
Keesokan harinya, Glen sudah tiba di Mansion Reyna sebelum jam tujuh pagi. Ia sengaja datang lebih awal karena ingin mengabarkan tentang percakapannya dengan BrigJen Teysar tadi malam mengenai kecelakaan yang dialami Bram dengan Keyra.
“Hai Glen!” sapa Pak Hirata. “Kau sudah siap saja sepagi ini. Bahkan Reyna juga kemungkinan masih mandi!”
“Oh, tidak masalah Pak Hirata. Saya hanya ingin menyampaikan saja jika semalam saya sudah menemui BrigJen Aris dari Kapolda mengenai masalah kecelakaan yang melibatkan Keyra dan juga Bram!”
Ucapan Glen kali ini membuat Pak Hirata langsung tertarik untuk mendengarkannya. “Oh yaa? Lalu bagaimana responnya?” tanya Pak Hirata.
“BrigJen Aris akan membantu mengusut masalah ini karena beliau sendiri menduga jika ini murni disengaja oleh Bram yang berusaha menabrakkan dirinya di mobil yang dikendarai oleh Keyra. Hari ini mereka akan mulai berpencar mencari saksi ataupun bukti!” jelas Glen membuat Pak Hirata senang bukan main.
“Terima kasih banyak Glen! Papa semakin mantap menjadikanmu sebagai menantu!” timpal Pak Hirata yang sudah menyebutkan dirinya sebagai papa mertua Glen.
Tak lama kemudian, terdengar dua orang datang dan mengucapkan salam di pintu Mansion. Pak Hirata dan juga Glen pun serentak menoleh ke arah pintu.
Tampak sosok Bram dan juga Mawar berdiri di sana tanpa saling berpegangan tangan atau bersentuhan. Pak Hirata pun menjawab salam mereka.
Tanpa disangka-sangka sebelumnya, Mawar langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam Mansion dan langsung duduk di samping Glen sambil bergelayut manja di lengannya. Pemandangan ini tidak lepas dari perhatian Reyna yang baru saja keluar dari kamarnya.
Sedangkan Glen sendiri berusaha untuk melepaskan tangan Mawar yang tengah memeluknya. Namun, usaha Glen sama sekali tidak membuahkan hasil karena Mawar semakin berani menggesekkan lengan Glen ke dadanya.
Tidak hanya itu, ternyata Mawar datang dan sengaja tidak mengenakan br4. Tentunya hal ini membuat miliknya seperti tersentuh langsung dengan lengan Glen, apalagi ujungnya sudah berdiri sempurna.
Reyna sangat tidak terima melihat Glen yang dipeluk manja oleh Mawar. Ia pun bergegas mempercepat langkahnya untuk menuruni anak tangga.
”Glen, aku sangat merindukanmu! Kenapa kau tidak datang lagi untuk menjengukku dan anak kita?” tanya Mawar.
Plak!
Tamparan keras dari Reyna langsung mendarat di pipi Mawar dan meninggalkan bekas kemerahan di sana. Kesempatan ini langsung digunakan Glen untuk melepaskan diri dan menjauh dari Mawar.
__ADS_1
“Hei j4l4n9 karatan! Sebegitu murah dan gatalnya kamu sampai tidak puas dengan satu lelaki!” gertak Reyna dengan gusar.
Pak Hirata dengan sigap langsung memanggil satpam untuk membawa kedua tamunya yang tidak tahu diri ini keluar. Namun ternyata dua orang satpam yang berjaga di Mansion sudah dilumpuhkan oleh Bram dan mereka saat ini sedang terikat di gardu satpam.
Bram pun langsung tertawa terbahak-bahak saat Pak Hirata tidak mendapati satpamnya datang untuk mengusirnya. Kali ini dengan geram Glen langsung menyerang Bram dengan mendaratkan satu pukulannya tepat di perutnya.
“Kau semakin lama semakin berani ya Bram! Cepat keluar dari sini atau aku akan memanggil polisi komplek untuk menangkap kalian berdua dengan tuduhan mengganggu kenyamanan keluarga!” ancam Glen.
“Laporkan saja! Karena aku juga akan menuntut Keyra agar mendekam di dalam penjara selama-lamanya. Kita lihat saja nanti bagaimana si cantik Keyra itu menjadi piala bergilir narapidana di sana!” Bram balik memberi ancaman dan membuat Reyna dan Keyra tampak sangat ketakutan.
“Jangan gila, Bram! Kamu yang sudah sengaja menabrakkan dirimu di mobil kami!” pekik Reyna.
“Aku tidak akan menggila asal kau mau kembali rujuk denganku, Reyna!” pinta Bram.
Reyna kini mulai bimbang. Ia sama sekali tidak tega membiarkan adik kesayangannya dituntut oleh Bram, mantan suaminya. Namun, ia juga tidak mau kembali rujuk dengan Bram, terlebih saat ia tidak memiliki perasaan khusus dan justru muak terhadap mantan suaminya itu.
“Tuntut saja putriku di kantor polisi! Kami tunggu panggilan dari polisi sesegera mungkin, Bram!” tantang Pak Hirata.
‘Sial! Pak Hirata sama sekali tidak mengindahkan ancamanku!’ umpat Bram dalam hati.
Sedangkan Reyna dan Keyra memandang ke arah papa mereka dengan pandangan yang tampak tidak percaya dengan apa yang diucapkan papanya barusan.
“Papaaaa!” panggil Reyna dan Keyra secara bersamaan.
“Apa papa tega meninggalkan Keyra di dalam bui?” tanya Keyra dengan mata yang berkaca-kaca.
“Paaa, Bram tidak mungkin main-main dengan ancamannya kali ini!” timpal Reyna membuat senyuman di wajah Bram terlukis sempurna.
“Kembalilah rujuk padaku Reyna. Maka aku berjanji akan mencabut berkas kecelakaan itu!” pinta Bram.
“Aku sudah tidak sudi memiliki menantu sepertimu, Bram!” gertak Pak Hirata.
__ADS_1
“Lebih baik kau cepat angkat kaki dari sini dan laporkan saja semuanya kepada polisi!”
Pak Hirata kali ini dengan tegas mengusir keberadaan Bran dan juga Mawar.
“Wow! Ternyata Pak Hirata sama sekali tidak mencintai dan menyayangi putrinya dengan sungguh-sungguh. Terlebih dengan kamu, Keyra.”
“Lihatlah! Papamu hanya lebih sayang dengan kakakmu bukan?” Bram mulai menyulut keramaian di keluarga Hirata.
Mata Keyra pun langsung berkaca-kaca karena ia tidak bisa lagi membayangkan bagaimana nantinya akan masuk dalam bui.
“Pak Hirata bukan tidak sayang dengan putrinya! Tapi karena teramat sayang itulah Pak Hirata berkata seperti itu! Karena Pak Hirata sangat yakin jika kau tidak akan mungkin mampu menjebloskannya dalam penjara!” timpal Glen di tengah kegaduhan suasana ruang tamu mansion pagi ini.
“Bahkan bisa jadi kalian berdua yang akan mengendap lama di dalam sana!”
Kali ini Glen menunjukkan jari telunjuknya ke arah Bram dan juga Mawar.
“Kalau kau memang tidak percaya, lebih baik kau cek saja sendiri ke kantor polisi!” tantang Glen.
“Okey! Aku akan segera menuju ke kantor polisi pagi ini juga! Jangan menyesal jika siang nanti polisi akan datang menyeret Keyra!”
Bram pun langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Mansion bersama dengan Mawar.
💞💞💞
Sambil menunggu cerita selanjutnya, mampir yuk ke Novel bestie aku
__ADS_1