
“Mamaaaa!” Glen dan Kaisar beriringan memanggil Nyonya Ainsley yang datang menjenguk Reyna.
“Hai sayaaang!” Nyonya Ainsley langsung menyapa Reyna. Kali ini ia datang tanpa membawa apapun karena kebetulan baru saja pulang dari meeting dengan klien.
“Maaf yaa, mama gak bawa apa-apa karena tadi langsung ke sini saat denger kamu masuk rumah sakit.”
“Gak papa, Ma. Lagi pula sebentar lagi juga pulang kok!” balas Reyna yang langsung menyalami mamanya Glen.
“Mama sendiri?” tanya Glen menyalami mamanya.
“Sama Gwen tadi! Cuma tadi dia ketemu sama sahabat lamanya trus ngobrol deh di lobby. Nanti juga akan nyusul ke sini!” jawab Nyonya Ainsley.
“Gini maa, Glen mau nengok keadaan Bram dulu. Kata dokter, tadi lukanya udah selesai dijahit dan sekarang tinggal menunggu persetujuan untuk operasi kakinya yang retak.”
“Yaah, sekalian mau nengokin keadaan Mawar yang sudah keluar dari ruang ICU biar nantinya cukup dia saja yang menunggu dan mengecek keadaan Bram di rumah sakit!”
“Kalo saran mama sih, mending kamu nengokin Mawar dulu deh Glen. Nanti kalau memang kondisinya udah memungkinkan, ajak aja dia ke ruangannya Bram!” timpal Nyonya Ainsley.
“Okey, aku titip Reyna ya Ma!”
Glen kemudian berbalik memandangi kekasihnya. “Sayang, aku cek keadaan mereka dulu yaa. Nanti kalo memang udah diperbolehkan pulang, aku langsung bereskan semuanya dan mengantarmu pulang!” ucap Glen sambil mengusap kepala Reyna.
“Nanti Reyna biar pulang sama mama aja Glen. Kamu fokus aja dulu urus Bram sama Mawar!” timpal Nyonya Ainsley.
“Iya mas, aku nanti pulang sama Mama aja gak papa!” sambung Reyna.
“Okey, jangan lupa untuk terus memberi kabar ya!” Glen pun kemudian melangkahkan kakinya keluar dan bergegas menuju ke ruangan Mawar.
Sesampainya di sana, tampak Mawar sedang duduk bersandar sambil menikmati potongan buah di tangannya. Kedatangan Glen membuat senyum Mawar merekah dan melambaikan tangannya ke arah Glen.
“Hai Glen! Akhirnya kamu datang juga!” ucap Mawar yang tampak berbinar.
__ADS_1
“Kau tahu, sedari kemarin aku menantikan kedatanganmu. Cuma yang datang malah Bram, pria yang sama sekali tidak aku inginkan kedatangannya!” lanjut Mawar.
“Dia datang karena peduli denganmu dan juga bayi yang ada dalam kandunganmu. Mau bagaimana pun juga, Pak Bram tetaplah ayah dari anak itu!” timpal Glen.
“Ck! Ayah macam apa yang berusaha menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawaku. Untung saja aku masih bisa bertahan untuk hidup!” balas Mawar.
“Oh iya, Glen. Apa kamu mau membawaku keluar ke taman rumah sakit? Rasanya aku sangat ingin menghirup udara segar di sana!” pinta Mawar.
“Tidak bisa, Mawar! Aku datang kesini karena memang ada satu hal yang ingin aku kabarkan denganmu!”
Ucapan Glen kali ini membuat Mawar mengernyitkan dahinya. “Tentang apa?”
“Bram!” jawa Glen yang kemudian terdengar suara helaan nafas panjang dari Mawar.
“Ayolah Glen! Aku sudah malas mendengarkan kabar tentangnya!” gerutu Mawar dengan kesal.
Meskipun Mawar tampak tidak ingin mendengar kabar tentang Bram, Glen tetap saja mengabarkan tentang keadaan Bram saat ini.
“Bram mengalami kecelakaan dan harus dioperasi malam ini karena tulang kering di kakinya retak!”
“Hei, apa kau tidak memiliki rasa kasihan sedikit pun terhadap ayah anakmu itu?” tanya Glen yang sangat tidak menduga dengan apa yang dilontarkan Mawar.
“Bagaimana pun kau tetap membutuhkan Bram karena tidak mungkin kau melahirkan anakmu tanpa ayah bukan? Lagi pula Bram juga yang membayar semua biaya rumah sakitmu selama ini!” jelas Glen.
“Kenapa dia tidak membiarkan aku mati saja sekalian? Tinggal ambil saja alat bantu pernapasanku saat di ICU kemarin. Atau suruh saja pembunuh bayaran itu lagi untuk menghabisi nyawaku. Masalahnya selesai bukan?”
Glen menghela nafasnya panjang. “Dia tidak mungkin melakukan hal itu karena Bram masih peduli denganmu dan tentunya karena dia masih sangat mencintaimu, Mawar!”
Mawar seketika tertawa mendengar ucapan Glen barusan. “Ha ha ha! Dia sebenarnya tidak pernah mencintai aku, Glen setelah bertemu dengan Reyna. Dia hanya membutuhkan permainan ranjangku, tidak lebih karena Reyna hampir tidak pernah melayaninya!”
“Kau tahu, Bram sangat kalut jika Reyna marah karena dia takut kehilangan kemewahannya yang selama ini menyelimuti hidupnya.”
“Begitu juga dengan aku, yang tidak mau kehilangan kesempatan untuk menjadi orang kaya yang bergelimang harta!”
__ADS_1
“Tapi Glen, kini aku tidak lagi mengharapkan semua itu setelah Tuhan memberikan kehidupan kedua padaku. Aku siap untuk hidup sederhana dan Bahagia dengan anakku nanti dan juga lelaki yang saat ini mengisi hatiku!” jelas Mawar membuat Glen lagi-lagi harus menghela nafasnya panjang.
Bukan ini yang sebenarnya ia inginkan. Ia hanya sangat ingin membuat Mawar peduli dengan Bram agar ia tidak perlu lagi harus bolak balik ke rumah sakit untuk melihat keadaan mereka berdua.
“Emmm, Mawar. Kau ingin keluar bukan?” tawar Glen yang langsung dijawab dengan anggukan kepalanya.
“Aku akan ambilkan kursi roda dulu di luar!” Glen pun langsung berbalik meninggalkan Mawar untuk mengambilkan kursi roda untuknya.
Sedangkan Mawar terus saja memandangi Glen sampai punggungnya tidak terlihat lagi.
‘Kenapa aku baru sadar jika Glen sangat tampan dan penuh perhatian dibandingkan dengan Bram! Meskipun usianya masih di bawah aku, tapi aku rasa Glen cukup dewasa untuk membina sebuah rumah tangga!’ gumam Mawar dalam hati.
‘Yaah, meskipun pekerjaannya hanyalah seorang sopir, Aku rasa aku sangat bahagia jika mampu mendapatkan cinta darinya.’ batin Mawar sambil tersenyum mengingat sosok Glen.
Tak lama kemudian Glen datang bersama dengan perawat laki-laki dengan mendorong kursi roda.
“Mari bu, saya bantu duduk di kursi roda!” ucap perawat laki-laki tadi.
“Glen, apa kau tidak bisa membantuku duduk di kursi roda?” tanya Mawar dengan raut wajah yang tampak kecewa.
“Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa denganmu. Jadi ini lebih aman bukan?” balas Glen yang sebenarnya sangat enggan untuk bersentuhan dengan Mawar.
“Ya Ampuuun, aku pikir kenapa. Aku sangat terharu mendapatkan perhatianmu kali ini, Glen!” ucap Mawar.
Ia pun kemudian dibantu perawat laki-laki tersebut untuk duduk di kursi roda. Selepas itu Glen langsung mendorongnya keluar dari ruangan menuju ke lift.
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Mawar kali ini yang merasa sangat Bahagia atas perhatian yang Glen berikan. Namun ia langsung curiga saat Glen memencet tombol angka 3 saat di dalam lift.
“Loh, kenapa justru naik sih bukannya turun ke bawah?” tanya Mawar.
“Kita temui Bram terlebih dulu sebelum menghabiskan waktu di taman!” jawab Glen.
“Okey, asalkan denganmu, kemana pun aku mau!” balas Mawar membuat Glen memutar bola matanya malas.
__ADS_1
‘Sepertinya aku tidak boleh terlalu lama terjebak dalam keadaan seperti ini!’ batin Glen yang sudah harus mawas diri.