
pov resa
setelah om hamka menelpon dan berpamitan akan kepesantren,akupun bertekad akan mengubah hidupku
aku akan belajar dengan rajin,hingga aku mempunyai nilai tinggi untuk membahagiakan ayah dan ibu,aku tak ingin membuatnya kecewa lagi dengan nilai nilaiku,yang sebagian besar selalu saja merah,bahkan nilai tertinggiku selalu saja enam lima,seperti yang om hamka katakan,aku akan menunggunya dengan selalu berdoa,semoga dia tidak jatuh cinta pada santriwati sana,karna akupun tidak akan jatuh cinta lagi dengan lelaki manapun,cukup om hamka,karna dia juga yang sudah ambil keperawananku
setahun kemudian
aku sudah lulus sma,dan hal yang tidak kusangka sangka,sirendi menembakku saat acara wisuda,aku bingung harus menjawab apa,jadi aku minta waktu seminggu,untuk tidak bertemu dengannya dulu,agar aku tau bagaimana perasaanku,diapun menyetujuinya
om hamka tidak bisa kuhubungi,bahkan dia juga tidak menghubungiku sama sekali,menjadikan aku pasrah dengan hubungan ini,tapi aku berfikir tidak mau mengurusi cinta dulu,aku harus masuk keperguruan tinggi di dunia fashion
seperti setahun terakhir ini,walau aku galau karna tidak bisa berkomunikasi dengan om kesayanganku itu,tapi duniaku dialihkan oleh belajar dan belajar,bahkan jika dulu aku sering main dengan rendi,maka selama setahun ini aku hanya akan sibuk dikamar dengan buku buku yang yang kubaca
ayah mengijinkan aku menekuni dunia fashion dengan syarat,aku harus masuk tiga besar,itu adalah hal yang sangat sangat susah untukku,dengan otak yang pas pasan,serta aku yang terbiasa diperingkat tiga dari belakang,harus menjadi tiga dari depan,dan dari semua kelas lagi
maka dari itu,aku mengubah semua kebiasaan hidupku,tapi aku tetaplah aku,otakku tidak mampu menyaingi mereka yang berotak encer nan pintar
aku hanya mampu berada di peringkat sembilan dari semua kelas...
walau begitu ayah dan ibuku sangat bangga padaku,jadilah aku tidak masuk kuliah karna tidak tau mau jurusan apa,kalau hanya bantu bantu ibu,aku sudah menguasai semua bahan bahan kue ibu,bahkan aku sudah hapal dalam membuat kue
ayah menyarankan aku untuk mengambil jurusan lain,tapi aku menolaknya,aku lebih memilih membantu ibu saja mengurus usahanya,tapi aku meminta ijin ayah jika sore hari aku ingin kursus menjahit,dan ayah mengijinkanya
setelah tiga bulan kursus aku sudah mahir dalam menjahit,setiap aku diberi uang oleh ibu,maka aku akan membelanjakan bahan untuk kubuat experimen,dan aku jajakan di aplikasi merah hati itu,alhamdulillah banyak pesanan,tapi karna waktu yang terbatas,aku tidak membuat banyak
pagi hingga siang aku membantu ibu,dan sore harinya aku pulang untuk menjahit,malam harinya aku gunakan untuk terus membuat model baju,karna sebagian besar yang kujahit adalah gamis dan jilbab
aku menyuruh rendi yang memasarkan di aplikasi,dan mengirim
aku juga menggunakan gudang belakang untuk menjahit
karna melihat aku yang sering lembur,akhirnya ibu menyuruhku untuk berhenti datang ke toko kue ibu,ibu menyuruhku untuk fokus menjahit saja,dan mengambil karyawan
kuikuti kata ibu,aku mengambil dua karyawan untuk menjahit,dan rendi tetap sebagai admin,karna memang aku hanya berjualan online saja
melihatku yang banyak pesanan,ayah membelikan aku tanah yang cukup untuk dibangun usahaku,pas sekali tetangga menjualnya,karna katanya anaknya harus masuk polisi,melihat kesempatan itu,ayah langsung menghubunginya
dan dari uang yang kuhasilkan dan uang dari ayah dan juga ibu,aku membangun ruko dua lantai,lantai bawah kubuat butik dan lantai atas kubuat menjahit
alhamdulillah aku sudah punya delapan orang karyawan yang menjahit,dan dua admin
__ADS_1
dan ada empat lagi yang mengawasi butik
aku hanya fokus untuk membuat model model saja,sedangkan menjahit aku serahkan sepenuhnya pada karyawanku dan untuk pemasaran aku serahkan pada anak mahasiswi yang bekerja paruh waktu
karyawanku sebagian besar adalah mahasiswi,mereka bekerja secara bergantian,hanya karyawan yang mengawasi butik yang bukan mahasiswi
jadilah lantai dua tidak pernah sepi,karna selalu ada mesin yang menyala
mereka bekerja dari jam sepuluh pagi hingga jam empat sore,dan sift kedua jam sepuluh hingga jam empat pagi
aku menjual semua baju dan kerudung hasil rancanganku sendiri,tidak ada rancangan sedikitpun dari luar,maka dari itu,aku tidak punya banyak model baju,mungkin hanya ada seratusan atau jika lebih hanya sedikit
tapi aku bersyukur sangat syukur,karna walau hanya sedikit model,tapi butik jarang sepi,dan onlinepun lancar,banyak juga mbak mbak tkw yang menjadi resellerku
ada yang taiwan,hongkong,singapura,korea
mereka menjajakan hasil rancanganku
memang tidaklah mewah,hargapun sangat ramah dikantong,hanya berkisar tiga ratus ribu sampai dua juta saja,sangat pas dikantong ibu ibu rumah tangga dan para wanita muslim diluar sana
karna usahaku yang seperti ini,membuatku sekarang selalu berpenampilan muslimah,aku selalu menggunakan gamis dan jilbab lebar,awalnya hanya untuk promosi,tapi lama lama aku nyaman,dan sekarang aku malu jika terlihat rambutku
kami bagaikan pasangan jika dilihat dari luar,bahkan karyawanku juga mengira jika rendi adalah kekasihku
saat lulus sma,rendi memang menembakku,dan aku meminta waktu seminggu,tapi setelah satu minggu,aku bahkan tidak punya kerinduan padanya,hanya rindu sebagai sahabat tidak pernah lebih,dan malam itu aku kirim pesan padanya karna sudah satu minggu berlalu
"aku menolakmu"
singkat padat dan jelas,dia langsung datang kerumahku dengan menaruh kedua tangannya dipinggang
dan berdiri didepan pintu
"ada apa rendi,kenapa kau menteteng seperti itu?" tanya ayah,yang memang sudah pulang kerja
dan kami sedang makan bersama
"ayah...seminggu yang lalu aku menyatakan cinta pada anak ayah,apa ayah tau balasannya?"
kulihat ayahku menggeleng dengan tawa yang ditahan
sedangkan aku masih menikmati sup ceker kesukaanku,tanpa menghiraukannya
__ADS_1
aku memang tadi mengirim pesan padanya,sambil menunggu ibu menyiapkan sambal bawang
"lihat ini yah..." dia menyerahkan hpnya pada ayah
seketika ayah tertawa terbahak bahak,dan ibu mengambil alih hp itu dan ikut tertawa terbahak bahak
"kenapa kalian malah tertawa seperti itu? aihh ayah tidak mendukung hubunganku?
apa ayah dan ibu tidak ingin punya menantu sepertiku? aku tampan ayah dan pekerja keras"
ayah menghentikan tawanya
"kalian besar bersama,akan canggung jika pacaran,iya kalau jodoh,kalau tidak? akan lebih canggung lagi,sudahlah sahabatan aja"
rendi memberengut
"ibu....aku mau makan...."
"kalau kalian putus,tidak akan ada acara seperti ini,percayalah,sahabatan jauh lebih indah,toh siresa belum mikirin nikahan,kamu tetap anak ibu dan ayah walaupun tanpa harus jadi menantu kami"
rendipun akhirnya diam dan mulai makan
kini,giliran aku yang berkacak pinggang melihatnya
"lapar atau doyan sih loe,ceker gue diembat semua,ibu cuma masak setengah kilo,isinya paling cuma sepuluh,gue baru ambil dua,kenapa udah nggak ada? lagian loe makan apa tulangnya juga dimakan?sono balik,ngasih duit nggak,ngabis abisin makanan aja"
"gue makan cepet juga karna loe,tapi gue juga laper"
"itu ayam goreng cuma dua,kasih gue satu,atau jangan ambil,loe makan yang lain"
"gue yang ambil duluan bego"
"sambal juga diabisin,loe bener bener ya...pulang sono"
"sudah sudah,kalian ini kalau makan ribut melulu,gimana mau pacaran"
ayah menengahi seperti biasanya
karna sudah tidak sabar lagi,kuseret tangan dia untuk kepintu keluar,dan langsung kutendang pantatnya
ayah dan ibu hanya geleng geleng melihat tingkah kami
__ADS_1