
Angel yang sudah selesai bekerja, berlari menghampiri Dante. "Dad, kau kenapa? Apa yang terjadi sampai kau berteriak seperti itu?"
Dante memegangi keningnya dan kedua matanya terpejam. "Kau sudah selesai? Aku akan meminta maaf kepada teman-temanmu karena telah mengganggu ketenangan mereka,"
Pria itu pun berjalan menuju kedai dan masuk ke dalam. Dari kejauhan, tampak Dante sedang membungkukkan tubuhnya untuk meminta maaf. Angel tak tau apa yang terjadi. Tadi dia sempat mendengar nama Ev saat Dante berteriak.
Apalagi yang terjadi di antara mereka? Bukankah mereka sudah bercerai? Jantung Angel pun turut berdegup kencang. Gadis itu merasakan takut, cemas, dan khawatir. Untuk kesekian kalinya, dia meninggikan dinding pembatas perasaannya. Dia tidak ingin terlalu mencintai Dante yang masih memikirkan istrinya itu.
Tak lama, Dante kembali dan tiba-tiba saja dia memeluk Angel. "Biarkan aku di sini tiga menit. Aku perlu menenangkan pikiranku,"
Angel menghela napas dan membalas pelukan Dante. Sepertinya apa yang dialami oleh Dante kali ini cukup berat, entah masalah apa itu. Sebisa mungkin, Angel tidak ikut campur apa pun urusan Dante kecuali kalau pria itu mengajaknya untuk masuk bersama.
"Angel, maafkan aku, maukah kau menemaniku seharian ini? Aku berjanji, akan menyelesaikan segalanya dalam satu hari ini," tanya Dante memegang kedua tangan Angel. Dia menatap manik Angel dengan harap. "Kau akan ada bersama Theo, asistenku. Aku tidak akan melibatkanmu dalam masalahku kali ini,"
Tanpa banyak tanya, Angel mengangguk patuh. Dante menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil. Di perjalanan, Dante terus menghubungi orang tanpa henti. Entah sudah berapa kali pula, dia memerintahkan Theo untuk melakukan ini dan itu.
"Theo, cek emailku!"
"Theo, hubungi Josh dan minta dia untuk menemuiku pukul 5 sore nanti!"
"Theo, bersiaplah, aku akan menjemputmu! Kau tidak harus melakukan apa pun nanti selain menjaga gadisku!"
"Theo, bawakan beberapa dokumen dan nanti akan ada panggilan dari seseorang yang bernama Nicholas Hoult, tolong interview sedikit karena dia akan menjadi pengacara baruku! Ah, perlakukan dia dengan baik karena dia teman Frank!"
Begitulah, entah bagaimana cara Theo bersiap-siap jika Dante terus memintanya melakukan ini dan itu dalam waktu yang sama. Mungkin jika Angel bekerja bersama Dante, dia akan gila. Mengerikan!
Namun saat bersama Angel, Dante cukup manis dan tenang. Pria yang memiliki wibawa serta kharisma itu sanggup membuat Angel jatuh cinta berkali-kali kepadanya. Tanpa sadar, Angel pun tersenyum.
Saat itu pula, Dante baru menyadari ada Angel di sampingnya. "Astaga, Sayang. Maafkan aku, terlalu banyak yang harus aku lakukan sampai aku lupa kau ada di sini,"
"Tidak apa-apa. Selesaikan saja urusanmu, setelah itu kita akan ada waktu untuk berdua dengan tenang," jawab Angel.
__ADS_1
"Andai saja aku tidak menyetir, aku sudah akan menciummu dan tak akan kulepaskan sampai aku puas. Hahaha!" tukas Dante sambil tertawa. Satu tangannya yang bebas, menarik Angel ke dalam dekapannya. "Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Angel,"
Angel berdiri sedikit dan mengecup pipi Dante dengan sayang. "Aku pun mencintaimu, Dad,"
Kehangatan mereka berdua terpaksa terganggu karena Theo memberikan kabar kalau dia sudah siap dijemput. Angel terpana dibuatnya. "Wah, dia hebat sekali. Dia sanggup menyelesaikan segalanya dan siap tepat waktu,"
Hidung Dante kembang kempis saat Angel memuji asisten pribadinya itu. "Orang pilihanku tak pernah gagal, Sayang. Mereka harus bekerja dengan cepat, tepat, dan hebat!"
"Apakah mereka juga harus mempunyai kemampuan telekinesis, memanggil hujan, mengendalikan air, hahahaha! Hentikan, Dad! Aku hanya bercanda! Hahahaa!" Angel tertawa geli saat tangan Dante menggelitiknya sambil sesekali meremmas bukit indahnya.
Setelah puas dengan apa yang sudah diperbuat, Dante kembali tenang dan tersenyum. "Terima kasih kau sudah membuatku tertawa hari ini,"
Lagi-lagi, Angel membalas ucapan terima kasih Dante dengan kecupan di bibir pria itu. Tak lama, Theo sudah menunggu di depan apartemennya.
Pria itu menganggukan kepalanya, memberi salam kepada Dante dan Angel. "Halo, Tuan Morgan dan Nyonya, oh, maksu-, ...."
"Angel saja," sahut Angel.
Theo kembali mengangguk. "Nona Morgan,"
Setelah basa-basi yang cukup menggemparkan, Dante memberitahukan kepada Theo seluruh rencananya hari itu. "Setelah ini, aku akan menemui Josh di tempat yang tadi kau sebutkan. Aku ingin lihat bagaimana wajahnya saat aku menemukannya,"
Theo pun bertanya, apakah Josh sudah diberitahu tentang kedatangan mereka? Dante mengangguk dan mengatakan kalau dia meminta Josh menunggu di tempatnya saat ini.
"Lalu, apa tugasku?" tanya Theo.
"Temani saja kekasihku. Aku akan berlibur setelah ini. Tolong booking penginapan, kendaraan, pesawat, jika harus menggunakan pesawat. Terserah kekasihku ingin pergi ke mana," jawab Dante lagi, dia mengerlingkan sebelah matanya pada Angel yang sedang melihatnya dengan tatapan terkejut.
Setelah kira-kira setengah jam lebih, akhirnya mereka sampai di Love Apartemen, tempat Josh menginap. Karena Dante juga sudah mengancamnya, jadi dia berpikir Josh tidak akan melarikan diri ke manapun.
Benar saja, dengan mudah dia menemukan Josh di kamar nomor 136. "Josh, ini aku!"
__ADS_1
Seorang pria pucat pasi membukakan pintu untuk Dante. "T-, Tuan Morgan. Ampuni saya,"
"Aku sudah tau tentang segalanya, Josh, dan kau memang sudah sepantasnya berlutut meminta maaf kepadaku! Kenapa gugatanku tidak kau teruskan ke pengadilan? Karena Evelyn?" desak Dante. Dia menahan tangannya untuk tidak meninju wajah pengacara yang biasa membelanya itu.
Josh benar-benar berlutut di hadapan Dante, meminta pengampunan. "Nyonya Morgan mengatakan tidak ingin bercerai dari Anda, Tuan, dan saya salah karena-, karena-, ...."
"Pertama, jangan panggil dia dengan namaku! Sebut saja Evelyn Smith! Kedua, kau bersalah karena kau sudah tidur dengan Evelyn dan membohongiku! Harusnya kau malu, Josh! Andaikan aku jadi kau, aku akan bunuh diri! Tidak, aku tidak akan menghukummu!" ucap Dante pedas.
"Tuan, berikan saya kesempatan dan saya akan memperbaiki kesalahan saya," pinta Josh memohon. Josh yang malang, saat ini dia sedang benar-benar ketakutan. Dante memang bukan tipe klien yang sabar, tetapi dia selalu memberikan bonus lebih kepada siapa pun yang sudah dipercayainya.
Hanya karena nafsu semata, kepercayaan yang telah dibangun selama belasan tahun kini hilang tanpa bekas. Josh merasa bodoh dan buruk. Bisa-bisanya dia jatuh dalam hawa nafsu seorang wanita.
"Maafkan saya, Tuan. Izinkan aku untuk tetap bekerja kepada Anda," pinta Josh lagi sambil menangis.
Dante terdiam dan berkacak pinggang. Tak pernah dia bayangkan sebelumnya kalau dia akan dikhianati oleh orang yang dia percaya dua kali sepanjang hidupnya. "Aku tidak bisa memperkerjakan kau lagi, Josh! Tapi, kau boleh memohon kepada Evelyn, mungkin saja dia akan memberikanmu pekerjaan disertai dengan pelayanan plus plus darinya. Hahaha!"
Tanpa memperdulikan Josh yang merangkak-rangkak untuk mengejar dan meminta belas kasih darinya, Dante pergi begitu saja dari ruangan apartemen tersebut. Menurut pria itu, Josh sudah melakukan kesalahan fatal sekali sehingga dia tidak pantas dimaafkan.
Setelah berada di dalam mobil, Dante menghela napasnya. "Theo, berat sekali,"
Dengan sigap, Theo meletakkan tabletnya dan meminta Dante untuk turun dari kursi supir. "Saya yang akan menyetir dari sini, Tuan,"
Dante mengangguk. "Ya, kita akan menemui Evelyn di rumahku,"
"Baik, Tuan Morgan," jawab Theo.
Mobil pun kembali melaju. Satu jam kemudian, ponsel Theo berdering dan Theo hanya mengatakan satu kata, yakni, ya. Setelah itu, dia menutup ponselnya.
"Tuan Morgan, Joshuan Floyd ditemukan gantung diri di kamar apartemennya," ucap Theo.
Dante mendengus. "Huh, sudah sepantasnya, 'kan seorang penghianat itu mati?"
__ADS_1
...----------------...