
Bram dengan geram mengemudikan mobilnya pulang ke rumah. Bayangan kedekatan Glen dengan Reyna terus saja menari-nari di pelupuk matanya.
"Argh! Sial! Aku benar-benar tidak rela istriku jatuh ke pelukan sopir bodoh itu!" gerutu Bram sambil memukul-mukul setir mobilnya.
Tak lama kemudian, Bram tiba di rumahnya. Ia ingin segera berendam untuk mendinginkan amarahnya kali ini.
Namun saat ia keluar dari mobil, betapa terkejutnya ia saat melihat Mawar tengah menunggu kedatangannya dengan duduk di kursi teras rumahnya.
"Oh My God! Apa yang sudah kau lakukan di sini Mawar?" tanya Bram sambil mengusap wajahnya kesal.
Mawar dengan santainya langsung menyambut kedatangan Bram dan melingkarkan tangannya di leher Bram dengan manja.
"Tentu saja untuk menyambutmu pulang Mas! Aku tahu kau pasti sangat lelah bukan?"
Bram dengan kesal melepaskan tangan Mawar yang melingkar di lehernya. "Bukankah aku sudah menyuruhku untuk pulang ke apartemen? Kenapa kau kembali lagi ke sini Mawar?"
"Kau tahu bukan, keadaan saat ini sedang genting saat Reyna memergoki kita berdua tengah bermain di kamarnya."
"Aku tahu sayang, tapi kan sekarang Reyna masih dirawat di rumah sakit. Jadi aku masih bebas dong untuk tinggal di kamar kalian Mas!" balas Mawar.
Kali ini Bram malas untuk menanggapinya. Ia pun langsung masuk ke dalam dan diikuti oleh Mawar. Keduanya langsung menaiki anak tangga.
Namun sebelumnya, Mawar berteriak memanggil mbok Darmi untuk minta disiapkan makan malam dan dibawakan ke kamar utama.
"Mbok! Tolong siapkan makan malam untuk kita dan langsung bawa ke kamar utama!"
Titah Mawar yang terdengar sangat semena-mena membuat Mbok Darmi tidak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya.
"Baik Non!"
Mawar pun langsung menyunggingkan senyumannya saat mendengar jawaban dari Mbok Darmi.
"Aku benar-benar merasa seperti nyonya besar di sini. Huuuh! Aku doakan kau cepat mati, Reyna. Dan seluruh hartamu menjadi milik Mas Bram!"
"Dan akuuu... Akan menjadi Nyonya Bram, pemilik Hirata Group!" gumam Mawar dengan khayalannya yang begitu tinggi.
Sesampainya di kamar, Bram sudah masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam.
__ADS_1
Mawar sendiri tidak ambil pusing dengan itu meskipun biasanya mereka berdua selalu menghabiskan waktu mereka untuk bercinta saat mandi.
Ia justru berjalan menuju ke walking closet dan mencari baju tidur milik Reyna yang akan ia kenakan malam ini.
Kini Mawar memilih l!nger!3 merah cabe milik Reyna dan langsung mengganti pakaiannya.
Tiga puluh menit kemudian, pintu kamar mandi mulai terbuka. Tampak Bram keluar mengenakan kaos dan celana pendeknya dengan tampilan wajah yang segar.
Suaranya langsung tercekat saat melihat Mawar dari belakang tengah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
"Re-Reyna!" panggil Bram dan Mawar pun langsung menoleh ke arahnya.
"Ini aku Mas. Aku memang sengaja memakai baju Reyna karena kebetulan aku tidak membawa baju dari apartemen!" balas Mawar membuat Bram menghela nafasnya panjang.
"Kali ini kau sudah kelewatan, Mawar! Tidak seharusnya kau lancang membuka lemari Reyna dan memakai bajunya!" gertak Bram dengan nada tidak suka.
"Loh, Mas Bram kok jadi marah sama aku? Aku hanya ingin memberi pelayanan yang baik untuk Mas! Tidak seperti Reyna yang sama sekali tidak bisa melayani suaminya sedikit pun!" balas Mawar.
"Stop, Mawar! Ini semua sudah keterlaluan! Aku justru akan kehilangan Reyna selamanya jika kau tidak tahu diri seperti ini!" gertak Bram yang kemarahannya sudah di ubun-ubun kepala.
"Bukankah itu yang kita berdua inginkan, Mas? Reyna akan meregang nyawa dan kita berdua akan menikmati harta peninggalannya!" timpal Mawar membuat Bram semakin kalap.
Plak!
Deg!
Ucapan Bram kali ini membuat air mata Mawar langsung jatuh membasahi pipinya
"Apa katamu, Mas?" tanya Mawar sambil berurai air mata.
"Aku mencintai Reyna, istri sahku! Dan mulai saat ini, aku memutuskan hubungan denganmu, Mawar!"
"Aku sadar jika aku telah bodoh karena terus menjalin hubungan gelap denganmu, padahal ada Reyna yang sangat sempurna di sisiku!" ucap Bram.
"Haaah?! Sempurna katamu?! Wanita lumpuh tidak berdaya itu kau sebut sempurna mas?" tanya Mawar dengan nada meremehkan.
"Di mana akal sehatmu, Mas Bram? Selama enam bulan ini hanya aku yang bisa menjadi pelampiasan hasrat mu!"
Plak!
__ADS_1
Tamparan Bram kembali mendarat di pipi Mawar sampai ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Jika bukan karenamu yang membuat Reyna terpeleset sampai jatuh di tangga, dia tidak akan mengalami hal ini Mawar!"
"Sekarang lebih baik kau mengganti pakaianmu dan keluar dari kamarku! Pulanglah ke apartemen mu atau aku akan melaporkan ke polisi atas tuduhan telah mencelakai istriku!" ancam Bram.
Mawar pun kini tidak bisa berkutik lagi, ia langsung mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar. Namun sebelum ia keluar, ia berbalik dan memberi ancaman yang serupa dengan Bram.
"Mas Bram, kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, Maka Reyna juga tidak berhak atas dirimu."
"Malam ini aku beri waktu agar kau bisa berfikir lebih tenang, namun besok jika kau masih bertekad untuk mengakhiri hubungan kita, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa lagi menginjakkan kakimu di Mansion mewah ini!"
"Karena aku akan membeberkan hubungan kita berdua di sosial media, grup chat kantor, dan juga Pak Hirata! Jangan lupa, aku sudah lama menyimpan nomor ponselnya di HPku!" ancam Mawar sambil pergi dan menutup pintu kamar sekuat tenaga.
"Aarrgghhh! Ini benar-benar sial! Aku tidak boleh diam saja. Aku harus segera bertindak sebelum aku kehilangan semuanya!" gumam Bram sambil mengusap wajahnya kasar.
Ia pun langsung mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang yang sekiranya bisa membantu permasalahannya.
"Halo, Tedjo! Aku punya tugas khusus untukmu! Apa kau bisa menemuiku malam ini?" tanya Bram saat panggilannya mulai tersambung.
"Bisa saja, asalkan bayarannya juga sepadan Pak Bram!" balas Tedjo di ujung panggilan.
"Don't worry about it! Kalau begitu kita bertemu di Club malam seperti biasa. Bagaimana?" tawar Bram.
"Okey, tiga puluh menit lagi aku akan sampai di sana!" balas Tedjo dan panggilan pun tertutup.
Bram langsung bergegas memakai celana panjangnya dan kemudian menyambar jaketnya. Selepas itu ia menuruni anak tangga.
Namun saat sampai di tangga paling bawah, tampak Mbok Darmi baru dari luar dan menutup pintu dari dalam.
"Dari mana mbok?" tanya Bram.
"Menemani Non Mawar memesan taksi online, Tuan!"
"Ohh, baguslah jika dia sudah pulang. Tolong jangan dikunci pintunya karena kemungkinan aku akan pulang malam!" titah Bram.
"Siap Tuan!"
Bram pun bergegas keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya menuju ke tempat yang sudah ia sepakati dengan Tedjo.
__ADS_1