
"Emmm, saya hanya khawatir hal ini justru akan membuat anda celaka, Nona!" jelas Glen.
"Karena jika saya lihat, wanita selingkuhan Pak Bram itu bukan hanya baru-baru ini saja menemani suami anda!"
Reyna langsung melepaskan pelukannya dan duduk di samping Glen. Kemudian matanya tertuju ke arah pintu ruangannya di mana tampak Bram berdiri tegap di luar sambil memandang sendu ke arahnya.
"Glen, aku minta tolong suruh Mas Bram pulang ke rumah saja. Aku tetap tidak akan menemuinya meski dia menungguku sampai besok pagi!"
"Setelah itu kembalilah kemari karena ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu!" titah Reyna.
"Baik Nona!"
Glen langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan untuk menyampaikan apa yang diminta oleh Reyna tadi. Sayangnya Bram langsung melayangkan tinjunya di perut Glen dengan geram.
Bugh!
"Sopir sialan!" umpat Bram yang sedari tadi sudah memendam rasa cemburunya saat melihat kedekatan Reyna dengan Glen.
"Aku pastikan kau tidak akan menginjak Mansion ku lagi, Glen! Berani-beraninya kau menyentuh istriku, hah!" gertak Bram yang kembali melayangkan pukulannya ke rahang Glen.
Bugh!
Untungnya satpam rumah sakit langsung menarik Pak Bram dan juga Glen untuk saling menjauh.
"Tolong jangan membuat keributan di sini, Tuan!" hardik satpam dengan tegas. "Ini Rumah Sakit, bukan ring tinju!"
"Saya tidak mau bikin ribut dengan Pak Bram. Saya hanya ingin menyampaikan jika Nona Reyna meminta anda segera pulang!" ucap Glen.
Bram pun melepaskan dirinya dari satpam tersebut dan langsung berbalik meninggalkan ruangan Reyna. Setelah Bram masuk ke dalam lift, Glen pun kembali masuk ke dalam ruangan Reyna.
"Ya Ampun, Glen! Apa yang sudah terjadi denganmu?" tanya Reyna yang sangat terkejut saat melihat ujung bibir Gleb mengeluaran darah.
__ADS_1
"Hanya pukulan kecil karena Pak Bram cemburu melihat saya dipeluk dengan anda Nona!" jelas Glen membuat Reyna tersadar jika ia sudah melakukan hal yang di luar batas.
"Oh My God! Ma-maaf Glen. Aku memelukmu hanya refleks karena terlampau bahagia karena aku sudah bisa berjalan dengan lancar. Tidak lebih!"
Pengakuan Reyna kali ini membuat Glen sangat kecewa mendengarnya. Namun ia tetap memasang wajah yang biasa saja di depan Reyna.
"It's okey, Nona. Kalau begitu apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, Nona Reyna? " timpal Glen kemudian.
"Apa kau sudah mengetahui lama jika suamiku berselingkuh?" tanya Reyna membuat Glen menelan ludahnya kasar.
Kini ia bimbang harus menjawab apa. Jika ia berbohong, tentunya peluang untuk mendapatkan Reyna akan smakin kecil.
Namun, jika ia berkata dengan jujur, ia takut Reyna akan marah karena ia tidak memberitahukan perselingkuhan Bram sejak lama.
"Glen!" panggil Reyna membuyarkan lamunannya.
"Jangan takut! Aku tidak akan marah padamu!"
"Maaf, Nona! Sebenarnya saya dan juga Mbok Darmi sudah mengetahuinya sejak lama. Sayangnya saya baru mendapatkan buktinya akhir-akhir ini!" jelas Glen.
"Jelaskan semua yang kau ketahui Glen!" pinta Reyna sambil melihat foto kemesraan Bram dan juga Mawar yang ada di ponsel Glen.
"Pak Bram sudah menjalin hubungan dengan Mawar jauh sebelum anda kembali ke Indonesia dan menikah dengannya!"
"Saya tidak tahu motif apa yang sedang digunakan oleh Pak Bram untuk setuju menikah dengan anda dan tetap menjalin hubungannya dengan Mawar."
"Hanya saja setelah saya telisik lebih dalam lagi, ternyata Mawar Anjani juga bekerja di perusahaan anda dan menjadi asisten pribadi Pak Bram."
Reyna langsung menutup mulutnya dan kemudian meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka jika Bram telah membohonginya selama ini.
"Dia benar-benar sangat jahat! Aku menikah dengannya dan perlahan berusaha untuk jatuh cinta dengannya. Hingga akhirnya aku benar-benar sangat mencintainya dan bergantung padanya."
"Apalagi saat ia dengan segenap perhatiannya merawatku ketika aku jatuh sakit dan tidak dapat melakukan apa-apa! Sikapnya benar-benar membuatku semakin jatuh cinta!"
__ADS_1
"Aku benar-benar sangat semangat untuk mengembalikan keadaanku seperti semula."
"Namun, aku harus menelan pil kekecewaan karena dia melakukan hubungan terlarang dengan perempuan lain di saat aku hendak menyampaikan berita kegembiraan tentang keadaanku yang semakin hari semakin baik!"
"Tapi ternyata aku justru mendapatkan kejutan yang sangat besar darinya!"
Reyna pun langsung menangis sejadi-jadinya mengingat sikap Bram terhadapnya. "Dia benar-benar penipu ulung!"
Glen yang melihat Reyna menangis pun langsung mengambil sapu tangan di saku celananya dan kemudian mengusap air mata yang membasahi pipi Reyna.
"Jangan menangis, Nona!"
"Aku benar-benar sangat membencinya, Glen! Dia sudah menipuku sejak awal pernikahan kami. Dan bodoh nya aku sama sekali tidak mengetahui hal ini."
"Aku pasti akan mengajukan gugatan cerai karena selama ini aku justru berada di pihak orang yang salah!"
"Jangan gegabah untuk langsung melayangkan gugatan, Nona! Kita harus pakai sistem tarik ulur."
"Maksudnya?" tanya Reyna sambil menyeka air matanya.
"Jangan langsung dipecat, Nona! Melainkan kita harus balas dendam!"
"Balas dendam?" Reyna mengulangi apa yang tadi disarankan Glen.
"Benar, Nona! Lebih baik kita merencanakan balas dendam yang baik dan rapi!" tawar Glen.
"Aku setuju, kalau begitu balas saja rasa cemburunya dengan kedekatan kita berdua! Bagaimana?" timpal Reyna tanpa malu-malu sedikit pun.
"Aku lihat kau cukup mahir membuat Mas Bram cemburu. Setelah waktunya dirasa cukup, maka aku segera mengurus perceraian ini!" lanjut Reyna.
"Baik Nona!" jawab Glen.
Mereka berdua pun akhirnya mulai membuat rencana balas dendam. Reyna yang tadinya kembali dalam keadaan payah. Kini ia justru ia sangat bersemangat.
__ADS_1