Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Salam Kenal dan Selamat Datang


__ADS_3

Seakan bertanding secara sportif dan adil, Dante tak lantas mundur. Pria itu justru semakin memberikan serangan balik kepada Angel dan membuat kekasih Sid itu goyah.


Sementara Sid juga tidak diam saja, dia terus berada di samping Angel kapanpun gadis itu membutuhkannya. Satu poin keuntungan Sid adalah dia tinggal bersama Angel, sehingga dia dapat menguatkan hati kekasihnya tersebut.


Di lain sisi, Angel terus terombang-ambing di antara keduanya. Sid atau Dante? Di saat hatinya seolah tenggelam, Dante menjadi penentu keputusannya.


Suatu hari yang terik, Dante mendatangi gadis itu di restoran sederhana milik Sarah. Saat itu, Angel sedang menumis bumbu di sebuah wajan besar. Wajahnya tampak cantik walaupun dipenuhi dengan kepulan asap di sekelilingnya.


Dante tersenyum dan memandang penuh kekaguman pada gadis itu. Gadis yang dia pikir sudah mati dan membuat dunianya sempat berhenti berputar, ternyata masih hidup dan bahkan semakin cantik.


"Hei," sapa Dante.


Sontak saja, spatula yang dipegang Angel terjatuh dan bumbu makanan yang sedang ditumisnya, bertebaran ke mana-mana. "H-, hai!"


Sarah menghampiri mereka begitu mendengar Angel menjatuhkan spatula. "Carmen, apa itu? Kau baik-baik saja, Nak?"


Wanita itu mengambil kedua tangan Angel dan mengeceknya. Tak lupa dia mengusap-usap kedua tangan putri kesayangannya itu sambil meniupnya lembut.


Angel mengangguk dan memberikan senyumannya untuk Sarah. "Aku baik-baik saja, Bu. Tadi tanganku tergelincir,"


"Berhati-hatilah, Sayang. Aku tidak mau kau terluka," kata Sarah.


Angel mendengar ada nada penekanan di kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Sarah. Apakah ibu angkatnya itu tau apa yang sedang terjadi padanya? Ataukah dia sudah mengetahui hubungannya dengan Sid dan merestui hubungan mereka?


"Baik, Bu. Maafkan aku," jawab Angel pelan, lalu dia melanjutkan menumis.


Selepas Sarah pergi, Dante menyelinap ke dapur dan melingkarkan lengannya di pinggang gadis cantik itu. Dagu lelaki itu, dia sandarkan di pundak Angel. "Sekarang kau pintar masak, yah? Bagaimana ini, aku semakin ingin membawamu bersamaku?"


Angel melepaskan tangan Dante yang melingkar erat di pinggangnya. Namun hatinya berkata lain, ada rasa kecewa saat tangan pria itu terlepas.


"Kau tidak boleh seperti itu karena kau akan menggangguku! Pergilah! Sudah kukatakan kepadamu berkali-kali kalau aku tidak ingin bersamamu!" tukas Angel berusaha tegas.

__ADS_1


Setelah mengaduk beberapa kali, Angel mengecilkan kompor dan beralih ke tugas yang lainnya, yakni, mengecek ketersediaan piring, gelas, dan peralatan makan lainnya.


Setelah merasa semuanya sudah sesuai dengan perhitungannya, dia memanggil sang ibu untuk mendekat. "Ibu, sudah siap. Aku akan segera ke depan,"


"Terima kasih, Sayang. Di mana Sid? Kenapa dia menghilang? Aku akan mencari kakakmu, tolong lanjutkan pekerjaanku dan nanti kau akan kuberikan istirahat tambahan! Sid merepotkan sekali!" Sarah mengecup kening Angel sebagai ucapan terima kasih. Setelah itu, wanita itu menggerutu sambil terus memanggil nama Sid.


Tanpa memedulikan Dante, Angel membawa lap dan bergegas ke depan. Dia pun melanjutkan pekerjaan Sarah yang ditinggalkannya.


Lagi-lagi tangan Dante tak bisa diam. Dia menangkap pinggang Angel dan mendudukan gadis itu di pangkuannya. "Istirahat sebentar. Aku ingin bersandar di punggungmu sebentar. Sudah lama aku tidak mencium wangi aroma tubuhmu,"


Angel menelan salivanya. Dia gugup dan bahkan napasnya seakan berhenti. "T-, Tuan, aku harus bekerja,"


"Ssst! Kau boleh tetap memanggilku Daddy atau Dante saja," bisik Dante.


Lama mereka terdiam di dalam warung makan kecil itu. Tiba-tiba, Angel dapat merasakan napas memburu Dante mengecup ceruk lehernya.


Gadis itu terkesiap, dia menutup mulutnya. "Dantehhhh, hentikan,"


Angel sudah masuk ke dalam permainan panas Dante yang semakin menggerilya. Ciuman Dante sudah tidak dapat dikendalikan lagi dan tanpa sadar, kedua lengan Angel sudah bergelantung di leher Dante dan membuat pria itu lebih mudah memperdalam ciumannya.


Saat tangan Dante menyentuh bongkahan padat miliknya, Angel mendessah hebat. "Aah, Dante! Ja-, jangan berhe-, ...!"


Dante sontak saja tertawa tanpa melepaskan kedua tangannya yang sudah sibuk meremmas dan mencari pucuk bukit Angel yang sudah mulai mengeras. "Hahaha! Akui saja kau menginginkanku, Sayang,"


Ruang makan yang tadi sepi, kini dipenuhi suara dessahan tak henti dari bibir kemerahan Angel. Dante terus menyiksanya tanpa henti.


Kesibukan mereka terpaksa berhenti saat mereka mendengar suara Sarah yang sedang mengomel pada putra sulungnya.


"Sudah kukatakan, jangan pergi ke mana-mana saa rumah makan kita sudah buka! Kau malah menemui Neil, untuk apa? Kenapa tidak membantu adikmu? Dari tadi sudah ada tamu yang menunggu untuk dilayani!" cecar Sarah lagi.


"Ada yang harus kulakukan de-, ... Tuan Morgan? Carmen?" Sid terpana melihat Dante dan Angel berada di dalam satu ruangan.

__ADS_1


Cepat-cepat dia merebut kain lap dari tangan Angel dan menjauhkan gadis itu dari Dante. "Kau bantu ibu di belakang. Aku yang akan melanjutkan ini!"


Dengan patuh, Angel pun berlari kecil ke belakang sementara Sid mengambil alih tugasnya. Dia perlu menenangkan otak dan jantungnya untuk menghadapi Sarah dan Sid saat di rumah nanti.


Setelah selesai hari itu, jantung Angel terus berdetak cepat. Dia tidak dapat melupakan sentuhan Dante yang menyapa tubuhnya tadi.


Gadis itu memejamkan kedua matanya mengingat bagaimana jari-jari dan bibir pria itu berlarian di tubuhnya. Lamunannya pecah saat Sid masuk begitu saja ke dalam kamarnya sambil membawa es krim.


"Sid!" seru Angel kaget.


"Kenapa? Sedang apa kau sampai kaget seperti itu? Berpikiran jorok, yah? Wajahmu sampai merah seperti itu, hehehe! Nanti cepat keriput kalau kau hanya memikirkan yang jorok-jorok seperti itu," kata Sid sambil memberikan es krim strawberry untuk Angel. "Nih, ibu tadi membelikan es krim untuk kita,"


Angel mengambil es krim itu. "Ibu di mana?"


"Di rumah Nyonya West," jawab Sid.


Mendengar jawaban Sid, Angel segera mengunci pintu kamar dan melemparkan satu sendok es krim kepada Sid. "Hei, Carmen! Apa-apaan kau?"


"Buka pakaianmu!" kata Angel lagi. "Sid, maafkan aku. Saat ini, aku bukan Carmen yang baik dan lembut, aku Angel! Salam kenal,"


Sementara itu, Dante kembali tanpa dapat menghilangkan senyuman di wajahnya. Setibanya di rumah Frank, Dante bersiul senang dan bahkan dia bernyanyi kecil.


Frank menautkan kedua alisnya dan memandang temannya itu dengan heran. "Apa ada sesuatu yang membuatmu bahagia?"


"Yes! Angel sebentar lagi akan datang. Aku yakin itu," jawab Dante dengan senyum penuh kemenangan.


"Angel?" tanya Frank.


Lagi-lagi, Dante mengangguk dan menyeringai lebar. "Angel, bukan Carmen! Aku berhasil menemukan Angel dan bisa kupastikan, beberapa hari lagi, aku bisa membawanya pulang. Setelah dia kembali, aku akan segera mengumumkan pernikahanku,"


Frank yang selama ini gagal, menatap pria yang sedang bersiul sambil berdansa itu dengan kagum. "Apa yang kau lakukan kepadanya?"

__ADS_1


"Aku memberikan dia sentuhan, Frank. Sentuhan lembut yang tidak akan sanggup dia tolak," jawab Dante lagi. Senyumnya semakin terkembang saat mengenang sentuhan yang dia berikan pada Angel tadi siang. "Besok, aku yakin aku akan mengucapkan 'Selamat Datang, Angel' pada Carmen,"


...----------------...


__ADS_2