Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Keputusan Sulit


__ADS_3

Perdebatan sengit antara Sid dan Angel pun masih berlangsung. Seolah lelah dengan segala drama yang ada di hidupnya, Angel menghela napas panjang sambil berkacak pinggang. "Sid, bukan berarti aku masih mencintainya, aku hanya ingin menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan,"


Kedua bola mata Sid berputar. Dia terjebak di antara dua pilihan, membiarkan Angel pergi dan menyelesaikan urusannya dengan Dante atau menahannya tetap di sini dengan konsekuensi, kedua makhluk pria kaya raya itu akan terus mengejarnya.


Pemuda itu mengacak-acak rambutnya. "Aarrggh! Baiklah, Carmen!"


Mengambil keputusan untuk mengalah, Sid membukakan pintu untuk Angel dan membiarkan gadis itu pergi bersama Dante dan Frank.


Namun sebelum mereka pergi, Sid berseru, "Tunggu dulu!" Pria itu berlari ke dapur dan entah apa yang dilakukannya karena terdengar sibuk sekali.


"Sid?" panggil Angel.


Tidak ada jawaban, tetapi tak sampai 1 menit, Sid sudah keluar dengan membawa botol spray kecil. Dia memberikan botol spray itu kepada Angel. "Ini semprotan merica, semprot mereka kalau sudah mulai macam-macam dan jaga dirimu, Carmen,"


Angel memeluk Sid. Saat itu, Sid memiliki firasat yang saat Angel memeluknya. Entah mengapa, Sid merasa itu adalah pelukan terakhir Angel untuk pemuda berkulit sedikit kecokelatan itu.


"Kembalilah, Carmen," bisik Sid di telinga Angel.


"Pasti. Bodoh sekali jika aku melepasmu dan ibu. Aku pasti kembali, Sid, dan menuntaskan peperangan kita tadi, hehehe!" kata Angel sambil menggoda kekasihnya itu.


"Percayalah padaku, Sid. Kalau aku harus pergi, maka, kepergianku hanyalah sementara karena aku pasti akan kembali," sambung Angel lagi. Dia menarik Sid untuk mendekat dan memagut bibir lelaki muda itu. "Aku berjanji,"


Setelah itu, Angel pun berpamitan pergi pada Sid dan mengangguk ke arah Frank serta Dante untuk mengikutinya.

__ADS_1


Di balik sikap kuatnya, Angel melangkah dengan berat. Tidak satupun dari ketiga pria itu yang menyadari kalau kedua kaki Angel gemetar karena takut. Selain itu, mungkin hanya Sid yang tau kedua telapak tangan Angel terasa dingin.


Angel mengajak Dante dan Frank menjauh dari rumah mereka serta restoran milik Sarah. Saat melewati restoran itu, Angel mendengar teriakan Sarah meneriaki Neil untuk mengantarkan makanan pada para tamu. Ingin rasanya dia berlari dan memeluk Sarah saat itu.


Gadis itu terus berjalan mendahului kedua pria yang dengan setiap mengikutinya dari belakang.


"Di sini saja," kata Angel. Dia sengaja mencari tempat terbuka yang cukup luas untuk berbicara dengan mereka berdua. "Apa yang ingin kalian bicarakan?"


"Aku tak pernah tau kau ada di sini," kata Dante.


Angel tersenyum. "Kau tidak pernah mencariku. Istrimu yang membawaku ke sini,"


Dante mengerenyitkan keningnya. "Evelyn? Kenapa dia membawamu ke sini?"


Tanpa Frank menjawabnya, Angel sudah dapat menebak isi kepala pria yang dianggapnya jahat itu. Itu sebabnya, rasa benci Angel kepada Frank membuncah dan bertambah besar.


"Kenapa kau tak hadapi aku sendiri? Kenapa harus mengajak dia? Kau tidak sanggup berhadapan denganku dan Sid? Kau takut kalah?" desak Angel.


Ya, dia akan menumpahkan semua emosinya pada Frank dan Dante hari ini. Dia akan menyelesaikan segalanya hari ini, setelah itu, dia akan benar-benar menutup bukunya dan membuka buku baru di hidupnya.


Frank tertawa, dia tidak menyangka kalau Angel akan menjadi semakin berani menghadapinya. "Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, maka, orang lain pun tidak boleh mendapatkanmu. Kecuali, Dante,"


"Kalian sudah memakaiku dan kusebut kasus kalian dengan kecanduan. Kalian ingin mendapatkanku hanya karena kalian ingin memakaiku! Berbeda dengan Sid, dia sudah menyukaiku bahkan sebelum dia tau siapa aku sebenarnya! Dia bergeming saat aku menyentuh dan menggodanya tadi. Sekarang, kuharap kalian tau kenapa aku memilihnya!" jawab Angel tegas.

__ADS_1


Gadis itu berusaha untuk terlihat tegar dan tidak goyah saat berbicara dengan Dante serta Frank. Namun, begitu Dante menyentuh tangannya, jantung Angel seakan berhenti berdetak.


"Angel, aku minta maaf kalau kau menganggapku tidak mencarimu. Saat ini, melihat kau hidup dan sehat saja sudah membuatku bahagia. Aku masih mencintaimu, Angel. Aku merindukanmu," kata Dante lembut.


Suara Dante dengan sopan masuk ke dalam indera pendengaran Angel, menyapa hatinya, dan membuat jantungnya kembali berirama.


Angel tak kuasa menepiskan tangan hangat dan besar yang sedang menggenggamnya. "D-, da-, maksudku, Tuan Morgan, terima kasih atas rasa cinta dan rindumu. Seperti kau tau, aku sudah memiliki kehidupan yang luar biasa di sini,"


Dante meminta Frank untuk meninggalkan mereka berdua. Sahabatnya itu sempat mendebat keputusan Dante, tetapi kemudian, dia pergi menjauh.


"Angel, aku ingin kau ikut denganku. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Sayang," rayu Dante. "Hidupku hancur. Semua berita yang kau baca, kau lihat, ataupun kau dengar itu, tidak benar. Mereka terlalu membesar-besarkan masalah itu,"


"Hubunganku dengan Evelyn hanya rekayasa. Dia memang sempat bertemu denganku, tapi aku tidak pernah memperdulikannya. Percayalah, Angel!" kata Dante berbohong.


Angel kini berada di persimpangan jalan. Tatapan Dante meluluhkan hatinya. Belum lagi sentuhan pria itu yang sudah lama dia rindukan.


"Begini saja, aku tidak akan memaksamu untuk kembali. Tapi, aku akan menunggumu di ujung pantai itu. Datanglah malam nanti ke sana kalau kau ingin kembali kepadaku," kata Dante. Dia mengecup kening, mata, hidung, pipi, serta bibir Angel lembut.


Tak cukup sampai di situ, Dante menempelkan keningnya di kening Angel. "Aku sungguh merindukan masa-masa kita berdua dan aku ingin berbahagia bersamamu, Angel,"


Angel mematung. Tak bicara, tak bergerak, bahkan dia tak tau apakah dia bernapas atau tidak. Sampai Dante menjauh pun, Angel tetap tidak bergerak.


"Sid, bagaimana ini? Aku mencintaimu tapi aku juga merindukan Dante," bisik Angel setelah Dante dan Frank pergi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2