Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Dante Memilih


__ADS_3

"Ev! Apa yang kau lakukan di sini!" seru Dante. Pria itu segera menurunkan Evelyn dari gendongannya.


Namun Evelyn semakin menggelendot manja. "Aku merindukanmu, Dad? Memangnya kau tidak rindu padaku?" Saat itu, netra Evelyn berpusat pada Angel yang masih memakai seragam kedai kopi berwarna hitam dan hijau. Wanita itu memincingkan kedua matanya dan menunjuk Angel. "Kau! Mau apa kau datang ke sini?"


Dante merangkul pundak Angel dan menuntunnya untuk masuk ke dalam. "Aku yang mengajaknya, Ev!"


"Tapi, Dad! Kenapa?" tanya Evelyn tak habis pikir. "Kita baru saja menghabiskan satu malam panas yang menggairahkan, kenapa kau bawa dia lagi ke sini?"


"Apanya yang panas? Saat itu aku sedang mabuk! Kupikir aku sedang bercinta dengan Angel, bukan dengan kau, Ev! Lagi pula, aku sudah mengusirmu, kenapa kau kembali?" desak Dante. Dia menggandeng tangan Angel dan menggenggamnya erat. "Begini saja, aku yang akan pergi!"


Dante kembali mengajak Angel yang tak mampu berkata-kata keluar dan masuk ke dalam mobil. Pria berperawakan tinggi dan tampan itu mengacuhkan teriakan Evelyn. Bahkan, dia tidak peduli saat istrinya melempar kaca mobil dengan sepatu hak tinggi milik Evelyn.


"Kita mau ke mana?" tanya Angel saat mobil mulai menjauh dari kediaman Dante.


Kedua bahu Dante terangkat dan dia tersenyum lebar. "Aku juga tidak tau. Kau mau ke mana?"


"Apakah kau sungguh-sungguh sudah bercerai dari istrimu?" tanya Angel takut-takut. Ya, dia tidak mau melambungkan harapannya pada Dante. Dia tidak ingin sakit lagi.


"Kita bicarakan nanti. Kau bilang, kau sudah memiliki rumah. Di mana itu?" tanya Dante.


Angel mengangguk. "Ya, tak jauh dari tempatku bekerja,"


"Kita ke sana!" Dante memutar laju kendaraannya menuju kedai kopi tempat Angel bekerja.


Karena hari sudah malam, tidak banyak kendaraan yang lalu-lalang sehingga mereka dapat cepat sampai ke rumah Angel. Rumah gadis itu sangat sederhana. Hanya ada garasi kecil yang sanggup menampung satu kendaraan. Ruang tamu dan ruang makan yang menyatu. Serta satu kamar dan kamar mandi.


Angel merasa sungkan memperlihatkan isi rumahnya. "Maaf, sedikit berantakan. Aku belum merapikan cucianku," katanya tertawa kecil sambil memunguti pakaian dalam yang berserakan di sofa serta kursi makan.


Dante mengambil satu pakaian yang dalam yang berada di balik bantal dan memberikannya kepada Angel. "Apa yang kau kerjakan sampai pakaianmu berserakan seperti ini?"


"Ah, itu-, ... Mmmm, sebenarnya-, ... Bagaimana, yah? Hahaha! Aku rapikan dulu semuanya," jawab Angel tersipu dan dia mempercepat gerakannya.

__ADS_1


Dante menghampiri gadis itu dan berniat membantu, tetapi Angel memintanya untuk menunggu. "Duduk saja di situ, Dad. Ini tidak akan lama dan akan bertambah lama jika kau ikut membantuku,"


"Benarkah? Tapi, ini menarik. Melihat pakaianmu berserakan di mana-mana, mengingatkanku pada sesuatu yang belum kita selesaikan hari ini," ucap Dante dengan senyumnya yang menggoda.


Pria itu menarik tangan Angel dan memintanya untuk duduk di sisinya. Setelah melemparkan pakaiannya begitu saja ke dalam kamar, Angel menghampiri Dante dan duduk di samping pria menawan itu.


"Apa yang belum kita selesaikan?" tanya Angel. Seingatnya, segala sesuatu yang dia kerjakan hari ini terselesaikan dengan baik. Kecuali perasaan cemburunya terhadap Evelyn.


"Evelyn. Aku berani bersumpah kalau aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun pada wanita itu. Percayalah kepadaku, Angel," ucap Dante memegang kedua tangan Angel dan mengecup punggung tangan gadis itu.


Angel menarik tangannya. "Aku tidak ingin membicarakan itu. Itu urusan kalian dan andaikan belum selesai, silakan selesaikan dan jangan temui aku dulu,"


"Aku memilihmu, Angel dan aku sudah mengirimkan gugatan ceraiku terhadapnya. Kalau kau tidak percaya, kau bisa menanyakan hal itu kepada pengacaraku," ujar Dante berusaha meyakinkan gadis yang menatapnya dengan tatapan menyelidik itu. "Jadi, kumohon percayalah kepadaku,"


Gugatan cerai Dante terhadap Evelyn baru dikirimkan sore tadi saat dia menemui Angel dan mengajak gadis itu untuk kembali bersamanya. Saat mereka kembali ke rumah Dante, Evelyn sama sekali belum mengetahui tentang surat gugatan cerai itu.


Dante pun cukup terkejut melihat Evelyn sudah ada di rumahnya. Yang membuat pria berprofesi sebagai pemilik perusahaan itu sakit hati adalah saat Evelyn berpura-pura menjadi Angel dan memadu kasih dengannya.


"Aku tidak tau. Aku tidak mau sakit lagi, Dad. Malam itu, ketika kau lebih memilih Evelyn, aku hancur dan aku menjadi benci pada diriku sendiri," ucap Angel, kini suaranya tercekat dan dia sudah ingin menangis lagi. "Jangan beri harapan kepadaku jika masih ada Evelyn dalam hidupmu, Dad,"


Dante mendorong ceruk leher Angel dan memagut benda kenyal gadis itu selama sepersekian detik, kemudian melepasnya. "Tidak ada siapa pun selain dirimu, Angel. Evelyn sudah menjadi masa lalu untukku dan kau, aku berharap kau akan menjadi masa depanku,"


"Apa kau berjanji, Dad? Dengan segenap jiwa dan ragamy kalau hanya ada aku di hidupmu?" tanya Angel masih melingkarkan lengannya di leher Dante.


Laki-laki yang usianya terpaut sepuluh tahun itu mengganti jawabannya dengan sebuah pagutan yang panas dan semakin dalam. Ruangan kecil itu kini dipenuhi oleh suara deru napas kedua insan yang sedang mereguk cinta.


Pagutan itu semakin menuntut karena tak lama, tangan Dante sudah menjelajah liar ke tubuh Angel. Dengan satu tangannya yang lain, pria itu membuka satu per satu kancing kemeja Angel dan meloloskannya dengan cepat.


Angel pun dengan pasrah mengizinkan tangan Dante berkeliaran di tubuhnya. "Dad,"


"Hmmm?" bisik Dante dengan suaranya yang sensual, kedua tangannya tak berhenti memilin dan memutar pucuk bukit Angel yang sudah bereaksi atas segala jenis sentuhan yang diberikan oleh Dante.

__ADS_1


"Dhad, jangan berhenti," balas Angel tersenyum.


Tanpa ragu, Dante membaringkan tubuh Angel di atas sofa dan melanjutkan permainan mereka di sana.


Di kediaman Dante, Evelyn sedang mengomel ditemani oleh Jarrel yang segera datang begitu Evelyn memanggilnya.


"Gadis murahan itu datang lagi! Apa yang harus aku lakukan, Jarrel?" tanya Evelyn sambil berjalan bolak-balik di depan pria yang asik bermain game di ponselnya.


"Berarti gadis itu oke, 'kan? Maksudku, jika pria sulit melupakan seorang gadis, maka gadis itu benar-benar istimewa untuknya. Contoh saja aku. Aku sulit melepaskanmu karena kau sudah menjadi canduku, Eve, hehehe!" jawab Jarrel.


Evelyn berkacak pinggang dan menatap kekasih gelapnya itu dengan kesal. Bukan itu jawaban yang dia harapkan! Namun, apa yang bisa dia harapkan dari Jarrel, selain sekksnya yang memuaskan?


Tak lama, suara ponsel Evelyn berdering. Dia melihat siapa yang meneleponnya malam-malam seperti itu. Wajah sumringahnya berubah seketika saat dia melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya.


"Ya?" sapa Angel.


("Cek email sekarang! Aku mau, Anda menyiapkan pengacara yang dapat bertemu denganku besok pagi karena klienku ingin masalah ini cepat selesai,") ucap si penelepon.


"Pengacara? Masalah apa? Aku tidak punya masalah dengan siapa pun!" tukasnya. Tetapi, Evelyn penasaran. Dia mengaktifkan mode pengeras suara sambil membuka aplikasi email di ponselnya. Betapa terkejutnya dia setelah selesai membaca surat elektronik tersebut. "Apakah suamiku yang mengirimnya? Tapi, kenapa?"


("Di email itu sudah dijelaskan alasannya, Nyonya. Jadi, siapkan pengacara Anda dan temui aku besok pagi. Terima kasih,") jawab si penelepon itu dan kemudian dia mengakhiri panggilannya.


Jarrel melihat perubahan di wajah Evelyn. "Ada apa?"


"Dante! Dante menggugatku," jawab Evelyn lemas.


...----------------...



Frank Stanley

__ADS_1


__ADS_2