
Selama beberapa hari, Angel tampak murung dan dia lebih memilih mencuci piring daripada menyambut tamu dan menyajikan makanan kepada mereka. Senyumnya pun memudar dari wajah cantik itu.
Perubahan itu dirasakan juga oleh Sarah. Dalam satu kesempatan saat Sid memberikan piring-piring kotor kepadanya, Sarah bertanya kepada putri angkatnya itu.
"Kau sakit, Nak?" tanya Sarah ramah sambil membelai punggung Angel dengan lembut. "Kau baik-baik saja?"
Ditanya seperti itu, runtuhlah pertahanan air mata Angel yang sejak beberapa hari ini ditahannya. Dia mengusap tetesan air mata itu. "Ibu, bolehkah aku bercerita kepadamu?"
"Tentu saja! Kau anakku, ceritakanlah tentang apa pun! Jangan ada satu pun yang kau tutup-tutupi!" jawab Sarah bersemangat.
Angel pun bercerita tentang sakit hatinya kepada Dante tanpa menyebutkan nama pria itu kepada Sarah. Dia juga menceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Dante tanpa mengatakan kalau dia adalah seorang gadis yang menjual dirinya sendiri kepada pria-pria hidung belang. Semakin banyak dia bercerita, semakin berkurang rasa sakit yang ada di hati gadis itu.
Sarah tersenyum. "Kau sudah memiliki kekasih rupanya. Aku pikir aku bisa menjadikanmu sebagai menantuku, hahaha! Mana mungkin gadis secantik dirimu belum memiliki kekasih? Ah, ada-ada saja aku ini,"
"Aku tidak mau jadi menantumu, Bu. Aku ingin menjadi anakmu. Andaikan, aku tinggal di sini selamanya dan terus menjadi anakmu, apakah boleh seperti itu?" tanya Angel. "Aku bersyukur bisa bertemu denganmu dan Sid,"
Gadis itu benar-benar merasa beruntung bertemu dengan Sarah. Dia begitu mendambakan sebuah keluarga dan kehidupan yang damai seperti ini tanpa harus dituntut untuk melakukan ini dan itu atau begini dan begitu. Kenyamanan dan kedamaian itulah yang membuat Angel betah tinggal berlama-lama bersama Sarah.
Sarah tertawa kecil dan mengangguk-angguk. "Kalau masalah dengan pria, jangan kau pikirkan terlalu lama. Jika dia sudah punya yang baru, kau lupakan saja dia dan jangan kau pikirkan lagi. Untuk apa memikirkan seseorang yang sudah tidak memikirkan dirimu? Fokuslah pada orang yang mencintaimu, Nak, dan lupakan mereka yang menyakitimu. Itu rumus supaya hidupmu selalu bahagia. Jangan sia-siakan waktumu hanya untuk menangis seseorang yang belum tentu menangisimu juga,"
Kata-kata Sarah membuat Angel tersadar. "Ya, kau benar, Bu. Kurasa aku harus belajar hidup seperti itu,"
"Harus! Kau harus bahagia, Carmen!" tukas Sarah tersenyum dan menatap gadis itu lekat-lekat dengan tatapan penuh cinta.
Angel mengangguk mantap. "Pasti, Bu. Ah, aku beruntung sekali bertemu denganmu. Aku bahkan sudah menyayangimu dan Sid melebihi diriku sendiri,"
Mendengar pernyataan Angel itu, Sarah menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh seperti itu! Sisakan untukmu, Sayang. Tidak ada manusia yang sempurna. Jika suatu saat kami mengecewakanmu, kau masih memiliki sisa cinta untuk diberikan kepada dirimu sendiri,"
__ADS_1
Lagi-lagi, Angel mendapatkan pelajaran tambahan dari Sarah tentang cinta. Dia pun menyimpan dan mengingat semua nasihat Sarah dengan baik.
Keesokan harinya, Sarah meminta Sid untuk berbelanja ke kota karena bahan-bahan makanan mereka sudah mulai habis, ditambah lagi keperluan rumah tangga mereka juga mulai menipis.
Sarah juga meminta kepada Sid untuk mengajak Angel. Walaupun pada awalnya gadis itu menolak dengan alasan ingin membantu Sarah di rumah makan, tetapi pada akhirnya, dia ikut bersama Sid.
Dengan mengendarai motor, mereka berdua pun pergi ke kota. Perjalanan dari rumah mereka ke kota hanya memakan waktu sekitar satu jam. Setibanya di sana, Sid menggandeng tangan Angel.
"Supaya kau tidak hilang! Ibu bisa membunuhku kalau aku kembali tanpamu! Pegang tangaku yang kencang dan jangan kau lepaskan! Fokus saja kepadaku!" tukas Sid.
Angel mengangguk dan dia dapat melihat kedua telinga kakak angkatnya itu memerah. "Ya, Sid. Aku akan fokus padamu. Apa kau malu menggandengku? Telingamu merah sekali,"
Sid menggaruk telinganya satu per satu. "Tidak! Jangan pikirkan itu, sudah kukatakan fokus saja kepadaku!"
Dengan terus menggenggam tangan Angel, Sid membelikan semua barang yang dituliskan oleh Sarah di sebuah kertas kecil. Sepertinya, orang-orang sudah mengenal Sid dan Sarah dengan baik. Mereka banyak memberikan tambahan atau bonus atau bahkan harga lebih murah saat Sid berbelanja.
"Wah, Sid, dia memberiku pretzel raksasa ini dengan gratis. Ayo, kita bagi dua. Buka mulutmu, aku akan menyuapimu! Aaaaaa!" sahut Angel senang dan memaksa Sid untuk membuka mulutnya.
Setelah selesai berbelanja, mereka berdua kembali ke motor. Namun, seorang pria menyapa mereka.
"Sid Brother! Kau ada di sini rupanya," sapa pria itu.
Sid dan Angel menoleh ke arah pria itu. "Frank?" sahut mereka berdua bersamaan.
"Ah, aku akan mengantar kalian. Ayo, mobilku ada di sana!" ucap Frank dan dia merebut begitu saja kantung-kantung belanjaan dari tangan Sid dan Angel.
Angel menghadang Frank dan mengambil kembali kantung belanjaan mereka. "Kami naik motor. Terima kasih tawarannya,"
__ADS_1
"Motor kalian nanti akan dibawa oleh temanku. Lagi pula hari sudah semakin panas, kalian pasti akan kepanasan di jalan. Sudah, ikut saja denganku! Ayo, Sid!" tukas Frank. "Serahkan kunci motormu pada temanku ini dan berikan alamat rumahmu kepadanya supaya dia bisa mengantarkan motor ini ke rumahmu,"
"Jangan ke rumah! Aku akan berikan alamat rumah makan kami saja! Selain itu, kau bisa turunkan kami di sana!" sahut Angel dengan cepat.
Kali ini, dia yang menggenggam tangan Sid dengan kencang sampai Sid berjengit kesakitan. Wajah Angel tampak emosi dan selebihnya, dia terlihat takut.
Sid menautkan kedua alisnya. Ada apa dengan mereka? Begitu sampai di dalam mobil, Frank meminta Angel untuk duduk di belakang dan Sid duduk di sampingnya karena dia akan menyetir.
Selama di perjalanan, Sid dan Frank berbasa-basi cukup panjang. Frank akan bertanya dan Sid akan menjawab dengan jawaban singkat, terkadang hanya ya, tidak, atau tidak tau.
"Boleh aku bertanya padamu, Frank? Apa hubunganmu dengan dia?" tanya Sid berbisik sambil mengedikan kepalanya ke belakang. "Dan siapa dia sebenarnya? Kemarin aku memperlihatkan berita tentang keluarga Morgan dan dia menangis seperti orang gila. Siapa kalian sebenarnya?"
Sebelum Frank menjawab pertanyaannya, Sid menceritakan bagaimana Angel datang ke rumah makannya dan Sarah menjadikan gadis itu sebagai anak angkatnya hanya dalam waktu satu hari. "Apa yang terjadi padanya saat itu?"
"Dengar! Aku tidak akan menceritakan siapa Carmen sebenarnya. Yang jelas, pria yang kau lihat di berita itu memang kekasihnya," jawab Frank. Dia masih terus terbayang-bayang kondisi Angel saat dia datang kepada Sarah untuk pertama kalinya. "Aku juga tidak tau apa yang terjadi kepadanya. Saat itu dia sedang bersama kekasihnya dan tiba-tiba, dia menghilang begitu saja. Aku tidak pernah tau kalau ternyata dia dibawa sampai sejauh ini oleh mereka! Apa yang terjadi kalau dia tidak bertemu dengan ibumu? Mungkin dia sudah mati,"
"Pasti! Dengan darah dan luka lebam di hampir seluruh tubuhnya, bibirnya pucat sekali dan bahkan dia gemetar. Entah karena kelaparan atau ketakutan," ucap Sid lagi menambahkan. "Kenapa aku tidak boleh tau tentang siapa dia?"
Frank menelan salivanya. Dia teringat saat pertama kali Evelyn memberitahukan tentang siapa Angel kepadanya. "Kau akan memanfaatkannya seperti saat pertama aku tau siapa dia,"
Sid terdiam dan dalam hatinya dia memutuskan untuk tidak mencari tau siapa Angel sebenarnya. Dengan dia tersenyum dan bahagia saja sudah membuat Sid merasa bahagia juga. Saat itulah Sid sadar akan sesuatu. "Hei, tentang pertanyaanmu waktu itu. Aku sudah tau jawabannya,"
"Apa?" tanya Frank.
Sid menoleh ke belakang dan melihat Angel yang asik memandang pemandangan di luar sambil melipat kedua tangannya. Kemudian, pandangan Sid kembali ke depan dan dia merendahkan suaranya, lebih rendah dari sebelumnya. "Aku menyayangi dia sebagai seorang kakak kepada adiknya dan di saat yang bersamaan, aku menyayangi dia sebagai seorang pria kepada seorang gadis. Jadi, kau dan siapa pun, tidak akan kuizinkan mengambil dia dari sisiku! Apalagi sampai membuatnya menangis! Akan kutenggelamkan kau ke dalam laut! Camkan itu!"
...----------------...
__ADS_1