
“Baiklah, ini adalah perbandingan yang cukup signifikan! Bagi kalian yang memang sudah tidak ingin berjuang di kampus ini, bisa meninggalkan ruangan ini dan letakkan surat pengunduran diri kalian di meja saya besok pagi.”
“Dan yang lainnya, yang masih mau berjuang bersama saya, saya benar-benar mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya. Saya berjanji agar memperbaiki masalah ini secepat mungkin.”
Ketegasan Glen kali ini benar-benar sangat patut diacungi jempol. Namun, hal ini tidak berlaku untuk yang sudah bertekad untuk mengundurkan diri dari kampus.
“Kami ini dosen paling berkompeten, Pak Glen. Lihatlah, mayoritas yang mengundurkan diri justru dosen dengan gelar profesor dan doctor! Apa anda tidak takut jika kampus ini jadi bangkrut selepas kami keluar dari sini?” tanya seorang dosen yang sudah memiliki gelar doktor.
Glen tersenyum tipis. “Untuk apa saya merasa takut? Mengajar juga bisa dilakukan oleh dosen muda bukan? Bahkan menurut saya membuka lowongan pekerjaan untuk dosen baru justru lebih efisien dari pada mempertahankan dosen lama yang tidak mau diajak untuk berjuang bersama!” jelas Glen.
“Mohon maaf ya Pak Doktor dan Pak Profesor, di usia seperti anda juga sebenarnya lebih baik istirahat di rumah. Saya juga tidak yakin ada universitas lain yang mau menerima anda. Mengingat gaji anda yang sangat besar setiap bulannya.”
“Tanpa mengurangi rasa hormat, saya mempersilakan anda untuk segera meninggalkan ruangan dan mengemasi barang-barang anda. Kemungkinan info lowongan pekerjaan sebagai dosen baru akan segera launching sore hari ini juga.”
Kini mereka yang sudah siap untuk mengundurkan diri mulai kelimpungan sendiri. Pengunduran diri mereka sebenarnya hanya gertakan kecil untuk Glen. Sayangnya, gertakan mereka sama sekali tidak berhasil.
Keributan kini mulai terjadi di ruang meeting. Sedangkan Glen dan Gwen hanya memandangi kegalauan para dosen senior yang tengah bingung dengan pilihan mereka saat ini.
“Tenang semuanya!” tiba-tiba rektor empat kembali angkat suara.
“Begini Pak Glen, kami mencoba berpikir ulang untuk memutuskan sebuah keputusan.” Ucapan Pak Rektor Empat langsung membuat suasana yang tadinya gaduh jadi hening seketika.
“Silakan utarakan pertanyaan anda Pak Rektor empat!” ucap Glen masih dengan nada yang santai.
“Berapa kiranya anda akan membayar gaji kami jika kami masih bertahan di sini?”
“Pertanyaan yang sangat bagus, pak! Mengingat keuangan kampus yang sangat memprihatinkan, kemungkinan untuk bulan depan saya hanya akan memberikan gaji sebanyak 50 persen dari sebelumnya. Tiga bulan kemudian 75 persen.”
“Selepas satu semester, saya akan memberikan gaji yang sesuai!” jelas Glen.
Dosen yang tadi sudah sepakat untuk mengundurkan diri pun sebagian langsung meninggalkan ruangan tanpa ada kata-kata pamitan. Sedangkan yang tadi sempat mengangkat tangan pun ada beberapa yang memilih untuk tinggal dan tetap melanjutkan untuk meneruskan mengajar di kampus USI.
__ADS_1
Glen pun kembali melanjutkan rapat dan membicarakan tentang rencana ke depannya. Satu jam kemudian rapat pun selesai tepat di jam 4 sore. Kini masih ada waktu beristirahat satu jam untuk mengadakan perkumpulan dengan mahasiswa.
“Glen, Kamu keren banget tadi!” puji Gwen yang tidak menyangka Glen akan setegas itu.
“Maaf sudah meninggalkanmu berkecimpung lama dalam masalah ini, Gwen. Terima kasih karena sudah bersedia menggantikan aku selama ini.”
“No problem, Glen! Aku sendiri sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini. Oh iya, tentang gaji para dosen tadi …”
“Tenang saja, aku tidak sungguh-sungguh untuk menguranginya sedikit pun. Aku hanya ingin melihat siapa yang benar-benar ingin berjuang bersama.”
“Tapi berita ini pasti akan langsung ramai di media social, Glen!” ucap Gwen khawatir.
“Tidak masalah bagiku! Media hanyalah pemanas api yang terbuat dari lilin. Jadi tidak begitu berpengaruh bagiku. Untuk uang yang sudah dikorupsi oleh om dan tante juga akan langsung aku ganti.”
“Waaah, ternyata saudara kembar aku ini sangat kaya ya! Dapat uang dari mana kamu?” tanya Gwen.
Glen pun tersenyum tipis. Ia pun kemudian membuka ponselnya dan memperlihatkan pendapatan bisnisnya yang masih berjalan sampai saat ini di Jerman.
“Ini pendapatan aku saat membuka distro di Jerman. Sampai sekarang distronya juga masih berjalan. Jadi aku hanya menghabiskan pendapatanku selama dua bulan di sana untuk membayar gaji para dosen. Setelah itu, aku yakin semuanya akan berjalan dengan lancar.”
“Kau benar-benar menakjubkan, Glen! Bisa-bisanya kau menutupi ini semua dari kami hah!” Gwen langsung melayangkan protesnya kepada Glen sambil memukul lengannya berkali-kali.
“Awh, sakit tauk Gwen!” rintih Glen yang kemudian terdengar suara kencang dari perut Glen.
“Kamu lapar?” tanya Gwen kemudian dan Glen langsung menganggukkan kepalanya.
“Kita makan dulu yuk sebelum meeting sama mahasiswa di auditorium!” ajak Gwen.
“Tunggu, Gwen! Ada yang ingin aku minta lagi kali ini!” ucap Glen sambil menahan tangan Gwen.
“Apa?”
“Aku minta gantikan aku sebagai manajer di perusahaan Hirata ya!” pinta Glen sambil menangkupkan kedua tangannya memohon kepada Gwen.
__ADS_1
“Aku yakin, kau akan cepat bisa menguasai alur pekerjaannya. Aku tidak tega membiarkan Reyna Ku bekerja sendiri!”
“Boleh saja! Tapi sama sekali tidak gratis ya!” balas Gwen.
“Katakan dulu imbalannya di awal!” pinta Gwen sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Hish! Kau ini sama saja dengan Pak Rektor Empat!” timpal Glen.
“Aku sepertinya masih belum bisa membelikanmu mini cooper, Gwen! Bagaimana jika mobilmu aku jual dan aku gantikan dengan Mazda MX-5?” Tawar Glen membuat mata Gwen seketika berbinar sempurna.
“Penawaran yang sama sekali tidak bisa aku tolak Glen! Thanks a lot my rich twin! Mulai besok aku akan langsung ke perusahaan Hirata!”
“Yuk, kita langsung ke kantin!” Gwen langsung menarik tangan saudara kembarnya untuk keluar dari ruangan meeting.
Mereka berdua pun langsung menuju ke kantin dan menikmati makan siang mereka yang sempat tertunda. Selesai menikmati makan di kantin, Glen dan Gwen langsung menuju ke auditorium untuk melanjutkan meeting mereka dengan para mahasiswa.
Keputusan Glen untuk tidak menaikkan biaya semesteran pun langsung disambut suka cita oleh para mahasiswa. Tidak perlu menghabiskan waktu yang lama dalam meetingnya kali ini.
Selepas Glen menghimbau para mahasiswa untuk tetap berperilaku baik dan tidak anarkis, rapat singkat ini pu diakhiri tepat jam setengah 6 sore.
Selepas itu Glen langsung mengajak Gwen untuk berkunjung ke kediaman Pak Hirata untuk membicarakan mengenai posisi Glen yang akan digantikan oleh Gwen.
“Glen, gak enak dong berkunjung dengan posisi badan lengket kayak gini!” protes Gwen. “Pulang dulu aja sebentar, habis mandi langsung kita pergi ke sana!” ucap Gwen memberikan usul.
“Tapi Gwen—”
“Emang kamu mau nemuin Princess Reyna dengan kondisi bau keringat kayak gini?”
Glen langsung mengangkat kedua tangannya dan mengendus aroma tubuhnya sendiri.
“Gak bau kecut, sih! Tapi biar Reyna nanti nempel terus sama aku, mendingan mandi dulu deh!” balas Glen.
Mereka berdua pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke mansion utama terlebih dahulu yang lebih dekat dari kampus dan selepas itu baru pergi ke Mansion Pak Hirata.
__ADS_1