Selingkuh Dengan Sopir Pribadi

Selingkuh Dengan Sopir Pribadi
Gerbang Kebahagiaan Reyna


__ADS_3


Bram tidak terima ia diusir begitu saja dengan papa mertuanya. Ia pun langsung membawa motornya menuju ke Perusahaan Hirata untuk membereskan berkas penting di kantornya.


Tidak hanya itu, program baru yang dibuat Reyna juga akan ia ambil dan diserahkan kepada perusahaan lain yang tentunya akan menjadi lawan tender dari Perusahaan Hirata.


Ia langsung mengecek sisa uang yang ada di ATM miliknya. Hanya tersisa dua puluh juta dan Bram hanya bisa menghela nafasnya panjang. Uangnya baru saja digunakan untuk membayar biaya perawatan Mawar sebesar tiga puluh juta.


“Aaarrrgggghhhh, Sial! Aku sudah mempercayai orang yang salah! Kurang ajar!” umpat Bram kesal.


“Tidak ada cara lain lagi, aku harus mengambil uang perusahaan kali ini!” Bram kembali menjalankan motornya menuju ke kantor.


Sesampainya di kantor, motornya sudah dihadang di depan pos satpam.


“Pak Bram?” sapa satpam tersebut memastikan orang yang kini berada di atas motor dan masih mengenakan helmnya.


“Iya pak, tolong buka gerbangnya! Ada yang harus saya lakukan di dalam!” titah Bram sambil menyetandarkan motornya.


“Mohon maaf pak! Ini barang-barang anda sudah saya bereskan. Pak Hirata sudah mengeluarkan ultimatum agar tidak memperbolehkan anda masuk ke perusahaan!” ucap Satpam tersebut sambil menyerahkan dua kotak yang sudah ia bereskan dari ruangan Bram.


“Tidak bisa! Aku harus masuk ke dalam! Kau tidak tahu barang penting apa saja yang aku punya!” gertak Bram frustasi.


“Maaf pak! Saya hanya menjalankan perintah!” balas satpam tersebut.


Bram tetap saja terus memaksa untuk masuk ke dalam perusahaan. Akhirnya lima orang satpam yang diminta untuk berjaga malam ini langsung menghadangnya dan membuat Bram tidak bisa berbuat apa-apa.


“Apa kalian lupa siapa yang menggaji kalian selama ini?!” gertak Bram kesal.


“Maaf Pak Bram, jika anda terus memberontak seperti ini, maka kami tidak akan segan membawa anda ke kantor polisi!”


Bram pun menyerah dan meninggalkan perusahaan Hirata sambil terus mengumpat sepanjang jalan.


Sedangkan di Mansion Hirata, Pak Hirata dan kedua orang tua Glen tengah membicarakan rencana selanjutnya untuk hubungan Reyna dan juga Glen ke depannya.


Reyna dan Glen memutuskan untuk mengobrol di Gazebo taman. Sedangkan Gwen dan juga Keyra yang baru kenal pun mulai akrab dan memutuskan untuk menonton drama romantis di kamar Keyra.


“Apa ini sakit, Glen?” tanya Reyna sambil mengobati luka yang ada di ujung bibir Glen.


Glen tidak menjawab dan justru terus memandangi Reyna. Melihat hal tersebut, Reyna sengaja sedikit menekan luka Glen membuat Glen memekik pelan.


“Awh, sakit sayang!” keluh Glen sambil meringis menahan rasa sakitnya.


“Abisnya ditanyain malah ngelamun kek gitu sih!” balas Reyna.


“Bukan ngelamun ih! Aku cuma lagi gak nyangka …,” Glen menahan kalimatnya, kemudian mengikis jaraknya dengan Reyna dan berbisik, “Sebentar lagi aku akan memilikimu seutuhnya, sayang. Dan aku sangat tidak sabar menantikan hal itu!”

__ADS_1


Reyna seketika meremang mendengar bisikan Glen barusan. Ia pun langsung mendorong tubuh Glen untuk menjauh darinya. Sayangnya Glen sama sekali tidak bergerak menjauh.


“Glen!” Tangan Reyna terus saja mendorong dada Glen.


“Apa kau tidak ingin mengobatiku dengan cara yang lain?” tanya Glen dengan nada menggoda.


“Aku akan mengambil ice cube untuk mengobati memarnya!” balas Reyna.


“Tapi aku tidak butuh itu sayang!” balas Glen sambil terus memandangi Reyna.


“Emmm, aku akan oleskan thrombophob gel di pipimu!”


“Aku hanya ingin obat yang alami sayang!” balas Glen memperjelas keinginannya.


Reyna pun langsung mengerutkan dahinya. “Maksudnya apa?”


Glen terkekeh dan mulai menjauhkan dirinya dari Reyna. “Emm, hanya ada dua pilihan.” Glen mulai mengusap ibu jarinya ke bibir Reyna.


“Dengan ini misalnya, atau kekasihku ingin berbaik hati untuk mengobati aku seperti …”


Tatapan Glen turun ke bawah dan berhenti tepat di dada Reyna.


“Gleeeen!” Reyna langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Kau ini m35um sekali!” gerutu Reyna sambil memasang wajah kesalnya.


“Maaf, maaf. Aku hanya meminta ciuman saja dari kekasih hatiku!” balas Glen.


“Tidak ada!” balas Reyna sambil memalingkan wajahnya.


Namun dengan sigap Glen memegang dagunya dan menariknya untuk menghadap ke arahnya. Tanpa aba-aba lagi, Glen langsung mendaratkan bibirnya di bibir Reyna.


Bukan kecupan singkat, melainkan Glen terus saja memagut bibir Reyna dengan lembut namun begitu menantang. Sedangkan Reyna sendiri mulai membuka bibirnya dan membalas pagutan dari Glen. Keduanya benar-benar larut dalam asmara mereka.


“Sangat manis, sayang!” puji Glen sambil mengusap bibir Reyna. “Terima kasih obat mujarabnya!”


Tak lama kemudian ponsel Glen berdering dan tampak panggilan masuk dari papanya.


“Sepertinya waktu kita masih belum bebas, sayang!” tukas Glen yang kemudian menerima panggilan dari papanya.


“Iya pa,”


“Glen, kemarilah! Ada yang harus kita bicarakan!” titah Tuan Ainsley yang masih berada di ruang tamu.


“Okey, aku akan mengajak Reyna masuk ke dalam!” balas Glen sambil mematikan panggilannya.


Glen pun langsung menggandeng tangan Reyna dan mengajaknya masuk ke dalam. “Papa memanggilku untuk masuk ke dalam!”

__ADS_1


“Okey! Lagi pula kau juga sudah harus pulang kan?” balas Reyna.


“Kau mengusirku?”


“Iiiih! Tentu saja! Kita kan belum menikah!” balas Reyna sambil mencubit pinggang Glen.


“Nanti kalo udah nikah, jangan absen buat baby ya sayang!” bisik Glen.


“Ck, ngomongin apa sih! Ayoh buruan! Papa kamu udah nunggu loh!”


“Tapi kan aku masih kangen, Reyna! Ciuman dari kamu memabukkan banget!”


“Udah deh gak usah dibahas!”


Keduanya pun berjalan beriringan menuju ke ruang tamu. Sesampainya di sana Tuan Ainsley langsung melayangkan protes terhadap putranya.


“Kamu nih dipanggil lama banget sih jalannya kek siput! Masih belum nikah itu gak boleh lama-lama berduaan!”


Reyna langsung melepaskan genggaman tangan Glen sambil menundukkan wajahnya malu.


“Gak usah malu Reyna sayang! Calon papa mertua kamu ini memang Sukanya ngeledek Glen begituh!” ucap Nyonya Ainsley.


“Iya Nyonya!” balas Reyna kikuk.


“Jangan panggil Nyonya dong! Panggil mama Zella aja!” ucap Nyonya Ainsley. “Oh iya, kamu bisa antar mama ke toilet gak?”


Nyonya Ainsley pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Reyna.


“Bisa nyonya!” jawab Reyna langsung berdiri dari tempat duduknya.


Nyonya Ainsley langsung merangkul Reyna. “Kok nyonya lagi sih, coba deh panggil ma-ma!”


Reyna langsung tersenyum, “Iya ma!” balas Reyna sambil berjalan menuju ke kamar tamu.


“Tunggu mama di sini dulu yaa!” pinta Nyonya Ainsley sambil menuju ke toilet.


“Siap mama!” balas Reyna.


Kini rasa sakit yang dirasakan oleh Reyna benar-benar sudah digantikan dengan bahagia yang tiada tara. Kehangatan dari Nyonya Ainsley membuat Reyna kembali merasakan kehangatan seorang ibu yang tidak ia rasakan sejak duduk di kelas dua SMA.


Dimana ibu kandung Reyna harus meninggal dunia karena tekanan darah tinggi. Selepas itu Papa Hirata sama sekali tidak ingin menikah dan berjuang seorang diri untuk membesarkan Reyna dan juga Keyra.


 


 

__ADS_1


__ADS_2