
pov om hamka
setelah kejadian aku dan resa waktu itu,aku sengaja menjaga jarak darinya,untuk menuntaskan arka
biar bagaimanapun,putraku itu benar benar sudah salah jalan,menurut orang suruhan papa,bahkan arka menjual jeni dan rachel untuk memuluskan kerjasama,dan dia juga menjajakan dua wanita itu,untuk di jual keteman temannya yang memiliki kelainan seksual
mungkin itu kata yang pas untuk mereka,karna pria normal tidak suka berbagi, pria normal tidak suka dari belakang,selain menjijikkan juga bisa berakibat penyakit
aku juga tidak tau kalau arka bahkan termasuk pria pria itu,bahkan lebih gilanya lagi,dia menyukai permainan diselingi penyiksaan sang wanita
selama ini,aku sangat sibuk bekerja,memajukan perusahaan,perusahaan maju,tapi anakku salah jalan
aku gagal
aku pikir setelah menyuruhnya kembali kerumah papa,dia akan berubah,tapi ternyata...dia malah lebih gila lagi
bahkan ibu kandungnya dia sikat,entah apa yang ada diotaknya,bisa bisanya bermain dengan ibunya sendiri,apa dia tidak merasa aneh? atau dia memang punya kelainan?
jika dia meniru jeni,dia hanya akan hobi gonta ganti pasangan,tapi ini dia sangat suka kekerasan dan bermain grup,entah seperti siapa
setelah yusuf memergoki arka yang sedang bermain dengan jeni,aku sudah tidak bisa tinggal diam lagi,jika kekerasan tidak mampu membuatnya belajar,maka aku akan buka masa lalu menyedihkan saat dia masih kecil,kurasa mengetuk hatinya adalah pilihan terakhir
jika selama ini arka taunya,dia berada dalam lingkup keluarga kaya maka akan aku beritahu,bahwa selingkuhan jeni memporak porandakan bisnis papa,banyak proyek yang tiba tiba macet,mandor yang pergi serta membawa uang proyek,hingga saat itu perusahaan papa hampir bahkan sembilan puluh persen bangkrut
aku yang bahkan baru masuk kuliah,menjadi harus bekerja keras untuk menghidupi arka dan diriku sendiri,bersyukur aku masuk kuliah dengan prestasi,tapi yang menjadi kendalaku saat itu,kuliah harus membawa arka,bekerjapun harus membawa arka,beruntung cafe punya temanku sendiri,jadi dia mengijinkan
dia bahkan mengijinkan aku untuk tinggal dicafe itu,dan dari cafe itulah aku bisa membesarkan arka
papa dan mama mengontrak rumah kecil,karna rumah kami sudah dijual untuk menutupi kerugian perusahaan
beruntunglah papa dan mama adalah orang yang bekerja keras dan mempunyai otak yang cerdas
papa yang kesana kemari mencari investor,dan mama yang memimpin perusahaan dengan baik
sedikit demi sedikit perusahaan menjadi stabil
ada satu atau dua mandor juga yang kerumah mengembalikan uang perusahaan itu karna merasa bersalah,dan memang mengaku,jika semua disuruh mark,selingkuhan jeni sekaligus bandar narkoba
dia terkenal dengan hartanya,bahkan rumahnya sangat besar,katanya dia di ancam,jika tidak menurutinya
dengan berat hati,karna mereka menggunakan putrinya,jadinya dia kabur dengan membawa uang proyek
tapi diam diam dia kembalikan,lalu pergi entah kemana
saat aku akan membuka pintu untuk menemui arka,ternyata papa disana sedang menceritakan masa lalu kami yang tidak ada manis manisnya
bahkan kulihat arka sudah sembab
tapi dia seperti memendam amarah yang membara
akupun heran,dimana dia mengenal jeni,karna yang kutau jeni hidup dengan mark dan selalu dengan pengawalan
apa dia sudah dibuang oleh mark?
ah entahlah aku juga tidak tau
__ADS_1
aku memilih pergi ketaman untuk menenangkan diri
jeni adalah wanita yang haus akan uang,dia bahkan rela melakukan apapun demi uang,bahkan sekarang dengan anak sendiripun dia menjajakan tubuhnya
dan dengan senang hati dia melayani banyak pria demi uang
aku gagal menjadi ayah,uang yang kumiliki serasa tidak ada artinya,jika saja dulu aku tidak menerima tawaran taruhan itu,mungkin aku bisa bertemu dengan wanita baik baik,dan arka tidak akan mempunyai ibu seperti jeni
atau.....
jika saja,aku tidak terlalu sibuk,dan punya banyak waktu dengan arka,mungkin tidak ada kejadian seperti ini
nasi yang sudah menjadi bubur
drtttt......resa menelpon
"ya sayang..."
(om,nggak papa?)
"om baik baik saja"
(bang arka,gimana?)
"dia juga baik baik saja"
"oh ya res,apa ayahmu dirumah?"
(ada om,ayah sedang menonton tv)
(tapi ini sudah jam sepuluh om)
"ada hal penting,yang harus om bicarakan pada ayahmu"
(oh baiklah)
tittt...kebiasaan ini anak,langsung menutup tlp tanpa salam dulu
akupun bergegas kerumah yusuf,aku sudah bulatkan niatku,untuk pergi untuk sementara waktu dulu
"assalammualaikum"
"walaikumsalam,masuk"
"sorry suf,gue datang malam malam"
"nggak papa,kayak yang nggak pernah ngrepotin aja loe"
aku tersenyum,yusuf memang orang baik,bahkan putraku seperti itu,tapi dia tetap tersenyum padaku
"pertama gue minta maaf atas anak gue,maaf sekali,gue gagal mendidik anak gue,gue bener bener nggak nyangka dia seperti itu,bahkan lebih gila lagi dengan emaknya sendiri,gue merasa gagal menjadi bapaknya,gue pikir setelah kejadian anita,dia akan bertaubat,tapi ternyata...dia turunan jeni,mungkin sifatnya seperti jeni"
yusuf tersenyum padaku,sambil menepuk bahuku
"dia mungkin turunan jeni,tapi dalam hal kerja keras,dia sepertimu,tidak mengenal lelah,...dia juga sudah dewasa,jika harus minta maaf itu harusnya dia yang datang,bukan loe,loe bukan gagal,tidak mungkin kita sebagai orang tua akan mengawasi anak kita dua puluh empat jam, dia sudah besar,dia sudah bisa berfikir,bukan kita yang gagal,tapi dia yang gagal pada dirinya sendiri...tidak usah merasa bersalah,ini sudah takdir,beruntung mereka belum nikah negara,jadi memudahkan mereka untuk berpisah"
__ADS_1
yusuf memang sangat bijak dalam menangani masalah,itulah kenapa aku sangat lama bisa berteman dengannya
"suf....gue akan menenangkan diri,gue akan masuk pesantren,gue minta loe handle perusahaan dulu,papa baru keluar rumah skaut jadi tidak mungkin aku minta tolong pada beliau,besok pagi pagi sekali gue akan berangkat,gue titip perusahaan,mungkin dua atau tiga tahun,kalau ada yang penting,loe bisa hubungi gue,ini no baru gue,gue mau mulai semuanya dari awal,minta doanya dari loe"
akupun menyerahkan no baru yang tadi aku beli pada yusuf,nomor baruku hanya untuk orang dekat dekat saja,tapi tidak dengan arka,biarlah dia merenungi sendiri kesalahannya
kulihat yusuf manggut manggut,dan menerima kertas yang kuberikan
"hati hati,gue cuma bisa kasih doa buat loe"
"gue pamit,karna masih harus siap siap"
akupun segera keluar dari rumah yusuf
dan langsung menghidupan roda epatku dengan ringan
drttttt....resa menelpon
darimana dia tau nomor baruku...aku tersenyum sendiri
"ya sayang..."
(ih,om ko jahat...malah mau pergi,mana aku nggak dikasih nomornya lagi)
kurasa dia sudah memajukan bibirnya beberapa centi
aku yang dulu berharap dia segera mengandung benihku,sekarang berharap dia jangan dulu hamil,karna aku membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun untuk diriku sendiri
"ini kamu dapat"
(tadi ayah,lagi ngambil minum,terus aku langsung foto kertasnya dan kusimpan deh)
aku tersenyum olehnya
"tunggu om tiga tahun lagi,kamu mau kan?biarkan om bisa menjadi laki laki yang mengetahui agama dulu,baru om akan mempersuntingmu"
(jadi om beneran mau kepesantren?"
"iya...om mau menenangkan diri dulu,doakan om ya?"
(aku selalu doakan om,dipesantren mana?nanti kalau aku kangen biar aku samperin)
"kalau kamu samperin,yang ada om tidak akan betah disana"
(hahahhaha ya sudah deh,kalau keputusan om kayak gitu,aku juga mau sekolah dulu,terus punya butik dulu,biar nanti kalau nikah sama om,aku nggak bodoh bodoh banget,minimal sudah ngerti bisnis dikit dikit)
"om doakan semoga keinginanmu terkabul sayang"
(hati hati ya om,aku boleh tlp kan kalau sudah disana?)
"boleh,...ya su......"
tittttt...nah lagi....
biarlah,aku juga harus pulang untuk meminta ijin papa dan mama dulu
__ADS_1