Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Siapa Kau?


__ADS_3

Pertarungan batin Sid semakin sengit saja. Terkadang dia merasa berdebar saat berdekatan dengan Angel, tetapi terkadang dia merasa biasa saja. Namun, Sid merasa dia lebih banyak merasakan debaran dibandingkan dengan biasa saja.


Apalagi akhir-akhir ini, Angel semakin menempel padanya. Seperti hari itu, mereka bertiga sudah berada di rumah makan dan bersiap-siap untuk membuka restoran kecil tersebut. Ada saja yang dibuat oleh Angel yang menyebabkan wajah Sid merona.


Bermula saat Angel hendak membantu Sid menyusun meja dan kursi yang diletakkan di atas meja. Gadis itu menurunkan satu per satu kursi-kursi itu dan membersihkannya dengan cermat.


"Kau lama!" tukas Sid kesal dan mengambil alih kursi yang sudah berada di tangan Angel tersebut.


Angel menyeringai lebar karena kursi itu lumayan berat. Maka setelah Sid mengambil alih pekerjaannya, dia memeluk kakaknya itu dengan sayang. "Terima kasih, aku bisa mengerjakan yang lain,"


Sontak saja wajah Sid memerah dan jantungnya kembali berlompatan dengan riang. Sid memegangi dadanya dan menunduk. "Hei, tenanglah kalian,"


Panggilan Sarah membuat Sid tersentak. "Sid, kau simpan di mana kerang-kerang itu? Carilah cepat! Setelah itu, bantu adikmu membersihkannya!"


"Ada di bawah meja dapur, Bu! Aku masih mengelap kursi-kursi ini!" jawab Sid tak kalah kencang.


Tak lama, terdengar suara Angel berseru ramai. "Aku sudah menemukannya. Terima kasih, Sid!"


Selagi mereka sibuk menyiapkan restoran kecil mereka, seorang pria masuk ke dalam rumah makan itu dan menyapa Sid. "Halo,"


Sid menghentikan aktivitasnya dan menatap pria itu. "Kau lagi! Apa kau tidak memiliki pekerjaan? Carmen sibuk di belakang dan kami harus buka lebih cepat hari ini karena ada pesanan mendadak!"


"Aku ingin bertemu denganmu," jawab pria itu.


"Heh! Aku? Untuk apa?" tanya Sid. Pikiran bodoh melintas di benaknya dan dia mundur teratur menjauhi pria asing tersebut. "J-, jangan katakan kepadaku kalau kau t-, ternyata-, ...."


Tangan Sid membentuk lengkungan kecil dan pria itu tertawa melihat kebodohan yang Sid lakukan. "Hahaha! Bagaimana kalau aku menyukaimu sungguhan? Hahaha! Kau bodoh! Tentu saja bukan begitu! Aku hanya ingin memperkenalkan diriku saja,"

__ADS_1


Pria asing itu kemudian mengulurkan tangannya. "Namaku Frank dan siapa namamu?"


Dengan takut-takut dan sedikit ragu, Sid membalas uluran tangan pria asing itu. "S-, Sid,"


"Baiklah, Sid. Namaku Frank. Senang bertemu denganmu dan sampaikan salamku pada adikmu yang cantik itu. Sampai jumpa," kata pria berkacamata itu sambil berlalu pergi.


Keinginan Sid untuk bertanya tentang Frank pada Carmen, terpaksa dia tunda. Setelah dia membalik papan bertuliskan tanda 'Buka', rumah makan mereka kembali dibanjiri pengunjung hingga malam tiba.


"Terima kasih untuk kunjungannya," ucap Angel sambil tersenyum kepada tamu terakhir yang datang ke rumah makan mereka. "Bu, papannya aku putar, ya?"


"Ya, Sayang. Segalanya sudah habis tak bersisa, apalagi yang mau kita sajikan? Hahaha! Terima kasih, Nak," jawab Sarah.


Malam itu mereka kembali ke rumah dengan hati senang walaupun lelah. Setelah membersihkan diri dan makan, seperti biasa Angel pergi keluar dan duduk di pinggiran pantai.


Sid menghampiri gadis itu dengan membawakan alas untuk duduk serta beberapa camilan. Lagi-lagi dia kembali masuk ke dalam untuk membawakan selimut kepada gadis yang menjadi adiknya secara mendadak itu.


"Aku sudah terbiasa dingin, tapi terima kasih," balas Angel.


Sid meminta gadis itu untuk berdiri supaya dia dapat meletakkan alas duduk untuk mereka berdua. Setelah alas duduk terpasang, Sid meletakkan beberapa makanan ringan, dua gelas kosong, serta satu botol minuman.


"Wah, kau mengajakku piknik malam-malam rupanya, Sid. Hehehe!" ucap Angel tersenyum. Tangannya mengambil satu bungkus makanan ringan dan membukanya.


Lama mereka terdiam dan hanya menikmati angin laut malam yang menyapa wajah mereka. Angel belum pernah merasa sedamai ini dalam hidupnya. Malam hari adalah malam sibuk untuk gadis itu karena dia harus bekerja di saat orang lain beristirahat.


Begitu pula saat dia bersama Dante. Pria yang sempat diharapkan untuk menjadi pelabuhan terakhirnya itu hampir selalu memakai waktu malam Angel untuk menemaninya pergi ke pesta atau sekedar pertemuan dengan rekan-rekannya.


Namun di sini, Angel benar-benar dapat hidup selayaknya orang normal. Memakai jam malamnya untuk santai dan beristirahat setelah seharian lelah bekerja. Baru kali ini juga dia merasakan hidup seperti manusia.

__ADS_1


Di sebelahnya, Sid sedang asik dengan ponselnya sampai dia menemukan sesuatu yang dia tunjukkan kepada Angel. "Enak sekali tinggal di kota, ya? Kita bisa merencanakan apa saja yang kita inginkan,"


"Kata siapa? Melelahkan hidup di kota besar. Aku suka di sini," balas Angel.


Sid memberikan ponsel usangnya pada Angel. "Lihatlah, katanya dia konglomerat dan sedang merencanakan program kehamilan bersama istrinya. Kehamilan saja diprogram. Aneh sekali. Kau tinggal berhubungan dengan intens, lalu jadilah anak,"


Angel mengambil ponsel dari tangan Sid. Tiba-tiba saja, napasnya tercekat saat dia menbaca tajuk berita itu. Kemudian, dia mengembalikan ponsel itu kepada kakaknya dan terdiam.


Tangan gadis itu membuka botol minuman dan menuangkannya di dalam gelas. Dalam satu tenggak, minuman di gelas itu sudah kembali kosong.


"Kau kenapa?" tanya Sid. "Tadi pagi aku bertemu dengan pria kenalanmu itu. Namanya Frank,"


Angel memejamkan kedua mata dan menghela napasnya. "Bisakah kau tidak membicarakan mereka? Jangan pernah juga tunjukan aku berita tentang Pria Brengsek ini padaku, Sid!"


Mendengar suara Angel yang meninggi, Sid teringat kata-kata Frank. Pria tampan itu pernah mengatakan kalau kekasih Angel sudah berubah menjadi seekor Buaya Brengsek.


"Carmen? Sebenarnya, siapa kau ini? Pria yang ada di berita itu adalah seorang presiden direktur yang sangat kaya. Atau jangan-jangan kau anak orang kaya yang lupa ingatan? Atau, kau diculik dan kau melarikan diri?" tanya Sid tercengang.


Angel tidak menjawab. Alih-alih menjawab, dia beranjak berdiri dan berlari menjauhi Sid, menuju pantai. Di situ dia berteriak kencang, "Semoga kau tidak pernah menemukanku di sini, Brengsek!"


Setelah berteriak, dia terjatuh dan menangis tersedu-sedu. Tak bisa dipungkiri, rasa cintanya untuk Dante masih tersimpan rapi di hatinya begitu pula dengan rasa rindu untuk pria itu.


Melihat berita yang ditunjukkan oleh Sid tadi membuat hatinya sangat sakit. Padahal Angel ingin sekali melupakan Dante dan kehidupannya yang lama, tetapi ada saja yang datang dan mengingatkan dia dengan kehidupan lamanya yang cukup suram itu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Sid. Dia mengulurkan tangannya dan membantu Angel untuk berdiri. "Kau menangis? Carmen, hei, kau baik-baik saja?"


Angel berdiri dan memeluk Sid. Dia menangis di dalam pelukan pria yang kini jantungnya kembali berdegup dengan kencang itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2