
Di sebuah kamar resort yang cukup mewah dengan pemandangan pegunungan di halaman resort tersebut, terdengar suara cecapan dan dessahan yang tak henti sedari pagi.
"Aaah, Dad! Aku lelah tapi entah kenapa, ini menyenangkan," ucap Angel sesaat setelah dia melakukan pelepasan dahsyat.
Dante memeluk tubuh kekasihnya dan menjadikannya sebagai guling, lalu mengecup kening Angel dengan mesra. "Mau lagi?"
"Mau, tapi aku lapar. Aku rasa sudah lewat waktu makan pagi sekarang," jawab Angel. Tangannya meraih ponsel yang ada di nakas di samping ranjang. "Pantas saja aku lapar, ini sudah hampir pukul 10, Dad, jam sarapan sudah hampir selesai,"
Bibir Dante kembali memagut Angel dan menyesapnya. "Aku tak akan pernah bisa puas jika bersamamu, Sayang. Bagaimana ini? Aku tidak bisa berhenti,"
Dengan cepat, Angel sudah menggulingkan tubuh Dante dan menindihnya. Setelah berada di atas, dia membungkuk dan mengecup bibir kekasihnya kembali. "Aku juga tidak bisa berhenti,"
Aksi saling memagut pun kembali terjadi. Kali ini, Angel sudah bergerak di atas tubuh Dante tanpa melepaskan pagutannya satu detik pun.
Tak ingin sang gadis lebih dominan, Dante beranjak dari posisi berbaringnya dan membali posisi mereka. Tanpa ragu, Dante kembali menghujamkan senjatanya ke dalam Angel dan bergerak maju mundur dengan teratur.
Lagi-lagi pelepasan terjadi dan mereka saling berpelukan sambil tertawa. "Hahaha, benar-benar kita ini. Kali ini, kita harus makan! Aku sudah tidak kuat bergerak lagi,"
"Oke, Sayang," sahut Dante sambil mengecup lembut bibir kekasihnya.
Sejak Dante memutuskan untuk mengajak Angel berlibur kemarin, dia mengabulkan semua yang ditunjuk atau baru sekedar ditanyakan oleh Angel.
Ya, Theo memberitahukan kepada Dante tentang keinginan Angel untuk melihat pegunungan dan pantai. Jadi, Dante memutuskan untuk mengajak kekasihnya itu berlibur ke dua tempat. Dante pun mengatakan kepada pemilik kedai, kalau Angel sedang berbulan madu.
Sontak saja, ucapan selamat membanjiri ponsel Angel sejak semalam. Angel marah luar biasa kepada pria tampan yang bertubuh atletis itu.
"Kapan aku menikah denganmu? Ada-ada saja!" tukasnya saat itu.
Namun Dante berhasil melunakannya dengan melakukan penyatuan yang romantis dan tidak pernah Angel rasakan sebelumnya.
"Angel, bagaimana kalau kita menikah sekarang? Hari ini maksudku," tanya Dante saat mereka sedang menikmati sarapan yang terlambat.
Angel tersedak, dia terbatuk-batuk sambil memukul dadanya pelan. "Uhuk! Uhuk! Kau gila!"
"Hahaha! Kenapa? Kenapa menikah harus gila?" tanya Dante lagi tak bisa menahan tawanya saat dia melihat ekspresi Angel yang mengacungkan pisau roti ke arahnya dengan wajah menggemaskan.
Angel menggelengkan kepalanya. "Kita baru saling mengengal dan kau sudah mengajakku untuk menikah. Apa yang kau pikirkan, Dad? Maksudku, kita memang saling mencintai, tapi aku ingin, jika aku menikah nanti, itu akan menjadi yang pertama dan terakhir,"
__ADS_1
Itulah alasan, mengapa Angel menolak beberapa ajakan menikah dari tamu prianya saat dia masih bekerja bersama Madam Sienna. Lagi pula, tujuan dia lepas dari Madam Sienna adalah untuk lebih mengenal hidup.
Selama ini, Angel hanya berada di kota kecil tempat dia ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya. Dantelah orang pertama yang mengajaknya keluar dari sarang yang telah membesarkan dirinya. Jadi untuk saat ini, menikah tidak ada di dalam kamus hidupnya.
Sejak dia bekerja di kedai, Angel mulai berani merajut cita-cita. Dia ingin memiliki rumah, ingin bersenang-senang, menghabiskan waktu dengan teman atau kekasih, ingin mengelilingi dunia, dan satu lagi, dia ingin belajar supaya terlihat pintar seperti Evelyn.
"Mantan istrimu telah membukakan mataku, Dad. Saat pertama aku bertemu dengannya, dia anggun, cantik, dan cerdas. Aku suka padanya tapi aku tidak suka tatapan matanya yang suka meremehkanku. Berkat Nyonya Smith, aku jadi banyak belajar dan membaca buku," sahut Angel lagi.
Dante mendengus. Pria itu mengingat kenangannya bersama Evelyn, yang saat ini tinggal menunggu hasil sidang untuk merubah status wanita itu menjadi mantan. Saat mengenal Evelyn, alasan yang sama seperti yang dikemukakan oleh Angel-lah yang membuat Dante jatuh cinta pada cinta pertamanya itu.
Namun seiring waktu berganti, Evelyn terus berubah. Tetapi rasa cinta Dante kepadanya tak pernah berubah, sampai wanita itu berselingkuh di depan mata kepalanya sendiri.
"Aku menyukai keinginanmu untuk berubah menjadi lebih baik," ujar Dante menanggapi kekasihnya.
Angel memberikan senyuman cantiknya sebagai hadiah karena Dante telah memujinya. "Aku tau. Hari ini, apa rencanamu?"
"Menghabiskan waktu bersamamu. Berenang, menonton film, jalan-jalan, apa pun yang kau inginkan, Sayang," jawab Dante menggenggam tangan kekasihnya itu.
Mendengar kata berjalan-jalan, wajah Angel berubah jadi sumringah. "Ini perjalanan terjauhku. Bolehkah kita berjalan-jalan mengelilingi daerah ini?"
"Kau tidak ada lelahnya, Dad," ucap Angel tersenyum.
Di tempat yang sama hanya berbeda resort, sepasang pria dan wanita sedang bertempur dengan panas. Ruangan ber-AC itu tidak sanggup mendinginkan panas yang menguap dari tubuh keduanya.
"Oouuwwhh, Jarrel! Lebih cepat, Darling, aku sudah mau sampai! Ooouuwhh!" dessah si wanita yang berada di kungkungan pria bernama Jarrel tersebut.
Namun pria itu malah mencabut miliknya dari liang si wanita dan membuat wanita itu menatapnya heran. "Jarrel, kenapa kau lepas? Ayolah, sedikit lagi,"
Jarrel tersenyum dan melihat si wanita memohon kepadanya. "Aku ingin menikmati wajah seksimu sebentar, Eve. Kau cantik sekali,"
"Aahhh, sudahlah! Cepat, masukan lagi!" titah Evelyn.
Alih-alih memasukkan kembali, Jarrel memainkan pucuk batangnya di permukaan liang wanita yang sudah merintih sedari tadi. "Aahhh, Jarrel, kau membuatku gila! Jangan siksa aku seperti ini!"
Seperti tuli, Jarrel sama sekali tidak menggubris ucapan Evelyn. Dia menikmati permainannya sendiri dan ketika dia sudah puas bermain, dia kembali fokus pada permainan inti mereka dan menghujam senjatanya lebih dalam dan membuat Evelyn menjerit. "Aarrghhh, Jarrel!"
Jarrel semakin mempercepat gerakannya sampai dia merasakan sesuatu yang menghimpitnya itu berkedut dan mengeluarkan lahar yang mengaliri senjata miliknya.
__ADS_1
"Oke, jadi kau sudah tau di mana mantan suamimu itu menginap?" tanya Jarrel pada Evelyn setelah mereka membersihkan diri.
Evelyn mengangguk. "Ya, dan berdasarkan informasi dari orang suruhanku, mereka akan keluar di siang hari. Saat itulah kita mengikuti mereka,"
Jarrel menenggak whisky-nya sambil mengacungkan ibu jari ke arah Evelyn.
"Jangan sampai gagal!" tukas Evelyn memperingatkan.
Dengan ganas, Jarrel memagut bibir Evelyn dan menyesapnya dengan cukup kencang sehingga bibir wanita itu menjadi sedikit bengkak dan kemerahan.
"Tidak akan!" balas Jarrel.
Menjelang siang, Jarrel dan Evelyn menunggu di parkiran resort tempat Dante menginap. Mereka mengawasi setiap mobil yang keluar dan masuk ke resort itu.
Sampai akhirnya mereka melihat mobil berwarna putih dengan atap terbuka keluar dari resort tersebut. Evelyn yang sudah sangat mengenali mantan suaminya, memberikan tanda kepada Jarrel untuk mengikuti mereka.
Mereka terus mengikuti entah ke mana Dante pergi. Jarrel pun mulai bosan. "Sampai kapan kita mengikuti mereka?"
"Sampai mereka berhenti dan terpisah satu sama lain. Kuharap sebentar lagi," jawab Evelyn singkat.
Tak beberapa lama kemudian, harapan Evelyn pun dikabulkan. Mobil Dante berhenti dan Dante terlihat menghilang untuk mengisi bahan bakar mobilnya. Sedangkan Angel menunggu di dalam mobil seorang diri.
"Cepat keluar!" titah Evelyn pada Jarrel.
Jarrel pun menuruti keinginan kekasihnya tersebut dan dia segera keluar untuk menghampiri Angel yang sedang menunggu.
"Hei, keluar!" tukas Jarrel pada Angel.
Angel menoleh ke arah Angel dan dia sedikit menjauh. "Siapa kau? Kenapa menyuruhku keluar?"
Tak mau menunggu lama, Jarrel membuka pintu mobil Dante dan membopong Angel dengan mudah. Angel terus memberontak dan memukul-mukul punggung Jarrel. "Turunkan aku! Turunkan aku! Daddy! Daddy! Tolong aku!"
Namun, Dante tak kunjung keluar sampai Jarrel memasukan Angel ke dalam mobil miliknya. "Diam sebentar dan maafkan aku, Cantik,"
Jarrel membekap mulut Angel dan tak lama, gadis itu tertidur dan tak sadarkan diri. Evelyn tersenyum puas. "Urus gadis itu dan lakukan semaumu,"
...----------------...
__ADS_1