
Sepeninggalan Glen, Reyna pun mulai berfikir jika kampus saat ini sangat membutuhkan kekasihnya itu. Sedangkan di sini ia sendiri merasa kewalahan jika tidak dibantu oleh Glen. Kinerja Glen memang tidak diragukan lagi, jauh lebih baik dari Bram.
Namun, jika ia harus mencari pengganti Glen, Reyna harus berpikir berulang kali. “Aha! Keyra. Ya, Kerya setidaknya bisa menghandel pekerjaan sebagai manager. Aku akan meminta tolong kepada Glen untuk menurunkan kinerjanya kepada Keyra!” gumam Reyna.
Tanpa menunggu lama lagi, Reyna pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Keyra. Setelah panggilannya tersabung, Reyna langsung mengutarakan maksudnya kepada Keyra.
“Aku tidak mau menjadi manager kakak! Itu sangat melelahkan!” rengek Keyra di ujung panggilan.
“Anak papa Cuma hanya kalian berdua dan semuanya perempuan. Siapa lagi yang bisa papa andalkan untuk meneruskan bisnis perusahaan?” timpal Pak Hirata yang ikut nimbrung dalam percakapan kedua putrinya di telfon.
“Papa kan bisa cari orang lain pa!” balas Keyra yang masih ingin melanglang buana menikmati masa mudanya.
“Kamu tenang aja Reyna! Siang ini papa dan Keyra akan langsung menuju ke perusahaan!” ucap Pak Hirata.
“Thanks a lot, papa! You’re always the best papa!” ucap Reyna sambil mengakhiri panggilannya.
“Maafkan aku, Keyra! Kakak tahu kamu sangat lelah dan sedang ingin bebas. Tapi kakak juga tidak bisa menuntut banyak kepada Mas Glen!” gumam Reyna yang sedikit merasa bersalah dengan adiknya.
💞💞💞
Sedangkan di tempat yang lain, Bram kini tengah menghadapi Mawar yang sedang uring-uringan terhadapnya di apartemennya.
“Aku baru sadar jika selama ini aku sudah menghabiskan waktuku bersama dengan lelaki yang dungu sepertimu, Bram!” umpat Mawar yang masih belum bisa menerima kegagalan dari rencana mereka menggugat Keyra.
Jika rencana awal saja sudah gagal, kemungkinan rencana ia untuk menggaet Glen ke dalam pelukannya juga tidak akan berhasil. Padahal saat ini hanya Glen yang terus saja ada dalam pikirannya.
“Ini semua juga karenamu, Mawar! Jika sejak dulu kau enyah dari kehidupanku, maka aku tidak akan semiskin seperti saat ini!” balas Bram yang tak kalah kesalnya dengan Mawar.
“Hah? Karenaku?! Pinter ya mulutmu dalam menyalahkan keadaan yang buruk ini karena ulahku! Apa kau tidak pernah mengingat di saat kau memohon untuk selalu aku layani di atas tempat tidur?!”
__ADS_1
“Hei! Jangan bahas tentang hal itu, Mawar. Kau sendiri tidak pernah menolaknya bukan? Bahkan kau yang lebih menikmatinya daripada aku! Dasar j4l4n9 murahan!” umpat Bram yang sudah sangat geram.
“Ingat! Kau hanya j4l4n9 miskin yang terus saja mengemis denganku! Dan ini sebenarnya adalah apartemenku! Lebih baik kau kemasi semua barangmu dan angkat kaki dari sini!” usir Bram.
Bukannya takut atau memohon kepada Bram agar tidak mengusirnya, Mawar justru tertawa terbahak-bahak.
“Kau memang pria bodoh dan dungu, Bram! Apa kau lupa sudah mengganti nama kepemilikan apartemen ini menjadi namaku?” balas Mawar membuat Bram seketika membeliakkan matanya.
‘Sial! Aku benar-benar lupa akan hal ini!’ umpat Bram dalam hati.
“Jadi, yang pantas pergi dari sini adalah kamu!” ucap Mawar dengan tegas.
“Okey, aku akan pergi dan jangan pernah mencariku lagi, Mawar! Dan satu hal lagi, aku tidak akan pernah mengakui anak yang ada dalam kandunganmu itu!” ucap Bram sambil menunjuk ke arah perut Mawar.
“Aaarrrggghhh! Oke aku mengizinkan kau tinggal di sini!” ucap Mawar yang sudah tidak memiliki pilihan lain. Ia tidak mau dicibir banyak orang karena melahirkan anak tanpa ayah.
Tidak hanya itu, Mawar juga pasti kebingungan jika nanti anaknya lahir dan menanyakan siapa ayahnya.
“Aku pikir Reyna akan segera mati dan aku akan menguasai mansion miliknya. Namu ternyata dugaanku salah besar!” gumam Mawar.
“Andai saja dulu aku mengikuti kata hatiku untuk mendekati sopir pribadi Reyna sudah tentu aku jadi nyonya Glen yang kaya raya!”
“Halah! Kau benar-benar sudah memulai kebiasaan orang miskin yang hobi mengkhayal jadi orang kaya. Pikirkan saja bagaimana untuk hidup kita ke depannya, oneng!” timpal Bram.
“Tentu saja kau harus segera mencari pekerjaan dan menghasilkan uang. Kalau aku mana bis acari uang lagi dengan keadaan berbadan dua begini!” balas Mawar dengan ketus.
“Benar juga katamu! Bahkan untuk menjual dirimu saja pastinya sudah tidak laku!”
“Sial! Awas aja kau kalau minta jatah denganku!” balas Mawar dengan kesal.
Ia pun langsung masuk ke dalam kamar sambil menutup pintunya rapat-rapat. Sedangkan Bram kini tengah memijat kepalanya yang berdenyut nyeri karena memikirkan masalah yang kini tengah ia hadapi.
__ADS_1
💞💞💞
Bukan hanya Bram yang memiliki masalah besar, kini Glen juga tengah menghadapi masalah yang lebih besar dari Reyna atau pun Bram. Sejak tiba di Gedung rektorat, Glen langsung mengumpulkan para rektor, kepala jurusan, dan tenaga umum untuk membicarakan demo para mahasiswa.
Setelah ditelisik secara detail, kenaikan biaya semester diadakan karena uang yang digunakan untuk menggaji para dosen dan juga karyawan sudah dikorupsi Sebagian Om Leon dan juga istrinya yang saat ini sudah melarikan diri entah kemana.
Kini giliran Glen yang harus memutar otak untuk menyelesaikan masalah ini.
“Maafkan aku, Gwen sudah melepaskan tanggung jawabku begitu saja!” bisik Glen dii tengah rapat para dosen.
“It’s okey Glen! Kita berdua harus bisa mencari jalan keluarnya!” balas Gwn yang sudah mulai tenang sejak Glen tiba di Gedung rektorat.
“Okey, masalah ini memang cukup pelik dan sensitive karena berkaitan dengan uang. Yang jelas, kita harus mencari cara selain menaikkan biaya semester mahasiswa!” ucap Glen selepas mengetahui duduk persoalannya.
“Cara apa lagi yang bisa dilakukan selain menaikkan biaya semesteran Pak Glen?” tanya seorang dosen tua yang saat ini menjabat sebagi rektor 4.
“Darimana gaji kami jika biaya semesteran tidak dinaikkan?” lanjutnya lagi.
“Betul Pak Glen. Hanya itu satu-satunya cara ampuh!” sahut yang lainnya.
Glen menghela nafasnya panjang. “Jika saya tetap tidak menaikkan biaya semesteran dan menurunkan gaji kalian semua, apa kalian akan keluar dari kampus ini?” tanya Glen dengan nada menantang.
“Kalo memang kalian mau resign akan mengundurkan diri, silahkan angkat tangan!” pinta Glen.
Rektor 4 langsung mengangkat tangannya, “Saya akan mengundurkan diri Pak!” ucapnya dengan tegas.
“Siapa lagi selain Pak Rektor 4?” tanya Glen mempersilahkan.
Yang lainnya pun satu persatu ikut mengangkat tangan mereka. Kini hanya separuh yang masih tetap ingin berkecimpung di kampus Universitas Swasta Indonesia.
Sedangkan separuh yang lainnya sudah bertekad untuk memilih resign dan mundur jika Glen memutuskan untuk tidak menaikkan biaya semesteran.
__ADS_1