Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Aku Tidak Ingin Tahu!


__ADS_3

"Carmen, siapa pria itu? Dia mengaku teman dekatmu, memang benar? Katanya kau sudah memiliki kekasih? Siapa dia? Hei, Carmen, jangan diam saja! Ceritakan padaku! Kalau dipikir-pikir, aku belum mengenalmu," desak Sid.


Sejak seharian itu, Sid terus mengekori Angel dan mendesak gadis itu dengan bertubi-tubi pertanyaan seperti seorang wartawan.


Awalnya, Angel tidak terlalu memperdulikan ocehan serta pertanyaannya. Namun karena Sid terus bertanya, Angel pun kesal. "Ini bukan urusanmu, 'kan, Sid? Berhentilah bertanya! Kepalaku mau pecah rasanya!"


Tak menyerah, Sid membiarkan Angel untuk tenang dahulu karena dia bertekad akan mendapatkan jawaban dari gadis sudah membuatnya penasaran itu.


Entah kenapa, saat Frank mengatakan kalau Angel sudah memiliki kekasih, hati Sid menjadi tidak tenang. Apakah karena dia takut kehilangan? Selama ini dia menjadi anak tunggal dan tidak ada teman berkelahi. Akan tetapi, sejak Angel datang, hidupnya menjadi ramai. Karena ada seseorang yang bisa dia goda dan bisa berdebat dengannya tentang apa pun.


Malam itu, Sid melihat Angel sedang duduk di pinggir pantai. Gadis itu hanya mengenakan pakaian pendek serta celana pendek. Sid bergegas masuk ke dalam untuk mengambil jaket, setelah itu, dia menghampiri Angel dan memakaikan jaket itu ke pundak adik angkatnya.


"Baru kali ini kau tenang," kata Sid sambil mengambil posisi di samping Angel.


Angel memakai jaket pinjaman berwarna hitam itu. "Terima kasih tapi apa kau sudah mencucinya? Bau sekali!"


Sid menabrak lengan Angel dan membuat gadis itu terhuyung ke samping. "Sialan! Aku sudah berbaik hati mau meminjamkan jaket kesayanganku untukmu! Pakai saja tanpa banyak mengeluh,"


"Aku sudah mengucap terima kasih!" balas Angel kesal.


Setelah itu mereka berdua terdiam cukup lama dan hanya membiarkan debur ombak yang saling bergemuruh dan bermain-main di pantai.


"Aargghh! Terlalu hening! Aku tidak suka!" ucap Sid berapi-api. "Ayo, bicaralah! Ceritakan apa saja padaku!"


Angel tertawa melihat tingkah polah kakaknya itu. "Hahaha! Ada apa denganmu, Sid? Aneh sekali,"


Tiba-tiba saja, Sid mengulurkan tangannya. "Kita belum berkenalan secara resmi. Namaku Sidney Jones. Kau bisa memanggilku Sid. Aku senang berselancar di lautan, tapi ibu melarangku karena takut aku hilang ditelan ombak. Kalau saat ini aku berselancar, mungkin ibuku akan memberikanku izin, karena dia sudah memiliki seorang anak cadangan. Siapa namamu?"


Sambil tersenyum, Angel membalas uluran tangan Sid dan menggenggamnya erat. "Namaku Carmen Brooke dan aku bukan siapa-siapa. Aku tidak memiliki sesuatu yang aku sukai. Aku hanya menjalani hidupku menjadi lebih baik. Itu saja,"

__ADS_1


Sid mematung sesaat mendengar penuturan Angel, tetapi kemudian dia menyeringai lebar. "Ah, begitu. Senang bertemu denganmu, Carmen Brooke,"


"Apa maksudmu, Sid? Hahaha, kau bisa melucu ternyata," ucap Angel lagi tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Sid. "Tanganmu hangat, aku senang menggenggamnya,"


Angel menyandarkan kepalanya pada kedua lututnya yang dia rapatkan. Sid mengikuti gaya adiknya itu. Kedua netra mereka saling bertemu. Sekali lagi, mereka terdiam tanpa ada kata-kata yang terucap dari mulut mereka.


"Kau cantik," sahut Sid memecah keheningan. "Ibu selalu bilang, kau cantik mirip dirinya saat dia masih muda dulu,"


Angel tersenyum senang, tetapi di saat yang bersamaan, entah mengapa dia merasa sesak tanpa sebab. Apa mungkin karena Sarah bukan ibu kandungnya? Salah satu alasan dia tidak ingin kembali adalah dia tidak ingin meninggalkan Sarah di sini.


Sarah berbeda dengan Madam Sienna. Angel dapat merasakan kalau Sarah benar-benar sayang kepadanya dan memperlakukan dia selayaknya anaknya sendiri.


Wanita itu selalu melakukan hal-hal umum selayaknya seorang ibu. Menanyakan apa yang ingin dia makan, memarahi dan membelanya saat dia beradu mulut dengan Sid, memeluknya dengan tiba-tiba tanpa alasan, dan mengecup kening serta pipi Angel dengan sayang.


Tanpa terasa, air mata Angel bergulir cepat dari ekor matanya. Angel mengusap butiran-butiran bening yang semakin banyak itu dengan cepat. "Maafkan aku, Sid. Aku sedang-, ...."


Sid merangkulnya dan menepuk lengan Angel. "Aku tidak akan bertanya lagi kalau kau tidak ingin bercerita. Kau tidak harus tersenyum, Carmen. Aku ingat sekali saat kau pertama kali datang ke rumah, kau menangis dalam diam. Bahkan kau memaksakan senyummu, supaya tidak terlihat oleh ibu. Senyummu saat pertama kali kita bertemu dengan senyummu yang sekarang, aku lebih senang senyummu yang sekarang. Terlihat lebih tulus,"


Angel menghela napasnya. "Apa kau tau? Aku tidak memiliki keluarga, Sid. Saat ini, cintaku sudah kuberikan sepenuhnya untuk ibu dan untukmu. Lalu tiba-tiba saja, pria itu datang dan mengajakku kembali,"


"Kalau kau bertanya tentang pria itu, jujur saja aku belum bisa memberitahumu, Sid. Ceritanya akan sangat panjang dan belum tentu kau mau menerimaku setelah mendengarkan ceritaku," timpal Angel lagi.


Sid mengangkat kedua bahunya. "Ya sudah, jangan ceritakan,"


Senyum di wajah Angel kembali mengembang. "Kau tidak memaksaku seperti tadi?"


Wajah Sid memerah dan dia mengusap-usap hidungnya. "Aku sudah cukup puas dengan ucapanmu yang mengatakan kalau kau telah memberikan cintamu padaku dan ibu. Apalagi yang bisa membuatku bahagia selain itu? Aku rasa tidak ada. Aku senang kau ada di sini karena aku tidak kesepian lagi dan yang terutama, aku punya teman bertengkar, hahaha!"


"Hahaha! Aku juga merasa beruntung datang ke sini karena aku bisa menemukan keluarga yang sangat baik seperti kau dan ibu," balas Angel. Dia mencubit kecil pipi Sid dan menggoyangnya ke atas dan ke bawah.

__ADS_1


Sid berusaha menarik tangan Angel dari pipinya sambil mengaduh kencang. "Sakit! Ibu, Carmen mencubitku! Kau harus lihat dia menyiksaku, Bu!"


Tak lama, mereka berdua sudah berkejaran di pinggir pantai dan saling melemparkan pasir ke tubuh mereka masing-masing. Saking asiknya, mereka berdua tak mendengarkan pekikan Sarah memanggil dan meminta mereka untuk pulang dan segera mandi.


"Sid! Carmen! Apa yang kalian lakukan malam-malam? Pulang! Apa kalian tidak butuh makan! Hei, anak-anak!" tukas Sarah sambil mencorongkan kedua tangannya.


Keesokan paginya, seorang pria terbangun karena dikejutkan oleh suara dering telepon.


"Halo," sapa pria itu.


("Di mana kau, Frank?") tanya suara di seberang.


Frank menggaruk matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya untuk dapat mencerna siapa yang menghubunginya pagi-pagi sekali. "Dante, kenapa?"


("Di mana kau?") desak Dante.


"Aku masih di luar. Proyekku belum selesai, lagi pula aku berpikir untuk tinggal di sini lebih lama lagi. Ada yang menawariku untuk mengambil spesialisasi dan kupikir aku akan mengambilnya," jawab Frank lagi. Dia tidak pernah menyebutkan kepada Dante di mana dia saat ini karena satu dan lain hal. Alasan yang utama karena Frank merasa kecewa dan kesal kepada sahabatnya itu atas kehilangan Angel.


("Evelyn mengacaukan hidupku! Kau sudah baca atau menonton berita pagi ini?") tanya Dante. Nada suaranya terdengar sangat gusar.


"Sudah kukatakan, jauhi dia! Dia ular, Dante! Tapi, kau malah bercinta dengannya! Kau gila! Uruslah urusanmu sendiri, aku cuci tangan," tukas Frank. "Kau tidak pernah mendengar nasihatku! Apa sebenarnya yang kau cari, Dante? Di saat Angel hilang, kau tidak mencari atau menunggunya! Kau malah bermain-main bersama Evelyn! Entah terbuat dari apa hatimu itu?"


Dante terdiam dan terdengar suara helaan napas dari seberang. ("Evelyn mengatakan kepadaku kalau Angel sudah mati. Dia melarikan diri dari penculik dan menenggelamkan diri ke laut,")


"Sejak kapan kau percaya pada Evelyn, Brother? Nikahi aaja wanita itu san dan jangan hubungi aku lagi!" tukas Frank geram dan dia menutup panggilannya dengan kesal.


Rasa kantuknya sudah menguap dan dia mencari berita tentang Dante melalui ponselnya. Tak sulit mencari berita itu karena berita tentang Dante menjadi trending topik di seluruh media sosial.


'Dante Morgan dan Evelyn Morgan Tampak Semakin Mesra. Mereka Merencanakan Untuk Mengikuti Program Kehamilan!'

__ADS_1


"Matilah kau, Dante!" desis Frank penuh kebencian. Dia melemparkan ponselnya begitu saja dan bersyukur Angel tidak memiliki ponsel pribadi.


...----------------...


__ADS_2