
Malam ini, Glen dan Gwen sudah berada di Mansion Hirata untuk mengutarakan maksudnya kepada Pak Hirata dan juga Reyna, jika Gwen, saudari kembarnya akan menggantikannya sebagai manajer di Perusahaan Hirata.
Pak Hirata pun sangat senang mendengarnya dan menilai Glen sangat bertanggung jawab karena tidak meninggalkan perusahaannya begitu saja. Begitu juga dengan Keyra yang sangat senang akan bekerja sama dengan Gwen.
“Papa benar-benar sangat berterima kasih atas keputusan yang kau buat Glen! Dengan begini, kau tetap membantu perusahaan papa dengan baik di tengah kesibukanmu menyelesaikan masalah di kampus!” tukas Pak Hirata.
“Sama-sama, papa! Ini memang Glen lakukan demi calon istri Glen!” timpal Glen sambil menatap ke arah Reyna yang mulai salah tingkah dengan wajah yang merona.
“Kamu tenang saja, Bram sudah mengaku kalah dan mendapatkan ancaman dari Keyra agar segera menceraikan kakaknya. Papa akan secepatnya menikahkan Reyna denganmu selepas surat perceraian itu turun dan masa iddah Reyna habis!” balas Pak Hirata yang mendukung seratus persen untuk hubungan Glen dan juga Reyna.
“Terima kasih banyak, papa!” ucap Glen yang sangat gembira mendengarnya. Di tengah masalah yang menghimpitnya saat ini, ia sama sekali tidak merasa kalut karena dukungan yang luar biasa dari orang-orang disekitarnya.
“Lagi pula, anak sulung papa ini juga sepertinya sudah tidak sabar untuk menjadi istrimu, Glen!” lanjut Pak Hirata sambil merangkul hangat putri sulungnya.
“Bukankah begitu, Reyna?” tanya Pak Hirata yang seketika membuat wajah tambah memerah bak kepiting rebus.
“Ck, papa nih bikin malu Reyna aja sih!” gerutu Reyna sambil menundukkan wajahnya yang terasa begitu panas.
Pak Hirata hanya tersenyum melihat putrinya yang tampak malu-malu. Sedangkan Gwen dan Keyra pun langsung saling memberi kode lewat mata mereka untuk pindah ngobrol.
“Key, Kita pelajari dulu yuk job desk yang tadi dikasih sama Glen!” ajak Gwen sambil mengkerlingkan matanya.
“Siap kak, Emmm, Di kamar Key aja yaa!” balas Keyra dengan sangat antusias.
“NO! NO! NO!” Pak Hirata langsung melarangnya.
“Kalian berdua ini kalo udah masuk kamar pasti ujung-ujungnya nonton film sambil ngemil nih!” tukas Pak Hirata yang sudah hafal dengan kedekatan putrinya dengan Gwen. Meskipun baru saling kenal, keduanya sudah sangat akrab seperti sahabat yang sudah kenal lama.
“Yaaah, Om Hirata nih tau aja sih!” celetuk Gwen yang sudah menganggap Pak Hirata seperti Omnya sendiri.
“Beda atuh paah! Orang kita mau bener-bener focus kok! Iya kan Kak Gwen?” tanya Keyra mencari dukungan.
Gwen pun secepat kilat menganggukkan kepalanya meng-iyakan ucapan Keyra.
“Udah gini aja, mendingan kita bertiga sekarang masuk ke ruang kerja papa yuk! Belajar sama papa aja!” ucap Pak Hirata.
“Nah, Glen! Papa tinggal dulu gak papa kan? Kalian berdua ngobrol-ngobrol dulu deh!” Pak Hirata pun langsung beranjak dari tempat duduknya.
“Makasih banyak pa!” balas Glen dengan senyumnya merekah lebar. “Semangat, Gwen, Keyra!” lanjut Glen menyemangati kedua perempuan yang sudah menekuk wajah mereka.
__ADS_1
“Yah, papa nih gak asyik banget deh. Ayo kak!” ajak Keyra sambil menarik tangan Gwen.
“Jangan lupa janji kamu ya Glen! Awas Aja!” ucap Gwen sambil mengikuti langkah Pak Hirata.
“Emang Kak Gwen minta apa?” tanya Keyra kepo. Gwen pun langsung berbisik di telinga Keyra.
“Waaaah, enak banget itu. Nanti aku juga mau ikutan naik deh kalo ke kantor!” balas Keyra.
Reyna yang melihat tingkah adik perempuan dan calon kakak iparnya pun turut penasaran sampai tidak sadar jika Glen ternyata sudah duduk di sampingnya.
Tiba-tiba saja tangan Glen sudah melingkar di Pundak Reyna dan merangkulnya dengan sangat hangat.
“Iiiih, Mas Glen nih ngagetin aja!” protes Reyna yang sebenarnya tubuhnya tengah meremang.
“Ke gazebo taman yuk!” Ajak Glen. “Mas kangen banget nih!”
Reyna pun langsung mengangguk dan langsung menarik tangan Glen menuju ke Gazebo taman. Sesampainya di sana, Glen langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Reyna dengan manja.
“Semoga masalahnya cepat selesai yaa!” ucap Reyna sambil mengusap kepala Glen dengan lembut. “Aku baca berita di sosial tentang kabar kampus sore ini begitu menakjubkan, Mas!”
Glen memejamkan matanya dan menikmati usapan tangan Reyna yang sesekali menyisir rambutnya dengan jemari Reyna.
“Keputusanmu yang tidak menaikkan biaya semester para mahasiswa!” balas Reyna.
“Apa aku mengagumkan di matamu, sayang?” tanya Glen lagi yang masih memejamkan matanya.
“Tentu saja! Dan aku merasa jika kau bukan hanya menjadi pahlawan untuk hidupku tetapi juga pahlawan untuk para mahasiswamu!” jawab Reyna.
“Dan aku yakin, para mahasiswi juga pastinya akan mengidolakanmu. Apalagi mereka semua tahu jika dosen tampannya ini sama sekali belum menikah!”
Glen langsung tersenyum sambil menyunggingkan senyumannya. “Kamu cemburu?” tanya Glen sambil menatap Reyna dari pangkuannya.
“Emmm, enggak cemburu lah. Kan kamu Cuma milik aku!” balas Reyna sambil mengusap pipi Glen dengan mesra.
“Cium dong!” pinta Glen manja.
Cup! Reyna mengecup kening Glen sekilas dengan cepat.
“Ck, kalo secepat kilat gini mana terasa sayang!” protes Glen yang langsung bangun dari pangkuan Reyna.
“Aku mau yang lama!” pinta Glen yang langsung menarik tengkuk leher Reyna dan mendaratkan ciumannya di bibir Reyna.
__ADS_1
Perlahan Glen menyesapnya dan memagutnya dengan sangat mesra membuat Reyna membuka mulutnya dan membalas pagutan Glen.
Keduanya pun kini tenggelam dalam luahan asmara mereka berdua hingga tanpa Reyna sadari, tangan nakal Glen yang turun ke punggungnya telah berhasil membuka pengait br4 milik Reyna.
Glen pun melepaskan pagutannya dan mengusap bibir Reyna yang sedikit membengkak.
“Kita mungkin ke depannya akan sulit untuk bertemu, karena aku masih harus berjuang mempertahankan kampus sampai keadaannya kembali stabil!” ucap Glen.
“Aku paham, Mas! Dan aku akan tetap setia menunggu sampai masalah yang kau hadapi selesai!” balas Reyna.
“Emmm, tapi aku boleh kan untuk berkenalan dengan yang ini sedikit saja?” pinta Glen yang sudah menyusupkan tangannya ke dalam blouse yang dikenakan Reyna membuat tubuh Reyna mulai tidak karuan.
“Mas Glen! Emmh! Kamu nakal!” racau Reyna saat tangan Glen mulai menyentuh ujung titik sensitif miliknya yang sudah tegang.
Sedang Glen kini menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sambil mengeluarkan tangannya dari blouse Reyna.
“Oh my God! Maafkan aku sayang! Aku benar-benar sudah melewati batas ku!” ucap Glen mengusap wajahnya kasar.
Reyna yang sudah mabuk kepayang dibuat Glen kini harus menghela nafasnya panjang saat Glen tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Ia pun menarik tangan Glen dan memasukkan lagi ke dalam blousenya.
“Lewati saja batasanmu, Mas! Aku juga menginginkannya!” ucap Reyna sambil tersenyum.
Glen menelan ludahnya kasar sambil kembali mengusap dada Reyna dengan lembut.
“Aku benar-benar mencintaimu, Reyna Hirata! Aku berjanji akan segera menghalalkanmu!” ucap Glen sambil memuaskan tangan nakalnya di dalam blouse Reyna.
Yah, Reyna hanya mengizinkan tangannya saja bermain di sana dan tidak lebih.
***
Maafkan author yang baru sempat update yaa. Kesibukan di dunia nyata benar-benar menguras tenaga dan pikiran sampai gak bisa nulis.
Selanjutnya akan dibuat plot cepat yaa, biar Reyna sama Glen bisa cepet-cepet nikah dan halal.
Yuk, jangan lupa dukungan kalian dengan like, comment, vote, gift, dan rate bintang 5.
Kalau misalnya gak bisa kasih rate bintang 5 juga jangan kasih rate bintang 4, 3, 2, apalagi 1 karena itu sangat berpengaruh di penurunan popularitas novel. Terima kasih banyak semuanya. Love you all.
__ADS_1