
“Berdirilah, Bram! Aku masih harus mendampingi putriku yang sebentar lagi juga akan di BAP di ruangan itu!” titah Pak Hirata.
“Saya tidak akan berdiri sebelum anda memaafkan saya, pak!” balas Bram yang semakin erat memeluk kaki Pak Hirata.
“Aku juga tidak akan memaafkanmu dan justru akan semakin menuntutmu jika kau tidak segera melepaskan kakiku!” ancam Pak Hirata.
Akhirnya Bram pun langsung melepaskan pelukannya di kaki Pak Hirata dan berdiri untuk menuju ke arah dimana Keyra sedang duduk.
“Stop! Berhenti saja di situ atau aku benar-benar akan menjebloskan Mas Bram ke dalam penjara!” ancam Keyra.
“Oke, oke! Aku tidak akan mendekat! Tapi aku mohon, Key! Maafkan aku! Jangan tuntut aku sedikit pun. Aku akan mematuhi apa saja yang kau perintahkan padaku!”
Belum sempat Keyra menjawab permohonan maaf dari Bram, Namanya sudah dipanggil menuju ke ruang BAP.
“Saudari Keyra Hirata!” panggil Aipda Adriel.
“Saya, pak!”
__ADS_1
Keyra pun langsung masuk memenuhi panggilan polisi dan ruangan langsung ditutup dengan rapat.
Sedangkan Pak Hirata memilih untuk duduk menjauh dari Bram sambil memainkan ponselnya. Kini bram mulai bimbang harus bagaimana.
Jika ia tetap mendekati Pak Hirata, sudah tentu pasti dirinya semakin terancam. Akhirnya ia pun terduduk lemas di samping Mawar.
“Dasar bodoh! Bisa-bisanya kau tidak memperhitungkan semua ini!” umpat Mawar pelan.
“Diam kau! Kenapa kau tidak menghargai usahaku yang sedang berjuang untuk kita bertiga?” balas Bram.
“Cih, usaha sia-sia kau banggakan! Lebih baik kau pikirkan saja bagaimana ke depannya! Lebih baik aku pulang dari pada harus menunggu hal tidak berfaedah di sini!”
‘Sial! Mawar benar-benar tidak peduli denganku saat keadaanku sedang di ujung tanduk seperti ini!’ umpat Bram dalam hati.
Kini ia benar-benar sudah sangat menyesal sudah mengabaikan Reyna selama ini. Andai saja dulu ia tulus menjalin hubungan dengan Reyna dan memutuskan hubungannya dengan Mawar sejak awal, pasti tidak seperti ini jadinya.
Tiga puluh menit kemudian, Keyra keluar dari ruang polisi dan mendekati papanya.
“Keyra, aku mohon maafkan aku!” pinta Bram lagi.
__ADS_1
“Kita selesaikan masalah ini di depan Brigadir Jenderal Teysar, Mas! Agar semuanya tercatat secara hukum dan aku bisa menuntutmu kapan pun aku mau jika kau kembali berulah!”
Bram pun akhirnya setuju, kini mereka langsung dihadapkan kepada Polisi yang semalam sempat ditemui oleh Glen dan juga temannya, Kenan.
Setelah serangkaian pasal dibacakan, Keyra siap untuk berdamai dengan beberapa syarat yang dilindungi oleh hukum tertulis.
“Yang pertama, Mas Bram harus segera menyetujui perceraian dengan Kak Reyna tanpa menuntut apa pun darinya!”ucap Reyna dengan tegas.
“Oke, aku siap untuk bercerai dengan Reyna secepatnya!” balas Bram yang sudah bisa lagi mengelak dari permintaan Keyra.
“Kedua, Mas Bram dilarang mengganggu kehidupan Keluarga Hirata, baik itu papa, aku, Kak Reyna maupun suami barunya nanti! Jika Mas Bram melanggar, maka tuntutan penjara selama 4 tahun akan tetap diberlakukan!”
“Aku berjanji tidak akan mengganggu keluarga Hirata sedikit pun!” balas Bram lagi.
“Dan yang terakhir, Mas Bram harus bertanggung jawab dengan semua kesalahan yang Mas Lakukan. Mas harus menikahi Mbak Mawar dan jika yang ketiga ini tidak terpenuhi, maka Mas harus membayar penalti sebanyak dua puluh juta rupiah.”
Selepas mengemukakan syaratnya, keduanya pun menandatangani surat perjanjian tersebut. Dan hari ini kedua belah pihak tidak ada lagi saling menuntut satu sama lain. Sedangkan dari pihak polisi pun menganggap jika masalah kecelakaan ini sudah selesai.
__ADS_1