
Sudah beberapa hari ini Angel sudah tinggal serumah lagi dengan Dante. Saat awal dia tiba, dia meminta untuk diantarkan ke rumahnya sendiri dekat kedai kopi tempat dia dulu bekerja. Namun, Dante melarangnya dengan alasan pria itu ingin Angel tetap berada di dekatnya.
Sehingga akhirnya, kamar Angel yang dahulu dirapikan dan dibersihkan untuk kembali ditempati oleh gadis itu. Selama itu pula, Dante selalu tidur bersamanya.
Berbeda dengan dahulu Angel tinggal di sana, Dante selalu terbangun saat Evelyn pulang dan dia akan menemani Evelyn hingga pagi hari.
Hal kedua yang berubah dari Angel dan sangat dirasakan oleh Dante adalah Angel tidak mau disentuh. Padahal saat mereka berada di rumah makan Sarah, Angel menikmati permainan tangan Dante. Namun kali ini, Angel bersikeras tidak mau disentuh oleh pria itu.
"Tapi, kenapa?" tanya Dante suatu hari.
"Apa tujuanmu membawaku ke sini? Karena kau merindukanku dan kau masih mencintaiku. Ya sudah, cintai aku tanpa merusakku! Aku masih trauma." Begitu saja jawaban Angel setiap kali Dante meminta berhubungan dengan gadis itu.
Mendengar jawaban itu, Dante yakin kalau Angel bukanlah Angel yang dia temui di restoran beberapa waktu lalu. Yang pria itu bawa pulang bukan Angel, melainkan Carmen.
Maka dari itu, suatu malam Dante mengajak Angel untuk makan malam di sebuah restoran hotel yang sudah dia sewa untuk dirinya sendiri.
"Ini gaun untukmu. Cantik, bukan? Ingatkah kau saat aku pertama kali mengajakmu makan malam dan kau mengenakan gaun seperti ini hanya saja warnanya berbeda?" tanya Dante sambil memamerkan gaun malam berwarna hitam dengan leher yang cukup rendah serta belahan panjang di bagian bawah gaun tersebut.
Angel mengangguk lemah. "Ya, aku ingat. Tapi, apakah aku harus memakai gaun itu? Aku sudah lama tidak memakai gaun. Ibuku selalu membelikanku kaus serta celana atau rok sederhana. Aku rasa ini terlalu mewah untukku,"
Dante memeluk Angel dari belakang dan menyibakan rambut panjang gadis itu ke depan. "Tempatnya berbeda, Sayang. Kalau kau memakai gaun terbuka ini di pantai, jelas saja kau akan sakit,"
Bibir Dante sudah berlarian menjelajah tengkuk Angel. Namun Angel mengalihkan leher ke arah sebaliknya sehingga Dante tidak dapat meneruskan aktivitasnya.
"Apakah aku masih tidak boleh menyentuhmu? Kau jahat sekali kepadaku, Angel!" tukas Dante pura-pura merajuk.
Dante memutar posisinya sehingga dia dapat berhadapan dengan Dante. "Apa yang kau inginkan dariku, Dad?"
"Kalau dipikir-pikir, aku sudah menuruti semua keinginanmu. Kau memintaku untuk kembali, maka aku kembali dan meninggalkan keluargaku yang berharga di sana, kau memintaku untuk memanggilmu dengan sebutan daddy, sudah aku lakuka. Lantas, apalagi yang kau minta dariku? Tubuhku? Apa kau tidak peduli dengan apa yang terjadi kepadaku, Dad?" Angel bertanya kembali.
Dante menggelengkan kepalanya sambil terus berpikir apa yang salah dengan gadis yang ada di hadapannya itu. "Saat di restoran, kenapa kau mau dan bahkan menikmati apa yang kuberikan kepadamu?"
"Itu kesalahan dan saat itu aku belum sadar sepenuhnya," jawab Angel singkat. Karena kesalahannya itulah yang membuat dia akhirnya kembali lagi ke tempat ini, rumah yang dibencinya!
"Maksudmu, saat itu kau mabuk?" tanya Dante lagi.
Angel berdecak kesal. "Tidak! Anggap saja aku sedang tidak ingin. Bisakah kau mengerti itu, Dad?"
__ADS_1
Dante mengangguk walaupun dia masih kurang puas dengan jawaban Angel. Gadis itu sendiri pun bingung mengala tubuhnya menolak setiap sentuhan Dante. Terbayang wajah kecewa dan kalimat terakhir dari Sid yang mengatakan kalau dirinya bukanlah Carmen, tetapi Angel.
Saat itulah, Angel sadar kalau Sid adalah poros kehidupannya, bukan Dante. Setiap kali mengingat Sid, rasa bersalahnya semakin besar, begitu pula dengan rasa rindunya.
"Baiklah, aku akan mencoba memahamimu, Angel, dan pakai gaunmu, aku akan menunggumu di luar," kata Dante. Dengan langkah lunglai, dia berjalan menuju pintu dan keluar meninggalkan Angel yang tengah berganti pakaian.
Angel memejamkan kedua matanya sesaat setelah Dante keluar kamar. Dia menyembunyikan rasa sesak dan air matanya di dalam bantal. "Ibu, aku ingin pulang,"
Selagi merindukan keluarganya di negeri seberang, tiba-tiba saja terlintas dalam benak Angel sebuah ide cemerlang. Cepat-cepat dia memakai gaunnya, berdandan ala kadarnya, dan keluar menemui Dante.
Dia menemukan Dante sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Angel segera duduk menyamping di pangkuan pria itu. "Dad, aku sudah memakai gaun cantik darimu. Bagaimana?"
Angel berdiri dan berputar untuk memperlihatkan kepada Dante penampilannya dengan memakai gaun tersebut. Dante tersenyum dan mengangkat kedua ibu jarinya. "Kau cantik, Sayang,"
"Oh, Dad, di mana Theo? Sejak datang ke sini, aku belum pernah menyapanya," tanya Angel.
"Besok. Kau boleh menyapanya besok," jawab Dante tanpa curiga karena memang Theo dan Angel sudah saling mengenal satu sama lain. Lagi pula beberapa Theo memikirkan Angel saat melihat Dante berhubungan dengan Evelyn.
Setelah semua persiapan selesai, Dante pun mengajak Angel untuk bergegas jalan menuju tempat makan malan mereka.
Setibanya mereka di sana, beberapa pelayan sudah siap melayani mereka. Pemain musik pun mulai mengalunkan sebuah melodi dari piano yang berada di dalam restoran ini.
"Ini mewah sekali," bisik Angel karena takut mengganggu suasana romantis yang sudah diciptakan oleh pemain piano.
Dante tersenyum dan menggenggam tangan Angel. "Aku ingin merayakan kembalinya dirimu, Angel. Aku sangat merindukanmu,"
Angel membalas senyuman Dante dengan manis. "Terima kasih,"
Makanan penutup pun tiba. Satu buah puding berwarna putih dengan kelopak mawar merah berbentuk hati diletakkan di atas puding itu serta kelopak mawar lain menghiasi sekitaran puding. Pelayan menuangkan saus berwarna putih susu pada puding tersebut sehingga kelopak mawar mengapung di atasnya. Hidangan cantik itu membuat Angel terpukau.
"Silahkan dinikmati," kata Dante.
Angel mengangguk dan dengan anggun dia memotong bagian tengah puding tersebut. Betapa terkejutnya dia saat dia menemukan sesuatu yang keras di dalam puding itu. Angel mengambilnya dengan sendok dan gadis itu tercengang melihat apa yang ditemukannya.
"Cincin?" tanya Angel.
Seperti sebuah skenario, begitu Angel menemukan cincin emas dengan kumpulan berlian yang membentuk sebuah hati kecil itu, lampu menjadi temaram, dan para pelayan serta pemain musik meninggalkan restoran tersebut.
__ADS_1
Dante mengambil cincin itu dari tangan Angel dan berlutut. "Angel, ...."
Sambil memasangkan cincin ke jari manis gadis cantik itu, dia melanjutkan kalimatnya, "Maukah kau menikah denganku?"
Suara musik yang lembut mengalun dan semakin menambah suasana romantis di restoran itu. Dante merengkuh pinggang Angel dan mengajaknya berdansa. "Aku harus mengakui kekalahanku, aku lemah tanpamu, dan aku tidak bisa hidup tanpamu, Angel,"
Angel masih terdiam. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu, Dante tidak dapat menebaknya.
Larut dalam suasana romantis yang dia ciptakan sendiri, Dante menghentikan dansanya, dan mengecup kening Angel.
Gadis itu menjauhkan tubuhnya sedikit, tetapi Dante mengeratkan pelukannya. Laki-laki itu berusaha mengambil alih bibir Angel.
Namun, Angel terus mengalihkan wajahnya hingga Dante penasaran. "Kenapa, Angel?"
"Sudah kukatakan kepadamu, aku sedang tidak ingin," jawab Angel dengan suara tercekat.
Dante yang masih dikuasai rasa kesal dan penasaran mencengkeram kedua lengan Angel dan terus memaksa untuk mau berpagutan dengannya.
Rasa takut Angel mulai menjalar di dalam dirinya. Dia mendorong wajah Dante dengan kedua tangannya. "Sakit! Kumohon, Dad, sadarlah! Kau membuatku sakit!"
Tak sabar, Dante mengangkat Angel dan memanggul gadis itu. Dengan kasar, dia meletakkan tubuh gadis itu di atas piano. Bak kesetanan, dia menyingkap gaun yang dipakai oleh Angel dan mulai menyentuh bagian inti tubuh gadis itu.
Satu sentuhan pertama membuat Angel berteriak kesakitan, dia menangis, dan berteriak. Namun, Dante membekap mulutnya.
Rasa takut semakin menguasai Angel. Napasnya mulai sesak dan dia tidak dapat bergerak saat tangan Dante semakin menjelajah bagian bawah tubuhnya.
"Ibu, tolong aku! Sid, tolong aku! Aku takut!" teriak Angel dalam batinnya.
Sementara itu di tempat yang cukup jauh, gelas yang dipegang oleh Satah tiba-tiba saja tergelincir dan terjatuh. Pecahan gelas itu bertebaran di mana-mana, Sid segera keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi. "Bu, ada apa? Aah, biar aku saja yang memunguti pecahannya. Ibu duduk dan jangan jalan ke sini nanti, oouuch, ...!"
"Kenapa, Nak?" tanya Sarah.
"Jariku kena pecahan gelas! Ibu duduk saja!" tukas Sid.
Pikirannya tidak nyaman malam itu, dia memikirkan Angel. "Bu, apa ada sesuatu yang terjadi pada Carmen? Perasaanku tidak enak sekali,"
"Kupikir hanya Ibu saja yang seperti itu. Semoga dia kuat dan baik-baik saja. Kita hanya bisa berdoa supaya dia dijauhkan dari segala yang jahat," kata Sarah. Dalam hatinya dia memanggil anak kesayangannya itu. "Carmen, semoga kau baik-baik saja, Nak,"
__ADS_1
...----------------...