
Reyna yang mendengar cerita dari asisten pribadinya hanya geleng-geleng kepala. Terlebih saat mereka menamakan grup chat menerka dengan sebutan Glenisme.
Namun, di sisi lain ada perasaan bangga yang menyeruak dalam hatinya, karena Glen ternyata begitu mencintai dan menyayangi dirinya. Bahkan Glen juga lebih memilih janda daripada mereka yang masih gadis belia.
“Terima kasih atas informasinya, Lia! Sekarang kau bisa kembali ke ruanganmu!” ucap Reyna.
Reyna kembali berkutat dengan pekerjaannya yang sangat menumpuk. Sampai ia tidak sadar jika kini sudah tiba waktunya untuk makan siang.
Dan seperti biasanya, Glen selalu datang ke ruangannya. Kali ini Glen sudah membawakan dua kotak makanan untuk mereka berdua.
“Selamat siang calon istriku, sayang!” sapa Glen sambil masuk ke dalam ruangan Reyna dan kemudian meletakkan dua kotak makanan di atas meja.
Reyna mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Glen. Penampilannya masih sama dengan yang tadi pagi. Kancing atasnya terbuka dan bekas ciuman Reyna masih terlihat jelas di lehernya.
Reyna langsung meletakkan pulpennya dan membereskan berkas yang ada di atas mejanya. Selepas itu, Reyna turun dari kursi kebesarannya dan mendekat ke arah Glen. Dengan cepat tangannya meraih kerah baju Glen dan mengancingkan kemejanya yang terlepas.
“Aku sangat tidak suka jika salah satu pegawaiku berpenampilan tidak rapi seperti ini!” ucap Reyna dengan tegas.
Tangan nakal Glen pun langsung melingkar di pinggang Reyna. “Bagaimana jika ada seorang pegawai yang berani memeluk bosnya sendiri?” tanya Glen sambil memandang wajah Reyna secara intens.
“Apa yang kan kau lakukan, sayang?” bisik Glen dan tentunya membuat tubuh Reyna seketika meremang.
“Mamas niiiiih! Nakal banget sih!” Reyna mendorong tubuh Glen dan mencoba untuk melepaskan diri.
“Gimana rasanya punya pacar yang ngeselin?” tanya Glen sambil mengangkat tubuh Reyna dan membawanya ke sofa.
“Ngeselin!” jawab Reyna dengan ketus.
“Tapi ngangenin kaaan?” Glen kini sudah meletakkan kepalanya dengan manja di atas pangkuan Reyna.
“Aku kangen banget nih sayang!” ucap Glen yang sudah melingkarkan tangannya memeluk perut Reyna.
Reyna hanya bisa menghela nafasnya panjang menghadapi sikap manja kekasihnya ini. Perlahan tangan Reyna pun mengusap kepala Glen dengan sangat lembut.
__ADS_1
“Mamaz kenapa sih bikin malu diri sendiri? Sampe pamer bekas ciuman aku yang ada di leher Mas Glen juga ke semua pegawai di kantor!” protes Reyna.
Glen pun langsung mengurai pelukannya dan memandang ke arah Reyna. “Apa aku salah, jika aku teramat Bahagia mendapatkan ini untuk pertama kalinya?” tanya Glen sambil melepaskan kancingnya yang paling atas.
Reyna langsung merekahkan senyumannya sambil menggelengkan kepalanya. “Sama sekali gak salah, Mas! Tapi aku kan jadi malu!” balas Reyna dengan wajah yang memerah.
“Loh, aku kan gak bilang kalo ini dari kamu, cintaa!” sanggah Glen.
“Tapi nanti, kalau kita udah nikah, mereka pasti akan tahu kan kalo itu ulah aku!” balas Reyna sambil memanyunkan bibirnya.
“Emmm, iya juga sih! Kalo gituh biar aku aja sini yang tinggalin jejak di leher calon istri aku!”
Tanpa aba-aba Glen langsung mendaratkan ciumannya di leher Reyna. Perlahan Glen menyesapnya dan mulai membuat Reyna kelojotan tidak karuan.
Sesapan bibir Glen di lehernya membuat Reyna menggigit bibir bawahnya agar suara d3s4h4nnya tidak keluar. Sayangnya Glen yang sudah dimabuk kepayang mulai tidak menyadari jika tangannya sudah bergerak di dada Reyna dan menyentuhnya dengan lembut.
Seketika milik Reyna yang ada di dalam cupnya menegang sempurna dan suara des4h4nnya pun sudah tidak tidak bisa ditahan lagi.
“Maas! Aaah!”
Suara Reyna membuat Glen tersadar dan mulai menjauhkan tangannya. Perlahan Glen juga melepaskan ciumannya dan menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Reyna.
“Emmm, tidak masalah Mas! A-aku … emmm …” Reyna tidak melanjutkan kalimatnya dan langsung mendaratkan ciumannya di bibir Glen.
Bagai kejatuhan durian runtuh, Glen pun langsung membalas pagutan Reyna. Kini keduanya saling meluahkan perasaan mereka masing-masing dengan saling memagut. Hingga ponsel Glen berdering untuk menghentikan pagutan mereka berdua.
Di layar ponsel Glen tampak ada panggilan masuk dari Gwen. Glen pun memilih untuk mengabaikannya.
“Biarkan saja dulu, nanti aku akan menghubunginya kembali!” ucap Glen yang sudah siap mendaratkan bibirnya ke bibir Reyna untuk kesekian kalinya.
Namun, Reyna langsung menahan bibir Glen dengan telapak tangannya.
“Jangan abaikan, Mas! Angkat dulu saja panggilannya, siapa tahu penting!” ucap Reyna.
Dengan berat hati Glen pun mengangguk dan langsung menjawab panggilan dari Gwen.
__ADS_1
“Halo, Gwen! Ada apa?” tanya Glen saat panggilannya sudah terhubung.
“Anak kampus lagi pada demo di depan Gedung Rektorat, Glen. Dan aku sama sekali tidak berani untuk menghadapi mereka!” ucap Gwen di ujung panggilan. Suaranya terdengar begitu ketakutan.
“Bukannya ada Om Leon sama Tante Sisil?” balas Glen menyebut nama saudaranya yang ikut mengelola kampus.
“Itu dia masalahnya, Om Leon naikin biaya semesteran Mahasiswa lima puluh persen lebih. Makanya semua organisasi sekarang pada demo di depan rektorat, Glen. Aku takut!”
“Oke, oke! Salah satu caranya sekarang kamu nyalakan TV besar yang ada di depan Gedung Rektorat. Kemudian sambungkan panggilan video agar aku yang akan menghadapi mereka semua!” ucap Glen.
“Siap Glen, akan segera aku sambungkan!” ucap Gwen.
Dengan cekatan Gwen langsung menyalakan tv besar di depan Gedung Rektorat dan menghubungkan panggilannya dengan panggilan video.
Meskipun Glen tidak bisa mendengar teriakan semua mahasiswa, Glen masih bisa berbicara dengan mereka.
“Selamat siang semuanya. Kali ini saya memang tidak bisa mendengar semua kalian semua mahasiswa. Dan saya juga tidak bisa langsung datang sekelip mata di depan kalian!” ucap Glen dengan sangat berwibawa di depan kamera.
“Oleh karena itu, kita semua akan berkumpul di auditorium nanti sore tepat jam lima sore. Persiapkan ruang auditorium dengan baik, pilih juru bicara dalam setiap organisasi, dan kita akan cari jalan keluarnya dengan baik!”
“Ingat! Saya sangat tidak menyukai hal-hal yang berbau kerusuhan! Setiap masalah masih bisa diselesaikan dengan baik! Terima kasih dan Selamat Siang!”
Glen pun langsung mematikan layar kameranya dan mengalihkan panggilannya ke telepon biasa. Dan Gwen pun juga langsung memutuskan saluran ke TV luar Gedung.
“Glen, aku menunggumu datang secepatnya. Kita harus segera membahas masalah ini!” ucap Gwen.
“Oke! Aku akan segera datang. Tenangkan dirimu dulu Gwen!”
Panggilan pun terputus dan Glen hanya bisa menghela nafasnya panjang. Sedangkan Reyna langsung paham jika Glen tidak bisa makan siang bersamanya.
“Pergilah, sayang! Gwen lebih membutuhkanmu. Aku akan minta dijemput papa saat pulang nanti!” ucap Reyna sambil mengusap dada Glen.
“Maafkan aku yang sudah merusak makan siang kita berdua!”
“Sssttt! Ini sama sekali tidak masalah untukku. Pergilah, I will be okay!” ucap Reyna sambil menyunggingkan senyumannya.
__ADS_1
“Terima kasih untuk semua pengertianmu, sayang. Aku akan terus menghubungimu!” ucap Glen sambil mengecup bibir Reyna sekilas.
Kemudian Glen pun langsung keluar dari ruangan Reyna dan bergegas menuju ke kampus.