
Malam hari itu, Dante pulang ke rumah Angel dengan wajah tertekuk. Tak henti-hentinya dia berdecak kesal dan sesekali mengumpat pelan. Angel menghampirinya dan duduk di pangkuan pria itu sambil membelai rambutnya dengan lembut. "Ada apa denganmu, Dad? Apa ada masalah?"
Dante memeluk kekasihnya itu dengan erat. "Aku tidak tau bagaimana hidupku tanpamu, Sayang. Mungkin tidak ada yang menghiburku semanis ini,"
Sebuah pagutan singkat dan lembut mendarat di bibir Dante. "Seperti ini maksudmu, Dad?"
Tak puas dengan pagutan yang singkat itu, Dante memperdalam pagutannya di bibir Angel dan membuat suasana di ruang tamu rumah kecil itu memanas.
Angel menepuk pundak kekasihnya untuk berhenti. "Dad! Nanti kau tidak jadi bercerita! Kenapa kau tampak kesal?" tuntut Angel sambil mencebik karena Dante tidak berhenti menyentuh tubuhnya.
"Evelyn minta banding. Dia bersikeras tidak ingin bercerai denganku. Tapi anehnya, baru kali ini Josh kalah," ucap Dante dan dia menautkan kedua alisnya.
Joshua Floyd adalah pengacara handal yang jasanya sering dipakai oleh Dante. Pengacara itu terkenal di seluruh negeri dan tak pernah mengecewakan Dante satu kali pun. Tak hanya itu, Josh juga termasuk pengacara cerdas yang dengan cepat membalikan situasi, pemahamannya tentang hukum, tak perlu diragukan lagi.
Namun kali ini, mengapa Josh bisa kalah? Tidak mungkin Evelyn menyewa pengacara yang lebih hebat dari Josh. Tidak ada lagi pengacara sehebat Josh di negeri itu.
"Ada kalanya manusia kalah, Dad. Mungkin saja ada yang dia lewatkan atau dia sedikit kurang teliti," hibur Angel.
Dante menggerakkan kepalanya. "Kau benar juga! Haruskah aku selidik? Atau aku ikuti saja bandingnya?"
Lagi-lagi Angel tersenyum. Dia tidak tau sehebat apa seorang pengacara itu. Walaupun Angel sering bertemu dengan pria, tetapi pria-pria tersebut tidak pernah membicarakan tentang pekerjaannya saat bersama Angel. Kecuali keluhan kalau mereka sedang banyak pikiran, istri mereka tidak dapat memberikan kepuasan sebaik Angel, dan mereka ingin bermain gila.
"Kau menanyakan pendapatku? Wah, aku merasa terhormat. Baru kali ini ada yang bertanya tentang pendapatku! Hmmm, kalau menurutku, ikuti saja bandingnya dulu. Jika Josh yang hebat itu kalah, baru kau selidiki apa yang menjadi penyebab kekalahannya," jawab Angel, wajahnya tampak sangat senang saat mengemukakan pendapat pribadinya tersebut. "Setauku, banding akan lebih berat karena pihak lawanmu akan mengumpulkan lebih banyak bukti dan materi yang akan meringankan gugatan,"
Dante menatap kekasih cantiknya itu dengan takjub. "Wow, kau cukup pintar! Aku tak menyangka kau mengetahui tentang hukum,"
"Semenjak aku bertemu dengan istrimu, aku banyak membaca buku. Semua buku kubaca. Supaya aku pintar dan tidak diremehkan oleh wanita yang status sosialnya lebih tinggi dariku, walaupun pekerjaanku seperti itu. Paling tidak, aku bisa membalas atau menuntut mereka jika mereka mengatakan aku macam-macam," sahut Angel tegas.
__ADS_1
"Kau seperti bukan Angel yang pertama kali aku kenal," ucap Dante dengan tatapan kagum.
Angel hanya memberikan senyumannya kepada Dante. Saat ini yang berada dalam dirinya, memang bukan Angel, melainkan Carmen Brooke. Seorang gadis yang mungkin akan sering menggunakan hatinya dibandingkan dengan logikanya. Tetapi kali ini, Angel dapat merasakan kalau mereka berdua sedang bekerja sama. Dirinya dan Carmen.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Dante curiga. Melihat gelengan kepala Angel, timbul niat Dante untuk menggoda kekasihnya tersebut. Dia menggelitik pinggang gadis itu dan menarik ceruk lehernya supaya mendekat ke arahnya.
Kekhawatiran Dante tentang Josh terbukti benar. Beberapa waktu lalu, saat Evelyn bertemu dengannya di sebuah lobi hotel, wanita itu merayu Josh untuk mencurangi kasus perceraian antara dirinya dengan Dante.
Setelah pertemuan selesai, Evelyn mengejar mobil Josh dan memaksa pria itu supaya membukakan pintu untuknya. "Hei! Tunggu! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, izinkan aku masuk!"
Josh pun membukakan pintu untuk Nyonya Morgan dan mempersilahkan wanita itu untuk masuk. "Maaf, Anda mau masuk kembali ke lobi itu?"
Evelyn tersenyum sambil membuka kancing kemejanya hingga belahan dadanya sedikit terlihat. Dia tau Josh akan suka dengan pemandangan ini, jadi dia sengaja membuka satu kancing kemejanya lagi. "Aah, panas sekali hari ini, 'kan? Boleh aku menurunkan suhu pendingin mobilmu?"
Josh menuruti kemauan Evelyn saat itu. Bagaimana pun juga, Evelyn Morgan masih resmi menjadi istri kliennya. "Mau bicara di mana, Nyonya?"
Dengan cepat, Josh menyingkirkan tangannya. Dia merasa risih dam tidak enak bersentuhan dengan seorang Nyonya Morgan.
"Baik, Nyonya. Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Josh sambil berusaha memusatkan perhatiannya pada jalan.
Evelyn mulai agresif dan membuat Josh salah tingkah. Wanita itu merebahkan kepalanya di lengan Josh dan membuat belahan dadanya semakin jelas terlihat.
Sudah lima belas menit berlalu, tetapi Evelyn tak kunjung mengutarakan apa yang ingin dia bicarakan. Josh mulai resah dan sesekali menelan salivanya sambil menikmati pegunungan indah itu dengan sudut matanya.
"Josh, ... Hei, tidak masalah, 'kan, jika aku memanggilmu dengan Josh saja? Supaya kita lebih akrab dan semakin mengenal dekat satu sama lain," tanya Evelyn. Tangannya berkelana ke bagian bawah dan mengusap paha Josh.
Josh menggelinjang dan menyingkirkan tangan Evelyn dari pahanya. "Ny-, Nyonya jangan seperti ini. Saya tidak enak dengan Tuan Morgan,"
__ADS_1
Bukannya menghindar, Evelyn justru semakin menempel pada lengan pengacara itu dan terkikik. "Aku belum bertanya. Biarkan aku seperti ini,"
"Ba-, baiklah. Silahkan bertanya, Nyonya," kata Josh tak berdaya.
"Hmmm, bagaimana kalau gugatan itu di batalkan? Maksudku, bisa tidak seperti itu? Aku tidak mau bercerai dengan suamiku," tanya Evelyn. Tangannya semakin menurun dan membuat napas Josh menderu dengan cepat.
Keringat dingin membasahi kening pria itu. Namun, dia tetap berusaha untuk tetap profesional. "Tidak bisa, Nyonya! Tuan Morgan ingin tetap gugatan itu berjalan dan bercerai dari Anda,"
"Kita buat saja persidangan bohongan! Pura-pura saja kalau kau telah memberikan gugatan itu ke pengadilan, bagaimana? Jadi, tidak akan pernah ada sidang. Toh, Tuan Morgan juga tidak akan datang. Ayolah, Joshy Josh," tanya Evelyn, dia mulai merayu lebih giat lagi supaya keinginannya itu terpenuhi.
Napas Josh semakin sesak begitu tangan istri kliennya itu menyentuh keperkasaannya. "Hmpph! Nyonya, Anda tid-, ...!"
"Kau menyukaiku, Josh! Lihat si kecil ini sudah siap berlayar di lautan, hahaha! Aku akan memuaskan layar terkembangmu ini, dengan syarat kau juga menuruti keinginanku," ujar Evelyn dengan senyuman licik di wajahnya.
Josh menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak, Nyonya! Nama baikku akan dipertaruhkan jika ini berubah menjadi skandal!"
"Skandal? Hahaha! Tidak akan ada yang tau kecuali kalau kau membocorkannya. Aku ingin melihat seberapa besar belalaimu ini, hihihi!" sahut Evelyn, perlahan dia membuka resleting celana panjang Josh dan mengeluarkan tiang layar yang sedari tadi sudah berdiri dengan tegak bak prajurit berbaris di tengah lapang.
"Sekali tidak, tetap tidak, Nyonya! Maafkan sa-, aaaooowwh! Shitt! Nyonya, apa yang Anda lakukan? Aaahhh-, ...!" Josh mendessah hebat saat Evelyn mengulum miliknya itu.
Tak tanggung-tanggung, Evelyn seperti menginterogasi Josh hanya saja dengan desakan dan ancaman yang berbeda. Dia memainkan tangan, lidah, dan mulutnya dengan sangat baik.
"Jawab, Josh! Kau setuju dengan usulku? Kalau kau diam saja, aku akan membuat tersiksa dengan nikmat," ancam Evelyn sambil terus memainkan milik Josh denban tangannya, kala pria itu tidak membuka mulutnya sama sekali. Josh menggigit bibir bawahnya demi menjaga profesionalme kerja.
Tak tahan dengan permainan yang diberikan Evelyn, Josh mengangguk. "Baiklah! Ayo, kita selesaikan ini!"
Evelyn mengecup pucuk pedang Josh dan tersenyum lebar. "Thank you, Josh,"
__ADS_1
...----------------...