
Siang ini, Reyna masih harus istirahat di kamarnya dan masih belum diperbolehkan untuk banyak aktivitas. Sedangkan Glen yang baru selesai mengurus laporannya terhadap Anming Heng di kantor polisi pun sengaja mampir ke Mansion Hirata untuk melihat keadaan Reyna.
“Reyna dimana, Mbok?” tanya Glen saat sudah masuk ke dalam Mansion.
“Masih di kamar dan belum makan siang ini!” jawab Mbok Darmi.
“Loh, kok belum makan?”
“Katanya sih masih kenyang, Tuan. Apa Tuan mau bawain makan siang buat Non Reyna ke kamarnya?” tanya mBok Darmi.
Glen mengernyitkan dahinya sambil menatap ke arah Mbok Darmi. “Dari kapan Mbok Darmi manggil aku, Tuan?” tanya Glen sambil mengikuti langkah Mbok Darmi menuju ke Pantry.
“Loh, kamu itu udah bukan sopir pribadi Non Reyna. Mbok gak mau digantung di atas pohon cabe gara-gara gak sopan manggil calon suaminya Non Reyna!” balas Mbok Darmi yang sedari dulu sangat menyayangi Glen dan bahkan sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.
“Oooh, jadi sekarang udah gak mau ngakuin Glen anak sendiri nih?” balas Glen yang langsung mengambil gorengan mendoan buatan Mbok Darmi.
“Ya enggaklah! Sekarang ceritanya udah beda, Tuan. Mbok mau cari anak lain aja yang bukan orang kaya!” balas Mbok Darmi.
“Glen bayar mahal deh, tapi jangan manggil Tuan lagi!” tawar Glen yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Mbok Darmi.
“Gak mau! Nih makan siang Non Reyna sama Tuan Glen udah siap!” tutur Mbok Darmi yang langsung meninggalkan Glen dan masuk ke dalam kamarnya.
“Dua puluh juta mau gak mbok?” teriak Glen.
Mendengar nominal yang di ucapkan Glen, membuat Mbok Darmi keluar dari kamarnya.
“Ya Ampun, Glen! Kamu nih yaa! Emangnya mbok ibu bayaran!” ucap Mbok Darmi berkacak pinggang.
“Nah, gitu dong! Kan enak dengernya!” balas Glen sambil membawa nampan keluar dari ruang makan.
“Duitnya udah Glen transfer ke rekening Mbok Darmi yaa!” ucap Glen lagi membuat Mbok Darmi geleng-geleng kepala.
“Anak itu yaa! Jadi ngelebihin kek anak kandung sendiri!” gumam Mbok Darmi dengan mata yang berkaca-kaca.
Sedangkan Glen kini menaiki anak tangga menuju ke kamar Reyna. Tepat saat Glen di anak tangga yang terakhir, Reyna membuka pintu kamarnya dan langsung berdiri terpaku di depan pintu kamarnya.
“Hai sayang!” sapa Glen membuat Reyna kikuk. “Gimana keadaannya?”
__ADS_1
“Ha-hai Mas! Udah lebih baik dari semalam!” balas Reyna sambil menutup pintu kamarnya dan menerima nampan makan siang yang dibawa oleh Glen kemudian meletakkannya di meja yang ada di depan kamar Reyna.
“Mas gak ngajar?” tanya Reyna sambil duduk di sofa dan Glen langsung duduk di sampingnya.
“Gak, barusan ngurus laporan Anming Heng di Kantor Polisi! Kurang ajar banget tuh orang!” balas Glen geram mengingat cara busuk Anming Heng semalam untuk memperdaya Reyna dan juga Pak Hirata.
“Oooh. Makasih banyak ya Mas semalem udah datang buat gagalin rencana Anming Heng!” ucap Reyna membuat Glen tersenyum ke arahnya.
Kemudian ia mengikis jaraknya dengan Reyna. “Makasih juga buat yang tadi malam, sayang!” ucap Glen sambil melingkarkan tangannya memeluk pinggang Reyna.
“Mas, a-aku lapar!” kilah Reyna sambil mendorong tubuh Glen.
“Mas suapin yaa!” tawar Glen yang langsung dibalas Reyna dengan gelengan kepala.
“Gak usah! Aku bisa makan sendiri kok!”
Glen pun hanya tersenyum melihat tingkah Reyna kali ini. Sangat jauh berbeda dengan Reyna yang tadi malam memberikan pengalaman pertama untuknya. Glen menemani Reyna menikmati makan siangnya sambil membahas masalah yang tadi malam.
“Yang semalam kenapa bisa minum obat yang dikasih Anming Heng sih sayang?” tanya Glen.
“Aku juga gak tau, Mas! Tiba-tiba tertarik aja buat minum itu. Tapi, kok Mas Glen bisa ada di sana dan bawa polisi?” balas Reyna yang sangat penasaran ingin mengetahui cerita yang sebenarnya.
“Awalnya aku agak curiga aja mendengar nama itu. Antara ingat-ingat lupa siapa Anming Heng sebenarnya. Namun, setelah aku cari tahu, dan mempelajari seluk beluk bisnisnya, aku langsung menghubungi polisi!”
“Tapi, yang ia minumkan kepadamu sedikit berbeda. Meskipun begitu, tetap saja berbahaya. Obat perangsang dosis tinggi itu bisa saja melenyapkan nyawa orang yang mengkonsumsinya dalam sekejap!”
“Dan pilihannya hanya ada dua, melakukan hubungan untuk melampiaskan hasratnya, atau mati!”
Penjelasan Glen kali ini membuat Reyna menelan ludahnya kasar. Setidaknya, semalam Reyna benar-benar tengah diselamatkan oleh Glen.
“Terima kasih banyak, sayang karena sudah menyelamatkan nyawaku tadi malam!” ucap Reyna.
“Aku, emm, sangat menikmatinya, Reyna!” balas Glen membuat Reyna merah merona.
“Untuk pertama kalinya, dan kau benar-benar sangat luar biasa, cantik!” lanjut Glen lagi sambil meletakkan piringnya di atas meja dan Kembali mengikis jaraknya dengan Reyna.
“Menikahlah denganku, sayang! Aku benar-benar sudah tidak sabar mengulang momen yang semalam!”
“Dua bulan lagi, sayang! Sabarlah sebentar saja!” balas Reyna.
__ADS_1
“Aku justru semalam tidak mengingat dan merasakan apa-apa sama sekali!” lanjutnya lagi membuat Glen terkekeh pelan mendengarnya.
“Apa kita lakukan sekali lagi agar kau juga merasakannya, sayang?” tawar Glen dan Reyna langsung membeliakkan matanya.
“Isshh! Jangan ngaco deh, Mas! Gak boleh tauk!”
“Ya udah deh, mas certain aja ya, sayang!” ucap Glen sambil mulai mengabsen wajah Reyna dengan jari telunjuknya dan berhenti mengusap bibir Reyna.
“Bibir ini memagut bibirku lebih dulu dan membuatku terbang melayang!” ucap Glen yang kemudian langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Reyna dan memagutnya pelan.
Keduanya pun saling memagut satu sama lain sampai Reyna hampir kehabisan nafas dan Glen mulai melepaskan pagutannya. Kemudian tangan Glen turun ke bawah dan terhenti tepat di dada Reyna.
“Emmh, Maas!” d354h Reyna saat tangan Glen sedikit m3r3m45 miliknya.
“Aku bermain di sini seperti bayi sampai puas! Kau tahu, ini pertama kalinya bagiku terbang melayang di udara tanpa sayap, sayang! Dan kini aku menginginkannya lagi!” ucap Glen membuat Reyna meremang tidak karuan.
“Stop, sayang! Jangan dilanjutkan lagi!” pinta Reyna sambil mengatur nafasnya.
Glen pun menurut dan melepaskan tangannya dari tubuh Reyna.
Cup! Satu kecupan mesra mendarat di kening Reyna.
“Aku mencintaimu, sayang! Papa dan Mama akan datang melamarmu di akhir pekan. Aku takut, jika ditunda dua bulan lagi, benih yang aku tumpahkan semalam menjadi bayi di dalam sini sebelum kita berdua menikah!” lanjut Glen lagi sambil mengusap perut Reyna.
“Tapi, masa iddahnya masih berakhir dua bulan lagi, Mas!” balas Reyna. “Lamar aku dua bulan lagi, Ya!” pinta Reyna dan Glen hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pasrah.
“Baiklah, aku mengalah kali ini! Aku pasti akan sangat merindukanmu selama dua bulan ke depan, sayang!”
“Kebetulan aku harus ke Jerman untuk menjalin kerja sama dengan kampus di sana!” jelas Glen membuat Reyna sangat terkejut mendengarnya.
“Jerman? Jadi Mamas mau di sana selama dua bulan?” tanya Reyna yang tampak sangat keberatan mendengarnya.
Glen pun langsung menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Reyna. “Yaa, maka dari itu aku ingin membawamu bersamaku ke Jerman. Menikahlah denganku, sayang!” pinta Glen untuk ke sekian kalinya.
__ADS_1