Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Cinta Sialan!


__ADS_3

"Evelyn, lepas! Lepaskan aku! Kau gila!" Dante terus memberontak sambil mendorong tubuh istrinya yang molek ke atas ranjang.


Begitu tadi dia mendengar suara teriakan, Dante segera melesat ke kamar Evelyn. Dia sempat khawatir terjadi sesuatu kepada istrinya itu. Namun ternyata saat dia masuk ke dalam kamar, Evelyn segera menariknya dan memagutnya dengan panas.


Pagutan Evelyn tidak pernah mengecewakan, apalagi sudah lama dia tidak melakukan pertukaran saliva dengan wanita yang masih tampak cantik di usia tengah 30 tahunnya itu.


Dengan cepat, wanita itu melucuti kaus yang dipakai oleh suaminya dan menyesap leher Dante hingga tercetaklah tanda merah di sana. Dante mengerang dan menekankan kepala Evelyn lebih kuat di ceruk lehernya. Tak sampai disitu, serangan tangan Evelyn bergerak liar mencari sesuatu yang sudah terbangun dari balik celananya.


"Oh, Dad. Aku merindukanmu," bisik Evelyn di sela-sela dessahan Dante.


Dante tidak menjawab, pria itu terbawa suasana sampai dia melihat pandangan seseorang dari kamar sebelah dan dia segera mendorong Evelyn untuk menjauh.


Namun Evelyn terus mengungkungnya, hingga akhirnya Dante mendorong tubuh Evelyn dengan kasar ke atas ranjang. "Lepaskan, Ev! Ini salah!"


"Apa? Apa yang salah, Dad? Menurutku tidak ada yang salah! Kita suami istri, wajar saja kalau kita melakukan hal seperti tadi! Lalu, di mana salahnya? Kecuali kalau kau melakukannya dengan perempuan Jallang itu, baru salah!" sindir Evelyn pedas. "Tadi malam, kau asik berdua dengan dia, 'kan? Kenapa kau tidak mau melakukannya denganku, Dad?"


Dante merapikan pakaiannya dan dia terhenyak di sisi Evelyn yang setengah menangis. "Rasaku untukmu sudah hilang, Ev! Aku tidak bisa menyentuhmu lagi atau menerima sentuhanmu, segala sesuatunya terasa salah dan aneh,"


Satu butir air mata Evelyn bergulir di pipinya. "Kenapa kita tidak mencoba untuk memperbaiki ini, Dad? Kau malah membawa gadis lain masuk di tengah-tengah kita. Apakah aku sudah tidak ada artinya lagi untukmu, Dad?"


"Aku merasa kau masih mencintaiku, Dad! Aku bisa merasakan itu! Kau membalas pagutanku, seolah-olah kau merindukanku. Lalu, yang di bawahmu itu pun memberikan respon yang sangat baik kepadaku, Dad. Kenapa bisa-bisanya kau mengatakan itu semua salah?" tanya Evelyn lagi.


Dante menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Tak dapat dia pungkiri, rasa itu masih ada, dan masih cukup besar. Akan tetapi, rasa untuk Angel pun perlahan mulai masuk ke dalam hatinya. Dia takut, Angel akan melihat perbuatannya tadi dan dia takut kalau Angel akan merasa sakit karena melihat dia sedang bergulat panas dengan Evelyn. "Ya, itu salah, Ev,"

__ADS_1


Sementara Dante berjuang dengan gairah dan hatinya, Frank juga sedang berusaha untuk mendapatkan tubuh Angel yang sudah membuatnya pusing sedari tadi.


"Layani aku!" tukas Frank sambil membuka tali gaun tidur yang dipakai Angel. Wajahnya memerah begitu dia melihat pemandangan indah yang ada di hadapannya. Dengan rakus, dia meremmas kedua bukit padat milik Angel itu dan memainkannya dengan tamak.


Mau tidak mau, Angel pasrah. Dia sudah terbiasa berpura-pura menikmati permainan dari para tamunya, jadi tidak sulit untuknya untuk berpura-pura juga pada Tuan Dokter yang kini menyesap pucuk bukitnya dengan rakus tanpa melepaskan genggaman bukitnya di satu sisi yang lain.


Angel mendessah hanya untuk memuaskan Frank dan itu membuat Frank semakin ganas. Laki-laki itu tak hanya menyesap, dia mulai menghissap kuat-kuat pucuk bukit Angel secara bergantian dengan kedua tangannya, dan terkadang dia menggigitnya.


Puas bermain dengan kedua bongkahan itu, Frank membuka gaun tidur Angel lebih lebar lagi. Bibirnya mencari bibir Angel, tetapi Angel selalu berhasil menghindarinya. Merasa sia-sia, Frank melarikan ciumannya ke sekujur tubuh gadis itu tanpa satu inci pun terlewati.


Angel mulai merasa bosan dan kini Frank dapat menyadari kepura-puraan yang dibuat oleh Angel. Dia berhenti dan mengangkat wajahnya. "Ada apa denganmu?"


"Kau kurang jago, Tuan. Gairahku seperti lilin yang makin lama makin memendek setelah itu, hilang," jawab Angel santai.


Wajah Frank kembali memerah. "Harusnya memang kau yang bergerak, Brengsek!"


Kemudian, Angel membuka celana panjang berbahan linen halus milik Frank. Andai saja, dia sedang butuh uang, maka senjata Frank ini tidak terlalu menyedihkan. Akan tetapi, Dante sudah membayar full satu bulan, kebutuhan Angel sudah terpenuhi dan batang berurat milik Frank baginya hanya sekedar sebuah peluru kecil nan mungil.


"Hanya sepanjang inikah punyamu?" tanya Angel sambil menatap junior Frank sambil memegangnya seperti memegang slime. Gadis itu bertekad akan mempermalukan Frank karena telah melecehkannya. Dia diajarkan untuk tidak mudah menangis oleh Madam Sienna dan kali ini, ajaran madam kesayangannya itu, akan dia praktekkan.


"Apa maksudmu! Dia sudah tegak berdiri! Masukan!" titah Frank tak sabar.


Angel mengangkat kedua tangannya, lalu duduk tepat di atas Frank. "Lihat? Anda bisa merasakan itu? Tidak sampai mentok, Tuan! Tapi tenang, aku akan mencoba untuk bergerak! Berikan rangsangan padaku!"

__ADS_1


Frank mulai kembali menggila. Dia meremmas kedua bukit Angel dengan kasar dan membuat tanda merah di kanan dan kiri bukitnya. Dengan susah payah, Angel menahan gairah yang dipompakan oleh Frank tersebut.


Dia tidak akan membiarkan Frank menikmati gerakannya. Dia membayangkan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan, yang membuatnya hilang rasa. Segera saja bayangan Dante dengan Evelyn membuat gairah Angel menyusut dengan cepat.


Walau begitu, Angel tetap bergerak. Sampai pada akhirnya dia menyerah. "Ah, sudahlah! Aku lelah, Tuan! Kau tidak perlu membayarku,"


Angel beranajak dari tubuh Frank dan merapikan pakaiannya. Frank yang masih penasaran dengan gadis itu tampak tak terima ditinggalkan begitu saja. "Angel! Angel! Tunggu dulu!"


Namun Angel setengah berlari keluar dari kamar mandi tersebut dan kembali ke meja makan. Betapa terkejutnya dia karena Dante sudah ada di sana. "Darimana saja kau?"


"Tuan Stanley memintaku untuk melayaninya, tapi aku menolak dan dia terus memaksa. Aku baru saja melarikan diri darinya, Tuan," jawab Angel dengan suara tertekan.


Tak lama, Frank datang dengan pakaian berantakan dan wajah yang tak kalah berantakannya. Dante beranjak dari kursinya dan segera saja dia melayangkan tinjunya ke wajah Frank. "Jangan lagi-lagi kau menyentuhnya, Frank! Dia milikku!"


Frank tersungkur dan dia mendengus sambil mengusap sudut bibirnya. "Katakan kepadanya supaya dia bekerja dengan baik! Huh!"


Dante mengajak Angel untuk pergi dari kediamannya. Pria itu memegang kemudi mobil dan melajukannya dengan cepat dsn berhenti di tepi jalan.


"Maafkan aku," kata Dante. "Aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi,"


"Kenapa kau masih berhubungan dengan istrimu? Bukankah katamu, kau akan menceraikannya?" tanya Angel tanpa menanggapi pernyataan maaf dari Dante.


Dante menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil. "Aku belum bisa menceraikannya. Begitu mendengar dia berteriak tadi, aku baru sadar kalau aku masih mencintainya,"

__ADS_1


Sebilah anak panah seakan menusuk jantung Angel dan menghentikan kerja jantung tersebut. Seketika itu juga, dia seperti kehabisan oksigen dan kesulitan bernapas. Sistem saraf pusatnya juga mengirimkan rasa pedih yang teramat sangat saat dia mendengar kata-kata Dante. Cinta? Cinta Sialan!


...----------------...


__ADS_2