Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Resmi


__ADS_3

Seorang pria keluar dari mobil mewah berwarna hitamnya dan menghampiri pria lain yang sudah cukup lama menunggu kedatangannya. Pria itu mengangkat tangannya untuk memberitahukan kalau dia sudah memesan meja di sana.


"Maaf, jalanan macet sekali. Benar-benar tidak dapat diprediksi," ucap pria bermobil mewah itu.


"Tidak perlu basa-basi, Dante. Pagi ini, kau meminta pengacaramu untuk mengurus perceraianmu dengan Eve. Pertanyaanku adalah, kenapa sangat tiba-tiba? Apa yang mendesakmu?" tanya pria berkacamata yang tadi menunggunya. Wajahnya tampak gusar dan kesal, bukan karena menunggu lama, tetapi mungkin berkaitan dengan apa yang ditanyakannya kepada Dante.


Dante duduk dengan tenang dan santai. Dia melepaskan kacamata hitamnya dan meletakkannya di atas meja. "Sejak kapan kau mulai ikut campur dalam kehidupan pribadiku, Frank?"


Pria berkacamata bernama Frank itu terlihat semakin geram. Dia berdecak kesal, "Ck! Kau tau benar, ini bukan hanya tentang kehidupan pribadimu, 'kan? Angel! Di mana gadis itu? Kamu berhasil bertemu dengannya?"


"Aku berharap, gugatan ceraimu hanya sekedar gertakan sambal," sambung Frank lagi.


Percakapan mereka terhenti karena Dante memesan kopi dan pancake untuk mereka sarapan. Saat memesan, dia membayangkan makan bersama Angel atau membantunya memasak sambil menggoda gadis itu. Tanpa terasa, bibirnya mengukir senyum dan dia pun tertunduk malu.


Setelah mendapatkan pesanannya, dia kembali ke meja dan memberikan satu latte kepada Frank dan kopi hitam tanpa gula untuk dirinya sendiri.


"Kalau hanya menggertak atau mengancam, aku tidak akan menggunakan pengacara, Frank. Betul, 'kan? Aku sudah mengatakan kepada Evelyn, cepat atau lambat aku akan menceraikannya dan kupikir, ini saat yang tepat," jawab Dante sambil menuangkan maple sirup pada pancake yang masih hangat.


Frank pun sudah sibuk mengunyah dan menyesap latte-nya. "Kau menggugatnya karena kau telah bertemu dengan Angel. Potong lidahku kalau aku salah bicara!"


Tawa Dante meledak mendengar ucapan dari mulut sahabatnya itu. "Hahaha! Aku tidak sejahat itu, Frank. Untuk apa aku memotong lidahmu? Tidaklah, aku menyangimu, Franky,"


"Cih! Kau tidak pernah seceria ini selama kurang lebih dua tahun. Kau telah bertemu dengan Angel! Begitu, 'kan? Ayolah, Dante, jujurlah padaku," cecar Frank.

__ADS_1


Frank dan Dante sudah mengenal sejak lama. Mereka teman semasa kuliah, hanya saja berbeda jurusan. Selama dua tahun terakhir ini, Dante jarang sekali tersenyum apalagi tertawa terbahak-bahak seperti tadi, nyaris tidak pernah.


Sebagian besar waktunya, dia habiskan untuk bekerja dan jalan bersama Frank. Bahkan Dante lebih banyak menghabiskan waktu bersama Frank daripada Evelyn, istrinya.


Semenjak Dante mengetahui perselingkuhan Evelyn, aura pria itu suram dan tanpa cahaya. Percuma saja dia hidup bergelimang harta, jika wajahnya terlihat seperti tidak memiliki masa depan.


Namun pagi ini, wajah Dante tampak cerah dan berseri-seri. Sama seperti saat Frank mengetahui kalau sahabatnya itu sedang jatuh cinta. "Kalau bukan Angel, lalu, apa yang membuatmu begitu bahagia? Kau tersenyum-senyum sendiri dan terkadang wajahmu bersemu kemerahan. Tidak akan ada orang yang percaya kalau kau baru saja menggugat cerai istrimu! Apakah sebahagia itu bercerai dari Eve?"


"Hahaha! Jangan berprasangka buruk terhadapku, Frank. Hmmm, ya, aku bertemu dengan Angel dan kami memutuskan untuk kembali dan meresmikan hubungan kami," ucap Dante tersipu.


"Tunggu! Tunggu! Sebentar! Meresmikan hubungan kalian? Hubungan apa?" tanya Frank. Jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa sesak, kesal, dan marah saat mendengar Dante menceritakan pertemuannya dengan Angel. Di saat yang bersamaan, Frank merasa bersalah juga. Teman macam apa yang kesal melihat sahabatnya berbahagia? Dilemma itulah yang sedang dirasakan oleh Frank saat ini.


Dante menikmati wajah tidak suka Frank. Kali ini, Dante merasa menang dari teman lamanya itu. Bagaimana tidak? Frank telah mengatakan secara terang-terangan kalau dia juga menyukai Angel. Selain itu, Dante juga ingin membalas dendam pada Frank karena kejadian beberapa waktu lalu, yang menyebabkan Frank dan Angel saling mereguk cinta malam itu. Sampai kapan pun, Dante tidak pernah ikhlas dengan kejadian itu.


"No way! Aku tidak percaya kalian sudah menjadi kekasih resmi," tolak Frank. Kedua tangannya membentuk tanda silang di depan dada. "Tidak mungkin! Angel benci sekali kepadamu, Dante!"


Dante mengangkat kedua tangannya ke samping sambil tersenyum mengejek. "Kau mau percaya atau tidak, itu terserah kepadamu,"


Frank menggeram kesal dan mengepalkan kedua tangannya. Seharusnya saat itu, dia ungkapkan saja rasa cintanya pada Angel, tetapi tidak dia lakukan. Kini, Frank hanya meratapi kebodohannya dengan kesal. Akan tetapi, dia tetap berusaha untuk mendapatkan Angel kembali sebelum kedua pasangan itu menikah.


Di waktu yang sama, tetapi di tempat yang berbeda, Evelyn berhasil mendapatkan pengacara berkat bantuan Jarrel. Karena mendadak, pengacara Jarrel belum sempat mempelajari kasus Dante Morgan dan Evelyn Morgan tersebut.


"Tidak adakah orang lain selain dia?" tanya Evelyn gusar. Wanita itu tidak yakin dengan pengacara pilihan kekasih gelapnya itu. "Aku ragu dia akan berhasil,"

__ADS_1


Jarrel merangkul pinggang Evelyn dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Evelyn dengan manja. "Dia cukup pintar, Beib. Jangan khawatir. Lagi pula, menurutku keputusan suamimu sudah tepat. Ketika kau resmi bercerai nanti, aku akan mengenalkanmu pada ayah dan kakakku. Setelah itu, kita akan menikah,"


Tidak ada dalam bayangan Evelyn untuk menikah dengan Jarrel. Kekayaan yang dimiliki Dante jauh lebih besar daripada Jarrel. Apa jadinya hidup dia jika harus kehilangan Dante dan harta kekayaannya? Kepala Evelyn terasa pusing mendadak. "Mana bisa aku menikah denganmu! Aarrgghh, ini semua karena gadis kecil sialan itu! Aku benci sekali kepadanya! Aku akan buat perhitungan kepadanya jika di pengadilan nanti aku kalah!"


"Kekasih suamimu maksudmu? Aku ingin mencobanya. Sepertinya, dia hebat sekali sampai bisa membuat suamimu berpaling kepadanya," ucap Jarrel. Bibirnya mulai bermain di ceruk leher Evelyn dan dengan lembut, dia menyesap leher jenjang tersebut.


Evelyn melenguh panjang. "Kita tidak bisa bermain dulu, Jarrel. Aku harus menemui pengacara-pengacara itu. Aarggh! Aku benci gadis itu! Brengsek!"


Jarrel tersenyum dan memutar tubuh Evelyn sehingga mereka berhadapan. "Aku akan menemanimu, Beib. Tenang saja,"


Setelah pengacara Dante menghubungi Evelyn, akhirnya wanita itu beserta kekasih gelapnya bergegas untuk menemui pengacara Dante.


Setibanya di sana, kedua pengacara tersebut sudah menunggu kedatangan mereka. Salah satu pengacara itu berdiri dan memperkenalkan diri kepada Evelyn dan Jarrel. "Joshua Floyd. Panggil saja, Josh,"


"Evelyn Morgan dan ini temanku, Jarrel Rivers. Oh, dia hanya sekedar menemani," balas Evelyn tersenyum licik. Dalam hatinya dia sudah bertekad akan melakukan apa pun supaya perceraian ini tak akan pernah terjadi.


Ketika semuanya sudah berkumpul, Josh membacakan gugatan Dante. Salah satunya adalah mengenai perselingkuhan yang dilakukan oleh Evelyn selama dua tahun terakhir ini. Di dalam gugatan itu pula, Dante mengatakan kalau Evelyn kerap membohonginya. Itulah alasan mengapa Dante menggugat cerai Evelyn.


Pengacara Jarrel pun membacakan alasan mengapa kliennya tidak ingin bercerai, salah satunya adalah karena Evelyn masih mencintai Dante dan membantah tuduhan selingkuh yang diajukan oleh Dante.


"Biar nanti pengadilan yang memutuskan. Paling tidak, aku sudah mengenal kalian. Klien saya sudah mempercayakan perkara ini sepenuhnya kepada saya, jadi Anda tidak dapat bertemu dengan mantan suami Anda di persidangan nanti," ujar Josh.


Tiba-tiba saja, Evelyn memiliki ide cemerlang untuk membatalkan sidang perceraian itu. Dia pun mengejar pengacara suaminya dan ikut masuk ke dalam mobil Josh. "Hai, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,"

__ADS_1


......................


__ADS_2