Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Carmen Dan Ciumannya


__ADS_3

Angel tak bergerak, langkahnya membeku seketika. Gadis itu kembali duduk di kursinya dan menghadap pria yang masih memegangi tangannya. "Istrimu datang dan dia memintaku untuk tidak menemuimu lagi,"


"Sejak kapan kau menurut pada perkataan orang lain? Menurutku, kau bukan tipe gadis seperti itu. Apakah kau yang tidak ingin bertemu denganku?" tanya pria itu tanpa mengendurkan sedikit pun cengkeraman tangannya seolah-olah takut kehilangan.


Angel menghela napasnya panjang. "Aku hanya ingin bekerja, kau tau. Aku tidak ingin ada drama dalam pekerjaanku, Tuan Morgan,"


"Maka dari itu, Angel, ikutlah bersamaku. Aku akan memberikan berapa pun yang Madam Sienna inginkan," kata pria yang bernama Dante Morgan itu.


"Apakah kau selalu seenaknya sendiri seperti ini? Tidak bisakah kau tinggalkan aku hidup tenang?" tanya Angel, suaranya terdengar lelah. "Apa yang kau inginkan?"


"Kau!" jawab Dante singkat dan tegas.


Kedua manik biru Angel menatap lurus pada Dante, pria tampan yang telah mencuri ciuman pertamanya dan membuat hidupnya menjadi tidak tenang sejak saat itu. Ciuman yang dia agung-agungkan, ciuman yang sudah dia bayangkan akan berlangsung dengan indah, bukan sekedar ciuman penuh nafsu dan dipaksakan seperti kemarin. Tanpa terasa, bulir-bulir bening terjatuh dari mata Angel. Gadis itu cepat-cepat menghapusnya.


"Kenapa kau menangis?" tanya Dante, suaranya yang sedari tadi dingin kini menjadi sedikit hangat.


"Kau membuatku sakit, Tuan Morgan!" jawab Angel dengan suara tercekat.


Dante segera menjauhkan tangannya dari tangan gadis cantik itu. "Maaf, aku tidak tau. Aku hanya tidak ingin kau pergi dariku,"


"B-, bukan soal itu! Lupakanlah! Aku harus kembali dan bekerja!" tukas Angel, lalu dia merapikan buku-bukunya dan mendekap buku-buku tersebut di dadanya.


Dante membaca sekilas salah satu buku itu dan itu adalah buku pelajaran. Dante pun tersenyum. "Berapa umurmu? Kenapa kau membaca buku pelajaran seperti itu? Kau suka membaca? Kau bisa membaca buku sesuai umurmu, Angel,"


Pria itu menarik salah satu buku dari dekapan Angel dan masih sambil tetap tersenyum serta menggelengkan kepalanya. "Duduklah dulu. Ini jelas-jelas bukan buku untuk gadis seusiamu. Kenapa kau membaca ini?"


Lagi-lagi, butiran air mata jatuh dari sudut mata Angel. "Ini semua karena ciumanmu, Tuan Morgan!"


"Ciumanku? Apa hubungannya dengan buku bacaanmu?" tanya Dante, kali ini dia bertanya dengan sedikit geli. Apalagi melihat ekspresi wajah Angel yang lucu.

__ADS_1


"Itu ciuman pertamaku! Kau merampasnya dariku! Ditambah lagi, istrimu yang sangat cantik itu tampak pintar dan-, dan-, ... Sudahlah aku harus bekerja!" kata Angel kemudian dia berlari meninggalkan Dante yang tertawa seorang diri di kedai.


Tampaknya memang Dante sedang dimabuk cinta. Angel telah berhasil menghancurkan gunung es di hatinya dan bayangan gadis itu kini terus berada di dalam benak dan hatinya. Pria itu kemudian beranjak dari kursinya setelah dia menyelipkan beberapa lembar uang kertas di bawah botol dan menyusul Angel.


Tak perlu lagi dia bertanya di mana Angel berada, karena hanya satu tempat yang menjadi tempat tujuan gadis itu. Madam Sienna House.


"Mana Angel?" tanya Dante saat melihat Madam Sienna menjadi penerima tamu di depan pintu rumahnya sendiri.


"Ini sudah waktunya dia bekerja, Tuan," jawab Madam Sienna. Rupanya kali ini dia memutuskan untuk bersikap tegas pada Dante, terlihat dari wajah dan cara bicara wanita bernama Sienna Miller itu.


Tanpa basa-basi, Dante mengeluarkan kartu sakti berwarna hitamnya dan mengambil mesin EDC yang ada di sebelah Madam Sienna dan mengoperasikan mesin itu sendiri. Dia yakin, belum pernah ada satu orang pun yang memakai mesin itu. "Sebutkan angkamu! Aku akan membawa Angel selama satu bulan!"


"Sa-, satu bulan? Wah! Wah! Wah, itu akan mahal sekali, Tuan! Wah!" tukas Madam Sienna tak berhenti terpesona pada kartu hitam yang ada di tangan Dante. "Katakan padaku, apa yang membuat Anda tertarik pada gadis itu?"


"Perlukah alasan? Aku hanya butuh kau sebutkan angkamu untuk Angel!" jawab Dante tegas.


Madam Sienna bertahan pada prinsipnya. Dia tidak menyebutkan angka yang diinginkan oleh Dante. "Ya, aku perlu alasan. Bagaimana pun juga, Angel adalah anak yang kubesarkan dengan keringat dan jerih payahku, jadi sebelum aku melepasnya, aku berhak tau, apa alasanmu tertarik kepada putriku!"


"Kau sudah memiliki istri, Tuan! Mau kau apakah istrimu itu jika kau membawa anakku bersamamu selama satu bulan?" tanya Madam Sienna lagi. Masih teringat dengan jelas wajah meremehkan Evelyn Morgan, saat wanita itu memberikan sejumlah uang kepadanya.


"Itu urusanku dan aku mohon, jangan memperlambat," kata Dante.


Madam Sienna pun masuk ke dalam dan menghampiri Angel di kamarnya. Gadis cantik itu sedang bersiap-siap untuk menyambut tamu yang sudah dijadwalkan oleh Madam Sienna untuknya.


"Carmen," kata Madam Sienna.


Angel segera menoleh. Carmen adalah nama asli Angel. Dia mendapatkan julukan Angel karena kecantikannya yang luar biasa dan tidak ada yang dapat menandingi kecantikannya di kota kecil itu. "Kenapa kau memanggilku seperti itu? Carmen sudah lama mati dan dia sudah kukubur!"


"Kau tetap Carmen Kecil di mataku. Kau tau pria itu? Dia menunggumu dan bersikeras akan membawamu. Kau mau ikut dengannya?" tanya Madam Sienna lagi dengan lembut sambil membantu Angel untuk menyisir rambut panjang cokelatnya.

__ADS_1


Angel menghentikan ulasan make up di wajahnya dan memandang Madam Sienna. "Dia menungguku?"


Madam Sienna pun mengangguk. "Ya, aku hanya mengkhawatirkanmu, Carmen. Kau akan sendiri di tempat asing bersama dengan orang asing lainnya. Kau dan teman-temanmu sudah kuanggap sebagai putriku sendiri, terutama kai, Carmen,"


"Kau mau ikut dengannya?" tanya Madam Sienna lagi kepada Angel.


Angel mengerenyitkan keningnya, dia berpikir apakah dia ingin ikut dengan Tuan Morgan dan bertemu dengan istrinya atau dia akan tetap tinggal bersama Madam Sienna?


"Dia menciumku, Madam. Tuan Morgan menciumku. Itu ciuman pertamaku dan perasaanku saat itu langsung bergejolak. Seperti ada kembang api yang meledak di hatiku saat dia menciumku," kata Angel. "Sejak saat itu, aku seperti mati rasa, tidak dapat merasakan apa pun, tapi kemudian, aku merindukannya,"


Madam Sienna memeluknya. Dia paham sekali kalau putri asuhnya itu tidak pernah mau dicium oleh pria manapun dan dia memegang teguh prinsip itu. Kalau pria kaya itu berhasil menciumnya, berarti, .... Apakah mungkin, pada akhirnya Angel jatuh cinta pada pria itu?


"Sayangku, berusahalah untuk melupakan pria itu. Kau tidak sebanding dengannya. Maksudku kau lebih cantik dari istrinya, tapi tempat mereka? Itu bukan untuk kita, Sayang," ujar Madam Sienna lagi. "Kalau kau ingin mencoba hidup di sana dan memastikan perasaanmu, aku akan mengizinkanmu ikut dengannya selama satu bulan,"


Angel kembali terdiam, lalu dia bertanya pada Madam Sienna, satu-satunya orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga. "Kau mengizinkanku untuk ikut bersamanya?"


"Ya, silahkan. Kembalilah kapan saja jika kau merasa tidak nyaman di sana, Carmen Sayang," kata Madam Sienna. Dia sungguh-sungguh khawatir dengan anak asuh kesayangannya itu.


Setelah Angel mengangguk, Madam Sienna memasukan sejumlah uang ke dalam tangan Angel. "Pakailah. Belilah ponsel dan hubungi aku jika kau butuh teman bicara. Ini nomorku,"


Madam Sienna menuliskan nomor ponselnya di secarik kertas dan dia berikan kertas itu pada Angel. "Hubungi aku kapan saja,"


Tak lama, Madam Sienna keluar dan menemui Dante. Dengan berat hati dia mengatakan kalau Angel akan ikut bersamanya selama satu bulan dan dia juga mengatakan kalau Angel berhak pulang kapan pun dia mau.


"Kau tidak usah bayar! Berikan saja uangmu pada Angel!" tukas Madam Sienna. Tak bisa dipungkiri, dia sedih dan masih belum ikhlas melepas kepergian putri kesayangannya.


Kira-kira seperempat jam kemudian, Angel keluar dengan membawa koper dan tas kecil. Dante pun segera menyambutnya. "Kau sudah siap berangkat sekarang?"


Angel memandang teman-teman seperjuangannya yang mengantar kepergiannya dan untuk terakhir kalinya, dia memeluk Madam Sienna. "Aku akan menghubungimu, Madam. Terima kasih atas segalanya,"

__ADS_1


"Berbahagialah selalu, Carmen," bisik Madam Sienna dan dia segera masuk ke dalam begitu Dante membawa Angel pergi semakin menjauh.


...----------------...


__ADS_2