia menutup buku menunya dan tersenyum kepada Sid. "Berikan saja apa yang tersedia di dapurmu,"
"Tidak ada apa pun! Silahkan pergi dari sini," ucap Sid. Satu tangannya dia ulurkan ke depan mengarah ke pintu luar rumah makan.
"Duduklah," ujar Frank dengan lembut.
Usia Sid dam Frank memang terpantau cukup jauh. Frank seumuran dengan Dante, mereka sama-sama berusia hampir 40-an tahun. Sedangkan Sid dan Angel, mungkin hanya berbeda 3 tahunan.
Sid menurut dan duduk di depan Frank. Dia tidak akan memberikan celah untuk Frank. "Apa?"
"Gadis bernama Carmen itu, apa dia adikmu?" tanya Frank. "Dia teman dekatku dulu,"
__ADS_1
"Lalu?" desak Sid. Sepertinya dia sudah bersumpah ingin membangun benteng pertahanan yang cukup kokoh untuk menolak Frank. Pria itu berbeda dengan pria-pria yang biasa mengajak Angel berkenalan.
Frank dapat merasakan tembok pembatas yang dibangun oleh Sid. Meski begitu, dia tetap tersenyum. "Aku ingin mengajaknya kembali. Dia memiliki kekasih dan kekasihnya sedang mencarinya,"
Sid menggelengkan kepalanya. "Tidak! Kau tidak boleh membawanya ke manapun. Carmen sudah menjadi keluarga kami!"
"Apa kau tidak memikirkan apakah dia pernah merindukan kekasihnya?" tanya Frank lagi.
"Ooh! Kau yang membuatnya menangis tadi pagi!" tuntut Sid yang tiba-tiba teringat tentang Angel yang menangis tadi pagi.
Sebelum Frank sempat menjawab, Angel datang dengan membawa makanan. Gadis itu menyuguhkannya kepada Frank. "Ini untukmu. Aku yang mentraktirmu, setelah makan silakan pergi karena kami masih banyak tamu yang harus dilayani,"
"Dia belum memesan," ucap Sid.
"Kau pergi dulu, Sid. Aku butuh waktu dengan orang ini. Ibu sudah mengizinkanku," kata Angel sambil mengusir Sid supaya menjauh dan tidak mencampuri urusannya.
Walaupun bersungut-sungut, Sid beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Angel dengan Frank. Angel pun duduk menggantikan Sid. "Aku tidak mau kembali, Frank. Kau lihat, aku sudah memiliki keluarga baru di sini,"
"Kau tidak ingin bertemu Dante?" tanya Frank dengan pertanyaan pancingan.
Angel menggeleng. Tadi pagi saat gadis itu mengejar papan menu yang diterbangkan angin, Frank menolongnya mengambilkan papan menu itu. Di sanalah mereka berbicara dan sepanjang pembicaraan mereka, Frank meminta Angel untuk kembali demi Dante.
Saat itu, Angel ragu. Tak hanya Dante yang merindukannya, dia pun merindukan kekasih yang sedikit lagi menjadi suaminya itu. Tetapi kemudian, dia teringat kalau Dante tidak pernah datang untuknya atau bahkan mencarinya. Mengingat Dante, hatinya terasa tertusuk pedang tajam. Perih dan sakit.
Selain itu, kondisi Angel saat ini sedang tidak baik-baik saja setelah apa yang dilakukan oleh Jarrel terhadapnya. Dia merasa dia menjadi semakin kotor dan tidak pantas mendampingi Dante.
"Tidak. Aku juga meminta kepadamu untuk tidak memberitahukan Tuan Morgan kalau aku berada di sini. Kalau sampai dia datang ke sini, aku yang akan pergi," jawab Angel. "Aku sedang membangun hidup baru di sini sebagai Carmen Brooke. Nama Angel untuk sementara aku simpan. Nama itu terlalu buruk dan kotor,"
Frank memegang kedua tangan Angel dan mengusap punggung tangannya dengan lembut. "Dengar! Angel atau Carmen aku tidak peduli. Kau gadis yang sama di mataku. Kau gadis cantik, baik, dan memiliki hati serta kekuatan luar biasa untukku,"
"Kau tidak tau apa yang aku lalui, Frank! Berhenti memanggilku, Angel!" Angel menghela napas dan memejamkan matanya sesaat. "Kalau kau sudah selesai pergilah,"
Angel beranjak dari kursinya, tetapi Frank menahan pergelangan tangan gadis itu. "Aku masih ada di sini hingga satu bulan. Besok aku akan ke sini, begitu pula dengan besoknya lagi, besoknya lagi, dan besoknya lagi. Selama aku berada di sini, aku tetap akan menemuimu, Carmen,"
__ADS_1
"Terserah," jawab Angel sambil lalu.
...----------------...