
Satu bulan kemudian …
Reyna sudah resmi bercerai dengan Bram tanpa ada hambatan apa pun. Dan Bram kini sedang menikmati hidupnya yang terlunta-lunta bersama Mawar.
Apartemennya harus dijual dan digantikan dengan rumah susun yang Bram beli dengan harga yang sangat murah agar mereka berdua bisa menyambung hidup mereka, terlebih kandungan Mawar sudah mulai membesar.
Bram sendiri kini hanya bekerja sebagai ojek online karena belum ada perusahaan yang menerimanya untuk bekerja. Sedangkan Mawar setiap hari hanya terus mengeluh dan menyesali kehidupannya yang jatuh miskin. Apa lagi ia harus memasak dan mencuci pakaian dengan tangannya sendiri untuk menghemat biaya pengeluaran.
“Bram! Aku benar-benar lelah hidup seperti ini! Apa kau tidak bisa meminta Pak Hirata untuk mengizinkan kamu bekerja kembali di perusahaannya? Bukankah kau memiliki keahlian yang berkompeten sebagai manajer?” tanya Mawar yang baru saja memasak telur ceplok untuk Bram.
“Aku sudah tidak mungkin lagi masuk ke dalam perusahaan itu! Lagi pula mereka sudah memiliki manajer pengganti yang sangat berkompeten juga!” balas Bram sambil menyendokkan nasi ke dalam piringnya.
“Kalau kau memang tidak betah tinggal di rumah susun seperti ini, kau bisa angkat kaki dan memilih tempat kemana engkau mau!” balas Bram. “Aku benar-benar tidak mau mengekangmu sama sekali!”
“Dasar gila! Apa kau tidak memiliki perasaan terhadap anak yang aku kandung? Dia anakmu, Bram! Darah dagingmu!” gertak Mawar tidak terima.
“Aku hanya tidak mau kau menderita, Mawar! Pergilah dan cari kebahagiaanmu sendiri! Lagi pula, kita bukan suami istri kan?” balas Bram.
Mawar terdiam sambil menarik kursi makannya. Tak lama kemudian ia menitikkan air matanya menangisi keadaannya saat ini yang begitu terpuruk.
“Aku lelah, aku benar-benar sudah tidak sanggup jika harus hidup seperti ini! Berjuanglah untuk kehidupan kita, Bram! Aku ingin kau mendapatkan uang yang banyak untukku dan anak kita!” rengek Mawar yang sudah tidak bisa membendung air matanya.
Hal ini selalu terjadi hampir setiap hari. Mawar terus saja menangis dan meratapi nasibnya yang seperti roller coaster yang ada di bawah dan tidak kunjung naik ke atas.
Sedangkan Bram sudah bosan mendengar keluhan Mawar setiap hari hanya diam saja tidak menggubris. Karena jika Bram menanggapi tangisan dan rengekan Mawar, yang ada ia semakin menyesal memperlakukan Reyna selama ini.
__ADS_1
***
Sedangkan di sisi lain, Kampus USI yang dipimpin oleh Glen mulai membaik keadaannya. Jika Glen pernah berniat mengurangi takaran gaji para dosen, kenyataannya Glen sama sekali tidak pernah melakukan hal itu.
Semua masalah bisa ia tangani dengan sendirinya meski harus merogoh kocek besar miliknya. Wajar jika karena permasalahan ini Glen benar-benar tidak memiliki waktu untuk berkencan dengan Reyna dan mereka berdua hanya berhubungan lewat ponsel.
Reyna sendiri juga tidak bisa menemui Glen, karena dirinya juga disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan kantor. Namun, hubungan Reyna, Keyra, dan juga Gwen justru tampak semakin dekat hingga mereka bertiga dikenal sebagai 3 dara cantik yang super duper sibuk.
Meskipun mereka sering menghabiskan waktu untuk hangout di hari libur, tetap saja mereka sangat focus dan tegas dalam bekerja di perusahaan. Hal ini membuat Pak Hirata sangat bangga melihat kinerja mereka bertiga dan membuat peningkatan pendapatan perusahaan dengan sangat baik.
Siang ini, Reyna yang baru saja meeting di dekat kampus Glen sengaja mampir terlebih dahulu ke kampus untuk bersua dengan Glen meski hanya sebentar.
Sayangnya saat ia sampai di kampus, Glen masih tampak sibuk meeting dengan para tenaga administrasi di tengah jam istirahat. Akhirnya Reyna pun memutuskan untuk kembali ke kantor dan tidak jadi menemui Glen hari ini.
“Maaf Pak Glen, tadi ada yang menunggu anda di lobby sekitar 15 menit! Tapi saat ini dia sudah kembali ke kantornya dan mengatakan akan berkunjung lagi lain waktu!” ucap satpam yang kini tengah berjaga di lobby Gedung Rektorat.
“Siapa?”
“Makasih banyak informasinya, Pak!” ucap Glen yang langsung menuju ke lift untuk kembali ke ruangannya.
“Hai Mas! Apa kabar?” tanya Reyna di ujung panggilan saat panggilannya sudah tersambung.
“Baik cintaku!” balas Glen. “Kenapa tidak bilang jika tadi kau datang ke kampus? Aku kan bisa cepat-cepat menyelesaikan meetingnya!” balas Glen yang terdengar sangat kecewa.
“Aku tidak mau mengganggu kesibukanmu, sayang!”
“Tapi kan aku sangat merindukanmu! Apa sore ini kau sibuk?” tanya Glen kemudian.
__ADS_1
“Ada meeting jam 7 malam ini di Hotel Gracia. Kemungkinan aku akan pergi ditemani oleh papa!”
“Kenapa harus meeting di jam malam? Siapa yang mengajakmu meeting, sayang?” tanya Glen sedikit curiga. Untungnya kali ini Reyna akan ditemani Pak Hirata.
“Direktur dari Perusahaan Obat kode Ex-Way-U, Thailand. Entah kenapa tiba-tiba dia membuat jadwal pertemuan di malam hari!”
“Oooh, kalau boleh tahu, siapa nama direkturnya?” tanya Glen lagi.
“Anming Heng!” jawab Reyna.
‘Anming Heng?’ gumam Glen dalam hati. ‘Kenapa Namanya sangat tidak asing ya?’ batin Glen sambil mengingat-ingat dimana ia mendengar nama ini.
“Glen, nanti telponnya kita sambung lagi yaa. Lima menit lagi aku harus memimpin rapat direksi!” ucap Reyna mengakhiri telfon mereka.
“Oke, sayang! Selamat bekerja ya, cinta! I love you so much!”
“Love you, too!” balas Reyna dan panggilan pun terputus.
Setelah meletakkan ponselnya, Glen pun mencoba untuk mencari tahu tentang perusahaan yang akan mengadakan kerja sama dengan perusahaan Hirata. Betapa terkejutnya Glen saat melihat foto Direktur yang bernama Anming Heng tersebut.
“Ternyata dia sudah sampai di Thailand dan kali ini akan mengepakkan sayapnya di Indonesia!” gumam Glen yang mulai mengingat siapa sebenarnya Anming Heng ini.
“Aku tidak akan membiarkannya bekerja sama dengan Perusahaan Hirata!” gumam Glen.
***
Nah, kira-kira siapa sih Anming Heng ini?
__ADS_1
Yuk, nantikan episode selanjutnya yaa. Anming Heng akan dibahas sedikit aja kok. Jadi ini bukan konflik baru ya.