Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Kalau kau ingin menemuiku, datanglah ke alamat ini! Datang saja sendiri, aku tidak mau bertemu dengan Evelyn atau siapapun! Ada kejutan menantimu!" tulis Frank dalam pesannya kepada seseorang.


Setelah pesan itu terkirim dan mendapatkan balasan, Frank tersenyum puas. Di dalam benanknya, masih teringat jelas bagaimana Sid memukulinya. Namun bagi Frank, pukulan itu tidak menyakitkan.


Yang membuat pria itu merasa sangat panas adalah saat Angel memagut bibir Sid di depan matanya. Tanpa sadar, dia mengepalkan kedua tangannya dan meninju meja kayu yang ada di hadapannya.


"Oouwh!" seru Frank sambil meniup-niup buku-buku jarinya.


Akan tetapi beberapa detik kemudian, dia tersenyum kembali. "Kau tidak akan bisa pergi ke manapun, Angel. Kau akan kembali kepada kami!"


Malam itu, Frank tertidur sambil membayangkan apa yang akan terjadi jika orang itu datang ke tempatnya dan bertemu dengan Angel. Akankah Angel goyah? Pasti dia akan goyah dan berbalik kepada mereka.


Sementara itu, setelah pagutan manis nan singkat yang diberikan kepada Angel kepada Sid, pemuda itu merasa jantungnya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dia terus memegangi dadanya, seakan semua organ di dalam tubuhnya melompat keluar.


"Sid, kau baik-baik saja?" tanya Angel.


Sid hanya mengangguk, tatapan matanya kosong, dan dia terus memegangi dadanya.


Angel menyentak tangan Sid dan menjauhkannya dari dada. "Maafkan aku, Sid. Itu tadi terjadi begitu saja. Maksudku, aku, ... Arrgghh! Pokoknya aku minta ma-, ...."


Gadis itu tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena Sid saling mempertemukan bibir mereka. Kali ini, dia melakukannya dengan sadar. Pemuda itu ingin merasakan apa yang Angel rasakan. Apakah benar-benar cinta atau hanya rasa yang sekedar lewat sebentar tanpa menepi.


Angel membalas pagutan yang masih terasa manis minuman itu. Sama seperti Sid, ada yang harus dia pastikan dalam ciuman itu. Apakah ini ciuman Angel pada Dange ataukah Carmen?


Setelah saling melepaskan diri, Angel tersenyum. "Itu ciumanku,"

__ADS_1


"Apa maksudmu? Jelas-jelas aku yang memulainya, jadi, itu ciumanku!" tukas Sid salah paham. Sejurus kemudian, dia menatap Angel dengan tajam. "Hei, aku tidak bermaksud untuk mencampuri masa lalu kalian. Tapi, apakah kau pernah berhubungan dengan konglomerat itu dan Frank? Maksudku, apakah-, ... Kau tau?"


Angel mengangguk. Dia kembali berbaring menatap langit malam. Malam itu, hanya ada bulan dan tidak ada bintang. Langit terlihat sepi sekali dan bulan itu tampak kesepian di atas sana.


"Waktu aku kecil, ...."


Angel membuka cerita masa lalunya. Dia menceritakan kepada Sid tentang bagaimana dia ditinggalkan di rumah Madam Sienna saat usianya 5 tahun dan siapa itu Madam Sienna. "Madam Sienna ini sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri saat itu. Dia selalu menguatkanku dan memintaku supaya tidak cengeng karena aku gadis cantik yang akan disukai banyak pria. Selalu begitu kata-kata yang ditanamkan oleh Madam Sienna. Hingga aku berusia 19 tahun, ada seorang pria yang menyukaiku. Dia meminta izin pada Madam Sienna untuk memakaiku satu malam. Saat itu, aku yang menyetujui ajakannya. Akhirnya, sejak saat itu aku bekerja sebagai, ...."


Tak berhenti sampai di situ, Angel kembali bercerita kalau banyak pria mencarinya dan dia berhasil membawa nama Madam Sienna menjadi yang teratas dalam bisnis kotor tersebut.


Ketika sampai pada pertemuannya dengan Dante, Angel menarik napas dan menghembuskannya panjang. "Dante Morgan datang dan dia menyewaku satu hari penuh tanpa menawar. Oh, aku lupa. Aku punya peraturan saat bekerja, aku melarang tamu-tamuku menciumku dan mengobrol saat aku melakukan pekerjaanku. Dante? Dia melanggar semuanya. Ciuman pertamaku direbut oleh Dante,"


Semakin gadis itu bercerita tentang Dante, bagaimana dia bertemu dengan Evelyn dan Frank, suaranya semakin tercekat dan dia semakin sulit untuk bercerita.


"Hentikan!" tukas Sid pada akhirnya. "Hanya bercerita saja sudah membuatmu tersiksa, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau melewati semua itu! Apakah itu yang terburuk?"


"Tidak usah kau ceritakan! Aku tidak sanggup mendengarnya, Carmen!" seru Sid. Lelaki itu tidak sanggup mendengar suara Angel yang terdengar pahit dan sakit saat menceritakan masa lalunya.


Sid tidak pernah membayangkan ada seorang gadis yang kuat melewati masa-masa pahit seperti itu seorang diri. Entah apa bagian terburuk dari masa lalu Angel, dia tidak tau dan tidak ingin tau.


"Aku tau sulit sekali melupakan kenangan itu, tapi kau harus melupakannya! Soal perasaanku, sudah setengah tahun yang lalu, aku sudah menyukaimu dan aku akan senang sekali jika perasaanku berbalas. Aku tidak memaksamu. Mungkin saja kau tadi hanya ingin menunjukkan pada Frank kalau kau benar-benar menyukaiku," kata Sid, wajahnya tersipu saat di mengingat kembali ciuman yang dia lakukan tadi.


"Hanya ada 2 orang yang menciumku. Kau dan Dante. Kau tau alasanku mengapa aku tidak mau berciuman dengan tamu-tamuku? Ciuman itu melibatkan perasaan dan kau tidak akan mencium seseorang sedalam itu jika kau tidak mencintainya, 'kan? Tidak akan ada orang yang mau sukarela bertukar saliva kalau tidak saling cinta," sahut Angel. "Kalau aku menciummu, tandanya aku menyukaimu, dan aku yakin, ini bukan perasaan sesaat. Aku menahannya karena aku tidak mau kehilanganmu dan ibu,"


Sid menarik Angel ke dalam dekapannya. Saat ini, dia tidak hanya mencintai gadis itu, tetapi dia ingin melindungi Angel dari apa pun dan siapapun yang menyakitinya. Selain itu, dia juga bertekad untuk membuat gadis yang ada di pelukannya kini bahagia. "Kau tidak akan pernah kehilangan kami, Carmen. Terima kasih karena kau sudah bertahan selama ini dan memilih kami untuk menjadi bagian dari hidupmu,"

__ADS_1


Malam itu, untuk pertama kalinya, seluruh beban Angel seakan luruh. Saat ini, dia dapat melangkah dengan ringan dan bahkan, dia berhasil menemukan cahaya berkilauan yang membuat dia berani untuk kembali berharap dan bermimpi.


Di ujung Pantai Kencana, Frank terbangun karena mendengar suara ponselnya berdenting, tanda ada pesan yang dia terima.


Pria itu membaca pesan itu dan tersenyum. Tak lama, jari-jarinya sudah lincah berlarian di layar ponsel lipatnya. Setelah selesai membalas pesan, dia membuka pintu balkon dan menatap ke arah lautan lepas.


Belum puas dia menikmati pemandangan itu, ponselnya kembali berdering. "Ya?"


("Aku curiga, kenapa kau tiba-tiba menyuruhku untuk datang? Apa kau ingin menjebakku?") tanya suara lelaki di seberang.


Frank mendengus. "Kenapa kau selalu berpikiran buruk tentangku? Aku hanya merindukan kebersamaan kita, apa itu salah?"


Suara tawa terdengar dari si penelpon. ("Hahahaha! Dunia akan berhenti kalau kau benar-benar merindukanku,")


"Hei, aku sungguh-sungguh. Selain itu, aku punya kejutan yang menarik untukmu," jawab Frank meyakinkan.


("Apakah itu? Aku tidak sabar mendengarnya darimu. Ah, aku tiba lebih cepat dari perkiraanmu. Aku meminta asistenku untuk mengambil alih tugasku. Karena kau mengatakan aku boleh tinggal di sana dalam waktu lama, jadi kutinggalkan asistenku di kantor. Awas saja kalau kau hanya mengerjaiku, Stanley! Tidak ada ampun untukmu,") jawab lawan bicara Frank.


Frank kembali menatap lautan lepas yang terhampar di depan rumahnya. "Aku tidak akan mengecewakanmu, Sobat. Aku yakin kau pasti akan menyukai kejutanku,"


Lelaki itu dapat mendengar suara debur ombak di seberang. "Hei, kau di mana? Kenapa di tempatmu juga terdengar suara ombak?"


Tak lama, terdengar suara ketukan pintu. Frank berlari menuruni tangga untuk melihat siapa tamunya. Senyumnya semakin merekah saat dia mengetahui tamu yang datang je rumahnya pagi itu. "Kupikir kau tersesat di laut,"


"Tidak mungkin, Franky Frank, hahaha! Apa kejutanmu?" tanya orang itu.

__ADS_1


"Aku akan mengajakmu melihat kejutan itu siang nanti. Sekarang masuklah dulu," ucap Frank sambil mempersilakan tamunya itu untuk masuk ke dalam. "Kau pasti akan menyukai kejutan dariku. Potong lidahku kalau kau tidak menyukainya nanti,"


...----------------...


__ADS_2