Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Kebohongan


__ADS_3

Angel terpaku, tetapi dia segera membuang jauh-jauh keterkejutannya dan dengan cepat, dia menguasai dirinya sendiri. Berbekal senyum manis yang dia miliki, Angel bertanya pada tamunya dengan ramah. "D-, Dad-, ... Ehm! Selamat datang, Tuan. Mau duduk di mana?"


Dante berjalan mendahului Angel dan dia nemilih kursi yang biasa dia tempati bersama dengan Frank. Masih tetap tersenyum, Angel memberikan buku menu pada pria yang terus memandanginya itu. "Silahkan, Tuan. Apa yang ingin Anda pesan untuk sore ini? Kami merekome-, ...."


"Aku mau kau. Berapa aku harus membayarmu?" tanya Dante, melemparkan buku menunya ke atas meja.


Angel tersenyum. "Saya akan berikan kepada Anda menu terbaik yang ada di sini. Silahkan menunggu,"


Saat Angel berpamitan, Dante menarik pergelangan tangan gadis itu, sehingga langkah Angel terhenti. "Temani aku,"


Kini, kita semua bisa tau mengapa ada dua kepribadian yang berbeda dalam diri Angel. Sama seperti saat ini, tanpa mengubah ekspresi dan nada suaranya, Angel berbalik menghadap Dante. "Maaf, Tuan, saya harus kembali bekerja. Permisi,"


Setelah mengucapkan itu, Angel berjalan dengan cepat. Jantungnya berdetak dan berdegup kencang. Dia memberikan pesanan Dante kepada temannya. Angel sudah hapal sekali makanan dan minuman favorit Dante, jadi dia yang memesankannya untuk Dante. "Aku ke toilet sebentar. Tamu itu ada di meja 42, dia pesan kopi hitam tanpa gula. Oh, dia juga alergi tepung terigu, jadi berikan saja roti gandum,"


"Siap!" ujar temannya.


Di dalam toilet, Angel berusaha menenangkan dirinya. Dia mengambil napas dan menghembuskannya kembali selama beberapa kali. Dia tidak menyangka akan bertemu di kedai kopi tempatnya bekerja.


Setelah keluar dari tempat Madam Sienna, gadis itu memutuskan untuk bekerja di tempat yang cukup jauh dnegan harapan, dia tidak akan pernah ditemukan oleh orang-orang yang mengenalnya. Namun siapa sangka, ternyata dia justru bertemu dengan Frank dan Dante di sini.


"Aarrgghh! Ayo Angel, kuasai dirimu! Jangan lengah, jangan lemah! Kau ke sini untuk bekerja dan melupakan Pria Plin-plan itu! Bertahanlah, Angel!" kata gadis itu kepada dirinya sendiri.


Karena begitu melihat tatapan Dante, keyakinannya goyah. Apalagi saat Dante meminta untuk menemani dirinya. Angel terus mengingatkan kepada dirinya sendiri, kalau Dante sudah memiliki istri dan seperti kata Madam Sienna, dia, Angel, tidak pantas bersanding dengan seorang Dante Morgan.


Setelah tenang, Angel pun keluar dari toilet. Namun, Dante masuk ke dalam toilet yang sama dan mengunci pintu kamar kecil itu. Angel menelan salivanya dan berusaha bersikap biasa saja. Dia tersenyum sambil berjalan pergi. "Permisi, Tuan. Saya sudah ditunggu tim saya,"


Dengan kasar, Dante menarik kembali tangan Angel sehingga Angel berdiri di hadapannya. Kemudian, Dante memeluknya. "Berikan aku lima menit,"


Angel memejamkan kedua matanya dan menikmati dekapan sosok pria yang dia rindukan. Akan tetapi, kemudian dia tersadar dan berusaha mendorong tubuh Dante untuk melepaskan pelukannya.


Dante semakin mempererat pelukannya hingga beberapa waktu, dia melepaskan Angel. "Dengar, aku minta maaf!"


"Maaf, Tuan, sa-, ...."

__ADS_1


"Jangan seperti ini, Angel! Hentikan sikap pura-puramu! Aku tau kau marah kepadaku dan kau boleh melanjutkan marahmu setelah aku menjelaskan segalanya!" tukas Dante kesal.


Akhirnya, Angel menyerah pada pria egois yang telah mempermainkan hatinya itu. "Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi, Tuan Morgan! Aku tau, kau masih mencintai istrimu. Itu sudah jelas, maka dari itu aku pergi. Aku tidak akan mengganggu kehidupan rumah tanggamu lagi,"


"Aku sudah bercerai dari Evelyn!" sahut Dante berbohong. Suaranya ditinggikan untuk mengalahkan suara Angel.


Kedua alis gadis cantik itu saling bertautan mendengar pernyataan pria yang dicintainya. "Bercerai? Kau sudah menceraikannya?"


Dante mengangguk. "Ya, karena itu, Angel, kembalilah kepadaku,"


Angel menundukkan kepalanya dan memejamkan sesaat kedua matanya. Gadis itu merasakan Carmen akan mengambil alih dirinya. Tetapi, tidak! Kali ini, dia tidak ingin Carmen mengacaukan rencananya kembali.


"Aku tidak bisa, Tuan. Maafkan aku," ucap Angel.


Namun, Dante mengindahkan ucapan Angel tersebut dan alih-alih pergi, pria itu mengambil alih bibir Angel yang dipulas dengan liptint berwarna salem.


Kecupan itu berlanjut menjadi sebuah pagutan yang panas dan dalam. Dalam sepersekian menit, Dante melepaskan pagutan itu. "Kau mencintaiku, Angel. Aku bisa merasakannya,"


"Pelanggaran kedua dan ya, aku memang mencintaimu, Tuan Morgan. Tapi, aku selalu menahan diriku untuk tidak mengikuti kata hatiku. Selama ini aku juga berusaha untuk melenyapkan perasaan itu. Kau-, ...."


Dante kembali memeluk Angel dan mencoba untuk mengeluarkan emosi gadis itu. "Itu yang kutau tentang cara memperlakukan seorang wanita, Angel. Menangislah kalau kau ingin menangis. Kalau kau kesal kepadaku, silahkan kau marah kepadaku. Jangan kau bawa sendiri bebanmu itu dan lepaskanlah perasaanmu karena aku juga mencintaimu,"


Tangis Angel pun pecah. Ada kelegaan luar biasa yang keluar dari dalam hati gadis itu. Dia tidak perlu lagi menahan atau bersusah payah untuk melenyapkan rasa cintanya pada Dante.


"Oh, aku harus kembali bekerja. Mereka pasti menungguku!" ujar Angel sambil mengusap air matanya.


Ketika gadis itu hendak membuka kunci pintu toilet, Dante menahannya. "Lalu, bagaimana denganku? Bagaimana hubungan kita?"


"Menurutmu?" tanya Angel dengan senyum malu-malu yang menggoda.


Dante melingkarkan lengannya pada pinggang Angel dan menarik gadis itu semakin mendekat. "Hmmm, kau milikku sekarang dan selamanya,"


"Selamanya? Apa itu tidak terlalu cepat? Maksu-, ...."

__ADS_1


Angel tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Dante sudah menyumpal mulut gadis itu dengan bibirnya. Mereka berdua mulai tenggelam dalam gairah cinta masing-masing, hingga terdengar suara ketukan dari dalam pintu.


"Permisi! Kenapa ini di kunci?" tanya orang tersebut sambil terus mengetuk-ngetuk pintu toilet itu.


Angel dan Dante melepaskan pagutan mereka dan saling memandang dengan wajah panik. Karena tak dapat berpikir panjang, Angel mendorong Dante masuk ke dalam salah satu bilik toilet. "Aku keluar duluan!"


Lagi-lagi Dante menarik tangan Angel dan memagutnya singkat. "Aku akan menunggumu,"


Angel mengangguk dan segera pergi keluar. Tak lupa dia membuka kunci pintu toilet dan meminta maaf kepada orang yang sedari tadi mengetuk-ngetuk toilet tersebut. "Maaf, aku sedikit diare dan tak ingin mengganggu orang lain, jadi kukunci pintunya,"


Sementara itu, Evelyn sedang menikmati jamuan makan malam bersama kekasihnya yang bernama, Jarrel Rivers. Dialah sosok pria yang sangat dibenci oleh Dante, dia juga pria yang tidur bersama Evelyn selama dua tahun terakhir ini.


"Kapan suamimu akan menyuruhmu pulang, Eve?" tanya Jarrel malam itu.


"Tunggu saja, dia akan merindukanku. Lagi pula, gadis kampungan itu sudah tidak ada jadi, cepat atau lambat, dja akan mencariku dan mengajakku untuk kembali. Sama sepertimu, dia tidak akan melepaskanku," jawab Evelyn santai.


Jarrel hanya mengangguk-angguk bodoh mendengar jawaban kekasihnya. Jarrel seorang anak pengusaha yang manja. Dia tidak bekerja dan hanya mengandalkan uang dari ayahnya yang sudah cukup renta. Namun, karena Jarrel selalu ada untuk Evelyn di setiap saat Evelyn membutuhkan seseorang, maka wanita yang masih menyandang nama Morgan di belakangnya itu, tidak pernah melepaskan Jarrel.


"Buktinya, dia tak kunjung menceraikanku padahal dia tau, aku masih bersama denganmu," sambung Evelyn lagi dengan bangga.


"Tapi, Eve. Apa yang akan kau lakukan jika suatu hari nanti, suamiku akan menceraikanmu dan memilih gadis penjual diri itu?" tanya Jarrel.


Evelyn menghempaskan garpu serta pisaunya begitu saja sehingga menimbulkan suara berdenting yang cukup kencang. "Dia tidak akan menceraikanku! Dan terima kasih karena kau telah menyadarkanku kenapa aku tetap berada di sini! Aku akan kembali dan memastikan Dante tetap mencintaiku!"


Di tempat lain, Dante benar-benar menunggu Angel selesai kerja. Setelah jam kerja gadis itu selesai, Dante mengajaknya untuk pulang.


"Aku sudah memiliki tempat tinggal, walaupun kecil. Madam Sienna banyak membantuku, Tuan," ucap Angel menolak tawaran Dante.


"Malam ini saja, Sayang, dan jangan panggil aku dengan Tuan. Panggil aku dengan Daddy!" kata Dante sambil mengusap dagu Angel dengan mesra.


Angel berpikir-pikir kemudian dia mengangguk pelan. "Oke, Dad. Lagi pula, aku juga rindu padamu,"


Dante tersenyum dan dia segera melajukan kendaraannya ke Kota Besar untuk pulang ke rumah. Akan tetapi, setibanya di rumah, mereka berdua di sambut kleh kehadiran seseorang.

__ADS_1


"Daddy! Kau sudah kembali?" tanya orang tersebut dan dia segera melompat ke dalam pelukan Dante sambil menciumi wajahnya.


...----------------...


__ADS_2