Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Jangan Main-Main Dengan Cinta


__ADS_3

Kedua netra adik dan kakak yang bertemu saat besar itu saling bertumpu. Tidak ada kata yang terucap dari mulut mereka. Hanya ada angin yang sesekali menerpa wajah keduanya.


Tangan Sid otomatis menyibakkan rambut yang menerbangkan rambut Angel. "Nanti kena matamu. Ehem! Kembali ke masalah yang tadi! Kau tidak boleh berbicara dengan gamang seperti tadi! Orang bisa salah paham karena ucapanmu itu! Paham?"


Sid menepis segala harapan dan mimpi yang mulai berterbangan di benaknya. Bagaimanapun juga, dia tidak ingin merusak hubungan sebagai kakak adik yang sudah terjalin cukup lama di antara mereka.


Angel kembali memandang lautan lepas di hadapannya. "Aku tidak main-main dan aku juga tidak sedang bercanda. Aku memang menyukai tipe pria seperti itu. Yang baik, manis, humoris, ramah, dan satu lagi, setia. Saat aku tidak ada, aku berharap dia akan menungguku bukan kembali pada masa lalunya atau mencari seseorang yang baru,"


"Jadi, kalau kau bukan kakakku, aku mau saja jadi kekasihmu. Tapi aku rasa, kau tidak akan menerimaku kalau kau tau latar belakang kehidupanku," sambung Angel lagi. Kemudian, dia membaringkan tubuhnya di atas alas duduk. "Aku seperti bintang yang ada di ujung sana itu. Dia sendirian dan terpisahkan dari yang lain karena tidak pantas disandingkan dengan mereka,"


Sid ikut berbaring di sisi Angel dan melihat ke arah bintang yang ditunjuk oleh adiknya tadi. Bintang itu terpisah cukup jauh dari kumpulan bintang lainnya. "Tapi kau tetap bersinar dan sinarmu paling terang di antara yang lain,"


Saat Angel berbicara tentang latar belakang hidupnya dulu, Sid teringat ucapan Frank yang mengatakan kalau ada yang mengetahui siapa Angel sebenarnya, maka kebanyakan orang akan memanfaatkan dia dengan dalih kehidupan masa lalu yang pernah dijalani oleh gadis itu.


"Aku tidak tau bagaimana hidupmu dulu, Carmen. Aku juga tidak perlu tau tentang itu. Orang tidak akan melihat dari masa lalumu, tapi dari apa dan bagaimana dirimu saat ini. Tidak mungkin, 'kan, ada orang yang berjalan ke belakang? Semua orang berjalan ke depan. Bagaimana dia bisa berjalan ke depan kalau dia tidak mau mengubah arah pandangannya?" sambung Sid lagi. "Kau pintar, kau cantik, dan kau gadis yang baik. Persetan apa kata orang tentang masa lalumu. Kau adalah kau yang sekarang! Lihatlah ke depan dan jangan lagi menoleh ke belakang! Kalau kau terus menoleh ke belakang, kau tidak akan maju dan akan terus hidup dalam ketakutan. Saat ini ada aku dan ibu, manfaatkanlah kami untuk membantumu melihat ke depan dengan berani!"


Lagi-lagi, butiran bening meluncur cepat dari sudut mata Angel. Dia mendengus dan tersenyum. "Ah, Sid, kau benar-benar pria yang baik. Bersyukurlah wanita yang menjadi istrimu nanti,"


"Jangan main-main dengan harapan. Kita bukan saudara sekandung, bagaimana kalau suatu saat kau ternyata jatuh cinta padaku? Aku yang akan kerepotan nanti! Cih!" tukas Sid sambil menahan getaran jantungnya.


Angel terkikik geli. "Hihihi! Kalau aku jatuh cinta padamu, kurasa tidak jadi masalah. Tapi, kau harus menerima cintaku. Ibu pernah berkata kepadaku kalau dia menginginkanku untuk menjadi menantunya, itu berarti aku boleh jatuh cinta dan menikah denganmu,"

__ADS_1


Wajah Sid semakin merona merah. Suara degup jantungnya terasa semakin kencang, seolah mereka melompat dari penampangnya. "Benarkah ibu berkata seperti itu?"


Angel mengangguk penuh semangat, senyum manisnya belum lekang dari wajahnya. "Ya, kau bisa tanyakan lagi pada ibu kalau tidak percaya,"


"J-, jangan main-main dengan cinta, Carmen! Kau bisa mati ditendang kuda nanti! Lupakan! Lupakan soal kita!" tukas Sid tersipu malu.


Namun di saat Angel sedang tertawa dan menikmati hidup barunya, di sisi lain, Frank sedang tersiksa karena perasaan cinta dan rindu yang dia tahan sejak beberapa hari yang lalu. Tak hanya Frank, Dante pun merasakan hal yang sama. Hanya saja, Dante mempunyai pelampiasan yang dapat mengusir Angel sementara dari hati dan pikirannya.


Berbeda dengan Frank, pelampiasan yang bisa lakukan adalah dengan belajar untuk mengejar gelar spesialisasinya serta bekerja di rumah sakit cabang yang sudah dia resmikan beberapa waktu lalu. (Dante mengirimkan satu buah mobil sebagai hadiah atas peresmian rumah sakit tersebut).


Suatu hari, Frank menghubungi Theo untuk menanyakan kabar Dante. Dia ingin meyakinkan dirinya sendiri kalau sahabatnya itu masih mencintai Angel atau sudah melupakan gadis yang pernah menjadi kekasihnya itu.


"Dante sedang apa?" tanya Frank tanpa basa-basi.


Theo menjulurkan telinganya, mencari sumber suara untuk mengetahui keberadaan Dante. ("Seperti biasa, Tuan Morgan sedang bergulat basah dengan Nyonya Smith,")


Frank mendengus. Selalu itu kabar yang dia dengar dari Theo atau bahkan dari mulut Dante sendiri. "Apa dia tidak ada kerjaan lain selain olahraga ranjang?"


("Saya rasa, Tuan Morgan kesepian. Sudah sejak lama, dia kesulitan tidur dan baru bisa tidur pagi hari itupun setelah dia bermain dengan Nyonya Smith. Makan juga tidak teratur dan yang paling menyedihkan, ketampanannya berkurang,") jawab Theo.


"Itu karena dia bermain-main dengan cinta! Mana bisa dia mencintai dua orang sekaligus dalam satu waktu? Bisa gila dia! Kalau sudah bercerai, seharusnya hubungan mereka hanya sebagai teman dan tidak melakukan kontak fisik. Tapi, tidak begitu dengan Dante! Dia terus saja bermain dengan Nyonya Smith," ucap Frank panas.

__ADS_1


Dalam pikirannya, tidak ada cinta gila seperti cinta Dante pada Angel. Kalau Dante benar-benar mencintai Angel, dia tidak akan meladeni Evelyn dari saat pertama kali Evelyn muncul di resort.


("Mungkin saja Nyonya Smith hanya dijadikan pelampiasan oleh Tuan Morgan. Maksud saya, saat Nona Angel ada di sini, Tuan Morgan terlihat sekali sangat menyayangi Nona Angel dan begitu Nona Angel menghilang, Tuan Morgan pun seakan ikut menghilang,") sanggah Theo lagi. ("Ini pendapat pribadi saya, Tuan, dan tidak ada hubungannya dengan bonus,")


Frank pun tersenyum mendengar kelakar sederhana dari Theo. Setelah mengakhiri panggilannya dengan Theo, Frank duduk di kursi depan. Jarak tempat tinggal dia dengan rumah makan Angel tidak terlalu jauh sehingga dia bisa melihat restoran kecil itu dari kejauhan.


Pria berkacamata yang berprofesi sebagai dokter itu hanya bisa memandang Angel dari rumah tinggalnya. Angel terlihat seperti sebuah titik dari tempatnya itu.


Namun, dia bisa membayangkan kalau gadis itu sedang tertawa bahagia bersama keluarga barunya. Tak tahan menahan rindu, Frank mengambil mobilnya dan pergi menuju rumah makan Angel. Saat dia sampai, Angel tengah sibuk mengambil papan menu.


"Carmen," sapanya.


"Frank, mau apa kau ke sini?" tuntut Angel ketus.


Frank mendekati Angel dan memeluk gadis itu dengan erat. Sesuatu yang hangat menetes dan membasahi pundak gadis itu. "Carmen, aku benar-benar merindukanmu. Izinkan aku seperti ini sebentar, hanya untuk mengisi daya di hidupku,"


"Kau tau Frank, tadi malam, ada seorang pria menasihatiku. Katanya, jangan pernah bermain-main dengan harapan dan cinta kalau kau tidak mau mati ditendang kuda," ucap Angel bersungguh-sungguh.


Frank tertawa dan mengeratkan pelukannya pada gadis itu. "Ya, aku tau,"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2