
Hubungan Sid dan Angel semakin dekat. Namun begitu, mereka menyembunyikan hubungan itu dari Sarah, ibu mereka. Mereka tidak ingin Sarah terkejut dan menentang hubungan mereka karena status Angel yang sudah resmi menjadi anggota keluarga Jones.
Sid bukan tipe pria seperti Dante atau Frank. Dia mengatakan tidak akan melakukan apa pun selama mereka baru sebatas hubungan berkencan. "Aku sudah bersumpah untuk menjagamu. Apalagi kau baru saja mengalami sesuatu yang buruk. Kita jalani ini pelan-pelan dan yang utama, sembuhkan dulu traumamu,"
Mendengar kata-kata Sid, Angel merasa terharu. Dia segera memeluk pemuda itu dan mengucapkan terima kasih kepadanya. "Terima kasih, Sid,"
Sebelum Angel bertemu dengan Sid, dia beranggapan pria yang tulus mencintainya itu adalah Dante. Akan tetapi, Dante tidak pernah datang mencarinya. Yang datang hanyalah berita tentang Dante dan Evelyn yang semakin mesra.
Dengan tertatih-tatih, Angel berhasil melupakan pria itu dari hidupnya. Namun tetap saja, rasa sakit itu masih ada dan berbekas. Gadis itu tak pernah membayangkan apa yang akan dia lakukan kalau tiba-tiba Dante datang dan muncul di hadapannya.
Mungkinkah dia akan berani menghadapinya? Entahlah, yang jelas, gadis itu akan melampiaskan semua kekesalan yang sudah dia tahan selama satu tahun kemarin.
Kemudian, pandangannya dia alihkan kepada Sid. Sosok pria yang kini menguasai hati dan hidupnya. Betapa Angel bersyukur karena Sid mencintai dia dengan sangat tulus.
Pandangan mata mereka bertemu, Sid tersenyum, dan menghampiri adik tiri yang kini menjadi kekasihnya itu. "Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Tidak ada yang melihatmu," sanggah Angel tersipu malu.
Tak tahan, Sid memeluk Angel dan mengecup keningnya. "Dilihat juga tidak apa-apa. Aku tau aku setampan itu, hahaha!"
"Cih!" tukas Angel lagi.
Hari-hari Angel akhir-akhir ini memang dipenuhi dengan kebahagiaan. Bahkan dia sampai takut, sewaktu-waktu ada hal buruk yang akan terjadi. Namun, dengan adanya Sarah dan Sid di sisinya, dia merasa dia akan sanggup menghadapi apa pun yang akan menimpanya.
Sarah pernah berkata kepadanya, "Kalau suatu hari nanti kau harus pergi, pergilah. Kau masih sangat muda dan aku yakin kau memiliki mimpi yang ingin kau gapai, kau juga memiliki sesuatu yang harus kau selesaikan. Jika kau ingin kembali, kami akan menunggumu di sini. Kami tidak akan pergi ke manapun."
Kata-kata Sarah itulah yang meyakinkan Angel untuk tetap berdiri kuat sambil terus membalut luka-lukanya sejak setahun yang lalu.
Suatu hari, Sid mengajak Angel untuk berkencan di Kota. Kakak dan adik itu tak lupa bertanya kepada Sarah apa yang mau dibeli wanita itu di Kota.
"Kenapa tiba-tiba kalian ingin ke Kota?" tanya Sarah, wajahnya penuh selidik.
Sid dan Angel saling menatap dari sudut mata mereka. "Kami hanya ingin berjalan-jalan. Carmen belum sempat berkeliling Kota karena setiap kali ke sana, tujuan kami hanya pasar,"
Sid yang sudah mengetahui celah kelemahan Sarah mengulas senyumnya ketika dia melihat kepala ibunya itu mengangguk. Mereka berdua pun memeluk Sarah dan bergegas pergi ke Kota sebelum malam.
Sepanjang perjalanan, Angel memeluk pinggang Sid dengan sangat erat. Mereka ke Kota dengan mengendarai sepeda motor Sid dan lelaki itu meminta Angel untuk berpegangan kepadanya.
__ADS_1
Setibanya di Kota, Sid mengajak Angel ke taman bermain. Seperti anak kecil yang baru pertama kali ke taman bermain, Angel berlari ke sana kemari dan melihat apa pun yang ada di sana dengan antusias.
"Oh, apa itu? Ayo, kita ke sana, Sid!" tukas Angel bersemangat.
Selesai satu permainan, dia menarik Sid lagi untuk ke stand permainan berikutnya. Sid hanya tersenyum dan dengan sabar mengikuti ke manapun Angel pergi.
"Kau belum pernah ke taman bermain?" tanya Sid saat mereka menaiki merry-go-round atau carousel.
Angel menggelengkan kepalanya. "Ini pertama kalinya aku tempat semacam ini,"
Merasa iba, Sid menarik adik tirinya itu ke dalam pelukannya. "Malang sekali hidupmu, Carmen. Baiklah, kita akan memainkan semua wahana yang ada di sini dan nanti malam, akan ada pertunjukan kembang api,"
"Benarkah?" tanya Angel dengan mata berbinar-binar.
Sid mengangguk. Pria itu kemudian mengajak kekasihnya untuk kembali berkeliling. Angel melonjak kegirangan saat Sid berhasil memenangkan sebuah boneka berbentuk penguin besar untuknya.
Sid juga berhasil menenangkan 2 ekor ikan dari permainan menangkap ikan. Dalam beberapa menit saja, tangan Angel sudah penuh dengan berbagai macam boneka dalam berbagai bentuk.
"Kau hebat sekali, Sid!" ucap Angel dan dia berjinjit sedikit untuk mengecup pipi kakaknya itu.
Angel menarik ceruk leher Sid dan memagutnya. Dia tidak peduli semua orang menatap dan terkikik ke arah mereka, dia juga tidak peduli dengan orang-orang yang berbisik saat melewati mereka.
Setelah puas, Angel tersenyum. "Aah, aku senang hari ini. Di mana kembang apinya?"
Wajah Sid memerah. Dia belum terbiasa dengan serangan langsung dari kekasihnya itu. "K-, kembang api di matamu,"
Angel mencebik, kemudian dia berjalan mundur sambil menggoda Sid yang masih terlihat salah tingkah. Tiba-tiba saja, Angel menabrak seseorang dan boneka yang dipegangnya terjatuh.
"Aduh!" tukas Angel.
Sid bergegas memegangi tangan Angel supaya kekasihnya itu tidak kehilangan keseimbangannya. "Hati-hati,"
Angel berbalik arah untuk meminta maaf, tetapi betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang bertabrakan dengannya tadi. "K-, kau!"
Napas Angel tercekat seolah udara di sekitarnya diambil alih darinya. "D-, Daddy?"
"Hei, kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Sid dia segera merangkul pinggang ramping kekasihnya. "Carmen? Kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Pria yang disapa Daddy oleh Angel itu tersenyum. "Carmen?"
Sid melihat ke arah pria itu. "Kau kenal dengan kekasihku?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal, ... tunggu dulu! Kekasihmu?" tanya pria itu lagi.
Sid tampak tidak asing dengan wajah pria dewasa yang mungkin seumuran dengan ibunya itu. "Kau yang ada di berita akhir-akhir ini. Kau-, ... Dante Morgan!"
Dante mengangguk sambil tersenyum. "Senang kau mengenalku,"
"S-, Sid, kita pulang saja," kata Angel. Tangannya mencengkeram tangan Sid kuat-kuat, sehingga Sid dapat merasakan kegugupan di diri Angel.
"Maaf, karena telah menabrakmu," ucap Sid dan dia menggandeng tangan Angel untuk pergi menjauh.
Sid tidak mengajak gadis itu untuk segera pulang. Dia masih ingin menunjukkan kembang api kepada Angel. Namun tampaknya, Angel sudah berada di dunianya sendiri.
Hari mulai malam dan Sid masih berada di dalam taman bermain bersama Angel yang sedari tadi diam dan tak tertarik lagi dengan taman bermain. Terkadang dia hanya menggeleng atau mengangguk saat Sid menawarkan sesuatu kepadanya.
"Kau masih memikirkan dia?" tanya Sid menyerah. "Ayolah, Carmen, lihatlah aku!"
Tiba-tiba saja, Angel memeluk Sid sangat erat. "Aku takut! Aku takut sekali, Sid! Aku takut dia menemuiku di rumah kita, aku takut dia mengajakku kembali,"
"Kenapa kau takut kalau dia mengajakmu kembali? Tolak saja seperti kau menolak Frank," jawab Sid.
Namun, Angel menggeleng. "Frank dan Dante berbeda. Aku takut! Pokoknya aku takut,"
Sid tersenyum lemah dan dia berhenti membelai rambut Angel yang berwarna maroon. "Kau masih mencintainya, Carmen,"
"Tidak! Aku sudah tidak mencintainya dan bantu aku untuk melupakannya, Sid!" pinta Angel memohon.
Sid melepaskan pelukan gadis itu. "Carmen, dengarkan aku! Kau yang sekarang sudah jauh berbeda dengan kau yang dahulu. Kau yang bilang sendiri padaku kalau kau membenci Morgan. Ya sudah, bencilah dia dengan sungguh-sungguh dengan segenap hatimu,"
Saat itu, Angel sudah membanjiri wajahnya dengan air mata dan di saat yang sama, suara gebyar kembang api mulai memenuhi taman bermain, dan mewarnai langit dengan cahayanya yang indah.
Di balik semua keindahan malam itu, jantung Angel terus berdetak cepat. Perasaannya goyah begitu dia melihat Dante muncul tiba-tiba di hadapannya. Hilang sudah harapan Angel untuk melabrak dan mengeluarkan kekesalannya. Yang tersisa hanyalah luapan rasa rindu yang begitu besar untuk pria tampan itu.
...----------------...
__ADS_1