Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Bantuan Theo


__ADS_3

Malam itu, Angel tidur seorang diri. Dia memikirkan permainan tolongnya pada Theo, dia memikirkan Sarah dan Sid yang berada jauh di sana, dan dia juga memikirkan dirinya sendiri. Apakah sampai selama itu, dia sanggup bertahan di sini?


Saat dia hampir memejamkan kedua matanya, gadis itu mendengar suara cecapan dan tumbukan. Tak lama, pintu kamar sebelah terbuka. Suara cecapan dan tawa kecil terdengar semakin jelas.


Angel berusaha melupakan suara itu dan memejamkan matanya erat-erat, berharap dia dapat segera tidur. Namun, suara di sebelah kamarnya semakin berisik.


"Ooh, Dad! Lebih dalam, Dad! Oooh!" pekik si wanita.


"Aku tau kau akan memintaku untuk begini, Ev! Hehehe, aku suka," balas si pria.


Suara dessahan dan pekikan semakin kencang disertai dengan suara-suara lain yang mengganggu konsentrasi Angel untuk tidur.


Perlahan-lahan Angel beranjak dari ranjangnya dan tiba-tiba saja dia menghentikan langkah saat namanya disebut. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk keluar dan menempelkan telinganya di pintu sambung kamar itu.


"Oohh, Dad! Aaahh, kau benar-benar hebat, Sayang. Tapi katamu, gadis peliharaanmu itu ada di sini. Biasanya kau tidak pernah meninggalkan dia sedetik pun. Apa dia sudah tidak rapat lagi? Hahaha! Aaah, Dad! Nikmat sekali," kata si wanita tertawa dalam dessahan kenikmatan yang dipompakan oleh pasangannya.


Pria itu menjawab dengan suara patah-patah. "Dia ... Sedang ... Tidak ... Ingin! Aah, shitt! Kau benar-benar nikmat sekali, Ev! Aaahhhh, putar tubuhmu! Kau lebih enak daripada pellacur yang sudah tidak terpakai itu, hahaha! Aaahhh, kau sudah sampai! Sekarang giliranku, kau harus memuaskanku, Sayang!"


Derai tawa yang terdengar sangat puas keluar dari bibir wanita itu. "Hahaha! Aku masih lebih nikmat, 'kan, Dad! Aaahh, dalam sekali!"


Angel menjauh dan keluar dari kamar itu. Hatinya pedih saat dia mengingat ucapan Dante yang menganggap bahwa dia hanyalah seorang peliharaan dan pellacur yang sudah tidak terpakai.


Dengan berurai air mata, dia mengambil jaket dan membuka pintu luar. Dia sudah tidak peduli apakah dia mengganggu aktivitas kedua manusia brengsek yang sedang berperang peluh itu.


Dia duduk di kursi taman dan meringkuk di sana. Kedua tangan Angel sibuk mengusap air mata yang belum berhenti mengalir dari pelupuk matanya.


Sebuah tangan hangat meremmas pundaknya. "Nona, kau datang kembali?"


Angel menoleh sambil membersihkan wajah dengan ujung lengan jaketnya. "Dave?"

__ADS_1


Dave membuka lengannya lebar-lebar. "Anakku, kau kembali,"


"Dave, kau masih mengingatku. Oh, aku senang sekali," balas Angel dan dia masuk ke dalam pelukan pria paruh baya itu. "Bagaimana kabarmu, Dave?"


"Aku baik-baik saja, Nak. Kau menangis? Siapa yang menangisimu, katakan padaku!" kata Dave sambil berkacak pinggang.


Angel tertawa dan air mata yang sempat berhenti, kini mengalir kembali. "Hahaha! Tidak, aku tidak menangis, Dave. Aku sedang merindukan seseorang yang berada jauh di sana,"


Dave menuntun Angel untuk duduk kembali di kursi taman dan pria itu duduk di sisinya. "Rindu. Semua orang mengaku rindu, tapi tetap saja mereka berlaku bodoh hanya untuk menutupi rindu mereka,"


"Ya, kau benar. Contoh orang bodoh itu adalah aku. Entah kenapa aku bisa datang ke sini lagi? Padahal di sana aku sudah hidup tenang dan bahagia. Seharusnya aku lupakan saja masalahku dan fokus dengan apa yang ada di depanku saat itu. Tapi, aku terlalu bodoh sampai aku akhirnya datang ke sini hanya untuk mencari sebuah jawaban," kata Angel. Dia mendengus sambil tersenyum pahit.


"Tidak ada yang bodoh kalau itu menyangkut hati, Sayang," ucap Dave bijak.


Angel mengangguk-angguk setuju. "Ya, kau benar, Dave. Sayangnya, aku terjatuh di hati yang salah dan saat ini, aku hanya ingin kembali,"


Sementara itu di suatu tempat yang cukup jauh dari tempat Angel berada, Sid sedang menggerutu kesal karena suara ketukan pintu saat matahari masih tertidur. Dia membukakan pintu dengan hanya memakai kaus oblong tanpa lengan dan celana pendek. "Ya, selamat pagi,"


Sid mengangguk dan mengerenyitkan keningnya. Darimana orang asing ini mengenal namanya? "Ya, benar. Kau siapa?"


Pria itu menghela napas lega dan menjabat tangan Sid. "Syukurlah aku tidak salah alamat. Boleh aku masuk?"


"Si-, silakan. Kalau kau tau nama panjangku, kau orang baik. Masuklah," ucap Sid setelah mengambil kesimpulan penuh resiko seperti tadi.


Setelah mempersilakan tamunya untuk duduk, Sarah terbangun. Wanita itu memang terbiasa bangun sebelum matahari terbangun. Dia akan menyiapkan sarapan serta menyiangi sayuran dan memilih protein yang akan dia pakai untuk berjualan nanti.


Wanita itu tertegun menatap tamu Sid. Sepersekian detik kemudian, dia menutupi tubuhnya sambil memberikan salam dari jauh. "Hohoho, maaf, aku hanya memakai pakaian tidur. Silakan mengobrol dengan santai, aku tidak akan mengganggu,"


"Jadi, kau siapa? Darimana kau tau namaku?" tanya Sid saat Sarah sudah kembali lagi ke kamarnya.

__ADS_1


Pembawaan tamu pria itu yang berwibawa dan berkharisma, membuat Sid sedikit curiga. Karena dia tidak pernah kenal dengan pria manapun yang seperti tamunya saat ini.


"Namaku Theo dan aku mengenalmu dari Nona Jones," kata Theo.


Sid mengerenyitkan keningnya. "Nona Jones? Ibuku? Ah, tapi tidak mungkin ibuku kau panggil dengan sebutan nona. Sudahlah! Katakan saja padaku, siapa yang kau maksud?"


Theo tersenyum mendengar ucapan Sid. Sid membuat Theo membandingkannya dengan Dante. Mereka berdua sangat jauh berbeda dan sampai saat ini, Theo belum menemukan alasan apa yang membuat Angel jatuh hati pada pria berwajah lucu yang ada di hadapannya itu.


"Maksud saya, Carmen Jones. Kau pasti mengenalnya," kata Theo lagi.


Mendengar nama Carmen disebut, Sid membulatkan kedua matanya. "Benarkah? Dia sudah kembali? Apa kau yakin dia benar-benar Carmen, bukan Angel? Apa dia baik-baik saja di sana?"


Kening Theo berkerut. Dia tidak paham mengapa Sid mempertanyakan Carmen dan bukan Angel. Siapa Carmen? Siapa pula Angel? Theo memutuskan untuk menunda rasa ingin tahunya.


"Kondisi Nona Jones saat ini bisa dikatakan kurang baik. Matanya sembab dan wajahnya layu. Dia tidak seperti biasanya. Dia meminta tolong padaku untuk menanyakan alamat ini kepadamu," Theo mengeluarkan ponselnya dan memberikan sebuah foto bergambar tulisan tangan Angel yang kecil, bulat, dan rapih tersebut kepada Sid. "Tempat ini adalah tempat di mana Nona Jones disekap.oleh Nyonya Smith dan Tuan Rivers,"


"Dia juga mengatakan, kalau kau sudah mengetahui segalanya tentang penyekapan dan perbuatan jahat lain yang dilakukan oleh Tuan Rivers," sambung Theo lagi.


Tak perlu diperintah, segera saja kata demi kata meluncur dari mulut Sid. Tentang penculikan, tentang penyekapan, tentang Jarrel, dan bagaimana Angel kabur hingga sampai ke restoran miliknya. "Entah bagaimana nasibnya jika dia tidak bertemu dengan ibu,"


Mendengar cerita Sid, Theo bergidik ngeri. "Bisakah kau menbantuku untuk pergi ke alamat ini? Kalau untuk menahan Nyonya Smith, itu akan sulit kita lakukan. Mengingat orang-orang kuat dan memiliki pengaruh berdiri di belakang wanita itu. Begitu pula dengan Tuan Morgan. Namun untuk Jarrel Rivers, kita dapat mencoba untuk meringkusnya. Berdasarkan informasi yang kudapatkan, Tuan Rivers belum meninggalkan rumah tersebut sejak Nona Jones kabur dari sana,"


"Lalu, Nona Jones juga menitipkan pesan aneh kepadaku," sambung Theo lagi.


Sid menegakkan posisi duduknya. "Pesan aneh apa?"


"Dia mengatakan, dia sudah mendapatkan jawabannya dan dia bodoh. Begitu pesannya," jawab Theo memiringkan kepalanya.


Sid tersenyum. "Hanya ada satu cara untuk melunakkan sebuah batu. Sirami saja terus dengan air,"

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membantumu. Sebelum itu, ibuku pasti menyuruhmu untuk makan sebelum pergi. Ikutlah bersamaku," kata Sid lagi sambil mempersilakan Theo untuk bergabung di ruang makan.


...----------------...


__ADS_2