
Syahla langsung merekahkan senyumannya saat membaca pesan dari Glen. Sepeninggalan Glen dan juga keluarganya, Bram terus saja membahas masalah kantor dengan Pak Hirata.
Tampak sangat jelas jika Bram takut kehilangan kepercayaan dari mertuanya itu. Sampai Keyra memutuskan untuk pergi lebih dulu untuk menghabiskan waktu dengan Reyna.
“Papa, Keyra mau pergi ke mall dulu ya sama kakak! Kangen nih healing bareng!” tutur Keyra meminta izin kepada papanya. “Keyra pergi sama sopir dari kantor boleh kan?”
“Boleh dong sayang! Hati-hati ya dan ingat, jangan pulang larut malam!” balas Pak Hirata yang masih asyik mengobrol tentang masalah kantor dengan Bram.
“Oke paa, Reyna pamit dulu yaa!” Reyna pun langsung menyalami papanya. Kemudian ia mengulurkan tangannya ke arah Bram dan menyalaminya.
Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh Bram. Ia pun langsung mengecup kening istrinya dengan sangat mesra.
“Hati-hati ya sayang. Jangan lupa untuk kasih kabar sama Mas kalo ada apa-apa!” ucap Bram yang membuat Keyra sangat muak mendengar ucapan abang iparnya itu.
Keyra pun langsung menarik tangan Reyna agar cepat menjauh dari Bram.
__ADS_1
“Ayo Kak! Kan cuma pergi doang bentar ini gak usah lama-lama pamitannya! Ntar keburu tiket nontonnya habis!”
Reyna pun langsung mengikuti langkah Keyra untuk meninggalkan meja makan. Melihat kerinduan Keyra terhadap kakaknya membuat Pak Hirata hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Maaf ya Bram, Keyra memang sudah merindukan kakaknya sejak lama. Dia terlalu lelah mengurus perusahaan bersamaku di China. Wajar jika dia sangat tidak sabar untuk pergi Bersama Reyna!”
“Tidak masalah pak! Saya juga paham bagaimana sikap Keyra!” timpal Bram.
“Keyra memang sedikit urakan dibanding kakaknya. Makanya, papa sebenarnya ingin jodohkan dia dengan anak Tuan Ainsley. Tapi ternyata anaknya justru sopir pribadi Reyna.”
Ucapan Pak Hirata kali ini membuat Bram bertanya-tanya dalam hati. Jika Glen dilahirkan dari anak konglomerat, kenapa dia justru memilih untuk menjadi seorang sopir pribadi?
Pak Hirata langsung mengedikkan bahunya. “Aku tidak tahu masalah itu. Tapi aku akan segera menanyakan hal ini kepada Glen!”
Tepat saat Pak Hirata selesai berkata demikian, ponselnya berdering dan tampak panggilan masuk dari Tuan Ainsley.
“Halo, Tuan Hirata. Mohon maaf sekali jika kami membuat acara jamuan makan siang ini menjadi berantakan karena Glen!” ucap Tuan Ainsley di ujung panggilan.
__ADS_1
“Tidak masalah, Tuan Ainsley. Hanya saja saya sangat butuh penjelasan dari Glen!” timpal Pak Hirata.
“Kebetulan sekali, kami dan juga Glen juga hendak mengklarifikasi tentang masalah ini nanti malam. Kira-kira, jika kami berkunjung ke kediaman Tuan Hirata, bagaimana? Tuan keberatan atau tidak?”
“Tentu saja tidak, Tuan Ainsley. Ini adalah suatu penghormatan besar bagi keluarga saya! Kalau begitu, kami menunggu kedatangan Tuan Ainsley sekeluarga!” balas Pak Hirata.
“Oke, Tuan! Terima kasih banyak. Kalau begitu sampai jumpa nanti malam ya!”
Panggilan pun berakhir. Selepas itu Pak Hirata pun mengajak Bram menuju ke kantor untuk melihat keadaan kantor yang sudah lama ia tinggalkan.
Sedangkan di sisi lain, Keyra kini sedang ngomel panjang lebar dengan kakaknya di dalam mobil.
“Kenapa sih kakak masih menghormati suami yang udah selingkuh kayak gituh? Kalo Keyra nih ya, udah Keyra mutilasi tuh orang! Bodo amat deh masuk penjara, yang penting sakit hati Keyra terbalaskan!”
“Diiih, sadis amat Key!” timpal Reyna yang sedikit bergidik ngeri mendengar ucapan adiknya.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Sambil menunggu cerita selanjutnya, mampir yuk ke Novel bestie aku