Selingkuh Dengan Sopir Pribadi

Selingkuh Dengan Sopir Pribadi
Kesempatan Kedua


__ADS_3

“Kalau begitu, saya permisi dulu ya Nona! Surat cuti akan saya hantarkan besok pagi!” ucap Glen sambil menundukkan kepalanya dan undur diri.


Sayangnya saat Glen baru saja berbalik dan siap untuk melangkahkan kakinya ke luar ruangan, Reyna justru menahannya untuk tidak pergi. “Jangan pergi dulu, Glen!”


“Aku belum menyetujui permintaan cutimu!” jelas Reyna membuat Glen pun berbalik lagi.


Reyna mencoba untuk turun dari bednya dan mengajak Glen untuk duduk di sofa.


“Sebenarnya apa yang membuatmu mengajukan cuti?” tanya Reyna saat mereka berdua sudah sama-sama duduk di sofa.


“Emm, saya masih harus fokus mengerjakan tugas saya dan bolak balik ke kampus untuk mengajukan bimbingan penelitian, Nona!” jawab Glen dimana setiap harinya ia memang bekerja di kampus miliknya sendiri.


“Jam berapa kamu mulai ke kampus dan jam berapa kamu pulang?” tanya Reyna.


“Jam 8 pagi saya sudah harus sampai di kampus dan jam 5 sore pekerjaan saya sudah selesai!”


“Okey, malam harinya kamu bisa kan kasih terapi saya?” tanya Reyna membuat Glen terdiam sesaat untuk merangkai kalimat guna menjawab pertanyaan dari Reyna.


“Saya masih membutuhkan terapi dari kamu, Glen. Bahkan jika kamu mau, kamu juga bisa ikut tinggal di Mansion dan tidak perlu pulang pergi dari rumahmu!” jelas Reyna yang mulai merasa nyaman dengan kehadiran Glen di dekatnya.


Selama ini Glen hanya datang ke Mansion saat Reyna butuh untuk di antar terapi atau minta dibawakan berkas dari kantor yang harus ia cek di rumah.


“Kamu juga bisa bawa mobil saya ke kampus kok Glen!” lanjut Reyna lagi yang berharap Glen mau menerima tawarannya.


Glen menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Emmm, jadi Anda berencana mengganti tugas saya sebagai sopir menjadi seorang terapis ya nona?” tanya Glen dengan sedikit terkekeh pelan.


“Aku mohon janga ditolak, Glen! Aku membutuhkanmu!” ucap Reyna.


Kini Glen menjadi tidak tega untuk meninggalkan Reyna begitu saja. Ia pun akhirnya berpikir untuk mencoba mengatur waktunya.


“Emm, begini saja Nona. Bagaimana jika saya akan datang selepas dari kampus dan memberikan terapi untuk Anda. Selepas itu, malamnya saya akan kembali pulang ke rumah!” tutur Glen memberi keputusan.


“Apa kau tidak lelah Glen? Aku butuh terapi setiap hari!” timpal Reyna yang masih berharap agar Glen bisa tinggal di Mansionnya.


“Tidak masalah, Nona. Bagaimana?”


“Baiklah!” jawab Reyna menyerah. Aku menantikanmu besok malam Glen!” balas Reyna.


Glen pun setuju dan langsung undur diri. Sedangkan Reyna hanya bisa memandangi punggung Glen yang bergerak menjauhinya.


🍄🍄🍄


Malam harinya, Kondisi Bram sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia pun meminta perawat untuk melepas infusnya dan menuju ke kamar Reyna. Kedatangan Reyna kali ini sama sekali tidak mendapat penolakan dari Reyna seperti sebelumnya.

__ADS_1


Hal ini tentunya membuat Bram sedikit bisa bernafas lega. Ia pun semakin berani melangkahkan kakinya mendekati istrinya yang kini tengah menikmati buah pear kesukaannya.


“Reyna!” panggil Bram dengan suara khasnya yang terdengar sedikit serak.


Kedatangan Bram kemarin yang berujung dengan terkenanya Glen oleh lemparan gelas kaca Reyna membuat Bram merasa sangat bersalah. Ia semakin kikuk untuk mendekati istrinya sendiri.


Mbok Darmi yang baru saja membantu memotongkan buah pear pun langsung pamit untuk keluar memberikan waktu mereka berdua untuk bercengkerama.


“Sekali lagi maafkan aku, Reyna. Aku benar-benar menyesal dengan apa yang sudah aku perbuat denganmu!” tutur Bram sambil duduk di samping bed Reyna.


“Aku ingin berubah dan tidak lagi mengulangi kesalahanku, Reyna. Aku mohon maafkan aku kali ini!” pinta Bram dengan sungguh-sungguh.


“Beri aku kesempatan kedua dan aku akan memperbaiki dan juga menebus semua kesalahanku di masa yang lalu!”


Permintaan Bram kali ini langsung dijawab singkat oleh Reyna. “Aku sudah memaafkan semuanya!”


 Bram sangat terkejut saat mendapati istrinya yang sangat udah untuk memaafkannya.


Ia pikir Reyna akan sulit untuk memberinya maaf dan kesempatan kedua, tapi ternyata dugaannya salah besar.


'Sepertinya Reyna sangat tidak tega mendengarku jatuh pingsan sampai harus dibawa di rumah sakit!' gumam Bram dalam hati.


'Syukurlah! Aku tidak perlu lagi berpusing-pusing ria mencari cara untuk mendapatkan maaf dari Reyna!'


"Terima kasih sayang. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu dan membantumu pulih sampai sedia kala."


Reyna sama sekali tidak membalas pelukan dari Bram sedikit pun. Rasanya sudah benar-benar hambar saat suaminya memeluknya dengan hangat.


Perlahan ia pun melepaskan pelukan dari Bram dan kemudian memilih untuk merebahkan tubuhnya.


"Sebentar lagi aku akan pulih, Mas! Terapi yang diberikan oleh Glen kemarin memberi perubahan yang besar untukku!" jelas Reyna.


"Maksudnya?" tanya Bram sambil mengernyitkan dahinya.


Reyna pun menggerakkan kakinya yang kemarin sempat tidak bisa digerakkan.


"See! Kakiku sudah bisa digerakkan lagi. Kata dokter, Glen masih harus memberikan terapi dengan rutin agar aku bisa kembali pulih seperti sedia kala."


Bram langsung bernafas lega mendengar penjelasan dari istrinya. Ia tidak perlu lagi merahasiakan Reyna yang sempat terkena stroke sejak enam bulan yang lalu kepada papa mertuanya.


Sudah pasti papa mertuanya mengira jika anaknya baik-bak saja saat ia tinggal mengurus bisnis di China.


"Aku benar-benar sangat senang mendengarnya, sayang! Maafkan aku jika kemarin aku sempat cemburu saat melihat kalian..."

__ADS_1


Belum selesai Bram berbicara, Reyna sudah memotong kalimatnya.


"Yang kemarin itu aku hanya terjatuh saat Glen mengajariku berjalan dan untungnya dia menangkap tubuhku dengan baik!" jelas Reyna membuat Bram merasa semakin lega.


Kini Glen tidak lagi menjadi selulit dalam hidupnya. Tinggal ia harus tetap membiayai Mawar yang kini tengah dirawat di ICU.


"Kalau begitu biarkan saja Glen tinggal di Mansion kita kan, sayang?" tukas Bram.


"Aku sudah memintanya untuk tinggal di Mansion-Ku!" balas Reyna menekan kalimat kepemilikan di ujung ucapannya.


"Tapi sayangnya Glen menolak karena akhir-akhir ini dia sangat sibuk!"


"Lalu, bagaimana dengan terapinya?" tanya Bram kemudian.


"Ia akan datang setiap malam untuk memberikan terapi untukku!"


"Kalau begitu aku tidak akan mengganggu kalian berdua untuk terapi dan akan fokus untuk mengurus pekerjaan kantor di ruang kerja!" timpal Bram.


🍄🍄🍄


Keesokan harinya, Reyna sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Bram dengan sigap membereskan semua barang milik Reyna dan membawanya pulang kembali ke Mansion.


Sepanjang perjalanan, Bram terus saja berusaha memberikan perhatian khusus untuk istrinya.


Mulai dari diam diam menggenggam tangan Reyna dan mengecup insya, memuji kecantikan istrinya, bahkan saat mobilnya berhenti, ia mulai memberanikan dirinya mengecup pipi istrinya sekilas.


Sayangnya Reyna hanya diam sambil memaksakan senyumannya ke arah Bram.


Reyna Hirata's Point of View.


Aku melihat kesungguhan Mas Bram yang ingin berubah menjadi baik dan serius memulai hubungannya denganku dari awal.


Bahkan ia benar-benar berubah menjadi lebih hangat dan perhatian dibandingkan sebelumnya.


Bahkan perhatian yang ia berikan sama persis seperti saat kita berdua menyandang seperti pengantin baru.


Tapi mengapa aku justru merasa sangat hambar dengan perlakuan hangatnya itu?


Aku seperti sudah mati rasa terhadap suamiku sendiri, padahal dia sudah minta maaf dan menyesali perbuatannya.


🍄🍄🍄


Sambil menunggu cerita selanjutnya mampir yuk ke Novel bestie aku

__ADS_1



__ADS_2