
Saat Reyna hendak menghubungi Glen, ponselnya justru berdering dan tampak panggilan dari papanya. Akhirnya dengan berat hati Reyna menerima panggilan papanya dan mengurungkan niatnya untuk menghubungi Glen.
Sedangkan Bram dan juga Glen sudah berada di Cafe Temaram. Keduanya sudah duduk di tempat yang paling ujung sambil menikmati minuman yang tentunya sudah dipersiapkan oleh Bram.
“Aku sangat kacau, Glen! Dan saat ini aku sudah tidak tahu lagi harus meluahkan keluh kesahku dengan siapa lagi!” gumam Bram sambil menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya ke atas.
“Reyna masih mengacuhkan aku, padahal pak Hirata sebentar lagi akan pulang. Aku hanya punya waktu tiga hari saja, Glen untuk terus merayu Reyna. Aku tidak ingin papanya tahu jika rumah tanggaku sedang ada masalah yang besar!”
“Kalau begitu, Anda bisa meluahkan semua keluh kesah Anda kepada orang yang Anda percaya, Pak!” balas Glen sambil menyesap kopinya pelan.
“Dan menurutku, kau adalah orang yang bisa aku percaya, Glen!”
Glen sedikit tercengang mendengar ucapan Bram kali ini. Ia pun langsung mengerutkan dahinya dan menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“Sa-saya, Pak?!” tanya Glen dengan nada yang tidak percaya.
Bram pun langsung menjawab dengan anggukan kepalanya. Kemudian ia langsung menceritakan semua masalah yang tengah ia alami. Mulai dari uangnya yang sudah habis tak bersisa sampai perihal Mawar yang kini tengah hamil.
Keluh kesah Bram kali ini hanya ditanggapi dengan singkat oleh Glen. Namun, ada sedikit yang mengganjal untuk Glen kali ini. Mana mungkin uang seorang Bram sudah habis sampai tak bersisa?
Bukankah selama ini Bram selalu menikmati harta istrinya dan tampak tidak pernah mengeluarkan uang gajinya sepeser pun? Lalu ke mana larinya uang gaji Bram selama setahun ini?
“Mana mungkin seorang Pak Bram tidak memiliki uang sama sekali. Itu hal yang sangat tidak mungkin, Pak!” sanggah Glen dengan nada tidak percaya.
Akhirnya Bram pun menceritakan ke mana uangnya raib dalam sekejap mata. Ia sudah menggunakan uangnya untuk membayar pembunuh bayaran. Sayangnya kinerjanya justru sama sekali tidak bisa diharapkan.
Mawar masih berhasil dari maut dan pembunuh bayaran tersebut kembali meminta uang untuk membereskan Mawar yang kedua kalinya.
Cerita Bram kali ini benar-benar menjatuhkan dirinya di depan Glen tanpa ia sadari. Terlebih Glen juga sudah merekam semuanya dengan ponselnya.
__ADS_1
‘Dasar bodoh! Kau mempercayai orang yang salah Pak Bram! Aku bukanlah orang yang tepat untuk kau jadikan teman, tapi aku justru musuh yang tengah kau bantu untuk menghancurkan dirimu sendiri!’ gumam Glen dalam hati.
‘Terima kasih karena kau sudah memberi peluang besar untukku merebut istrimu!’ batin Glen.
“Lalu apa yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Glen menimpali cerita dari Bram.
“Bantu aku untuk mendapatkan cinta Reyna, Glen! Aku percaya kau bisa merayu Reyna untuk memaafkan aku!”
“Mudah saja pak! Katakan saja kepada non Reyna jika Pak Hirata akan datang. Pasti dia akan cepat untuk membuat keadaan kembali seperti saat awal pernikahan kalian!” tutur Glen memberi saran.
“Tapi Pak Hirata ingin memberikan surprise dan meminta aku untuk merahasiakan ini!”
“Yaaah, ini sih saran saya ajaa Pak! Kalau pun Non Reyna tidak tahu, maka ia akan terus mendiamkan Anda seperti ini!” timpal Glen membuat Bram berpikir berkali-kali.
“Baiklah, kali ini aku mengikuti saran darimu, Glen. Terima kasih banyak ya, Glen! Aku sedikit merasa tenang sekarang karena tidak menanggung beban ini sendiri!” ucap Bram. “Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini!”
Bram mulai beranjak dari tempat duduknya dan memberikan amplop kepada Glen.
“Aku tidak bisa memberimu banyak, Glen. Tapi setidaknya ini bisa untuk mengganti uang bensinmu!”
“Oh My God! Ternyata aku benar-benar tidak salah untuk menjadikanmu orang kepercayaan, Glen!” ucap Bram yang langsung menyimpan kembali amplopnya ke dalam saku jaket.
“Terima kasih untuk malam ini yaa. Aku pulang dulu. Selamat istirahat, Glen!”
Bram langsung meninggalkan cafe terlebih dahulu, sedangkan Glen langsung menyimpan rekamannya dan menghabiskan minumannya sebelum meninggalkan cafe.
☘️☘️☘️
Setelah pertemuan Glen dengan Bram malam itu, Reyna pun membuat siasat baru untuk bisa bercerai dari Bram. Akhirnya ia menerima saran dari Glen untuk mencoba tidak begitu mengacuhkan Bram.
Terlebih Bram juga sudah memberitahukannya jika Pak Hirata akan pulang. Ia pun membuat perjanjian kepada Bram jika semua ini ia lakukan hanya untuk membuat Papanya senang, tidak lebih.
__ADS_1
Keadaan Reyna juga semakin membaik dan ia sudah tidak perlu lagi mengkonsumsi obat secara rutin. Hanya sesekali saja dan itu juga jika Reyna merasa tubuhnya kurang sehat.
Dokter sendiri juga sudah memperbolehkan Reyna untuk kembali bekerja di kantor. Wal hasil selama tiga hari ini, Reyna lebih sering bersama dengan Bram menuju ke kantor dari pada dengan Glen. Lagi pula Glen sendiri juga tengah disibukkan dengan pekerjaannya sendiri.
☘️☘️☘️
Hari ini, Reyna mempersiapkan dirinya untuk menyambut kedatangan papa dan juga adik kandungnya di sebuah restoran yang sudah di siapkan oleh Bram sebelumnya. Keduanya sudah saling sepakat jika Reyna akan tetap pura-pura tidak mengetahui kepulangan papanya.
Reyna kini tengah merapikan penampilannya di depan meja rias saat Bram masuk ke dalam kamarnya.
“Kau tampak sangat cantik, sayang!” puji Bram sambil mendekat ke arah Reyna dan hendak melingkarkan tangannya memeluk Reyna dari belakang.
Namun, Reyna cepat-cepat menghindar dari Bram. “Terima kasih pujiannya, Mas Bram!”
“Papa hampir tiba, sayang. Apa kau tidak ingin memperlihatkan kemesraan kita di depan papa?” tanya Bram yang sedari kemarin masih belum bisa menyentuh Reyna sedikit pun.
Meskipun mereka pergi ke kantor bersama-sama, Bram sama sekali belum diizinkan Reyna untuk menyentuhnya.
“Entahlah, Mas! Semakin aku menghabiskan waktu bersamamu, bayangan perselingkuhan mu semakin jelas terrekam di kepalaku.”
Bram mengusap wajahnya kasar, tapi ia tidak bisa memaksa Reyna sedikit pun karena ia tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan sama sekali.
“Maaf, karena sudah menorehkan luka yang mendalam untukmu, Reyna! Aku memang bersalah dan aku siap jika harus mendapatkan hukuman seperti ini darimu!”
“Aku akan menunggumu di mobil!” ucap Bram sambil meninggalkan kamar Reyna.
Sepeninggalan Bram, membuat Reyna menghela nafasnya panjang. “Aku akan memperjuangkan kebahagiaanku sendiri di depan papa. Meski papa memang menyukai Mas Bram, tapi itu sama sekali tidak berlaku untukku saat ini!” gumam Reyna.
Ia pun langsung ke luar dari kamarnya dan bergegas menuruni anak tangga. Tanpa menunggu waktu yang lama, Bram dan juga Reyna melesat ke tempat yang sudah di reservasi sebelumnya.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel bestie aku ya