Selingkuh Dengan Sopir Pribadi

Selingkuh Dengan Sopir Pribadi
Dihantam Masalah


__ADS_3


"Masalah aku belum sempat menyatakan perasaanku dengannya Gwen!" timpal Glen sambil menikmati potongan buah yang disiapkan oleh adik kembarnya itu.


"Jika nanti aku sudah menyatakan perasaanku dan dia menolaknya, maka aku akan mundur dan mencoba untuk membuka hatiku kepada wanita lain!" jelas Glen.


"Trus kapan dong Glen? Aku capek loh back up kamu terus selama di kantor. Yaaah, meskipun semua kerjaan tetap kamu yang ngerjain!" timpal Gwen.


"Secepatnya, Gwen. Bersabarlah sebentar lagi! Kamu tahu kan, keadaannya yang terkena stroke, justru membuatnya ditinggal selingkuh oleh suaminya."


"Woow! Jangan bilang kalau kali ini kau sedang mengambil peluang untuk menjadi perebut bini orang!" tebak Gwen membuat Glen tertawa terpingkal-pingkal.


"Tebakan mu sangat jitu!" Glen pun kemudian menceritakan apa yang sudah ia lalui tadi malam.


Gwen langsung tidak setuju jika Glen masih meneruskan kisah cintanya untuk Reyna karena ini terlalu berbahaya.


Namun Glen tetap menjelaskan dengan adiknya jika ia akan terus mawas diri dan berhati-hati.


"Aku benar-benar masih sulit untuk berpaling dari Reyna. She Is my first love at the first sight."


"Dan kamu tahu kan, First love Is never die, Gwen!" tukas Glen membuat adiknya membuang nafasnya kasar.


"Terserah kamu aja deh! Oh, iya Glen. Papa sama Mama kemungkinan akan dateng setelah urusan bisnis di China dan stay beberapa bulan di Indonesia."


"Setelah semuanya beres, mereka akan kembali lagi ke Jerman!" tutur Gwen memberikan informasi.


"Kapn kira-kira mereka akan datang?" tanya Glen yang mulai memperhitungkan waktunya.


"Kemungkinan minggu depan! Jadi, jangan sampe kamu kabur-kaburan lagi kayak gini!"


"Okey, aku akan mengurus izin kalo begitu dengan Reyna!" tukas Glen.


Setelah puas menjenguk saudara kembarnya, kini Gwen pun memberikan waktu istirahat kepada Glen dan ia langsung bergegas untuk menuju ke kantor.


Sedangkan di sisi lain Tedjo kini sedang kalap saat mendapatkan laporan dari nak buahnya jika Mawar masih belum meninggal.


"Apa kata kalian?!" pekik Tedjo dengan mata yang membelalak sempurna. "Mawar masih hidup?!"


"Benar, Tuan. Padahal saat tadi di kamar mayat, kita benar-benar mengecek jika Mawar sudah meninggal dunia."


"Tapi saat jenazah hendak dimandikan, petugas pemulasaran jenazah memberi kabar jika mayat masih terdeteksi denyut nadinya."


"Akhirnya Mawar langsung dibawa ke ruang ICU untuk diberi tindakan lebih lanjut lagi!"

__ADS_1


Penjelasan anak buahnya membuat Tedjo sangat gusar. Ia langsung memikirkan cara agar polisi tidak mendeteksi kejahatan yang telah ia lakukan.


Kali ini Tedjo mengalami kerugian yang besar. Bagaimana tidak? Salah satu anak buahnya sudah mengaku jika ia adalah kekasih dari Mawar.


Tentunya hal ini membuatnya terikat dengan rumah sakit dan menjadi penanggung jawab biaya rumah sakit.


"Kita harus bergerak dan berupaya agar Mawar tidak selamat!" ucap Tedjo.


Tedjo pun langsung membagikan bayaran untuk anak buahnya dan kemudian langsung menghubungi Bram untuk memberitahukan masalah ini kepada Bram.


"Halo Pak Bos! Ternyata Mawar masih bertahan hidup saat hendak dimandikan! Kini dia langsung dipindahkan ke ruang ICU untuk diberi tindakan lebih lanjut!" jelas Tedjo yang membuat Bram naik pitam.


"Aku tidak mau tahu! Bagaimana pun caranya kalian harus membereskan masalah ini dengan baik dan tanpa bekas sedikit pun!" gertak Bram di ujung panggilan.


"Bukankah aku sudah membayar kalian dengan biaya yang besar!"


"Benar Pak Bos! Tapi masalahnya, siapa yang akan mencover biaya perawatan Mawar di ruang ICU? Apalagi data salah satu anak saya sudah ada di rumah sakit!"


Bram pun memijit kepalanya yang terasa semakin sakit. Jika ia tidak mencover biaya rumah sakit Mawar, sudah pasti kebusukannya akan semakin tercium oleh polisi dengan tuduhan melenyapkan nyawa orang.


Namun keadaan keuangannya benar benar sangat tipis saat ini. Terlebih lagi dia belum mendapatkan maaf dari istrinya sendiri.


"Okey, aku sendiri yang akan mencover biaya rumah sakit. Aku yang akan datang dan mengaku sebagai kerabatnya."


"Urusan kita kali ini sudah selesai, Tedjo!" tegas Bram yang sudah tidak sanggup lagi untuk membayar Tedjo.


Setelah panggilan terputus, Tedjo langsung mengirimkan dimana posisi Mawar berada.


Kini Tedjo sudah terbebas dari masalah Mawar dan bisa menikmati hasil kerja kerasnya semalam.


Sedangkan masalah yang dihadapi oleh Bram justru semakin rumit.


"Aaarrrggghhhh! Siaaaaaaal!" umpat Bram sambil berteriak sekencang-kencangnya.


"Kenapa masalah terus saja berdatangan seperti ini?!" rutuk Bram sambil tersungkur di lantai.


Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering dan kali ini adalah panggilan dari Papa Mertuanya.


"Papaaa!" pekik Bram sambil mengatur nafasnya dan menerima panggilan dari Pak Hirata.


"Halo, Papa. Apa kabar?" tanya Bram saat panggilannya sudah tersambung.


"Baik Bram. Kamu dan Reyna apa kabar?" tanya Pak Hirata.

__ADS_1


Selama hampir tujuh bulan mengelola bisnis di China, Bram dan juga Reyna sepakat untuk tidak menceritakan tentang keadaan Reyna yang terkena stroke.


Keduanya terlihat selalu bahagia setiap mendapatkan panggilan dari Pak Hirata.


"Baik juga papa!" jawab Bram.


"Syukurlah, Bram. Oh iya, Papa akan kembali ke Indonesia minggu depan. Tapi papa minta kamu rahasia kan ini dari Reyna. Papa ingin memberikan surprise untuknya!" ucap Pak Hirata membuat Bram sesak dibuatnya.


Hari ini banyak kabar yang menghantamnya bertubi-tubi hingga membuatnya tidak bisa berkutik.


Karma kini sedang berlaku untuk Bram yang telah mengkhianati cinta tulus dari Reyna. Kepalanya terasa semakin pusing dan ia hanya bisa menjawab singkat penutupan papa mertuanya.


"Baik papa. Bram akan merahasiakan ini dari Reyna."


Setelah panggilan terputus, Bram langsung terjatuh di lantai dan tidak sadarkan diri.


Mbok Darmi yang melihat tuannya terkapar pun langsung memanggil satpam untuk segera membantunya mengurusi P Bram. Sedangkan Mbok Darmi langsung menelfon ambulance rumah sakit untuk segera datang


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Mbok Darmi berusaha membantu memulihkan kesadaran Tuannya. Sayangnya usahanya sama sekali tidak berhasil.


Bram langsung diberikan penanganan di Unit Gawat Darurat. Kini mbok Darmi mulai bingung memikirkan pembayarannya.


Akhirnya ia pun menghubungi nomor ponsel Glen untuk menanyakan dimana Reyna dirawat.


Setelah mendapatkan alamat kamar Reyna, Mbok Darmi langsung menuju ke ruang rawat inap Reyna dan memberitahukan tentang kondisi Pak Bram.


"Non Reyna!" panggil Mbok Darmi saat sudah masuk ke dalam ruangan Reyna.


"Mboooook!" panggil Reyna sambil merentangkan kedua tangannya.


Mbok Darmi pun langsung mendekati Nona mudanya itu dan membalas pelukannya.


"Siapa yang membawa mbok kemari?" tanya Reyna kemudian.


"Pak Bram tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri Nona! Jadi tadi saya langsung memanggil ambulance dan membawanya ke rumah sakit!"


"Dan kini saya bingung untuk biaya admistrasinya, Nona!" ucap mbok Darmi sambil menyerahkan kwitansi yang harus ia bayarkan di depan.


Reyna pun langsung membayar bill tersebut lewat m-banking yang ada di ponselnya dan mengirimkan bukti transfernya kepada Mbok Darmi.


"Sudah saya bayarkan Mbok. Tapi kalau boleh tahu, kenapa Mas Bram bisa jatuh pingsan?" tanya Reyna.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Sambil menunggu cerita selanjutnya, mampir yuk ke Novel bestie aku.



__ADS_2