
Saat di Perusahaan Hirata sedang gempar dengan penampilan Glen, kini Pak Hirata dan Keyra justru tengah memenuhi panggilan polisi dimana Bram tengah menuntut Keyra sebagai tersangka.
“Apa kau merasa takut?” tanya Pak Hirata kepada putrinya.
“No, Papa!” jawab Keyra.
Pak Hirata dan putrinya kini sedang menunggu di depan ruang BAP. Sedangkan jauh dari tempat mereka duduk, ada Mawar yang tengah duduk menunggu Bram yang masih diwawancarai polisi.
Perut Mawar tampak sudah sangat membuncit dibalik baju ketat yang ia kenakan. Pak Hirata dan putrinya sengaja tidak menyapanya karena sebelumnya mereka juga tidak mengenal Mawar sama sekali.
“Keyra, papa ke kamar mandi dulu gak papa kan?” tanya Pak Hirata.
“Gak masalah, pa! Tenang aja!”
Pak Hirata pun langsung beranjak menuju ke kamar mandi dan kini Keyra duduk sendiri sambil menunggu giliran untuk dipanggil polisi. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Mawar.
Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan mencoba untuk mendekati Keyra.
__ADS_1
“Keyra, ada satu hal yang perlu kamu ketahui!” ucap Mawar yang kini sudah duduk di samping Keyra.
“Satu bulan setelah pernikahan Reyna dan juga Bram, mereka bisa dibilang tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Makanya Bram sampai selingkuh denganku!”
“Sedangkan aku sendiri tidak tega melihat Bram yang tidak bisa melampiaskan hasrat terpendamnya terhadap istri sahnya hanya karena Reyna yang masih sangat sibuk mengurus perusahaan!” jelas Mawar.
“Yang berlalu biarlah berlalu, mbak! Sekarang lebih baik Mas Bram menikahi Mbak Mawar yang tengah mengandung anaknya. Memangnya mbak mau anaknya lahir tanpa memiliki ayah?” balas Keyra dengan santai.
“Bagaimana aku bisa hidup sebagai suami istri, jika Bram masih sangat mencintai kakakmu, Reyna. Dan aku sendiri sangat mencintai Glen!”
“Tentu saja kalian masih bisa hidup bersama, Mbak! Sudahlah, tidak perlu mencari banyak alasan jika kalian berdua masih membutuhkan uang!” timpal Keyra dengan santai.
“Jangan khawatir, Mbak! Aku tetap akan bertanggung jawab memberikan uang sesuai dengan aturan yang berlaku. Tidak kurang, dan tidak lebih. Tapi aku minta sama Mbak Mawar, jangan ganggu lagi kehidupan kak Reyna dan juga Glen!”
“Kalau kau bersikeras mengganggu kehidupan mereka, aku tidak akan segan untuk membuatmu sengsara!” ancam Keyra membuat Mawar menelan ludahnya kasar.
“Apa uang yang akan kau berikan bisa aku gunakan dengan Bram sampai anak aku lahir nanti?” tanya Mawar yang sudah tidak berani untuk melanjutkan rencananya untuk mempengaruhi Keyra.
“Tergantung, Mbak! Itupun jika aku memang terbukti bersalah!”
__ADS_1
Ucapan Keyra kali ini membuat Mawar membelalakkan matanya. “Hah!”
“Apa maksudmu?!” tanya Mawar dengan nada gusar.
“Aku tidak perlu banyak bicara untuk menjawab pertanyaan Mbak Mawar. Kita tunggu saja Mas Bram keluar dan menceritakan hasil tuntutannya!”
Tak lama kemudian Bram keluar dari ruang BAP bertepatan dengan Pak Hirata yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Pak Hirata!” Tiba-tiba Bram tersungkur di kaki mantan mertuanya itu sambil memohon.
“Tolong jangan tuntut saya pak!” pinta Bram.
“Saya sudah miskin saat ini, dan saya juga sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Saya mengaku salah karena telah sengaja menabrakkan diri saja di mobil Keyra!”
“Saya mohon agar bapak mau berdamai dengan saya dan tidak menuntut saya di meja hijau!”
Melihat Bram tersungkur di kaki Pak Hirata, membuat Mawar mulai paham jika ia sama sekali tidak bisa menantang orang seperti Keluarga Hirata, apa lagi sampai mengancamnya dengan tuntutan yang sangat berlebihan.
Sedangkan Keyra sendiri sudah bisa bernafas lega karena jelas jika kali ini ia yang memenangkan kasus di kepolisian. Tentu saja karena bantuan Glen, calon kakak iparnya.
__ADS_1
💕💕💕