Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Penyesalan


__ADS_3

Setelah mengantarkan Sid dan Angel ke rumah makan yang ternyata masih ramai, Frank bergegas pulang. Namun, Sarah melihat pria tampan itu dan mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkan kedua anaknya pulang dengan selamat, begitu pula dengan motor Sid.


Tak hanya itu, Sarah juga mentraktir Frank untuk makan di rumah makannya. Saat Frank hendak membayar, Sarah menolaknya. "Tidak! Kau sudah berbaik hati mengantar anak-anakku! Ambil saja dan simpan uangmu,"


Frank pun mengucapkan terima kasih kepada Sarah atas kebaikan hati wanita itu. Sebelum berpamitan pulang, Frank meminta izin untuk bertemu dengan Angel.


"Carmen? Tunggu sebentar, ya," Sarah berjalan ke dapur dan dengan suara lantang dia memanggil gadis yang sudah dianggap sebagai putri kandungnya tersebut. "Carmen! Temui Frank dahulu,"


Mau tidak mau, Angel mengangguk dan menuruti perintah Sarah. Karena bagaimanapun juga, seorang anak harus menaati perintah ibunya, bukan? "Ya, Bu. Satu piring lagi, aku akan ke depan,"


Menepati janjinya, setelah piring terakhir selesai dia cuci, Angel menemui Frank yang sudah menunggunya di depan pintu masuk rumah makan mereka.


"Apalagi yang ingin kau bicarakan?" tanya Angel.


Sid mengawasi Frank dan Angel yang menjauh dari rumah makan sambil tetap melayani tamu. Di dalam hatinya muncul monster besar yang meminta Sid untuk menerkam Frank dan mengoyaknya.


Sementara itu, Frank dan Angel berjalan menyusuri pinggiran pantai. "Aku sudah memutuskan untuk tinggal lebih lama di sini,"


"Tidak usah! Aku tidak akan menemuimu lagi karena ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir kalinya!" tukas Angel.


"Angel, kenapa kau begitu membenciku?" tanya Frank menghentikan langkahnya dan menatap dalam-dalam gadis yang ada di hadapannya itu.


Angel menghela napas dan kelelahan tersirat di wajah cantiknya. "Aku tidak membencimu. Hanya saja, aku lelah, Franky. Kau tidak tau apa yang kualami dan kau terus menggangguku di saat aku sudah menemukan tenang dan kedamaian di sini. Tidak bisakah kau melihatku bahagia? Paling tidak, izinkan aku, tubuhku, dan hatiku beristirahat sejenak tanpa kau terus muncul di hadapanku?"


"Itulah alasan aku ada di sini, Angel. Ak-, ...."


"Jangan sebut nama itu lagi! Panggil aku Carmen Jones!" tukas Angel. Rambut panjangnya yang diikat kuda menyapa lembut wajahnya.

__ADS_1


Frank dapat melihat luka yang tersirat di kedua mata Angel. Entah apa yang dialami oleh gadis itu, tetapi untuk saat ini tidak ada yang dapat dilakukan oleh Frank selain meninggalkan Angel dengan kehidupan barunya.


Jika seandainya, dia ingin masuk kembali ke dalam hidup Angel, mau tidak mau dia harus mengikuti apa yang sudah ditentukan oleh Angel yang kini hanya mau dipanggil dengan nama Carmen Jones itu.


"Baiklah, Carmen," ucap Frank mengalah. Tiba-tiba saja, pria tampan itu berlutut di hadapan Angel sambil memegang kedua tangan gadis itu. "Maafkan aku jika selama ini aku telah membuatmu terluka dan maafkan aku kalau aku terlihat seperti tidak mencarimu. Aku bersumpah, aku mencarimu ke mana-mana. Tapi, aku tidak tau kalau ternyata kau ada di sini. Tidak ada seorang pun tau kau ada di sini, Carmen,"


"Satu lagi, izinkan aku untuk tetap bisa menemuimu. Satu hal yang baru aku sadari akhir-akhir ini, aku menyukaimu," sambung Frank lagi. Dia kini menundukkan kepalanya sambil terus berlutut.


Carmen terdiam. Dia tidak tau bagaimana cara menanggapi Frank. Di satu sisi dia ingin Frank menjadi temannya, tetapi di sisi lain, dia begitu takut akan kehilangan keluarga dan kehidupan damainya saat ini. Maka, dia menyentakan tangannya. "Kalau aku, aku baru sadar kalau aku membencimu, Frank!"


Setelah berbicara demikian, Angel pun berlalu meninggalkan Frank yang masih berlutut. Dia sudah tidak peduli lagi dengan pasir yang menempel di lututnya. Rasa pedih mendera hatinya, sampai rasanya dia tidak sanggup untuk bangkit dan berdiri.


Melihat Angel menjauh, Sid berlari menghampiri Frank. Dia mengulurkan tangannya kepada pria itu dan membantunya untuk berdiri. "Dia menolakmu?"


"Apa jelas sekali?" tanya Frank tersenyum kecut.


Frank kembali duduk di pinggir pantai. Dia melepas alas kakinya dan membiarkan air laut membasahi kedua kakinya. "Aku menyukainya sejak dia menghajarku. Awalnya kupikir rasa itu hanya sekedar perasaan yang akan pergi dan menghilang. Tapi ternyata, rasa itu membekas,"


"Kau mengungkapkan perasaanmu kepadanya?" tanya Sid lagi.


Frank mengangguk. "Aku kelepasan, hahaha! Aku tidak mau kehilangan dia. Kau tau? Seperti yang sudah kuceritakan kepadamu, dia menghilang dan sejak saat itu aku membenci kekasihnya sekaligus sahabatku sendiri. Sebulan kami mencarinya, tapi kami tidak menemukan titik terang di mana dia berada. Aku sangat merindukan dia, untuk itulah aku berlibur ke sini dengan harapan, aku bisa melupakannya,"


Kedua pria itu memiliki ketidaktahuan yang sama. Mereka sama-sama tidak tau, apa yang menimpa Angel selama dia menghilang. Pasti sesuatu yang membuatnya trauma.


"Frank, sebagai seorang pria, aku akan memberikanmu nasihat. Berhentilah untuk menemui dia dan lupakanlah dia. Biarkan dia bahagia dengan kehidupannya saat ini. Kau tidak perlu khawatir, karena ada aku dan ibuku yang akan selalu melindungi dia. Lagipula, ini kota kecil pinggir pantai. Tak ada yang bisa menemukan kami di sini," kata Sid tegas.


Frank termenung. Egonya tidak dapat menerima keputusan Sid begitu saja. Namun di satu sisi, Angel memang tampak lebih tenang dan bahagia. Frank tidak tau apa saja yang dialami oleh Angel, tetapi dia berusaha walaupun sulit untuk mengangguk, dia mengangguk dan menyetujui usul Sid.

__ADS_1


"Kau benar. Bolehkah aku tetap datang dan menemuinya sesekali?" tanya Frank. "Kemungkinan, aku akan menetap di sini lebih lama. Awalnya, aku ingin membujuk Carmen untuk ikut pulang bersamaku setelah urusanku di sini selesai. Tapi nyatanya, tidak semudah itu,"


"Boleh saja, selama kau tidak membuat Carmen bersedih atau menangis. Ingat! Kau akan berhadapan denganku, jika aku melihat satu tetes air mata turun dari matanya!" ucap Sid sambil menepuk pundak Frank. Setelah itu, dia bangkit berdiri dan bergegas pergi menyusul Angel yang sudah pergi lebih dulu.


Di tempat lain, suara cecapan dan juga dessahan memenuhi sakah satu ruangan di sebuah rumah megah dan mewah. Pergulatan panas antara sepasang pria dan wanita pagi hari itu membuat si pria tidak dapat mendengar suara dering telepon yang berbunyi.


"Aah, shitt! Siapa itu? Ev! Aku sudah!" ucap si pria melenguh kelelahan.


"Aku sedikit lagi! Bantu aku, Dad!" balas Evelyn. Dia memainkan segala yang menonjol pada tubuhnya untuk menstimulasi pelepasan pagi hari itu.


Dengan malas, si pria memainkan jari-jarinya di lembah milik Evelyn yang sedang mengapit batangnya yang mulai melemas. "Cepatlah, Ev!"


Karena bantuan jari kekasihnya, akhirnya si wanita berhasil melakukan pelepasan dahsyat. Dia mengerang dan memeluk erat tubuh kekasihnya itu. "Oh, Dante!"


Tidak peduli dengan erangan Evelyn, Dante mengangkat teleponnya. "Frank, ada apa?"


("Sedang apa?") tanya suara yang terdengar geram dan kesal itu.


"Aku?" tanya Dante.


Evelyn ikut menyahut dari belakang Dante sambil memeluk tubuh pria kekar itu. "Franky, apa kabarmu di sana? Kapan kau kembali?"


Evelyn dan Dante mendengar suara tawa Frank. ("Hahaha! Kupikir kau merindukan Angel, Dante! Karena aku hampir gila di sini hanya memikirkan dan merindukannya! Aku salah menghubungimu! Aku bersyukur karena dia tidak akan pernah bertemu denganmu lagi! Selamat bersenang-senang, Ev!")


Frank menutup ponsel dan melemparkan ponsel itu dengan kesal. "Dante Sialan! Seharusnya sejak awal aku tidak merelakan Angel bersamamu! Argghh!"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2