
Malam hari itu, Angel menginap di tempat dia tinggal dahulu, yaitu, Madam Sienna House. Banyak orang yang menyapanya bahkan mengantri panjang untuk bisa mengobrol dengannya.
Malam itu pula, rumah Madam Sienna berubah menjadi tempat berkumpul. Wanita itu rela berada di dapur hanya untuk membuatkan makanan dan minuman untuk anak kesayangannya itu.
Dia selalu membanggakan Angel kepada siapa pun yang datang. Angel pun tak lantas menjaga jarak dengan adik-adiknya yang berada di rumah itu. Dia mengajarkan kepada mereka untuk meluangkan waktu berjalan-jalan, membaca buku, dan meneruskan sekolah.
Keesokan harinya, Angel meminta Madam Sienna untuk ikut bersamanya menemui Sarah. Mendengar permintaan itu, Madam Sienna terenyuh. "A-, aku? Kau memintaku, Angel?"
"Carmen, Madam. Ya, aku memintamu, Madam," kata Angel dengan manis.
Tanpa sadar, Madam Sienna menarik rok ketatnya supaya lebih turun dan merapikan rambut dengan kedua tangannya. "Apa aku pantas menjadi walimu?"
"Siapa lagi yang aku punya selain dirimu? Ayo, cepatlah, Madam! Sebelum cintaku diambil oleh orang!" titah Angel lagi.
Madam Sienna tersenyum dan pada akhirnya, dia mengangguk. "Aku harus pakai baju apa? Kau tau sendiri bagaimana aku, 'kan?"
"Jadilah dirimu sendiri dan pakai saja pakaian yang membuatmu nyaman," kata Angel menjawab pertanyaan Madam Sienna.
Setelah memutuskan dan mengepak pakaian, Madam Sienna pun setuju untuk ikut dengan Angel sebagai wali gadis itu. Sepanjang perjalanan, tak sedetikpun dia melepaskan genggaman tangannya pada Angel.
Empat jam kemudian, mereka mendarat di bandara internasional daerah tempat Sid tinggal. Bau pantai dan angin laut sudah menyambut kedatangan mereka.
"Hei, Carmen. Kau akan tinggal di mana? Lagi pula, kalau kau hendak melamar seseorang kau butuh cincin, bukan?" tanya Madam Sienna.
Tak pernah terpikirkan oleh Angel kedua hal itu. Baginya, rumah Sarah adalah rumahnya juga. Begitu pula dengan cincin, dia tidak pernah memikirkan cincin sebelummya.
"Benar juga. Kalau untuk membeli cincin dan menyewa apartemen, uangku tidak cukup. Tapi, aku harus bertanggung jawab karena sudah membawamu ke sini," kata Angel muram, sambil menghitung-hitung jumlah uang yang dia bawa.
Uang yang dia bawa adalah uang yang dia kumpulkan saat dia bekerja di kedai dan sisa uang saat dia bersama Dante dan uang itu semakin menipis karena dia harus melunasi rumah yang sempat dia tinggalkan di dekat kedai tempat dia bekerja dulu.
"Tidak usah kau pikirkan! Ayo, kita cari cincin!" tukas Madam Sienna. Tangannya menggandeng tangan Angel dan bertanya-tanya kepada orang di sekitar mereka di mana mereka bisa tinggal dan membeli cincin.
Setelah berputar-putar dan dengan bantuan beberapa orang baik, akhirnya mereka menemukan apartemen kecil di pinggir pantai.
"Lumayanlah, hahaha!" tukas Madam Sienna sambil memandang ruangan di dalam apartemen tersebut.
Apartemen kecil itu memiliki dua kamar dengan dua tempat tidur berukuran single bed, dapur kecil, satu kamar mandi, dan ruang tamu.
"Ini sudah sangat bagus, Madam. Terima kasih untuk bantuanmu," ucap Angel berterima kasih.
Gadis itu membuka jendela dan menghirup udara pantai dalam-dalam yang terbentang di hadapannya. Banyak rencana yang sudah dia susun di dalam pikirannya. Bahkan andaikan nanti, Sid menolaknya, dia memutuskan untuk tetap tinggal di sana dan bekerja di sana.
Dia juga sudah membeli cincin dan dua buah gaun sederhana untuk datang menemui Sid dan Sarah nanti malam. Tak sabar, dia menghitung jam yang terpasang di dinding. Jantungnya berdebar memikirkan apa yang akan dia ucapkan nanti pada Sarah dan Sid.
__ADS_1
Petang pun tiba, Angel mengajak Madam Sienna untuk menikmati matahari terbenam sebelum pergi ke rumah Sarah. Lagi pula, dia menunggu hingga wanita itu menutup restoran kecilnya.
Dengan berjalan kaki, mereka berdua pun menuju rumah Sarah. Saat mereka semakin dekat dengan rumah Sarah, jantung Angel semakin berdebar. Dia terus memegangi dadanya dan menghembuskan napas panjang untuk menenangkan diri.
"Kurasa jantungku melompat entah ke mana, Madam," kata Angel dengan ekspresi wajah setengah ketakutan.
"Hahaha! Ada-ada saja kau, Carmen! Kalau jantungmu lompat, lalu, bagaimana dengan jantungku? Meledak? Hahaha! Kita harus tenang," balas Madam Sienna sambil merangkul pundak Angel.
Suara Neil serta Nyonya West membuat jantung Angel benar-benar melompat keluar dari penampangnya. "Carmen! Ya, itu Carmen! Katakan pada Sid kalau Carmen sudah kembali!"
Neil melambaikan tangan pada gadis itu sambil berlari menuju rumah Sid. "Sid! Sid! Adikmu datang!"
Mau tidak mau, Angel tersenyum dan menikmati sambutan hangat dari keluarga barunya itu. Dia melihat ke arah Madam Sienna yang dari raut wajahnya terlihat tampak ikut senang.
"Aku terharu, Carmen," bisik Madam Sienna.
Tak lama, Sid dan Sarah benar-benar muncul dan Sarah berlari ke arah Angel dan memeluk gadis itu dengan hangat. "Kau kembali, Nak! Kau kembali! Aku takut kau tidak akan kembali! Pikiranku sudah ke mana-mana dan kacau! Aku khawatir sekali padamu, Nak,"
Angel membalas pelukan dari wanita yang baik hati dan dermawan itu. "Aku pasti kembali, Bu. Aku rindu sekali padamu,"
"Ayo, kita pulang, Nak!" kata Sarah yang segera mengambil alih tangan putrinya tersebut.
Sid menunggu di depan pintu dan tampak seperti menghela napas lega saat melihat kedatangan Angel. Gadis itu tampak pucat, sedih, dan menderita. Padahal baru pergi beberapa hari.
Makan malam pun tiba, mereka menyantap masakan buatan Sarah dan Madam Sienna. Sid tampak menikmati makanan buatan Madam Sienna, begitu pula dengan Angel.
"Madam, lumayan juga masakanmu," bisik Angel memuji.
Madam Sienna tersipu malu. "Siapa tau aku bisa membantu ibumu memasak, hehehe,"
Setelah makan malam, Angel menyodok pinggir perut Madam Sienna untuk membuka percakapan dan memberitahukan pada Sarah serta Sid tentang kedatangan mereka.
"Ehem, Nyonya Jones dan Tuan Jones,"
"Sid saja," kata Sid memotong.
Madam Sienna tersenyum. "Baiklah, Sid. Begini, Ang-, ah, maksudku, Carmen. Carmen mengajakku ke sini dengan tujuan dan maksud. Aku sudah menganggap Carmen sebagai putriku sendiri dan hari ini, aku datang sebagai ibu dari Carmen yang ingin melamar Sid Jones untuk menikah dengan putriku,"
Walaupun sedikit gugup dan terbata-bata, Angel sangat menghargai usaha dari wanita yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri itu.
Sid dan Sarah saling melempar pandang.
"Melamar?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Ya, Bu. Sebenarnya sudah sejak dari beberapa bulan ini, aku dan Sid adalah sepasang kekasih," kata Angel takut-takut. "Tapi, karena aku sangat bodoh, kemarin aku meninggalkan Sid hanya untuk mengetahui apa yang ingin aku ketahui terkait perasaanku,"
"Saat ini, aku sudah sadar kalau ternyata aku tidak bisa bersama dengan pria lain selain Sid. Selama aku di sana, selalu Sid yang terbayang di benakku," kata Angel lagi.
Wajah Sarah tampak gusar, sehingga Angel menundukkan kepalanya. "M-, maafkan aku, Bu,"
Gadis itu sudah terlihat seperti ingin menangis. Namun, saat dia mendengar apa yang dia bicarakan, air matanya menetes tanpa bisa dia hentikan.
"Kenapa baru sekarang? Aku sudah menunggumu sejak lama, Carmen! Aku mengangkatmu menjadi anakku hanya untuk memastikan kau selalu berada di dekat Sid, begitu pula dengan dia! Kita langsung saja, kapan kalian siap menikah?" tanya Sarah sambil menyeringai lebar.
Sid sebagai satu-satunya laki-laki di ruangan itu ditambah lagi, namanya yang malam ini dibicarakan berdeham keras. "Ehem! Apakah kalian tidak akan menanyakan pendapatku?"
"Sudah pasti kau setuju, Sid! Sejak Carmen pergi, kau selalu berniat untuk menyusulnya ke sana apalagi saat kau mendengar berita Morgan ditangkap! Jangan pura-pura jual mahal!" tukas Sarah lagi. "Besok kau akan menikah!"
Keputusan yang keluar dari mulut Sarah sudah tidak dapat diganggu gugat. Malam itu juga dia sudah sibuk dengan berbagai macam persiapan dibantu oleh Madam Sienna serta Nyonya West. Madam Sienna sudah seperti warga lokal di sana, dia cepat beradaptasi dengan tetangga Sarah.
Sementara itu, Sid dan Angel saling melihat dari ekor mata mereka.
"Ehem! Jadi, kau kembali padaku?" tanya Sid.
"Kau menahanku, Sid. Aku bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan diriku sendiri. Isi kepala dan isi hatiku hanya tentangmu! Kau sungguh-sungguh pria tak tau diri, Sid!" tukas Angel kesal.
"Tapi, kau suka padaku, 'kan? Malam ini, kutunggu kau di kamarku! Sampai jumpa nanti malam," kata Sid sambil lalu.
Keesokan harinya, suasana di depan rumah Sid, tepatnya di pinggir pantai sudah ramai. Sebuah gapura terpasang di sana dan dihiasi dengan daun rambat serta bunga berwarna putih.
Angel tampak cantik mengenakan gaun putih tanpa lengan sederhana serta tiara yang cantik milik Sarah. Madam Sienna pun tampak anggun dengan gaun putih yang dibelikan oleh Angel saat itu.
Di gapura tersebut, sudah menunggu Sid dengan senyumnya yang lebar menatap Angel yang berjalan menghampiri dia.
Pemberkatan dan pembacaan janji nikah pun dibacakan dengan khidmat. Setelah itu, mereka menikmati pesta yang berlangsung cukup meriah itu.
"Apa komentarmu tentang kita tadi malam?" tanya Sid. "Mengingat kita setelah ini akan berbulan madu, jadi aku butuh masukan darimu,"
Angel tersenyum dan mengalungkan kedua lengannya di pundak Sid. "Hmmm, kau mau aku menjawab jujur?"
"Tentu saja!" jawab Sid.
Angel menarik ceruk leher Sid dan mengambil alih bibir pria itu. Dia menggerakan perlahan dan membuatnya menjadi sebuah pagutan manis. "Kau sempurna,"
Sid tersenyum bangga. "Sudah kuduga,"
...----------------...
__ADS_1